VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 8



"Jadi, istrimu sedang magang di rumah sakit? Em... dia kembali menjadi mahasiswa?" tanya seorang wanita berparas ayu nan manis yang saat ini tengah berjalan beriringan bersama sang rekan kerja sekaligus sahabat klubnya dulu.


"Begitulah, Rania sangat ingin menjadi perawat. Dulu, aku sudah salah menghambat mimpinya," balas Jim-in duduk di kantin perusahaan miliknya.


Wanita tadi pun ikut duduk di seberangnya seraya meletakan nampan berisi makan siang milik mereka.


"Aku mendengar semuanya, jika nasib malang yang menimpamu beberapa tahun lalu-"


"Sudah jangan dibahas lagi itu sudah menjadi masa lalu," sambar Jim-in cepat.


"Aku tahu, tetapi itu alasanmu menjadikan Rania sebagai istri? Ya Tuhan aku tidak percaya... bukankah kamu sangat mencintai Yuuna?" timpalnya lagi.


"Rumit, jika aku harus menggambarkannya... tetapi Mi Kyong, wanita itu sudah membuatku berpaling. Sekarang aku sangat mencintainya," aku Jim-in tanpa malu lalu memasukan sesumpit nasi ke dalam mulut.


"Yak! Jangan pamer masalah asmara mu padaku." Wanita bernama Mi Kyong itu naik pitam mengacungkan sumput ke arahnya.


Tanpa rasa bersalah Jim-in tergelak begitu saja.


Park Jim-in dan Song Mi Kyong sudah berteman sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar.


Keduanya kerap kali digadang-gadang sebagai anak kembar dari dua keluarga besar. Tak ayal hal tersebut membuat mereka dianggap layaknya pasangan.


Namun, baik dari pihak Jim-in maupun Mi Kyong sama-sama tidak diambil pusing dan berpikir hal itu hanyalah gurauan semata.


Pada saat menginjak usia dua puluhan Mi Kyong harus meninggalkan tanah air guna melanjutkan pendidikan di salah satu negara asing.


Bersamaan dengan kepergiannya ke Negara P, Jim-in mengalami nasib malang. Ia kecelakaan hingga mengakibatkan kedua kakinya lumpuh sementara.


Baru setahun lalu Mi Kyong kembali ke negara kelahirannya dan mendapatkan banyak sekali kabar mengenai teman masa kecilnya.


Siang ini mereka mengadakan pertemuan setelah beberapa tahun terpisah. Mi Kyong pun terkejut kala mendapati sahabatnya sudah menikah bahkan mempunyai dua orang anak.


"Aku salut pada Rania, dia bisa sabar menghadapi sikap aroganmu. Aku dengar dari teman-teman klub memanah kita jika kamu dulu tidak memperlakukannya dengan baik," jelas Mi Kyong lagi yang juga ikut klub memanah, tetapi tidak seprofesional Jim-in hingga menjadi atlet.


Sang pengusaha yang tengah menikmati makan siang menoleh lagi pada sang lawan bicara.


"Hanya kesalahan kecil, sekarang kami sudah baik-baik saja," timpalnya dengan mulut penuh.


Mi Kyong mengangguk-anggukan kepala mengerti.


"Yak! Kalau begitu kenalkan aku pada istri dan anak-anakmu. Aku ingin melihat mereka secara langsung," pintanya antusias.


"Baiklah, lain kali kita bisa makan malam bersama," balas Jim-in membuat Mi Kyong mengangguk setuju.


Di tempat berbeda, di rumah sakit besar ibu kota, Rania bersama sahabatnya Zahra juga sedang menikmati makan siang.


Mereka duduk berseberangan di kantin menyantap makanan halal yang disediakan di sana.


Tidak lama berselang seseorang datang meletakan nampan di meja membuat Rania dan Zahra terkejut.


Keduanya langsung menengadah melihat pria berjas putih tadi menampilkan senyum lembut.


Rania mengembangkan bulan sabit sempurna, sedangkan Zahra mematung tidak percaya.


"Seok Jin Oppa?" Panggilnya.


Seok Jin, dokter tampan sekaligus sahabat suaminya itu pun duduk di sebelah. Ia memperhatikan mereka bergantian hingga sampai di manik kelam Zahra.


"Apa Anda tidak apa-apa?" tanya Seok Jin bingung dengan diamnya wanita berhijab putih itu.


"A-Ah, yah saya baik-baik saja," jawab Zahra kikuk. Rania hanya terkekeh mengerti akan reaksi sang sahabat.


"Oh yah, apa aku boleh ikut bergabung bersama kalian?" tanya Seok Jin sekali lagi.


"Tentu saja, tidak masalah," balas Rania dan dijawab anggukan Zahra setelahnya.


"Alhamdulillah," kata sang dokter mengucap syukur.


"Eh?" Zahra terkesiap kala mendengar ucapan Seok Jin barusan.


Pria itu pun langsung menoleh padanya lagi sembari mengatakan hal sama.


Menyadari kebingungan dokter senior tersebut Zahra tersadar.


"Ani, hanya saja... Anda seorang muslim?" tanyanya takut-takut.


Seok Jin kembali tersenyum lebar, "Iya saya seorang muslim. Alhamdulillah, saya muslim dari lahir," jawabnya mempertegas.


"MasyaAllah, joesonghamnida saya tidak tahu," balas Zahra menyesali reaksinya tadi.


"Tidak apa-apa, jangan sungkan," ucap Seok Jin mengerti.


Mereka pun menikmati makan siang ditemani obrolan-obrolan ringan seputar bagaimana kedua wanita itu menjalani magang sebagai perawat.


Baik Rania maupun Zahra memberikan jawaban yang begitu antusias. Mereka sangat senang bisa terjun langsung memeriksa pasien.


Dibekali dengan ilmu-ilmu dari universitas serta beberapa senior yang mengajarinya, Rania dan Zahra sangat bersyukur.


"Bagaimana keadaan suamimu? Apa dia sudah tidak merasa sakit lagi?" tanya Seok Jin kembali menoleh ke samping di mana Rania tengah meneguk air putih.


Ia pun lalu menoleh membalas tatapan sang dokter.


"Alhamdulillah, selama ini tidak ada keluhan apa-apa. Jim-in oppa sudah bisa berjalan normal seperti biasanya," jawab Rania senang.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Lalu, bagaimana keadaan anak-anak kalian?"


"Alhamdulillah, mereka sangat baik. Akila dan Jauhar bahkan mendukungku penuh untuk menjadi seorang perawat."


"Benarkah? MasyaAllah, aku senang mendengarnya. Lain kali aku akan mampir untuk melihat kedua keponakan menggemaskan itu." Seok Jin gembira mengetahui hubungan pernikahan Rania dan Jim-in sudah jauh lebih baik.


Ia menjadi saksi bagaimana perjalanan pernikahan keduanya. Seok Jin kadang kala harap-harap cemas mengetahui sikap Jim-in kepada istrinya.


Sekarang ia lega Jim-in sudah mencintai Rania lebih besar daripada Yunna. Karena bagaimanapun ia menjadi saksi perjalanan mereka.


"Em, kami akan menunggu kedatangan mu. Akila dan Jauhar pasti senang bisa bertemu pamannya," kata Rania lagi.


"Oh iya bagaimana kalau kamu juga datang, Zahra? Kita bisa makan malam besama, itu pasti akan menyenangkan, iya kan Oppa?" Rania menoleh pada Seok Jin meminta pendapatnya.


"Itu benar, lebih banyak orang lebih baik. Kamu harus datang, Zahra," timpalnya.


Mendengar itu sang pemilik nama membelalakan mata, terkejut. Ia tidak percaya dua orang di depannya mengundang kehadirannya.


"I-insyaAllah," balasnya gugup sekaligus senang dan langsung memasukan sesendok nasi ke dalam mulut.


...***...


Selepas menikmati makan siang, Rania dan Zahra kembali bertugas merawat pasien.


Jam demi jam berlalu, sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Shift mereka maupun anak magang lainnya telah usai.


Mereka bersiap-siap untuk pulang mengistirahatkan diri dari segala kepenatan.


Baru saja keluar dari gedung rumah sakit, Rania dikejutkan dengan kedatangan sang suami.


Sosok rupawan itu tengah melebarkan senyum sambil membawa sebuket bunga mawar merah.


"Selamat untuk hari pertamamu, Sayang," kata Jim-in menyodorkan karangan bunga tadi.


Dengan senang hati Rania menerimanya. "Terima kasih, Oppa. MasyaAllah, cantik sekali," pekiknya senang.


"Eomma." Dari arah depan Rania mendengar dua malaikatnya memanggil.


Ia menegakkan kepala menyaksikan Akila dan Jauhar berlarian ke arahnya. Rania pun berjongkok siap menyambut kedatangan mereka.


Di sana ibu dan kedua anaknya pun saling berpelukan. Jim-in yang melihat itu semakin tersenyum lebar dan ikut bergabung bersama mereka.


Kehidupan keluarga Rania dan Jim-in pun begitu harmonis. Definisi keluarga hangat nan akrab terjadi di antara mereka.


Baik Rania maupun Jim-in, keduanya sama-sama membangun kepercayaan guna menjalankan rumah tangga jauh dari permasalahan.


Hingga terbukti, sejak lahirnya Akila sampai Jauhar hubungan mereka baik-baik saja. Keduanya saling mencintai dan menyayangi yang mana hal itu sebagai pondasi keutuhan rumah tangganya.