VARSHA

VARSHA
Bagian 37




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Entah alat apa saja yang kini terpasang ditubuh ringkih wanita tersebut. Semalam menjadi momen mendebarkan, karena mungkin karma datang padanya terlalu cepat? Entahlah peristiwa tersebut bisa dibilang apa, tapi yang jelas selalu ada balasan dalam setiap tindakan bukan? Hal inilah yang tengah diterima wanita 50 tahunan itu.


Suara monitor pendeteksi jantung mengalun bak pengiring kematian. Keadaan mencekam dalam keheningan. Tidak ada siapa pun yang terlihat dalam ruangan tersebut selain wanita bermarga Park. Kilasan balik mengenai apa saja yang dilakukannya berputar bak film kusut terus tayang tanpa henti. Air mata mengucur tanpa isakan. Sakit yang diterimanya tidak seberapa dibandingkan sekarang. Hal pertama yang melintas dalam kepalanya, yaitu kenangan saat bersama sang ayah.


Waktu itu gadis berusia 10 tahun harus menerima kenyataan pahit jika pria tangguh dalam hidupnya harus meregang nyawa. Pemandangan di depannya ini sama persis seperti 12 tahun lalu.


"Aku mohon bertahanlah........... eomma." Yah itulah yang keluar dari bibir ranum seorang Rania. Tidak ada sedikitpun dendam terlihat dalam sorot matanya yang ada hanyalah luka. Luka yang tidak bisa dijabarkan.


Lorong sempit itu menjadi saksi bagaimana air mata mengalir deras tak tertahankan. Hanya ada Rania seorang diri di sana. Tanpa sang suami yang jelas-jelas menjadi anak kandung dari wanita itu.


"Oppa." Bisiknya lirih ingatannya kembali pada saat dirinya masih bersama sang suami.


3 jam lalu di hotel sudut Kota Seoul.


Sang Oh datang membawa berita mengejutkan. Jim-in diam membeku di tempatnya berdiri. Entah apa yang tengah menaungi kepalanya saat ini. Jelas sekali tercetak diwajahnya ekpresi dingin yang menguar. Rania yang berada beberapa langkah di belakangnya berjalan perlahan mendekati pelayan senior tersebut.


"Benarkah eommanim mengalami kecelakaan?" satu anggukan menjawabnya jelas. "La....lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apa beliau baik-baik saja? Lukanya tidak parah, kan?" ia menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Jelas saja karena wanita itu tengah mengkhawtairkan mertuanya.


Kekecewaan, kekesalan, rasa sakit yang ditanggungnya sejak kejadian semalam menguap bagaikan asap. Menghilang begitu saja berganti dengan kecemasan.


"Nyonya mengalami koma. Mobil yang ditumpanginya semalam berguling sehingga mengapit badannya." Mendengar itu Rania menangkup mulutnya yang menganga tidak percaya. Separah itukah? Pikirnya.


"Ka...kalau begitu antarkan kami ke rumah sakit." Titahnya. Sang Oh mengangguk lalu berlalu dari sana.


Sebelum melangkahkan kakinya, Rania menoleh ke belakang. Di sana ia melihat sang suami tidak beranjak sedikit pun. Ada apa dengannya? Rania mendekatinya lalu menggenggam kedua tangan suaminya erat.


"Oppa, kita ke rumah sakit?" tanya Rania hati-hati. Ia tahu mungkin berat bagi Jim-in mendengar berita mengejutkan mengenai orang yang paling dicintainya.


Namun, perkataan Jim-in yang terlontar seketika mengejutkannya. "Untuk apa? Apa kamu lupa bagaimana perlakuannya pada kita? Bahkan terang-terangan membakar rumah berhargamu. Ibuku sudah membuatmu kesakitan berulang kali, Rania."


"Aku tahu, tapi alangkah baiknya kita melihat eommanim sekarang." Ajaknya lagi.


"Aku tidak mau. Karena eomma sudah membuatmu sakit. Aku kecewa padanya. kalau kamu ingin pergi... pergilah." Setelah mengatakan itu Jim-in pun melepaskan pegangan tangannya lalu berlalu dari hadapan Rania.


Rania tidak menyangka Jim-in bisa berkata demikian. Apa tidak ada sedikit saja rasa takut kehilangan dalam hatinya? Tidak ingin menambah masalah Rania segera pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi mertuanya.


...🌦️🌦️🌦️...


Tangan putihnya yang sedikit bergetar terulur hendak menggenggam tangan lemah Gyeong. Seketika tangisan tak terbendung tumpah ruah kembali.


"Saya tahu, nyonya orang baik. Tidak mungkin nyonya bisa melakukan itu tanpa dasar. Saya tidak menyalahkan siapa pun, hanya saja mungkin nafsu amarah nyonya yang tidak bisa ditahan. Saya selalu ingat saat mamah membicarakan betapa baiknya nyonya ini. Mamah bilang, nyonya sering membantunya dalam segala hal. Bahkan bersedia memberikan beasiswa untuk saya. Terima kasih atas bantuan nyonya yang tidak ternilai. Saya harap nyonya bisa membuka mata lagi. Tuan Muda membutuhkan nyonya." Suara lembut itu menggema dalam ruangan kedap suara tersebut.


Alunan alat medis menjadi teman setia keheningan yang menyapa.


Setiap orang menginginkan kebahagiaan berada dalam satu atap menikmati momen berharga bersama keluarga. Namun, tidak banyak orang mendapatkan keadaan demikian. Terkadang ada pula mereka yang harus merasakan sesaknya diliputi air mata. Varsha, lagi-lagi menempati tempat tertinggi dalam kehidupannya.


Begitulah yang dirasakan Rania saat ini. Keadaan menyadarkan dirinya jika menemapatkan diri pada dendam tidak merubah apa yang sudah terjadi. Namun, Allah selalu mempunyai cara untuk memperlihatkan apa yang sudah dikerjakan. Baik dan buruknya tergantung tindakan.


Gelegar petir saling menyambar tat kala mendung datang di atas sana. Tidak ada yang menyangka semula si raja siang tengah tersenyum, kini berganti tahta. Dia bersembunyi di balik gagahnya awan hitam. Rupanya semesta menginginkan mengeluarkan kepedihan.


"Ya Allah berikanlah nyonya kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Bagaimana pun juga nyonya sudah banyak membantu keluarga hamba." Untuk kesekian kalinya, Rania berdo'a meminta kesembuhan untuk wanita yang telah menyakitinya.


Kadang hati manusia tidak ada yang tahu. Sedetik yang lalu bisa saja memendam kekeselan dan kekecewaan. Namun, lagi-lagi Allah yang mengatur semuanya. Sedetik kemudian kesakitan itu menguap berganti dengan iba.


Harus ada harga yang dibayar. Mungkin begitulah mengenai tindak tanduk hal yang pernah dilakukan.


Sedangkan pria itu kini tengah berdiri mematung di depan bangunan megah yang sudah menaunginya selama hampir 28 tahun. Sudah banyak kenangan yang terukir di dalamnya. Kesenangan, kepedihan, ketakutan sekaligus kesakitan telah dikecapnya secara nyata. Entah kenapa saat ini kedua kakinya enggan untuk menginjak lagi di sana.


Terlalu berat. Terlalu dalam luka yang ditorehkan oleh wanita yang dipanggilnya ibu tersebut. Jim-in memperlihatkan luka dalam wajah tampannya.


"Tuan Muda." Panggil Sang Oh yang baru saja tiba. Melihat tuannya berdiri mematung di sana beliau pun turun dari kendaraan roda empat itu lalu mendekatinya. "Kenapa tuan tidak masuk? Nyonya masih ada di rumah sakit." Jelasnya. Jim-in tahu jika pelayan senior itu tengah berbasa-basi.


"Aku tahu. Itu sebabnya aku ada di sini. Jika eomma ada di mansion mana mungkin aku datang." Jawabnya dingin.


Hening melanda. Angin menyapa mengabarkan jika sebentar lagi hujan akan turun. Jim-in masih setia dengan posisinya berada. Sang Oh diam-diam mencuri pandang kala melihat ekspresi Tuan Mudanya. Beliau jadi teringat tentang peristiwa beberapa tahun lalu. Saat kejadian mengerikan menimpa tuannya.


"Ap_"


"Apa eomma setega itu sampai-sampai menyakiti Rania begitu kejam. Apa yang sudah dikerjakannya selama aku tidak ada?" tanyanya cepat memotong ucapan sang pelayan.


"Saya hanya melihat nyonya bekerja seperti biasa dan juga....... nyonya menyuruh saya untuk mengawasi tuan dan nona. Dan entah kenapa nyonya bertindak terlalu jauh seperti ini." Jujur Sang Oh.


"Mungkin sudah saatnya aku bertindak. Aku tidak ingin menjadi Tuan Muda lagi. Aku harus menjadi 'tuan' yang sesungguhnya untuk melindungi keluarga kecilku."


"Apa yang akan tuan lakukan?"


Lama Jim-in tidak menyahutinya membuat Sang Oh khawatir. Apa yang hendak dilakukan tuannya ini? Pria tua itu menjadi bertanya-tanya. Sampai,


"Aku akan mengambil alih perusahaan." Begitulah jawaban yang diberikannya.


...🌦️TEKAD🌦️...