
...
...
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Rania masih setia duduk di tepi tempat tidur. Hujan yang turun membasahi pipinya tetap menerjang walau sekuat apapun ia menahan. Pertahanan dirinya rubuh kala rasa sakit diberikan sang suami begitu kuat. Siapa yang bisa bertahan jika dituduh tanpa kebenaran. Hanya sebatas bukti tanpa mendengar penjelasan.
Entah apa yang kini tengah dirasakannya dalam dada. Sakit, sudah tidak bisa menggambarkan hal tersebut. Bahkan mungkin lebih dari kata itu.
Amplop masih berada dalam genggaman. Tanpa isakan ia berusaha tegar menghadapi semuanya. Setidaknya kehadiran sang buah hati sedikit mengobati luka.
Cklek!!
Tidak lama berselang pintu kamar terbuka menampilkan sosok Park Jim-in. Melihat kehadairannya Rania seketika menundukan kepalanya dalam. Ia tidak ingin terlihat kacau di hadapannya. Ia takut Jim-in semakin menambah luka dengan kata-kata "manis" yang semakin pandai dirangkainya.
Perlahan Jim-in pun berjalan mendekat. Kedua manik itu menatap lekat sang istri, mengintimidasi, memancarkan arti jika Rania hanyalah miliknya seorang.
"Yeobo." Panggilnya halus. Namun, berefek menegangkan bagi Rania.
Tidak ada jawaban. Jim-in pun mengulurkan tangannya menggenggam tangan hangat itu. Seketika Rania tersentak lalu menoleh sekilas dan kembali menunduk. Melihat air mata yang masih menggenang di sana Jim-in mengeratkan tautan tangannya.
"Kamu menangis? Sayang, kenapa kamu menangis?"
Ingin sekali rasanya Rania memberikan pukulan dikepala itu, tapi ia sadar jika pria ini adalah suaminya. Apa ia tidak sadar atas apa yang dilakukannya tadi? Benaknya kemudian.
"Karena siapa aku menangis? Oppa, aku tidak seperti apa yang kamu tuduhkan." Jawab Rania seraya menarik tangannya. "Aku ke rumah sakit karena merasa tidak enak badan. Dari pagi tadi aku terus muntah-muntah dan pusing. Mianhae, jika aku mengabaikan suruhanmu untuk tetap berada di rumah. Aku sudah tidak kuat dan memutuskan untuk ke rumah sakit. Seharusnya ini menjadi kejutan paling berbahagia untukmu, tapi sepertinya sekarang tidak lagi." Lanjutnya lalu menyodorkan hasil pemeriksaan tadi pada suaminya.
Jim-in pun menerima tanpa bersuara. Hingga Rania pun kembali berujar, "aku bertemu Seok Jin-sii saat hendak pulang. Jadi tujuan utamaku bukan untuk menemuinya."
Bersamaan dengan itu Jim-in pun membuka perlahan kertas yang berada dalam amplop tersebut. Sedetik kemudian iris kecilnya melebar membaca deretan tulisan hangeul di sana. Rasa bersalah menghantuinya dengan cepat.
"Ja....jadi kamu......................... hamil?" tanyanya menoleh pada sang istri.
Rania hanya mengangguk sekilas. Ibu jarinya menekan-nekan jari-jemarinya menyalurkan kepedihan dan juga kekecewaan. Seharusnya. Yah seharusnya kata itu menjadi penentu bagi mereka sekarang. Namun, ternyata malah badai yang datang menerjang.
"Mianhae, sudah bukan kejutan lagi." Sesalnya.
Kepala bersurai hitam legam itu menggeleng beberapa kali. Jim-in beranjak dari duduknya lalu bersimpuh di hadapan Rania. Tangannya kembali terulur menggenggam kedua telapak lembut sang istri. Ia menengadah melihat sorot mata kekecewaan di sana.
"Mianhae, aku tidak tahu jika seperti ini keadaannya. Aku terlalu percaya dengan perkataan Yuuna. A....aku bahagia. Sungguh aku bahagia mendapatkan berita ini. Sayang, maafkan aku." Ucapnya yang kemudian menjatuhkan wajahnya kepunggung tangan Rania.
"Baguslah jika oppa menyesalinya." Jawabnya lagi.
Seketika itu juga Jim-in langsung merengkuh tubuh lemah sang istri. Ia menenggelamkan wajahnya diceruk leher wanitanya. Ia sepertinya menyesal telah mempercayai perkataan orang lain dibandingkan istrinya.
"Berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi." Kata Rania kemudian.
Jim-in mengangguk cepat. "Ne, aku janji tidak akan mengulanginya." Mendengar itu seulas senyum hadir diwajah ayunya. Rania pun perlahan membalas pelukan suaminya. Jim-in yang merasakannya pun semakin mengeratkannya.
Untuk sesaat hanya ada penyatuan kedua insan tersebut. Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya. Detikan jam menjadi peneman setia mereka. Saksi bisu yang membentuk memori baru.
Beberapa saat kemudian Jim-in melepaskan pelukannya lalu memandangi Rania dengan tatapan kasih sayang yang begitu dalam.
"Terima kasih banyak sudah memberikan Harsha dalam hidupku. Ternyata tidak selalu Varsha yang melingkupi kehidupan kita." Ia pun memandangi perut Rania yang masih rata. Tangan kanannya terulur mengelusnya perlahan. "Sayang, terima kasih sudah hadir di dalam sana. Appa dan eomma sangat menyayangimu." Lanjutnya kemudian memberikan kecupan ringan untuk sang jabang bayi.
Diperlakukan hangat kembali seketika membuat Rania bahagia. Senyumnya pun semakin berkembang seiring perkataan sang suami. Begitu banyak kepedihan yang tersemat dalam hatinya, tetapi melihat Jim-in seperti ini luka itu seakan menghilang.
"Terima kasih, oppa." Rania pun menghadiahkan ciuman hangat didahi sang suami.
Jim-in tersenyum mendapatkannya. 'Untuk selamanya kau adalah milkiku, Rania.' Obsesinya semakin menjadi. Rania tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kehidupannya sedetik ke depan.
...🌦️🌦️🌦️...
Pagi-pagi sekali perutnya mual tidak bisa tertahankan. Selepas shalat subuh berjamaah tadi, Rania sudah berada di dalam kamar mandi. Jim-in yang melihat itu pun tidak membiarkannya begitu saja. Dengan sigap ia membantunya memijit pelan tengkuk Rania dan mengusap punggungnya pelan.
"Apa masih mual?" tanyanya. Dengan lemah Rania mengangguk singkat. "Kalau begitu kamu berbaring lagi saja di tempat tidur, biar nanti sarapannya aku bawa ke sini." Lanjutnya lalu menuntun sang istri menuju ranjang.
Dengan lembut Jim-in menyelimuti Rania kemudian mengusap puncak kepalanya. Bibir pucat Rania pun mengulas senyum.
"Aku bawakan sarapan dulu, yah." Ujarnya. Sebelum beranjak ia pun mengecup singkat dahi sang istri.
Manik kecoklatan Rania memandang sosok sang suami yang menghilang di balik pintu. Perasaannya menghangat seiring dengan perlakuan Jim-in. Kejadian kemarin tertutup oleh manisnya sikap pria itu. Perlahan tangannya mengusap perutnya sendiri. Ia menunduk melihat pergerakannya.
"Sayang, eomma bahagia akhirnya appa bisa kembali seperti semula. Tapi_" ucapannya menggantung seiring tatapannya kembali ke depan. Bayangan keegoisan itu datang menerjang. "Apa kebahagiaan ini bisa selamanya? Sayang, apa eomma tidak berlebihan jika memikirkan hal lain?" gumamnya masih berinteraksi dengan jabang bayi yang masih berupa gumpalan darah tersebut.
Detik demi detik berdegung dalam pendengaran. Rania melamun memikirkan kejadian yang telah terjadi. Kesakitan itu masih membekas dengan basah dalam ingatan.
"Ya Allah, apa hamba salah merasakan kebahagiaan ini begitu besar? Apa tidak akan tejadi apa-apa lagi selepas ini? Hamba khawatir memikirkannya. Hamba mohon semoga suami hamba akan tetap selamanya bersikap hangat." Sebait do'a melambung penuh harap.
Rania tidak menginginkan harta yang banyak, barang mewah melimpah, atau pun kehidupan dunia yang gemerlap. Hanya satu yang ia inginkan, bisa hidup bersama suaminya tanpa halangan apapun. Ia tidak ingin lagi tersiksa batin dan psikis akibat perlakuan suaminya hari itu. Kata-kata manis yang keluar dari mulutnya, bagi ia itu adalah siksaan dan bukan kebahagiaan.
"Bagaimana pun juga hubungan oppa dan eomma masih belum baik. Aku tidak seharusnya merasakan kebahagiaan ini. Aku harus bisa mengembalikan hubungan mereka." Yakinnya.
...🌦️MANIS?🌦️...