
Kepercayaan dipupuk oleh kejujuran, sekali dikhianati maka tidak ada lagi kata percaya di dalamnya.
Apa pun yang dilakukan pasti mendatangkan kecurigaan dan niat buruk menyertai pikiran. Namun, masih ada kesempatan kedua untuk memperbaiki keadaan.
Siang masih mengudara menemani setiap insan tengah melakukan aktivitas.
Di bawah pohon maple dua orang anak adam sedang memandangi riak air sungai.
Wanita dan pria itu berdiri berdampingan, menepi dari riuhnya orang-orang sekitar.
Setelah berbincang-bincang dengan teman-teman masa lalu, Mi Kyong meminta Jim-in untuk berbicara secara pribadi.
Keriuhan pun kembali datang, menggoda mereka yang hendak hengkang dari keberadaannya. Mau tidak mau, demi menghilangkan kecurigaan yang lain, sang pengusaha menerima permintaan Song Mi Kyong.
Di sinilah mereka berada, sedari tadi baik Jim-in maupun Mi Kyong tidak berbicara sepatah kata.
Jim-in hanya menunggu apa yang hendak di sampaikan sahabat masa kecilnya. Namun, meskipun begitu ia juga tidak sabar jika harus menunggu saja.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Jim-in memulai.
Mi Kyong terperangah, menoleh singkat padanya dan melengkungkan bulan sabit sebentar. Manik berlensa abunya menatap ke depan menikmati beningnya air.
Cahaya sang raja siang memantul memperlihatkan keadaan di dalamnya.
"Apa... kamu membenciku?" tanya balik Mi Kyong.
"Ani, kenapa kamu bertanya seperti itu?" Kembali Jim-in mengajukan pertanyaan, bingung mendapati sahabatnya berkata demikian.
Mi Kyong tidak langsung menjawab dan menjatuhkan pandangan lagi ke bawah, menatap lekat sepasang sepatu boots yang tengah dikenakan.
Senyum kecut pun hadir mengimbangi perasaan terdalam. Ia mengepal tangan erat menyalurkan segala kepelikkan di relung hati.
"Karena... aku mengungkapkan perasaan padamu. Itu sebabnya kamu menghindari ku selama satu bulan ini, kan?" Suara Mi Kyong berubah lirih.
Hal tersebut menarik atensi Jim-in untuk meliriknya. Ia menyaksikan ada luka tak kasat mata, diam begitu apik dari raut mukanya.
"Itu tidak benar, aku sama sekali tidak menghindari mu. Hanya saja... hanya saja-"
"Kamu merasa tidak nyaman berada di dekatku, benarkan? Aku mengerti, kamu... tidak usah menjelaskan apa pun."
"Aku minta maaf jika sudah-"
"Bukan... tidak seperti itu Mi Kyong." Jim-in lagi-lagi memotong ucapan Mi Kyong membuatnya terbelalak.
Pandangan mereka saling bertemu, menarik perhatian satu sama lain. Mi Kyong menyaksikan dada sahabat masa kecil sekaligus pria yang dicintainya naik turun.
Seolah tengah menahan sesuatu, sorot matanya berbicara jika tidak seperti apa yang dikatakan sang lawan bicara.
Mi Kyong terperangah lagi kala menyadari, ini pertama kali melihat Jim-in bersikap seperti itu. Diam-diam bibir ranumnya melengkung dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Lalu, apa yang kamu lakukan?" tanyanya lagi.
"Aku hanya ingin memberi waktu padamu untuk merenungkan semuanya. Kamu tahu sendiri aku sudah menikah dan punya dua orang anak."
"Aku tidak bisa mengkhianati keluargaku sendiri dan memberikan luka. Aku tidak ingin melihat Rania kembali menangis akibat kebodohan ku," tutur Jim-in tulus.
Mi Kyong mendesah pelan, "kamu... benar-benar suami yang baik. Jika kamu tidak bersamanya, bisakah kamu menerimaku?"
Sontak pertanyaan yang baru saja diajukan membuat Jim-in terbelalak. Mi Kyong tertawa kencang melihat ekspresi yang dilayangkannya.
"Aku hanya bercanda, apa kamu menanggapinya seserius itu? Iyah, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah penolakan mu. Sebagai gantinya kamu harus mentraktirku makan, malam ini. Bagaimana?" tawar Mi Kyong kemudian.
Menyaksikan teman masa kecilnya bersemangat kembali, Jim-in tidan bisa menolak. Ia mengangguk semangat mengiyakan permintaannya.
Setelah itu mereka pun banyak membicarakan satu sama lain. Hubungan pertemanan yang telah lama terjalin, tidak bisa diputuskan begitu saja.
Terlalu banyak kenangan berharga yang keduanya lalui bersama. Masa itu mempunyai cerita sendiri yang hanya ada mereka dan menyuguhkan memori berharga.
Sambil menaiki kuda cokelatnya, Rania melihat sang suami dan wanita itu tengah bersama. Ia memelankan laju kudanya untuk menyaksikan lebih detail apa yang sedang mereka lakukan.
Samar-samar ia bisa mendengar gelak tawa mengiringi panasnya siang ini. Keberadaan dua sosok itu dan Rania yang hanya dibatasi sungai pun memberikan ketegangan pada wanita berhijab tersebut.
Tanpa sadar sorot matanya berubah serius. Ia tidak mengira setelah ungkapan cinta yang Mi Kyong layangkan, mereka terlihat bersama kembali dan biasa saja, seolah tidak ada kejadian apa pun.
Apa mungkin hubungan mereka sudah membaik? Pikir Rania gamang.
Tidak lama kemudian beberapa teman seklubnya berlarian menggunakan kuda mereka menyapanya.
Rania terkejut dan kembali melajukan hewan berkaki empat itu menyusul yang lain. Pikirannya masih berkutat seputar sang suami yang enggan pergi.
Ia berharap jika tidak ada apa pun lagi menghinggapi rumah tangga mereka. Karena ia sadar ingatan yang hilang membuat dirinya semakin khawatir.
Ia hanya bisa mengingat apa yang sudah Jim-in lakukan terhadapnya beberapa bulan terakhir ini.
"Aku tidak pernah tahu apa dia benar-benar mencintaiku atau tidak," benaknya masih menunggang kuda menatap lurus ke depan.
...***...
Setelah puas berlatih, Rania duduk di bangku kayu menikmati seteguk air yang dibawa. Iris cokelat beningnya memandang lurus ke depan melihat para junior berlatih.
Semilir angin datang menyapu wajah letih nya, tidak hanya fisik, tetapi hatinya juga. Setelah memergoki sang suami dengan wanita lain dua kali tepat di depan mata kepala sendiri, Rania memikirkan banyak hal.
"Hei, apa yang kamu pikirkan?"
Rania terpekik kala merasakan dingin menusuk kulit menempel di pipi kanan. Ia mendongak mendapati sang pelaku tertawa pelan seraya menjulurkan sekaleng minuman dingin.
"Terima kasih," kata Rania seraya menerimanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Zahra duduk tepat di sebelahnya mengulangi pertanyaan yang sama.
"Tidak ada, hanya-"
"Rania, kamu pikir aku bisa dibohongi begitu saja? Katakan yang sebenarnya ada apa? Jangan dipendam sendirian, aku sahabatmu, bukan? Kamu juga sudah mendengar apa yang menimpaku selama ini," ungkap Zahra menggebu-gebu.
Suara penutup minuman kaleng bergema di pendengaran keduanya. Disusul soda yang berbuih semakin menarik atensi Rania.
Ia memandangi minuman yang tengah Zahra genggam dan diteguknya perlahan.
"Aku-"
"Aku melihat suamimu bersama wanita lain tadi," potong Zahra cepat setelah menyelesaikan minum singkatnya.
Rania pun terbelalak lebar tidak menyangka keberadaan sang suami dan wanita itu diketahui oleh sahabatnya sendiri.
"M-mwo?" gugupnya.
Zahra menoleh, melebarkan senyum memperlihatkan deretan gigi-gigi rapihnya.
"Kamu sangat kentara, Rania. Sejak kedatangan kita ke sini, kamu terus fokus ke acara sebelah. Aku tahu dan kami juga semua tahu jika di seberang latihan ini ada acara reuni klub memanah."
"Kebetulan tempatnya sama, maka pelatih menyuruh kita datang ke sini, dan yah... bisa kamu tebak sendiri. Aku juga melihat suamimu," ungkap Zahra menjelaskan semuanya.
Rania mendesah kasar dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia pun meletakkan botol minum di sebelah kanan dan membuka minuman dingin pemberian Zahra.
Suara penutup yang dibuka kembali menarik perhatian. Ia lalu meminumnya beberapa teguk kan dan memandang lurus ke depan lagi.
"Seperti yang kamu tahu, aku... masih kehilangan ingatan. Aku tidak tahu seperti apa Park Jim-in di masa lalu, apa dia memperlakukanku dengan baik atau sebaliknya. Kami-"
"Tentu saja, dia sangat memperlakukanmu dengan baik. Aku yang pernah dikenalkan padanya olehmu waktu itu bisa melihat seperti apa kesungguhannya."
"Dia... suami yang baik Rania," serobot Zahra membuat Rania kembali melebarkan kedua mata tidak percaya.
Seketika hening menyambut membiarkan pikirannya berkelana. Ia tidak bisa mengingat apa-apa lagi tentang perubahan Jim-in beberapa tahun ini.