VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 51



Jatuh cinta adalah hal paling mendebarkan sekaligus menyakitkan yang pernah dirasakan.


Ketika sebuah perasaan saling berbalas maka kebahagiaan di dapatkan. Namun, ketika cinta hanya bertepuk sebelah tangan hanya kesengsaraan dirasakan.


Apa pun bisa dilakukan untuk mendapatkan perhatian sang terkasih. Cinta mengandung dua makna berbeda, ada yang dilontarkan dalam kebaikan, dan ada pula diungkapkan dengan kesalahan.


Cinta dan benci, keduanya pun tidak ada bedanya. Waktu bisa menghadirkan cinta dan juga benci, hal tersebut saling bersinggungan serta berganti.


Hari ini bertepatan dengan hari peringatan ke dua puluh enam klub memanah bernama harapan digelar. Semua anggota hadir memeriahkan semarak yang sudah lama tidak dilaksanakan akibat terkendala virus menebar di seluruh negeri.


Sama halnya dengan yang lain, Jim-in yang menerima surat undangan pun bersiap di kediamannya. Sedari tadi ia memilih pakaian mana yang cocok untuk dikenakan.


Ia ingin tampil sebaik mungkin di depan para teman-temannya. Karena ini pertama kali lagi ia bisa berbaur bersama mereka, ia berharap memberikan kesan baik selepas keluar dari klub.


"Kamu yakin Sayang tidak mau ikut? Diundangan juga menyertakan kami membawa pasangan," tanya Jim-in yang tengah mengenakan jas formalnya dibantu Rania.


Sang istri yang berada di belakangnya menggeleng singkat.


"Tidak usah, lagi pula siang ini aku juga sudah ada janji dengan Zahra," jelas Rania berjalan ke depan merapihkan pakaian sang suami.


Jim-in memandangi wajah damai nan cantik itu lekat. Bibir menawannya melengkung membentuk sebuah kurva sempurna.


Bisa sedekat itu dengan Rania menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Aroma bunga sakura menguar dari abaya yang tengah dikenakan sang pujaan, wajah terbingkai hijab hitam tersebut nampak semakin memesona dan bercahaya.


"Ke mana kalian akan pergi?" tanya Jim-in seraya mengusap sebelah pipinya, sayang.


Rania mendongak sekilas dan kembali sibuk memasangkan dasi di leher jenjangnya.


"Kami akan pergi ke tempat latihan, sudah lama tidak berkuda bersama," jelas Rania kemudian.


Jim-in terperangah dan menyadari jika selama masa kuliah Rania dulu, sang istri memang menyukai olahraga berkuda.


Pada saat itu ia senang menjadi tempat bercerita Rania yang sangat antusias menjelaskan kegiatannya.


Ibu dari kedua anaknya begitu menyukai berkuda dan terus mengatakan hal sama setiap kali habis melakukannya.


Bagaikan ada mimpi yang hendak dicapai, seperti itulah perasaan terdalam kekasih hatinya.


"Bagus, pergilah. Kalian butuh bersenang-senang bersama," kata Jim-in lagi.


Rania mengangguk singkat lalu mundur selangkah ke belakang setelah melakukan tugasnya tadi. Ia memandang karyanya dan tiba-tiba saja ada ingatan mengenai kegiatan barusan.


Ia terdiam, membisu membiarkan pikiran mengambil alih.


Entah kenapa adanya ingatan itu, memasangkan dasi di leher sang suami terasa tidak asing lagi.


Bagaikan setiap hari Rania selalu melakukan hal sama, tetapi ia sadar jika ingatan tersebut hanya sekejap saja.


Entah benar atau tidak, ia tidak bisa memastikannya.


Rania jatuh ke dalam lamunan membuat Jim-in menautkan kedua alis, bingung.


"Ada apa?" tanyanya seraya menarik pinggang sang istri untuk kembali mendekat ke arahnya.


Kedua badan mereka saling menempel satu sama lain merasakan kehangatan masing-masing.


"Ani... hanya saja... aku merasa tidak asing saat memasangkan dasi padamu," jelas Rania tanpa kebohongan.


"Itu memang benar, Sayang. Dulu, saat hubungan kita sudah membaik, kamu memang selalu memasangkan dasi padaku."


"Kamu jugalah yang mengurusi semua pakaianku dan anak-anak. Kamu mengatakan pada para pelayan agar tidak usah membantu dalam mengurusi kami. Karena menurutmu itu sudah menjadi tanggungjawab Rania Varsha Humairah atau Park Rania sebagai seorang istri dan ibu," tutur Jim-in berusaha membangun ingatan istrinya.


Rania termenung, memandang lagi ke arah dasi hasil lilitannya tadi.


"Benarkah? Tetapi, aku... sama sekali tidak ingat pernah melakukan itu sebelumnya. Aku-"


Melihat kedua mata di depannya mengatup rapat, entah sadar atau tidak Rania pun mengikuti hal yang sama.


Ia bermain mengikuti setiap pergerakan dilayangkan Jim-in. Penyatuan itu terjadi beberapa saat, melenakan keduanya tanpa mengingat keadaan sekitar.


Sampai tidak lama berselang, Rania melepaskan dan mereka kembali saling pandang.


Jim-in tersenyum penuh makna seraya menangkup wajah cantik sang pujaan.


"Meskipun kamu tidak ingat apa pun tentang kita di hari kemarin, tidak mengapa. Karena kenangan itu akan tersimpan selamanya di memori ingatanku."


"Terima kasih untuk tidak menolak ku, Sayang. Aku sangat mencintaimu."


Kata-kata cinta kembali bergelora, berdengung, dan mengudara ke dalam sanubari. Rania hanya terdiam meresapi setiap ungkapan dilayangkan Park Jim-in.


...***...


Satu jam kemudian, Jim-in tiba di tempat yang sudah ditentukan. Ia datang ke sana dengan membawa kendaraan mewahnya.


Setelah parkir ia keluar kala melihat teman-teman sejawat berkumpul bersama. Ia berjalan mendekat dan seketika sambutan hangat pun diberikan.


"Park Jim-in sudah lama tidak berjumpa." Kim Won Shik, teman seperguruan sekaligus seperjuangan di masa lalu menyapa pertama kali.


"Wah, aku tidak menyangka kamu kembali seperti semula," lanjut Jung Hwa senang bisa melihatnya ada di sana, dan fokus kepada kedua kaki Jim-in.


"Bagaimana kabarmu, Jim?" Kini giliran Min Hyun Sik bertanya.


Jim-in menyalami ketiganya bergantian dan membalas satu persatu perkataan mereka.


"Alhamdulillah, seperti yang kalian lihat, aku sudah baik-baik saja. Aku datang ke sini ingin bersilaturahmi lagi dengan kalian. Sudah lama rasanya aku tidak datang ke tempat latihan," balasnya memandangi ketiga sahabatnya, hangat.


Para pria itu mengangguk seraya menggenggam segelas minuman berwarna.


"Aku dengar sekarang kamu menjalankan perusahaan keluarga? Apa kamu tidak berminat kembali ke sini? Memanah, bukankah itu cita-citamu sudah lama? Menjadi seorang atlet memanah, itukan mimpimu? Lagipula sekarang kamu sudah bisa berjalan lagi," ungkap Won Shik menggebu lalu menyesap minumannya singkat.


Jim-in tersenyum simpul dan memasukan kedua tangan ke saku celana.


"Itu memang benar, tetapi aku masih belum kepikiran untuk kembali. Karena sekarang perusahaan sedang membutuhkanku. Eomma sibuk mengurusi bisnis nya di luar negeri," jawab Jim-in membuat mereka mengangguk mengerti.


Setelahnya obrolan-obrolan ringan pun tercipta, Jim-in menanyakan kabar mereka dan kesibukan apa yang tengah dilakukan.


Min Hyun Sik, Jung Hwa, dan Won Sik pun membalas sesuai kondisinya saat ini. Tidak ada yang mereka tutup-tutupi atau dilebih-lebihkan.


Ketiganya masih aktif memanah sekaligus mempunyai pekerjaan sampingan. Ada yang membuka usaha restoran, tempat bermain, dan lain sebagainya.


Satu persatu orang-orang di sekitar mereka pun saling mendekat ikut bergabung bersama. Keceriaan sekaligus kehangatan tercipta seketika.


Mereka nampak tampan dan cantik dalam balutan pakaian formal. Layaknya pertemuan alumni sekolah, semua orang ingin menampilkan yang terbaik.


Di tengah kegembiraan yang terus berdengung, tiba-tiba saja seorang wanita datang mengejutkan.


Mereka tidak percaya setelah sekian lama tidak bertemu, perubahan wanita itu sangat signifikan.


"Song Mi Kyong?" tanya Hyun Sik menunjuk tepat di depan wajah cantiknya.


Song Mi Kyong, hadir menebar senyum menawan pada semua mata yang tengah memandanginya. Sampai perhatiannya pun berlabuh pada satu titik, sahabat masa kecilnya, Park Jim-in.


Pengusaha sekaligus mantan atlet memanah itu pun melebarkan mata tidak percaya. Ia menduga jika sang sahabat tidak akan hadir ke acara tersebut.


Namun, nyatanya dugaan itu melenceng jauh, Song Mi Kyong hadir dalam balutan gaun selutut dengan tatanan rambut sederhana, begitu manis dan cantik.


"Halo, semuanya senang bisa bertemu kalian lagi, saya Song Mi Kyong," sapa nya ramah.


Semua orang terpaku tidak percaya, wanita yang sudah lama tidak terdengar kabarnya hadir di sana.