VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 99



Kesepian tidak menyurutkan semangat untuk terus berjuang. Linangan air mata bagaikan menjadi teman setia seperti apa luka itu tumbuh.


Luka, luka, dan luka hanya menjadi memar sendiri di dasar hati. Jejak masa depan seolah hilang dan berganti kemurkaan.


Semua orang seperti meninggalkan dengan penuh luka dan air mata.


Tidak ada yang memahami, selain diri sendiri. Orang lain hanya bisa berkomentar tanpa merasakan.


Perjuangan untuk bisa bertahan hidup dari segala problematika ujian memberikan kekuatan berarti.


Hidup tanpa orang tua hanya menghasilkan kepedihan. Air mata hanya sebatas pelengkap dan setelahnya kembali pada diri sendiri.


Zahra Fazulna, seorang wanita yang memiliki peran ganda sebagai orang tua dan kakak bagi ketiga adiknya harus bertahan dari ganasnya dunia.


Ia dituntut untuk tetap kuat guna memberikan kehidupan yang layak bagi Laluna, Zaitun, dan Adam. Meskipun kadang kala dunia mengkhianatinya, ia berusaha kuat sendiri tanpa mengandalkan siapa pun.


Asam, pahit, perih, perjalanan yang ia tempuh memberikan pelajaran berarti, jika jangan mengandalkan siapa pun, karena mereka juga mempunyai kehidupannya sendiri. Andalkan Allah pada setiap kesempatan maka kelegaan bisa didapatkan.


Kesepian serta beratnya hidup yang harus dilewati, membuat kepribadian Zahra sebenarnya tidak diketahui siapa pun.


Ia berhasil menyembunyikan kepedihan serta luka mendalam dengan senyum yang lebar.


Sifat ceria, gembira, hangat serta humble pada semua orang menjadikan sosok Zahra disukai teman-teman seangkatannya.


Namun, tanpa mereka sadari sikap hangat tersebut hanya untuk menutupi kesedihan dalam diri.


Zahra sama sekali tidak ingin membebani siapa pun dan tidak menginginkan orang lain memandangnya kasihan ataupun iba.


Ia tidak membutuhkan itu dan sebaik mungkin menyembunyikan kesedihannya. Namun, siapa sangka se-rapih apa pun ia menyimpan rahasia pasti akan terendus juga.


Begitulah yang dialami Zahra. Ia bahkan tidak berharap masalah keluarganya selama ini bisa diketahui orang lain, terutama oleh sahabat dan pria yang kini menjadi suaminya.


Siapa sangka orang pertama yang mengetahui perihal peliknya kehidupan adalah Kim Seok Jin. Dokter menawan yang dari awal sudah mengambil alih perhatian.


Tidak pernah ada dalam bayangan bisa bersanding dengan pria istimewa seperti Kim Seok Jin, tetapi yang terjadi nyatanya rencana Allah jauh lebih baik.


Malam ini Zahra tengah duduk di sofa teras belakang rumah menikmati kesendirian. Banyaknya kejadian demi kejadian membuat ia menghela napas lega.


Hubungan orang tua dan keluarga barunya sudah baik-baik saja.


Laluna pun melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi di sana dan tinggal bersama sang ibu serta ayah tirinya.


Kedua adiknya yang lain juga sudah mendapatkan kehidupan layak. Zaitun dan Adam yang awalnya tidak mengetahui perihal orang tua berpisah pun sangat terkejut kala mendapatkan fakta mencengangkan.


Zahra sekuat tenaga menjelaskan kepada mereka hingga membuat hubungan keluarga berubah menjadi sedia kala.


"Angin malam tidak baik untuk kesehatan, Sayang." Seok Jin datang melampirkan mantel tebal ke bahu sang istri.


"Terima kasih," balasnya singkat.


Zahra tersenyum hangat mengikuti ke mana suaminya pergi, sampai Seok Jin pun duduk di sampingnya seraya mengembangkan senyum.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini sendirian?" tanyanya kemudian.


"Aku... hanya sedang menghitung nikmat Allah yang tidak terhitung," jawab Zahra menengadah melihat langit malam.


Seok Jin terkesima dengan wajah cantik sang terkasih yang merona.


"MasyaAllah, tidak ada yang bisa menghitung banyaknya nikmat... yang sudah Allah kasih. Begitu banyak... begitu luas... dan, begitu besar kebaikan dari Allah. Kita sebagai hamba tidak bisa menghitungnya, kan?" tutur Seok Jin.


Zahra terkesiap sekejap dan menganggukkan kepala singkat. Sebagai seorang istri, ia sangat bersyukur Allah memberikan pasangan hidup luar biasa.


Ia sangat terharu atas segala kebaikan yang telah Allah beri selepas hilangnya kesedihan.


"Iya Oppa benar. Bahkan bintang yang bertabur di langit malam ini tidak sebanding dengan kebaikan yang telah Allah berian," ujarnya lagi dan Seok Jin mengangguk setuju.


Seok Jin dan Zahra sama-sama tengah disibukan dengan pikiran masing-masing.


Keduanya masih tidak menyangka bisa bersanding di atas pelaminan bersama. Bahkan keberadaan satu sama lain tidak pernah diketahui.


Begitulah jika ketetapan Allah sudah bekerja, sejauh apa pun dua insan tidak saling bertemu, jika takdir-Nya siap menghampiri maka akan saling dipertemukan.


Tidak ada yang tahu bagaimana sistem Allah berjalan, tetapi ketahuilah itu semua menjadi ketentuan terbaik dari-Nya.


Allah tidak akan mungkin membiarkan seorang hamba terus berlarut-larut dalam kesedihan.


Namun, terkadang ada saja seseorang yang dikalahkan oleh pikiran negatifnya sendiri. Menyalahkan segala ketentuan yang telah Allah beri, tanpa melihat ke sisi lain.


Memang kadang kala ujian serta cobaan yang menimpa begitu pelik dan sulit, tetapi semua itu datangnya dari Allah. Serahkan kembali pada-Nya, sebab masalah itu tidak lebih besar dari Sang Pemilik Kehidupan.


"Sayang, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Seok Jin selepas sekian menit bungkam.


"Apa itu, Oppa?" tanya balik Zahra.


Sebelum menjawab pertanyaan sang istri, Seok Jin menggenggam hangat tangannya dulu. Zahra mendapati hal itu menautkan alis dalam seraya menatap lekat manik kelam di sampingnya.


"Jika tidak menyinggung mu... kenapa kamu menyembunyikan semuanya lewat senyuman? Apa tidak ada seorang-"


"Tentu tidak ada. Karena menurutku orang lain hanya memandang kami dengan iba dan kasihan. Aku tidak butuh itu dan sama sekali tidak mengharapkannya."


"Karena bagiku kebaikan Laluna, Zaitun, dan Adam lah yang utama. Dari sejak masih remaja aku sudah menyembunyikan kesedihan itu dari mereka."


"Aku tidak ingin, mereka khawatir dan membuat keadaan menjadi tambah runyam. Juga, tidak ada untungnya harus membicarakan aib sendiri pada orang lain," jelas Zahra.


Seok Jin mengangguk-anggukkan kepala mengerti akan kegelisahan ditanggung istrinya selama ini.


"MasyaAllah, tetapi sekarang... apa pun yang kamu rasakan, jangan menyembunyikannya sendirian. Libatkan aku... andalkan aku dalam segala hal, arraso?" balas Seok Jin masih menggenggam erat kedua tangan pujaan hatinya.


Zahra kembali memandangnya melihat sorot mata tegas nan dalam sang suami.


"Sebelum aku menjawabnya... bisakah aku memberikan pertanyaan?" tanyanya kemudian.


Seok Jin hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Kenapa Oppa memutuskan untuk menikahi ku? Bukankah banyak wanita cantik dari keluarga baik-baik di luaran sana?" tanya Zahra lagi, penasaran.


Seok Jin mengulas senyum lembut dan beralih menangkup pipi hangat kekasih hatinya.


"Meskipun banyak wanita di luaran sana lebih cantik dari keluarga baik-baik, tetapi di hatiku... kamu lebih dari segalanya."


"Aku bangga dan bahagia bisa dipertemukan dengan wanita istimewa seperti mu, Sayang. Terima kasih sudah bersedia menerimaku sebagai suamimu," tutur Seok Jin tulus.


Zahra tidak kuasa membendung air mata yang seketika meluncur begitu saja. Ia terkesima dengan setiap untaian kata diberikan sang imam dalam keluarga.


Ini pertama kalinya Zahra berhubungan dengan seseorang yang menganggapnya begitu berharga dan istimewa.


Ia pikir akan selamanya terus berjuang untuk menghidupi ketiga adiknya sendirian.


Namun, lagi-lagi tidak ada yang tahu misteri apa tengah Allah persiapkan. Kejutannya sungguh luar biasa dan sangat istimewa.


Secepat kilat Zahra menerjang tubuh kekar sang suami dan memeluknya erat.


"Seharusnya aku yang berterima kasih, Oppa. Terima kasih sudah menarik ku dari kegelapan. Terima kasih," racaunya.


Seok Jin kembali menganggukkan kepala sebagi jawaban. Kedua tangan kekarnya pun terangkat membalas pelukan Zahra tak kalah erat.


Langit cerah malam ini menjadi saksi dua insan yang disatukan dalam ikatan janji suci pernikahan.