VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 90



Taman ibu kota menjadi tempat pertemuan empat orang di sana. Rania, Zahra, Hana, dan juga Kim Won Shik, bertatapan langsung selepas keluar dari klub beberapa saat lalu.


Mereka menepi di sana jauh dari keramaian untuk menuntaskan satu permasalahan.


Hanya dua orang yang bersitegang, Rania dan Won Shik kembali saling tatap memercikan sorot mata satu sama lain. Semilir angin berhembus menemani kebersamaan mencoba memudarkan amarah yang membumbung tinggi.


Tidak sengaja, Won Shin yang baru saja tiba di klub melihat tiga orang mencurigakan. Ia menyaksikan di layar tablet itu menampilkan orang-orang terdekatnya.


Pikiran pria itu pun langsung tertuju kepada Rania yang menyembunyikan identitas dalam mantel panjang dan menutupi hijab dengan kupluknya.


Ia langsung bertanya dan membuat ketiganya menoleh ke belakang. Siapa sangka dugaan Won Shik benar adanya.


Kini mereka pindah tempat dan mulai membahas apa yang terjadi beberapa saat lalu.


Tidak ada siapa pun di sana, semua orang di lingkungan itu nampaknya sudah berada di kamar masing-masing. Dinginnya udara malam menambah kenyamanan untuk bergelung di dalam selimut hangat.


Namun, tidak bagi mereka, terutama Rania dan Zahra. Sebagai pejuang di dalam rumah tangganya, kedua wanita itu ingin menuntaskan segala permasalahan melanda dari orang ketiga yang tidak diharapkan kedatangannya.


"Lee Ba Ram... bagaimana bisa kamu tahu? Apa kamu mencari tahu tentang kami?" tanya Won Shik langsung.


"Itu benar, aku mencari tahu tentang kalian, terutama Song Mi Kyong. Kamu tahu sendiri bukan, jika wanita itu... mencintai suamiku? Juga, selama bertahun-tahun ke belakang, kamu menjadi kaki tangannya untuk memberikan informasi seputar Park Jim-in?"


"Tanpa sadar, saat mencari tahu tentang dia kami pun dikejutkan penemuan lain. Semua orang yang dekat dengan Song Mi Kyong, termasuk kamu dan juga Lee Ba Ram, merembet menjadi satu," jelas Rania menampilkan senyum penuh makna.


Won Shik terpaku, kedua mata kecilnya sedikit melebar, dengan jantung berdebar kencang. Tangannya mengepal kuat menahan emosi yang datang melanda.


Di sana Rania pun mengatakan jika dirinya memang sedang mencari kelemahan Song Mi Kyong. Namun, tanpa sengaja penemuannya bersama Hana mendapatkan kebenaran tentang Kim Won Shik juga.


Lee Ba Ram, merupakan adik seibu yang sangat ia sayangi. Awalnya ia tidak suka mengingat hubungan gelap yang dilakukan sang ibu menghadirkan seorang adik perempuan yang tidak diinginkan.


Namun, seiring berjalannya waktu Lee Ba Ram mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari ayah kandungnya. Ia dilecehkan dan hampir diperkosa hingga membuat gadis berusia sepuluh tahun itu ketakutan.


Won Shik sebagai seorang kakak, tidak terima adik perempuannya dirusak oleh ayahnya sendiri. Meskipun awalnya ia kesal dengan keberadaan Ba Ram, tetapi setelah mengetahui kejadian itu, rasa iba dan kasihan mulai tumbuh.


Lama kelamaan ia menyayangi Ba Ram seperti adik sesungguhnya. Terlebih setelah insiden itu terjadi, ibu mereka meninggalkan keduanya begitu saja.


Tanpa belas kasih sang ibu menghilang tanpa jejak, beruntung harta yang ditinggalkannya cukup menghidupi ia dan juga adiknya.


"Bagaimana bisa... bagaimana bisa kamu tahu kehidupanku sampai sejauh itu?" tanya Won Shik terkejut bukan main mendengar semua cerita yang Rania sampaikan.


Wanita berhijab hitam dengan mantel panjang menutupi hampir seluruh tubuh rampingnya berjalan menghampiri.


Sampai, mereka berdiri berhadapan dengan jarak lumayan dekat, hingga Rania bisa melihat kesedihan dalam mata kelamnya.


"Karena... aku tidak bisa mengabaikan seorang wanita yang hampir dirusak oleh ayahnya sendiri. Lee Ba Ram wanita yang sangat cantik. Adikmu itu... pandai bermain piano. Aku harap kelak dia bisa menjadi pianis terkenal," kata Rania lagi.


"M-mwo? Apa kalian sudah-"


"Iya, kami sudah bertemu dan pertemuan itu dirahasiakan di antara... kami saja. Siapa sangka jika semua ini menjadi senjata terkuat yang bisa kami gunakan untuk mendapatkan mu?" timpal Hana menggulirkan bola mata cokelat susu Won Shik beralih padanya.


Tanpa ekspresi pria itu memandangi ketiganya dalam diam. Ia tidak tahu apa yang tengah mereka lakukan, tetapi Won Shik sedikit tahu jika ada hal terjadi di sini.


"Aku mohon, jangan ganggu Lee Ba Ram. Dia cukup terluka dan tidak mudah sembuh dari trauma," pintanya kemudian.


"Apa itu? Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?" tanya balik Won Shik kembali memandangi mereka.


"Cukup mudah, kamu hanya harus-"


Tanpa diduga, tugas yang akan dilakukannya cukup mudah, tetapi memiliki resiko besar. Hal itu berhubungan dengan Song Mi Kyong, yang selama ini juga sudah membantunya.


...***...


Di sudut ibu kota, dua pasang insan tengah berjalan beriringan menuju salah satu hotel mewah. Orang-orang penting, hilir mudik memenuhi hasrat terpendam bersama wanita-wanita cantik populer di masanya.


Di antara mereka, Jim-in, Seok Jin, Mi Kyong, serta Ailee memesan salah satu kamar. Kedua wanita itu senang, pada akhirnya bisa mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini tanpa harus bersusah payah.


Kedua pria tercinta jatuh melemparkan diri ke dalam pelukan mereka begitu saja. Mi Kyong dan Ailee benar-benar dirundung suka cita, hampir mendapatkan sang terkasih.


Sesampainya di kamar VIP, kakak beradik sepupu itu langsung melancarkan aksi. Namun, pergerakannya seketika terhenti saat Jim-in tiba-tiba saja mengacungkan ponsel tepat di depan wajah mereka.


Mi Kyong dan Ailee melebarkan pandangan, terkejut mendapati satu nama di dalam layar persegi itu.


"Yeoboseyo, apa eomma dan appa masih ada di sana?" Jim-in berteriak dan me-loudspeaker panggilan yang dari awal sudah tersambung.


"Dari tadi kami ada di sini, sekarang kalian ada di mana?" Suara berat nan serak seseorang terdengar.


Seketika sekujur tubuh Song Mi Kyong membeku dan tidak bisa melakukan apa pun setelah mendengarnya.


"Seperti yang aku katakan beberapa jam lalu, jika putri eomma dan appa serta keponakan kalian benar-benar membawa kami ke sebuah hotel," jelas Jim-in lagi.


"MWO? VIDEO CALL SEKARANG!" tegas suara nyaring yang kembali mengejutkan dua wanita di sana.


Sedetik kemudian Jim-in langsung merubah panggilan itu menjadi video call. Jantung Mi Kyong dan Ailee berdetak kencang menyaksikan Song Hwan dan Song Yeri menampilkan wajah marah.


"KALIAN BERDUA PULANG SEKARANG JUGA!" teriak Song Yeri, ibu kandung dari Song Mi Kyong.


Setelah mengatakan itu panggilan pun berakhir begitu saja. Jim-in dan Seok Jin melihat keduanya menegang di tempat.


Pandangan mereka jatuh ke bawah, tidak percaya bisa dijebak begitu cepat oleh pria yang dicintai. Mereka akhirnya sadar jika sedari awal Jim-in dan Seok Jin memasang perangkap.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kalian melakukan ini?" Mi Kyong emosi hendak melayangkan pukulan ke arah dada bidang Park Jim-in.


Namun, dengan cepat sang empunya langsung mencengkram kedua pergelangan tangannya membuat pandangan mereka saling bertubrukan.


Sebelah sudut bibir menawan tuan muda itu terangkat tajam seraya mendengus kasar.


"Aku tidak sudi merendahkan harga diri untukmu. Apa kamu tidak tahu? Semua ini memang rencana kami untuk menyadarkan kalian," tegas Jim-in, suaranya dalam menahan amarah.


Mi Kyong terbelalak dan kembali menarik pergelangan tangannya kasar. Ailee yang mendengar semua penjelasannya itu juga naik pitam.


"Dasar kalian tidak tahu diri! Bukan seperti ini cara bermainnya." Ailee geram memandangi kedua pria itu bergantian.


"Kalau bukan seperti ini, lantas bagaimana? Apa kami harus menyebarkan video kalian di klub malam tadi?" Seok Jin pun mengacungkan benda pintar miliknya.


Mi Kyong dan Ailee sadar jika dokter serta pengusaha itu tidak main-main. Ketenangan mereka terancam dan sedetik saja bisa menghancurkan semua yang keduanya miliki.