VARSHA

VARSHA
Bagian 15




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Hujan air mata masih setia menemani Rania. Tubuh kecilnya merapuh dengan wajah pucat pasi. Ia tidak menyangka harapan yang ingin dibangun seketika runtuh sebelum terwujud.


Sudah hampir satu jam lamanya ia menangis seorang diri.


Ia butuh dekapan suaminya saat ini. Namun, tidak ada sosok pria itu di sampingnya. Rania pun memutuskan kembali ke kamar dan mendapati sang suami yang kini tengah menatapnya dalam diam.


Penampilan acak-acakan nya membuat Jim-in menyeringai. Entahlah apa yang tengah pria itu pikirkan. Perasaan tidak enak kembali menghantui Rania.


"Untuk apa kamu menangis? Cepat atau lambat kejadian seperti ini akan terjadi dan sekarang terbukti," ungkapnya. Sebagai suami Jim-in malah menambah perih pada luka menganga.


"Kenapa Tuan menyetujui pertunangan itu? A-apa Tuan lupa kita sudah menikah?"


Rania berusaha menyadarkan. Namun, lagi-lagi seringaian hadir di wajah tampan Jim-in.


"Menikah?" Jim-in tertawa mengejak, "Kamu benar aku sudah menikah, tapi apa kamu lupa tujuanku menikahimu? Karena kamu aku jadikan sebagai pelayan pribadi dan ... apa kamu lupa aku masih mencintai Yuuna?"


"Tapi aku mencintaimu, Tuan."


Seketika tawa sang tuan muda menggelegar dalam ruangan lalu tatapannya semakin tajam pada Rania mendengar pengakuannya.


"Cinta? Kamu mencintaiku? Mana ada pelayan jatuh cinta pada tuannya. Jangan mimpi kamu! Selamanya cinta itu tidak akan menjadi kenyataan. Dalam duniamu cinderella tidak akan berubah menjadi putri. Camkan itu!"


Ucapan pria yang berstatus sebagai suaminya seketika menusuk tepat sasaran. Seperti anak panah yang terhunus mengenai target menimbulkan lubang menganga.


Rania mengepalkan kedua tangan erat dengan liquid bening kembali tumpah ruah. Baru saja hujan itu reda kini turun lagi dan bertambah deras seiring Jim-in meninggalkannya.


Hancur sudah pertahanan Rania runtuh seketika. Kedua kaki tidak bisa lagi menahan berat badannya sendiri. Hanya ada isakan pilu yang bergema dalam kamar.


"Ya Allah," bisiknya lirih tidak bisa berkata-kata lagi.


Di lantai bawah Nyonya Park dan wanita itu tengah duduk bersama di ruang tamu. Berbagai brosur tersebar di atas meja berbentuk segi panjang tersebut. Terlihat itu adalah beberapa contoh dekorasi untuk acara pertunangan.


Seperti akan mengadakan sebuah pernikahan keduanya nampak bersemangat menyiapkan semuanya.


Sudah lama wanita bernama Kim Yuuna menginginkan ikatan yang lebih serius dengan Tuan Muda Park.


Saat tahu pria itu menikah, Yuuna tidak terima. Perpisahannya dengan Jim-in memanglah kesalahannya. Karena ia tidak bisa menerima keadaan sang kekasih yang sekarang. Namun, kini rasa bersalah menyeruak dan ia ingin kembali.


Entah perasaannya tulus atau tidak hanya waktu yang akan menjawabnya.


"Sayang, bagaimana kalau yang ini? Eomma rasa akan cocok dengan kepribadianmu yang ceria," ucap Gyeong menjulurkan salah satu brosur pilihannya.


"Aku setuju. Kalau begitu kita pilih saja yang ini." Final Yuuna setuju.


Mereka terlihat asyik dengan kegiatannya sendiri mengabaikan seorang wanita yang kini tengah berlinang air mata.


...🌦️🌦️🌦️...


Seminggu berlalu setelah kejadian itu, Jim-in sering menghabiskan waktu bersama Yuuna tanpa mengindahkan sedikit pun keberadaan Rania. Seperti sekarang. Pria Park itu menemani sang calon tunangan memilih gaun.


"Yuuna, bagaimana kalau setelah ini kamu antar aku ke rumah sakit? Hari ini aku harus terapi," ungkap Jim-in mengusik ketenangannya.


"Ke rumah sakit? Em, tapi setelah ini aku harus bertemu teman-temanku. Oppa tahukan kalau kita sebentar lagi bertunangan dan aku ingin menghabiskan waktu bersama mereka sebelum acara itu," tolaknya halus.


"Baiklah kalau begitu." Jim-in membiarkannya saja.


Rania yang baru saja selesai membersihkan lantai dua terkejut saat tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Ia pun menatap keduanya bergantian lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan mencari ketenangan. Setelah itu ia berjalan mendekati sang suami.


"Tuan, sudah menjadi tugas saya untuk mengantar Tuan berobat. Dua puluh menit lagi kita akan berangkat ke rumah sakit. Kalau begitu saya siap-siap dulu," ucapnya mengejutkan mereka kemudian Rania pun kembali melengos pergi.


"Oppa lihat, dia istri yang pengertian. Aku pergi dulu sampai bertemu dua minggu lagi," ujar Yuuna melenggang pergi dari hadapannya.


Jim-in terdiam tidak mengatakan sepatah kata pun. Sesuatu dalam benaknya mencoba menyeruak.


Beberapa menit kemudian pasangan suami istri itu berada dalam perjalanan menuju rumah sakit, lagi. Sedari tadi Rania hanya fokus menyetir tanpa sedikit pun memperhatikan sang suami. Merasakan hal berbeda, Jim-in menoleh ke samping memperhatikan istrinya dalam diam.


Selama itu pula Rania tidak sadar hingga tiba di tempat tujuan.


Seperti biasa Rania akan mendampingi Jim-in dalam pengobatan. Namun, keadaan sekarang membuat sang dokter mengerutkan kening.


Rania tidak lagi mendekap hangat suaminya. Ia hanya menuntun Jim-in dalam diam.


"Apa kalian sedang bertengkar? Yak! Jim-in kamu pasti tidak memperlakukan Rania dengan baik kan?" celotehnya membuat kedua insan itu menoleh.


"Apa yang *H*yung katakan? Tidak ada yang terjadi," dustanya.


"Apa itu benar Rania?"


Tanpa menjawab Rania pergi begitu saja dari sana. Hal tersebut tentu saja mengundang rasa penasaran dokter muda itu. Ia pun berjalan mendekati Jim-in selepas kepergian istrinya.


"Hm, sepertinya aku mencium bau-bau kebohongan. Kalau begitu kamu duduk dulu di sini biar aku temui istrimu," ujarnya lalu memapah Jim-in duduk ke kursi roda. Setelah itu ia pun meninggalkannya sendirian.


Ruangan serba putih di sama terasa lengang tanpa ada orang lain selain dirinya sendiri. Ia menghela napas berat memikirkan kehidupannya saat ini.


Di taman rumah sakit Rania kembali menangis. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan. Rasanya jika ditampung sudah bisa menyirami bunga-bunga di sana. Ia berusaha tegar menghadapi permasalahan yang ada, tapi tetap saja rasanya begitu sakit.


"Rania." Panggil Seok Jin.


Buru-buru Rania menghapus air matanya kasar saat pria itu mendekat dan duduk tepat di hadapannya.


"Kamu menangis? Wae? Apa pria itu menyakitimu?"


Ingin sekali Rania berteriak sekencang-kencangnya dan mengatakan jika memang benar Jim-inlah orang yang sudah menyakitinya. Namun, ia tidak bisa membeberkan keburukan sang suami pada orang lain. Apalagi kepada pria lain.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Selama ini aku sudah menganggap Jim-in seperti adikku sendiri. Beberapa tahun lalu dia mengalami kecelakaan hingga membuat kedua kakinya lumpuh. Sejak saat itu aku yang menanganinya. Anggap saja aku ini dokter pribadi Jim-in. Keluarga Park sudah mempercayakannya padaku. Karena aku satu-satunya dokter muslim di sini. Aku tahu seperti apa kepribadiannya. Dia tempramental, kasar dan juga arogan. Asal kamu tahu saat pertama kali mengetahui dirinya lumpuh Jim-in menangis kencang seperti anak kecil. Memang siapa orang yang mau mengalami nasib malang seperti itu. Bahkan aku pun tidak bisa."


"Bertahun-tahun Jim-in enggan melakukan terapi. Alasannya pasti tidak akan membuahkan hasil, tapi setelah ia menikah dan kamu datang bersamanya hari itu aku melihat sesuatu yang baru. Semangat yang dulu redup perlahan datang. Dia terlihat seperti melakukannya untuk seseorang, dan sepertinya itu kamu, Rania."


"Aku juga sudah menganggap mu seperti adikku sendiri," ungkap Seok Jin panjang lebar. Rania terperangah mendengar sepenggal kisah masa lalu sang suami.


Namun, rasanya ia tidak percaya jika Jim-in melakukan itu untuk dirinya. Bahkan selama ini ia hanya dianggap sebagai pelayan. Tidak lebih.


"Dua minggu lagi tuan akan bertunangan." Rania pun mengungkapkan alasannya. "Bodohnya aku malah mencintai tuanku sendiri. Aku sadar diri dan harus segera melupakan perasaan ini. Terima kasih karena sudah mengatakan itu padaku," tutur Rania seraya tersenyum tegar.


...🌦️TEGAR🌦️...