VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 24



Fajar menyingsing, siluet raja siang muncul ke permukaan. Cahayanya memberikan lukisan Allah yang sangat indah.


Bagi penikmat matahari terbit, pemandangan di atas cakrawala saat ini begitu memanjakan mata.


Begitu pula dengan Zahra, selepas tidur kurang lebih dua jam ia kembali bangun dan langsung melaksanakan kewajibannya, setelah itu kini ia sedang berada di lorong pojok lantai sebelas.


Ditemani segelas air hangat ia menyaksikan pemandangan ibu kota lewat jendela besar sebagai dinding pembatas mengelilingi bangunan.


Wajahnya terlihat sedikit pucat dengan kedua mata sembab dan bengkak. Semalaman ia terus menangis tanpa henti mengenyahkan perasaan kalut.


Di tengah kesendirian, ponsel di saku dinasnya bergetar kuat. Ia merogohnya dan mengeluarkan benda pintar itu memperlihatkan nama adik pertama di layar.


Ia pun menerimanya seraya berusaha terdengar ceria.


"Halo, assalamu'alaikum, iya ada apa, Lun?" tanyanya.


"Wa'alaikumsalam, teteh... apa kabar teteh di sana?" tanya balik Laluna.


"Alhamdulillah teteh baik-baik saja di sini. Kalian di sana bagaimana?" tanya Zahra kembali.


"Alhamdulillah, kami juga baik-baik saja. Begini teh, bulan depan kan aku lulus sekolah, nah rencananya aku ingin bekerja dan setelah mendapatkan cukup uang, aku, Zaitun, dan Adam akan menyusul teteh ke sana," jelasnya.


"A-apa? Tidak usah Lun, sebentar lagi teteh juga lulus dan kita bisa kembali berkumpul bersama."


Jawaban yang diberikan Laluna setelahnya pun membuat perasaan Zahra campur aduk. Pegangan di ponselnya bergetar kuat dengan degup jantung bertalu kencang.


"Tidak apa-apa teh, sekalian kami ingin liburan di sana juga. Karena aku mendengar... mamah sudah menikah lagi dan mendapatkan keluarga baru di sana. Aku hanya ingin... memastikannya saja. Karena seminggu yang lalu mamah mengirimiku pesan untuk tidak mencari keberadaannya, dan... mamah juga bilang sudah tidak peduli lagi pada kami. Aku juga tahu dari bibi Sabil kalau mamah ada di negara itu,"


"KALAU BEGITU JANGAN KE SINI!" Tanpa sadar Zahra berteriak membuat Laluna di seberang sana terkejut.


"Maaf, maksud teteh bagaimana kalian bertiga pergi ke sini? Harga tiketnya saja sangat mahal."


"Tidak apa-apa, bibi sudah menjual tanah ayah di-"


"Apa? Itu harta kita satu-satunya, kenapa bisa... bibi? Astaghfirullah, sudah dulu yah Lun, teteh banyak pekerjaan."


Tanpa menunggu balasan sang adik, Zahra langsung menutup teleponnya begitu saja.


Ia menegak air hangat tadi dalam sekali napas lalu meremas paper cupnya kuat. Napasnya naik turun, emosi menguasai diri membuat bola matanya bergulir tak karuan.


Ia menoleh ke samping kiri di mana hanya ada keheningan menyambut. Sorot matanya begitu tajam memindai kekosongan yang seolah menarik diri.


Zahra melangkahkan kaki dengan rasa sakit menumpuk yang tidak bisa ditahan lagi.


...***...


Di lantai satu, Zulfa bersama suaminya, Lee Dong Hyuk, dan buah hati mereka Lee Young Mi tengah duduk berdampingan.


Suasana hangat nan damai begitu apik dirasakan di sana yang hanya ada mereka bertiga saja.


Perawat yang baru saja memeriksa Young Mi pun tersenyum manis, ikut senang betapa harmonisnya keluarga mereka.


Namun, di tengah kebersamaan mereka langkah tegap seseorang mengejutkan. Zulfa beranjak dari duduk seraya melebarkan mata tidak percaya.


"Kamu!" geramnya.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Zulfa takut-takut.


Zahra menyeringai lalu beralih ke arah pria dewasa dan anak kecil di sampingnya. Kepala berhijab itu mengangguk beberapa kali dan beradu pandang ibunya lagi, ia pun menyadari satu hal jika suami baru itu tidak tahu apa pun mengenai masa lalu Zulfa.


"Dia-"


"Ah, apa Eomma tidak memberitahu siapa aku?" Zahra memotong ucapannya cepat.


Ia berjalan ke depan semakin mendekati sang ibu. Wanita paruh baya itu seketika kelimpungan memandangi Zahra dan suaminya bergantian.


"Eomma? Siapa dia sebenarnya?" tanya Dong Hyuk lagi penasaran.


"Di-dia bukan siapa-siapa, Yeobo. Dia hanya orang asing, aku tidak tahu siapa dia. Mu-mungkin dia salah orang," kata Zulfa gugup.


"Berhenti! Jangan mendekatiku, kamu wanita aneh, anak kurang ajar, tidak tahu diri," cercanya terus menerus kala Zahra masih melangkah mendekatinya.


Sampai, "Aku bilang berhenti, sialan!" Zulfa mengumpat dan kembali menampar wajah Zahra di tempat yang sama untuk kedua kalinya.


Kepala berhijab itu sampai menoleh ke samping dengan bibir sedikit robek serta mengalirkan darah segar.


Adegan tersebut seketika kembali menarik perhatian. Orang-orang yang ada di sekitar sana langsung memandang ke ruangan.


Suara tamparan yang diberikan Zulfa bergema dan lebih keras dari semalam. Napasnya bergemuruh dengan amarah membuat ia tidak sadar melakukan hal tadi.


Zahra terkekeh pelan lalu mendongak menatap ibunya sekilas dan menoleh ke belakang.


"Sepertinya Anda tidak tahu siapa Nyonya ini sebenarnya. Beliau adalah ibu kandung saya... ibu kandung putri Anda, dan ibu kandung adik-adik saya. Inilah sosok Zulfa sebenarnya, wanita yang sudah Anda nikahi!" kata Zahra menatap lekat pada Dong Hyuk.


Mendengar penuturan itu pria yang bekerja sebagai owner buket di salah satu toko cukup terkenal di ibu kota pun melebarkan pandangan.


Ia tidak percaya dan menduga mendengar fakta mencengangkan dari wanita asing di hadapannya.


Zahra mengusap darah di sudut bibirnya kasar dan memandangi cairan merah kental itu di jari telunjuknya.


"Darah? Bahkan luka ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang kami rasakan-" Zahra menjeda kalimatnya dan memandang Dong Hyuk serta Young Mi bergantian.


"Semoga kehidupan kalian baik-baik saja, senang bisa bertemu dengan Anda." Zahra menganggukkan kepala singkat lalu pergi begitu saja menyimpan kekesalan untuk diberikannya nanti.


Tanpa ia sadari, adegan tersebut disaksikan langsung oleh sahabatnya, Raina.


Ia yang harus kembali bertugas sebagai perawat magang di rumah sakit tidak menyangka harus menyaksikan kejadian tadi.


Melihat sahabatnya datang Zahra semakin tidak karuan. Air mata tidak tertahankan dan ia menangis sejadi-jadinya seraya berlari kecil menerjang tubuh Raina.


Wanita itu pun membalasnya tak kalah erat dan mengusap punggungnya beberapa kali.


"Tidak apa-apa semuanya akan baik-baik saja," kata Rania menenangkan.


Setelah itu ia membawa Zahra pergi dari sana dan kerumunan tadi dibubarkan oleh dokter senior yang lagi-lagi harus melihat kejadian tak terduga.


Rasa sakit yang didapatinya sejak semalam semakin kuat membuat ia ingin melindungi wanita itu.


Saat melihat Zahra berlari sambil menangis mendekati Raina, jauh dari lubuk hatinya ia ingin menggantikan posisi istri dari sang adik.


Namun, ia sadar jika hubungan mereka tidak sejauh itu. Bahkan dirinya tahu seorang wanita dan pria yang bukan mahram tidak boleh bersentuhan, kecuali sudah ada akad di antara keduanya.


Ia mengepal tangan erat menyaksikan pertengkaran kecil di ruang inap. Anak mereka yang masih berumur delapan tahun pun menangis menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri adegan memilukan.


Seok Jin hanya bisa mendengus masam pada kenyataan yang ada. Ternyata wanita yang baru beberapa bulan ia kenal, menyembunyikan rasa sakit begitu dalam.


"Kamu terlalu hebat menyembunyikan luka lewat senyuman," gumamnya.