
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Langit terlihat cerah. Musim semi sudah datang beberapa hari lalu. Aroma bunga sakura menguar menenangkan setiap insan yang menghirupnya. Begitu pula dengan Rania. Hari ini ia tengah berada di rumah sakit. Dua hari lalu dokter yang menangani Gyeong menghubungi mansion, jika wanita itu harus menjalani terapi. Suka cita menyeruak pada setiap penghuni bangunan megah tersebut.
Dan di sinilah Rania sekarang, berada di ruang 'terapi'. Seperti de javu, ia merasakan kenangan dulu kembali terulang. Namun, yang membedakan dirinya tidak bersama pria itu melainkan ibu kandungnya.
Senyum mengembang tat kala wanita berumur 50 tahunan tersebut berusaha meraih besi panjang dikedua sisinya.
"Ayo nyonya, Anda pasti bisa." Semangat Rania. Suaranya sampai menggema dalam ruangan tersebut.
"Hentikan!! Kau membuatku malu." Tuturnya masih bersikap arogan.
"Hehehe mianhae." Kikuknya.
Gyeong mendengus sebal. Perlahan tangannya terulur dan sekuat tenaga bangun dari duduknya. Suster yang tengah berdiri di samping kanan membantunya berdiri. "Coba nyonya melangkah pelan-pelan."
"I...ini susah, sus. Sakit juga." Keluhnya.
"Tidak apa-apa. Coba saja lebih baik biasakan kembali kakinya berjalan. Dokter mengatakan jika kelumpuhan pada kaki nyonya tidak permanen. Jadi, nyonya masih mempunyai kesempatan untuk berjalan." Jelasnya. Senyum pun mengembang diwajah tuanya.
"Baiklah."
"Bismillah, nyonya. Anda pasti bisa ada Allah, Maha Penyembuh." Kata Rania diujung sana. Gyeong sekilas menatap padanya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Wanita itu berusaha melangkahkan kakinya. Namun, saat di tengah-tengah Gyeong tidak bisa menahan berat badannya sendiri. Jika bukan karena Rania yang melihat pergerakannya, mungkin sekarang Gyeong sudah berakhir menghantam lantai. Tubuhnya yang oleng pun langsung ditahan oleh Rania. Gerak cepatnya menyelamatkan sang mertua.
"Rania?" cicitnya.
"Seperti ini dulu saya membantu Tuan Muda dalam terapinya. Hehehe ini mengingatkan saya bersamanya. Saya sangat mencintai Tuan Muda, nyonya. Bisakah nyonya benar-benar merestui pernikahan kami? Aroma nyonya sangat mirip dengannya. Aku merindukannya sosoknya yang dulu." Akunya dengan suara mengecil diakhir kalimat.
Gyeong mengerutkan dahi, bingung. Ada nada getir, gelisah, sekaligus takut yang tertangkap pendengarannya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Gyeong membiarkan Rania membantunya berjalan seraya memeluknya erat. Pemandangan itu seketika membuat suster yang menyaksikannya ikut menyunggingkan senyuman.
"Ibu dan anak yang saling melengkapi." Gumamnya.
Sedangkan di pusat kota Seoul, seorang pria berusia hampir mencapai 29 tahun itu tengah berjalan dengan gagahnya dalam balutan jas hitam. Bahu bidang menambah betapa wibawanya sosok tersebut. Semua mata karyawan wanita membola sempurna dengan mulut menganga lebar. Entah mimpi apa semalam, mereka bisa melihat pemandangan indah pagi ini. Decak kagum pun berdengung dalam telinga pria itu. Namun, sedikit pun tidak menyurutkan langkahnya untuk berhenti.
Beberapa saat kemudian kumpulan para wanita yang berada di lobi sudah berpindah ke aula paling atas dalam gendung tersebut, tak terkecuali dengan karyawan pria. Semua orang yang bekerja di sana sudah menempati ruangan yang sama.
"Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua. Sepertinya kalian sudah tidak asing lagi dengan saya. Hari ini saya akan mengumumkan mengenai pemindahan pemegang saham perusahaan ini secara sah. Saya Park Jim-in resmi memegang jabatan sebagai pemimpin perusahaan. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik." Tutur Park Jim-in dengan wajah angkuhnya.
Salah satu dari mereka pun mengangkat tangan setelah Jim-in menyelesaikan ucapannya, "permisi sajangnim kenapa tiba-tiba? Ke mana nyonya Gyeong? Kenapa beliau tidak hadir dalam pelantikan Anda?" tanyanya. Karena memang kecelakaan tersebut tidak disebar luaskan.
"Eommanim, ahh maksud saya sajangnim sebelumnya mempunyai urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Untuk itu saya yang menggantikannya. Baiklah jika tidak ada pertanyaan lain kalian bisa kembali bekerja." Jim-in menutupnya secara sepihak. Bahkan masih banyak dari mereka yang ingin mengutarakan rasa penasarannya. Namun, bagaimana lagi kekuasaan sudah berada ditangan pria itu.
Mereka pun satu persatu mulai membubarkan diri hingga tersisa Jim-in beserta sekertarisnya Lee NamJoon.
"Apa Anda tidak keterlaluan? Nyonya sedang sakit, tapi Anda di sini mengumumkan kepemilikan baru?"
"Obsesi. Yah, sekarang pria itu sedang dilanda obsesi. Apa cinta masih ada dalam dirinya?" racau NamJoon yang terus menatap kepergian atasan sekaligus sahabatnya tersebut.
...🌦️🌦️🌦️...
Bagi siapa saja yang membuka mata selepas mimpi panjang semalam, pasti mengharapkan hal baru yang jauh lebih baik dari kemarin. Rania menjadi salah satunya. Harapan yang sudah dibangunkan sejak kemarin harus kandas kala perkataan suami tidak mungkin bisa dibantah.
Baru saja ia selesai menyiapkan keperluan untuk kembali menemani sang mertua terapi di rumah sakit, suara Jim-in mengejutkannya.
"Ke rumah sakit lagi? Membantu wanita itu lagi? Sudah berapa kali aku katakan Rania, kamu tidak usah bertemu dengannya lagi."
"Tapi oppa, beliau mertuaku. Otomatis beliau sudah menjadi ibuku juga. Aku ingin membantunya sampai sembuh dan kembali berjalan." Jawab Rania tulus.
"Sampai wanita itu kembali menyakitimu. Itu yang kamu inginkan?"
"Bu....bukan begitu maksudku. Aku percaya eommanim tidak mungkin melakukannya lagi." Balasnya takut-takut saat melihat sorot mata Jim-in menjadi mengintimidasinya.
Perlahan pria itu berjalan mendekatinya. Otomatis Rania pun berjalan mundur, hingga punggungnya terhenti karena meja makan di belakangnya. Aura mencekam kembali mengaur dalam diri sang suami. Sampai Jim-in pun tepat berdiri di hadapannya.
Tangannya terulur menekan pelan dagu sang istri. Rania terpaksa mendongak dan bertatapan langsung dengan netra kecil itu. Ada kilatan amarah yang tersimpan apik di sana.
"O...oppa." Cicitnya menyadarkan.
"Sudah ku bilang aku tidak akan segan-segan lagi pada orang yang sudah menyakiti wanitaku. Siapa pun itu, aku tidak peduli."
"Astaghfirullah hal adzim, sadar oppa. Beliau ibu kandungmu. Wanita yang sudah melahirkanmu."
"Apa kamu tuli? A-k-u t-i-d-a-k p-e-d-u-l-i." Ucapnya penuh penekanan.
Rania merinding mendengarnya. Ke mana perginya Jim-in yang hangat? Kenapa pria yang berdiri di depannya sekarang penuh dengan aura mengerikan? Lagi-lagi air mata harus mengalir dipipinya.
Melihat itu Jim-in menusapnya perlahan lalu memberikan kecupan ringan dikedua matanya. Rania langsung mengatupkan kelopaknya merasakan sentuhan hangat sang suami. Meskipun perlakuan itu terasa menyenangkan, tapi tidak untuk sekarang. Rania meremat meja dibelakangnya berusaha mengenyahkan ketakutan.
Tidak seharusnya ia kalut terhadap suaminya sendiri. Namun, bagaimana pun juga sekarang Jim-in terasa sudah berubah.
"A..apa aku bisa ke rumah sakit sekarang? Oppa tahu sendirikan terapi berjalan itu tidak mudah? Oppa juga merasakannya, kan?"
BrakkK!!
Jim-in menggebrak meja itu dengan kuat membuat Rania tersentak. Baru kali ini suaminya bertindak seperti sekarang. Wanita itu berjingkat kaget dengan degup jantung meningakat tajam. Ia tidak sanggup menatap bola mata di hadapannya ini.
"Tatap aku Rania." Suara baritone itu mengintrupsi, tidak ingin dibantah. Dengan takut-takut Rania pun memaksakan kepalanya kembali mendongak.
"Dengar apa kata suamimu, jika tidak ingin menjadi istri durhaka. Duduk di rumah dan tunggu aku pulang." Ujarnya dengan nada yang dingin.
Ia pun mendaratkan kecupan hangat didahi sang istri. "Aku kerja dulu. Aku harap ketika pulang kamu menyambutku dengan senyum manis." Lanjutnya lalu melangkah pergi meninggalkan Rania.
Brukhh!!
Sepeninggalan Jim-in, Rania menjatuhkan dirinya tidak kuasa menopang berat badannya sendiri. Rasanya sesak sekali melihat perubahan sang suami seperti sekarang. "Ya Allah apa yang sudah terjadi? Ke...kenapa oppa berubah?" lirihnya dengan derai air mata.
...🌦️PERUBAHAN 2🌦️...