VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 33



Hawa dingin menyapu wajah putih dua insan tengah duduk sedikit berjauhan di bangku atap.


Sesekali angin berhembus mengenyahkan kepelikkan dalam dada. Tidak ada yang tahu bagaimana Allah menuliskan skenario terbaik untuk hamba-Nya.


Terkadang kedatangannya menyuguhkan luka serta perih tak berkesudahan. Namun, setelahnya pasti mendatangkan kebaikan sebagaimana keyakinan pada Sang Pemilik Kehidupan.


Begitulah takdir Allah bekerja. Kadang kala Allah menguji setiap hamba untuk diberikan kebahagiaan, tetapi kadang kala manusia sering mengeluh dan berpikir jika diri sendiri tidak sanggup mengembannya.


Namun, Allah tidak membebani hamba di luar batas kemampuannya.


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya." (Q.S. Al-Baqarah: 286)


Di bawah langit yang sedikit kelabu, Zahra dan Seok Jin sedari sepuluh menit lalu menepi di sana.


Keduanya diam membiarkan pikiran melalang buana. Seok Jin pun enggan memulai pembicaraan memberikan kesempatan kepada Zahra untuk merenungkan apa yang baru saja terjadi.


Setelah pertemuannya di kantin beberapa saat lalu, Seok Jin berinisiatif mengajak Zahra menepi sejenak di sana, mencari udara segar.


Di tengah kemelut membungkus dirinya lagi, Zahra merasa tidak enak jika terus membiarkan Seok Jin seperti itu. Ia pun memulai pembicaraan.


"Saya... minta maaf sudah membuat keributan berulang kali di rumah sakit," ucapnya menyesal.


Seok Jin terdiam beberapa saat lalu melengkungkan kedua sudut bibir sempurna.


"Em, tidak apa-apa. Aku... juga minta maaf sudah berkali-kali melihat dan mendengar apa yang terjadi," aku sang dokter merasa tidak enak jika harus mengetahui dalam diam.


Pernyataan itu pun membuat Zahra menoleh tak percaya.


Dahinya mengerut dalam seolah mengatakan apa maksudnya?


Seok Jin yang menyadari itu menoleh singkat dan memberikan senyum hangat.


"Aku melihat dan mendengar semuanya. Maaf, aku tidak bermaksud menguping atau ingin tahu apa yang terjadi padamu, tetapi-" Seok Jin menghentikan ucapannya kembali memandangi Zahra.


"Melihatmu menangis seperti itu-"


"Sangat memalukan, maaf aku tidak bermaksud memperlihatkannya... hanya saja-" ucap Zahra memutuskan ucapan sang dokter.


"Ani... melihatmu seperti itu membuat perasaanku sakit. Aku... ingin melindungi dan menjagamu, Zahra," potong Seok Jin kembali.


Sepasang jelaga itu melebar, tidak percaya mendengar ungkapan sang dokter.


Lidahnya kelu, setiap kata yang hendak disampaikan tercekat di tenggorokan.


Zahra tersenyum canggung dan menarik diri menghadap ke depan. Ia menggaruk pangkal lehernya gamang dan sedetik kemudian wajahnya berubah datar.


"Rasanya... saya tidak pantas mendengar ungkapan Anda, seonsengnim," balas Zahra lirih.


Seok Jin terkesiap, menyadari sesuatu hal terjadi pada wanita itu. Ia juga mengerti tidak mudah menerima pernyataan cinta dari seseorang yang belum dikenal cukup jauh.


Dokter tampan itu ikut memandang pemandangan ibu kota seraya menikmati hembusan angin yang kian datang menyapa.


"Perasaan itu datang tanpa bisa dicegah. Rasa cinta hadir sebab adanya izin Allah, fitrah manusia yang harus dihadapi dengan baik. Aku tidak ingin perasaan ini menjebak ke dalam hal yang salah. Karena itu aku mengungkapkannya padamu. Karena aku mencintaimu, Zahra."


"Aku tidak pernah membohongi perasaanku sendiri. Bahkan sudah bertahun-tahun aku tidak merasakan perasaan seperti ini lagi. Namun, entah kenapa saat bertemu denganmu, cinta... kembali hadir tertuju padamu," ungkap Seok Jin menggebu-gebu menjelaskan semua yang dirinya rasakan.


"Aku juga tidak ingin perasaan ini membuatku melemahkan dan melebihi cinta kepada mahkluk daripada... cinta kepada Allah," lanjut Seok Jin lagi.


Mendengar semua penuturan dokter tampan tersebut, Zahra kembali bungkam.


Mulut ranumnya mengunci rapat mencerna semua perkataan yang barusan dilontarkan.


Ia sadar jika sosok di sebelahnya adalah pria beriman yang sudah lama dirinya harapkan. Namun, ada keraguan dalam diri membuat perbedaan mereka kian melebar.


Di satu sisi ia senang pada akhirnya mendapatkan seseorang yang bisa berada di sisinya, tetapi di sisi lain ia merasa tidak pantas untuk bersanding dengan pria menawan seperti Kim Seok Jin.


Ia hanya bisa mengulas senyum lemah sembari kedua mata berkaca-kaca.


Seok Jin pun menyadari itu hanya bisa melihat tanpa bertindak apa-apa. Ia sadar mereka bukanlah mahram yang bisa bersentuhan.


"Maaf, sa-saya... saya tidak tahu," ujar Zahra masih sibuk mengusap air mata.


"Em, aku tidak memaksamu untuk menjawab pernyataan ku tadi. Aku... hanya ingin mengungkapkannya saja," aku Seok Jin kemudian.


Zahra hanya mengangguk-anggukan kepala tidak bisa mengatakan apa pun lagi.


...***...


Rania tengah berada di sebuah ladang tandus berdiri di tepi menunggu seekor kuda mendekat.


Menggunakan peralatan lengkap sebagai pelindung, Rania sedari tadi berdiri begitu saja seraya tersenyum lebar.


"Rania, kamu mau menungganginya lagi?" tanya salah satu instruktur di sana.


Wanita berhijab hitam dengan helm membingkai wajahnya pun semakin melebarkan senyum.


"Iya, Baek Hyun-ssi, saya sedang ingin berkuda lagi," jawab Rania antusias.


Baek Hyun, pria berusia empat puluh tahunan itu sudah menjadi pelatih berkuda selama bertahun-tahun.


Rania dan Zahra sedari awal mengikuti unit kegiatan mahasiswa sudah dilatih oleh Baek Hyun.


Sampai sekarang pria itu masih aktif menjadi pelatih bagi setiap mahasiswa yang ikut kegiatan berkuda.


Sejak Rania dan Zahra mengikuti magang di rumah sakit, keduanya sudah lama tidak datang ke sana.


Hari ini tidak ada angin atau hujan Rania tiba-tiba saja hadir ingin berkuda lagi.


"Saya sudah lama tidak berkuda rasanya seperti ada yang kurang," kata Rania kemudian.


"Bagus aku senang mendengarnya. Bagaimana kalau hari ini kamu juga mulai memanah? Berkuda dan memanah bukankah itu terdengar menyenangkan?" tawar Bak Hyun kemudian.


Seketika manik jelaga Rania melebar. Ia terpekik senang mendapatkan tawaran yang sudah lama ia inginkan.


"Benarkah? Benarkah saya bisa berlatih berkuda sambil memanah?" tanya Rania memastikan.


Pria itu mengangguk seraya tersenyum lebar. Seketika itu juga Rania berjingkat senang dan langsung menyambar tali kekang kuda yang melaju ke arahnya.


Ia naik ke atas binatang berekor panjang itu bahagia. Ia terus melajukan kuda yang dari awal sudah berteman dengannya.


"Jangmi, mulai hari ini kita akan bekerja keras. Mohon kerja samanya," teriak Rania mengisap surai halus di kuda bernama Jangmi.


Kuda berwarna cokelat legam itu melengking ikut merasakan perasaan sang penunggangnya.


Rania terus mengitari ladang itu dengan penuh suka cita. Baek Hyun yang sedari tadi menyaksikannya pun ikut gembira.


Selang tiga jam kemudian, selepas menghabiskan waktu di sana dan berlatih memanah sambil menunggang kuda, Rania menuju kafe terdekat yang menyuguhkan makanan halal.


Ia duduk di dekat jendela seraya memeriksa pekerjaannya dalam iPad sambil beristirahat. Di temani segelas minuman dingin dan cheesecake, ia begitu menikmati waktu sendirinya.


Di tengah kesibukan yang melanda, tiba-tiba saja seseorang mengusik ketenangan.


"Bisa saya duduk di sini?" tanya suara halus menarik perhatian.


Rania mendongak mendapati seorang wanita yang sudah memberikan luka tak kasat mata kembali hadir.


Beberapa saat lalu Rania sengaja berkuda lagi untuk melampiaskan segala gundah gulana dalam dada.


Namun, saat ini tepat di depan mata kepalanya sendiri sosok itu hadir menyapa.


Manik terbingkai kacamata bulat itu melebar begitu cepat. Ia tidak percaya mendapati wanita asing tersebut mendatanginya secara langsung.


Rania bangkit dari duduk, berhadapan dengan sahabat karib sang suami.