
Alunan musik jazz mengalun menemani setiap tamu undangan yang datang.
Di salah satu aula hotel mewah, pesta pertemuan orang-orang elit pun digelar. Para tamu berasal dari pengusaha, selebritis, politikus, dan lain sebagainya memeriahkan acara kedua keluarga besar.
Kemeriahan semakin memuncak kala pesta tersebut juga dimaksudkan untuk mempertemukan kedua orang sebagai pasangan.
Namun, di tengah pesta Mi Kyong yang seharusnya menjadi peran utama malam ini mengejutkan semua orang.
Ia menggandeng pengusaha tambang terbesar di negara tersebut dan memperkenalkannya kepada tamu undangan.
Dengan bangga ia menghadapi mereka memperlihatkan pria di sampingnya.
"Selamat malam semuanya, perkenalkan dia, Park Jim-in calon suami saya," ucapnya lantang seraya tersenyum cerah dan menggandeng erat lengan kekar Park Jim-in.
Sang tuan muda pun tersenyum lebar seraya mengangguk beberapa kali menyapa orang-orang di sekitar. Hal tersebut bagaikan menegaskan apa yang diucapkan Song Mi Kyong.
Putra dari Kim Dal Mi yaitu Kim Jun-kook pun bertepuk tangan atas pengumuman yang diberikan wanita tepat di depannya.
Mereka saling berhadapan beberapa meter dan saling pandang melayangkan tatapan penuh makna.
"Selamat," katanya ikut senang.
Sang ibu yang berdiri tidak jauh darinya pun tersenyum gugup dan ikut bertepuk tangan. Seketika semua orang ikut menyambut pengumuman tadi dengan penuh suka cita.
Suara tepuk tangan mereka bergema di aula mengantarkan kepiluan kepada sepasang jelaga yang menyaksikan itu semua.
Di balik suka cita yang tengah pasangan itu bagikan, ada hujan air mata mengalir di pipi kemerahan Rania.
Beberapa saat lalu ia tiba di sana bersama Hana mendampinginya dari belakang. Ia terkejut menyaksikan jika pakaian yang mereka kenakan sangat serasi.
Wanita yang berdiri di samping sang suami mengenakan drees berwarna army dengan memperlihatkan bahu mulusnya dan ada belahan sebatas paha menunjukan kaki jenjangnya.
Kesan anggun nan glamour patut di sandingkan pada wanita itu. Rambut panjang hitamnya yang bergelombang semakin menambah volume kecantikan sang wanita.
Di tambah mendengar penuturannya barusan membuat Rania tak berdaya. Dadanya naik turun menyaksikan dengan kedua mata kepala sendiri bagaimana tulus nan lebar senyum sang suami diperlihatkan kepada para tamu undangan.
Ucapan demi ucapan selamat terus berdatangan menandakan jika mereka adalah pasangan yang hendak melangkah ke jenjang pernikahan.
Kata terima kasih pun tercetus semakin menegaskan lagi dan lagi jika keduanya saling jatuh cinta dan akan mengikat janji suci bersama.
Di tengah manisnya madu yang sedang mereka kecap, Rania berusaha menelan pahitnya empedu.
Ia berusaha membalikan diri untuk menghindari pemandangan menusuk mata di depannya.
Ia bersusah payah pergi dari sana dengan sekujur tubuh bergetar tak karuan. Hana yang berdiri tidak jauh darinya pun bergegas mendekat dan membawa Rania pergi.
Sepanjang musik yang mengalun, sepanjang langkah meninggalkan aula, selama itu pula luka kian menumpuk.
Air mata hadir sebagai bentuk kekecewaan. Kepedihan serta keperihan terus menyapa mengikis semua kepercayaan.
Tidak ada yang lebih menyakitkan selain, percaya pada orang yang salah.
Rania yang berusaha untuk membuka hati guna mempercayai kata-kata cinta dari sang suami kini membanting pintu hatinya kuat.
Rasa sakit kian menumpuk terus membuka bayangan demi bayangan masa lalu yang Rania pikir masih terjadi kemarin sore.
"Rania, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Hana berhasil membawa Rania ke lobi hotel.
Kedua kakinya melemah tidak sanggup menopang berat badan sendiri. Ia jatuh terduduk begitu saja mengabaikan setiap mata memandangnya, heran.
Rania hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan cairan bening terus bercucuran.
"Jika kamu menangis di sini akan menarik perhatian pengunjung dan pekerja hotel, bisa-bisa nanti suamimu tahu," jelas Hana lagi.
Mau tidak mau Rania pun berusaha bangkit untuk meninggalkan hotel.
Dibantu kembali oleh Hana, Rania berjalan lunglai menuju tempat parkir berada.
Tidak lama berselang kedua wanita itu tiba di dalam mobil. Mereka duduk berdampingan dengan keheningan.
"Sesakit inikah rasanya dikhianati oleh orang yang kamu percaya?" racaunya gamang.
"Aku memang belum mengenalmu cukup jauh, Rania, tetapi... aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Saat pertama kali kamu menghubungiku... aku pikir, mendapatkan kembali kehidupanku," balas Hana ikut memandang lurus ke depan.
Mendengar kata-kata itu seketika menarik atensi Rania. Kepala berhijabnya menoleh ke samping kanan menuntut penjelasan.
"Apa maksudmu?" tanya Rania penasaran.
"Sebenarnya aku mengalami KDRT, dan hampir merenggut nyawa. Kamu ingat saat pertama kali kita bertemu satu bulan lalu?"
Rania menarik ingatannya lagi yang melalang buana pada hari itu.
Satu bulan lalu Rania bersusah payah mencari tahu di mana jenazah sang ibu dikebumikan.
Ia terus mencari dan mencari sampai ketemu. Setelah berziarah Rania tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita.
Sosok itu sangat menarik perhatian membuat Rania mendekat.
Ia terkejut kala wanita asing tadi penuh luka lebam di wajahnya.
Rania pun sadar jika wanita itu mengunjungi seseorang di pemakaman.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Rania memastikan.
Wanita itu hanya mengangguk pelan lalu bangkit dari berjongkok nya hendak meninggalkan area pemakaman.
Namun, baru beberapa langkah ia berjalan wanita tadi jatuh pingsan.
Rania pun membawanya ke rumah sakit dan setelah itu mereka berkenalan hingga menjadi teman.
Rania yang mengetahui jika wanita bernama Hana itu tidak memiliki pekerjaan tetap pun, menawarkan sebuah pekerjaan.
Ia meminta Hana untuk memata-matai sang suami yang pada akhirnya membuat mereka menjadi dekat.
Keberadaan Hana tidak diketahui oleh siapa pun. Rahasia tersebut hanya kedua wanita itu saja yang tahu.
Berkat Hana juga Rania bisa mengetahui bagaimana kelakuan suaminya.
"Iya aku ingat, pada saat itu kamu dipenuhi luka lebam. Dokter juga mengatakan kalau kamu mengalami luka akibat pukulan seseorang, tetapi... kenapa kamu tidak menceritakannya padaku saat itu?" kata Rania lagi.
"Aku malu," balasnya singkat.
Rania mengangguk paham dan menghela napas pelan.
"Kita... sama-sama tidak beruntung akan cinta. Pria yang kita cintai nyatanya malah menyakiti," ucap Raina lagi.
Hana hanya mengangguk setuju.
"Namun, kamu masih punya kesempatan untuk mendengarkan alasannya kenapa bisa mengkhianati pernikahan kalian. Kamu... bisa melakukannya?" tanya Hana lagi.
Rania diam beberapa saat tidak langsung menjawab pertanyaan tadi.
Ia masih merasakan dadanya terus bergemuruh akan ingatan beberapa saat lalu.
"Entahlah, aku... hanya ingin ketenangan. Mereka... juga terlihat serasi satu sama lain. Jika aku orang luar... aku akan setuju dengan mereka yang mengatakan jika Park Jim-in dan wanita tadi sebagai pasangan sempurna," celotehnya mengandung luka di setiap kata.
"Aku percaya kamu bisa mengatasinya, Rania," kata Hana menyemangati.
Rania hanya mengangguk singkat dan mengucapkan terima kasih.
Malam ini bagaikan waktu terkejam yang pernah dirinya lewati.
Meskipun langit memperlihatkan keindahannya dengan menyebarkan bintang berkelap-kelip dan cahaya bulan terang benderang, tetapi awan kelam masih setia di kedua matanya.
Varsha kembali datang, menerjangnya kuat dengan guntur saling bersahutan.