
...
...
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Kilatan kepedihan. Angin kesengsaraan. Langit mendung. Rintik air hujan. Setia menemapati wajah tampan sang CEO muda tersebut. Sudah satu minggu berlalu sejak kepergian sang istri dalam hidupnya. Dunianya runtuh. Kehidupannya seakan mati. Bak tertelan air bah dalam sekejap mata. Wanita yang dicintainya, menghilang dalam pandangan.
Mulai hari itu juga kehidupan Park Jim-in tidak lagi sama. Penyesalan tiada guna, kata maaf menggantung dalam harap. Berharap ia bisa bertemu dengannya. Dengan wanita yang telah ia sia-siakan. Kepergian sang istri menjadi momen terparah dalam hidupnya. Seakan nyawa hilang dalam raga. Harapan untuk kembali bersama seakan tidak pernah ada.
Wajah yang selalu menampilkan keceriaan surut berganti kesedihan. Penyesalan hanya mengendap dalam ingatan kala sosok berharganya telah hilang dalam pandangan.
"Tim kita masih belum menemukan keberadaan Nona Muda, Tuan." Ucap seorang pria berjas hitam di hadapannya.
Brakkk!!
Seketika Jim-in terkesiap dan langsung menggebrak meja kebesarannya. Kilatan kemarahan terpancar jelas dalam mata itu. Ia tidak suka mendengar berita buruk dari anak buahnya ini.
"APA SAJA YANG KALIAN LAKUKAN? MENCARI SATU ORANG SAJA TIDAK BECUS!!!! PERGI SANA LAKUKAN YANG KALIAN BISA!!" teriaknya lantang.
Orang suruhannya pun menudukan kepala takut-takut kemudian ia pun melarikan diri dari amukan sang atasan.
Selepas kepergian pria berjas tadi, Jim-in kembali melempar dirinya dalam kursi. Memijat-mijat pangkal hidungnya mencoba menghilangkan kepeningan.
Tidak lama berselang pintu ruangannya kembali terbuka menampilkan seorang wanita berambut panjang. Senyum manis pun bertengger diwajah cantiknya. Wanita keturunan Korea-Amerika ini menyambut kemelut siang pemimpin perusahaan tersebut.
"Hallo, oppa." Sapanya.
"Yuuna."
Sang tunangan pun melebarkan senyuman seraya berjalan mendekat. "Apa hari ini oppa sibuk? Aku ingin mengajak oppa jalan-jalan." Jelasnya.
Jim-in tidak langsung membalas ucapannya. Hal tersebut mengundang kebingungan bagi wanita itu. Akhirnya, tanpa menunggu jawabannya Yuuna menggaet lengan tunangannya begitu saja. Ia menariknya paksa membawa pria itu pergi dari sana.
"Ayolah, oppa juga butuh hiburan." Timpalnya kemudian.
Tentu berita tentang kepergian Rania menjadi hal paling menggembirakan baginya. Sehari setelah Rania menghilang orang suruhannya datang dan membawakan kabar tersebut. Senyum pun mengembang semakin lebar diwajah cantiknya.
"Ternyata sangat mudah menghilangkan pengganggu itu. Cukup duduk manis biarkan keadaan menentukan." Itulah perkataan yang meluncur dari bibirnya kala itu.
Jam menunjukan pukul 12 siang. Semua orang yang berada dalam pusat perbelanjaan tersebut sibuk menghabiskan uang mereka. Para wanita nampak berbinar melihat barang diskon yang terpajang dalam setiap etalase toko. Hal itu menjadi hiburan paling membahagiakan bagi mereka.
Begitu pula dengan Yuuna. Setelah menyeret sang tunangan dari singgasananya, ia membawa Jim-in ke dalam dunianya sendiri.
Meskipun dalam hiruk-pikuk mall yang begitu pengap, Jim-in seolah kehilangan arah. Dirinya bagaikan terbawa arus. Raga tak bernyawa, mungkin seperti itulah gambaran tentang Park Jim-in saat ini. Ia tidak tahu apa yang tengah dilakukannya.
"..........oppa, oppa...... OPPA!!" teriak Yuuna tepat di depan wajahnya.
"Ahh ne." Jim-in tersekiap seketika.
"Bisa antar aku pulang? Aku merasa tidak enak badan." Ucapnya kemudian. Yuuna pun mengiyakan dan langsung melesat pergi dari sana.
Tidak lama berselang mobil mewah merah itu berhenti tepat di pekarangan mansion. Yunna memapah sang tunangan masuk ke dalam. Sang Oh yang kebetulan melewati ruang tamu tidak sengaja melihat kedatangan mereka. Buru-buru pria paruh baya tersebut pun mendekati tuannya.
"Bawa dia ke kamar. Sepertinya oppa sakit." Titah Yuuna.
Tanpa membalas ucapan wanita itu, Sang Oh pun langsung membawa sang tuan menuju lantai atas. Iris kecoklatan Yuuna pun mengikuti ke mana mereka pergi. Sedetik kemudian sosoknya menghilang begitu saja.
Sesampainya di kamar pribadi Tuan Mudanya, Sang Oh membaringkan Jim-in di tempat tidur lalu menyelimutinya sebatas dada. Kekhawatiran nampak jelas diwajah tuanya. Sang Oh tidak pernah melihat tuannya seperti ini.
"Hah~ kepergian nona sepertinya mempengaruhi kesehatan tuan." Benaknya.
"Tuan biar saya bawakan makanan." Ucapnya lalu pergi dari sana.
Sepeninggalan senior pelayan tersebut, Jim-in terdiam memandangi langit-langit kamar. Keheningan tercipta membalutnya dalam kesendirian. Sekelebatan kenangan saat bersama sang istri datang menerjang. Embun pun menerjang menyelimuti netra kecilnya. Air mata menumpuk siap tumpah kapan saja.
Ia kembali tersadarkan jika saat ini wanita yang dicintainya menghilang dalam pandangan. Sudah tidak ada lagi orang yang benar-benar peduli dan mengkhawatirkannya.
"Rania, bogoshipo. Biasanya di saat aku seperti ini, kamu membuatkanku bubur dan madu hangat. Sekarang tidak lagi. Aku benar-benar merindukanmu, Rania." Bisiknya pada angan dan harap.
Setetes keristal bening pun meluncur menemani kerinduannya.
...🌦️🌦️🌦️...
Hari demi hari berlalu. Jam berputar begitu cepat. Tidak terasa hari ini bertepatan dengan datangnya musim dingin, wanita paling dicintainya menghilang sudah satu bulan. Penyesalan, kepedihan, luka sudah membayanginya selama itu.
Pencarian terus dilakukan. Hampir setiap tempat menjadi sasaran pencariannya. Namun, sudah satu bulan lamanya sosok Rania tidak pernah ditemukan. Keberadaannya tidak terdeteksi bak di telan bumi.
Apa mungkin wanita itu pulang ke negara kelahirannya? Sekelebat pertanyaan itu mengusik lamunan.
Jim-in yang tengah duduk termenung di ruang keluarga tercengang dengan pikirannya sendiri. Ia terperangan tanpa sekata pun keluar dari mulutnya.
Brakk!!
Terdengar pintu depan di buka. Jim-in masih setia duduk sendirian di sana, sama sekali tidak tertarik dengan kedatangan seseorang. Pusatnya masih terfokus pada apa yang ada dalam benaknya. Kehilangan seseorang yang paling berharga telah meluluh lantahkan perasaannya. Ia tidak menyangka Rania pergi dari hidupnya begitu saja.
Penyesalan tiada guna. Hanya waktu yang bisa menunjukan kebenaran, apa mereka masih bisa dipertemukan atau tidak.
"Assalamu'alaikum...." suara lembut yang mengucapkan salam tersebut seketika menyentak keheningan.
Jim-in pun menoleh ke samping kanan mendapati seseorang tengah tersenyum hangat padanya. Ia langsung bernajak dari duduk tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Benarkah apa yang dilihatnya ini? Nyatakah sosok ada di hadapannya? Sudah begitu lama mereka terpisah jarak dan waktu. Kini takdir mempertemukan lagi.
Entah apa yang tengah dirasakan Jim-in sekarang. Semuanya campur aduk. Antara benci dan penyesalan tidak bisa dideskripsikan. Senyum yang mengembang diwajah cantiknya seketika meruntuhkan pendirian. Keristal bening itu meluncur bebas membasahi kedua pipinya.
"Aku pulang." Katanya lagi seketika membuat perasaan Jim-in semakin bertambah campur aduk.
Ia pun melangkah perlahan mendekati sosok itu. Tidak berselang lama ia bersimpuh memeluk erat kedua kakinya. Pria yang selalu menampilkan senyum ceria itu pun kini menangis meratapi nasib. Seketika suara tangisan Jim-in bergema dalam mansion tersebut. Para pelayan pun turut terharu melihat momen langka tersebut.
Ternyata kala tidak pernah salah untuk menemukan dua orang yang sempat terpisah. Berharap akan ada kebaikan yang menyertai mereka. Itulah harapan semua orang yang tinggal di sana.
...🌦️PENYESALAN🌦️...