VARSHA

VARSHA
Bagian 32




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Aroma ketenangan menyeruak tat kala kedua netra indah kembali terbuka. Hal pertama yang dilihatnya kini wajah polos sang suami. Senyum terbingkai mengukir kenangan semalam yang terjadi. Bak terbang ke angkasa lepas, Rania melupakan kesakitan yang pernah menyentuhnya.


Ia tidak percaya Jim-in bisa mendapatkan keputusan di luar dugaan, pergi dari mansion yang sudah bertahun-tahun membahagiakannya demi melepaskan jeratan kepedihan sang istri, ia benar-benar berharga.


Tangan putih itu pun terulur menangkup lembut pipi sebelah kiri suaminya. Ibu jarinya mengusap pelan meneleliti setiap lekuk wajah tegas itu. Sudah satu tahun lamanya ia berumah tangga bersama pria yang tidak pernah diharapkan kedatangannya. Allah memang selalu punya cara menyatukan dua insan. Mudah bagi-Nya untuk melakukan itu.


"Aku beruntung memilikimu. Terima kasih sudah sedia bersamaku," bisiknya.


Lengkungan bulan sabit masih setia memperindah kecantikan Rania. Tidak lama berselang tangan tegap sang suami menggenggam jari jemarinya yang masih menempel di pipi. Rania tersentak, tapi masih kukuh dalam posisinya.


Perlahan kelopak mata itu terbuka menampilkan iris kecoklatan yang kini memandangi sang istri lembut. Seulas senyum tulus hadir menambah ketampanan. Udara dingin di luar tidak sedikit pun mengganggu kehangatan sepasang suami istri tersebut.


"Aku jauh lebih beruntung mendapatkanmu. Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku," ungkap Jim-in membelas perkataan Rania tadi.


Semburat merah melebur dalam pipi putihnya. Rania tidak bisa membendung binar kebahagiaan mendengar ucapan kejujuran dari sang suami.


"Gomawo, saranghae," bisiknya menahan tangis.


"Jangan menangis, Sayang. Aku tidak mau melihat Varsha dalam matamu." Ucap Jim-in mengusap buliran air mata yang keluar.


"Kamu tahu arti Varsha itu?" tanya Rania kemudian.


Jim-in mengangguk pelan, "Varsha artinya hujan, dan aku akan membuat hidupmu berada dalam Harsha."


"Harsha?"


"Artinya kesenangan. Aku akan memberikan kesenangan dan kebahagiaan dalam hidupmu, Sayang."


Lembut sekali bahasa Jim-in dini hari kali ini membuat Rania lagi-lagi tidak bisa membendung kebahagiaan. Kerstal beningnya kembali jatuh yang membuat ia mendekap suaminya erat.


"Gomawo, aku senang mendengarnya."


Tanpa mengatakan sepatah kata pun Jim-in mengangguk seraya merapatkan diri pada sang istri. Ia lalu memberikan kecupan kasih sayang di puncak kepalanya.


"Sayang, ayo salat berjamaah," ajaknya.


Rania pun melepaskan pelukan seraya mengangguk setuju.


...🌦️🌦️🌦️...


Hasrat menggelora dalam jiwa, kenangan buruk yang pernah terukir mengendap dalam memori. Kini kala memberikan angan baru untuk mereka. Terutama Rania. Ia berharap perjalanan rumah tangganya bersama sang suami akan tetap berjalan mulus.


Namun, bukankah hidup tidak lepas dari masalah? Begitulah...tandanya Allah mencintai setiap hamba-Nya.


"Oppa, tidak pergi ke kantor?" tanya Rania saat tidak melihat sang suami bersiap-siap.


"Buat apa?" tanya balik Jim-in polos.


"Tentu saja bekerja."


Hening, Jim-in tidak langsung membalas ucapan istrinya. Ia terus menikmati sarapan sederhanan dalam diam. Rania dibuat was-was olehnya. Apa Jim-in berhenti bekerja? Itu yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Sejak memutuskan keluar dari mansion, aku juga keluar dari perusahaan eomma."


Bak petir menyambar Rania tidak percaya mendengar hal tersebut. Semudah itukah Jim-in melepaskan jabatan, harta dan kedudukannya sebagai seorang pewaris? Seketika rasa bersalah menghujani dirinya.


"Jangan berpikir ini semua salahmu, Sayang. Aku memang tidak berminat mengelola perusahaan. Rasanya lelah harus berada dalam kendali eomma, sekarang aku merasa bebas. Tenang saja aku yakin bisa menafkahimu," jelas Jim-in yakin.


Rania melebarkan pandangan. Ia terus menerus dibuat terkejut oleh suaminya. Jim-in terlihat semakin dewasa dan bertanggungjawab selepas dari pertama kali Rania bertemu dengannya.


"Gomawo, aku harap Oppa tidak keberatan tinggal sederhana denganku."


Lagi-lagi ucapan manisnya tidak baik bagi jantung Rania. Sejak dirinya membuka mata degup jantung terus menerus bertalu kencang.


Tidak ada lagi percakapan dari mereka. Pasangan suami istri itu menikmati sarapan dalam ketenangan.


Sedangkan di mansion keluarga Park, Gyeong tengah berhadapan dengan Yuuna. Wanita itu pagi-pagi sekali datang saat mendengar Park Jim-in pergi. Sorot matanya menampilkan kekesalaan, bagaimana tidak pria yang dicintainya menghilang begitu saja.


"Jika sudah menemukan oppa, aku tidak akan membiarkannya pergi lagi. Eomma tenang saja, aku akan meminta orang-orang kepercayaan mencari Jim-in oppa," jelas Yuura.


"Terima kasi, Sayang. Eomma juga sudah meminta Sang Oh dan anak buahnya mencari keberadaan mereka."


"Bagaimana bisa Rania membawa kabur oppa? Bisa-bisanya wanita itu..... dasar tidak tahu diri. Apa dia menginginkan harta sampai mempropokasi oppa?!" ketidakpercayaan terpancar jelas di sana.


"Eomma juga berpikir seperti itu. Rania ternyata wanita yang licik," tegas Gyeong kemudian.


Kedua wanita berbeda usia itu pun memperlihatkan ekspresi ketidaksukaan. Apa yang mereka pikirkan satu sama lain sepertinya menyambung menjadi tali kemarahan.


...🌦️🌦️🌦️...


Kembali ke pasangan suami istri itu, saat ini Rania tengah berkutat dengan bahan-bahan makanan di dapur kecilnya. Jim-in yang baru saja keluar sehabis memikirkan rencana apa yang bisa ia lakukan ke depannya dibuat terkejut. Ia mengerutkan dahi tidak mengerti kala netranya menangkap kegiatan sang istri.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanyanya seraya berjalan mendekat.


"Ahh, Oppa. Aku sedang membuat kue. Emm, sudah lama sebenarnya aku tidak membuat makanan ini. Aku pikir, bagus juga kalau kuenya enak bisa dijual ke orang-orang daerah sini," jelasnya berbinar senang.


Jim-in tercengang melihat senyum menawan hadir di wajah cantik istrinya. Ia bisa melihat harapan yang mungkin sudah terkubur kini kembali lagi.


"Apa dikehidupan sebelumnya, kamu ingin membuka toko kue?"


Pertanyaan itu sukses menghentikan kegiatan Rania. Ia mendongak menatap ke depan sebelum menoleh ke arah suaminya.


"Bagaimana Oppa bisa tahu?"


"MasyaAllah, Sayang. Aku ini suamimu. Aku tahu apa yang istriku inginkan." Jawab Jim-in seraya merengkuhnya hangat.


Semakin hari Rania meraskan sang suami banyak berubah. Dari pria arogan berganti dengan sosok hangat menenangkan. Perlakuannya yang selalu tiba-tiba juga sering membuat jantungnya berolahraga.


"Oppa bisa saja. Lepaskan, aku tidak bisa bergerak bebas kalau Oppa terus memelukku seperti ini."


Rania berusaha melepaskan lengan kekar itu dari perutnya.


"Biarkan. Kamu istriku."


Rania hanya bisa menghela napas pasrah. Mau bagaimana lagi sifat manja sang suami juga semakin terlihat jelas. Ia seperti sedang membesarkan seorang anak sekarang. Tidak lama berselang, sebuah ide muncul dalam kepala berhijabnya. Senyum pun mengembang seraya tangannya bergerak dinamis.


Pipi seputih salju itu kini tergores adonan kue yang masih basah. Jim-in terkejut dan langsung melepaskan pelukannya.


"Yak, Yeobo. Apa yang kamu lakukan?"


Sura tawa ringan Rania pun tercipta begitu saja.


"Habisnya Oppa mengganggu pekerjaanku. Sudah sana lakukan apa pun yang Oppa inginkan." Usirnya secara halus.


Namun, bukannya menurut Jim-in malah menarik sudut bibirnya lalu melirik bahan adonan kue yang menganggur. Segera ia pun membalas perbuatan Riana. Tidak hanya satu pipi, tapi wajah sang istri kini hampir putih sepenuhnya, melihat itu Jim-in tidak bisa menahan tawa.


Ia terbahak-bahak sampai memegang perutnya yang terasa sakit.


"Ya Allah kenapa istriku lucu sekali," ucap Jim-in di tengah tertawanya


"Oppa." Jerit Rania tidak terima dan kembali membalasnya.


Dan siang ini pun terjadi perang adonan kue yang mungkin tidak bisa Rania panggang lagi.


Sungguh harmonis hubungan suami istri tersebut. Dalam situasi apa pun mereka saling melengkapi satu sama lain. Semoga kedamaian mereka bisa bertahan selamanya. Namun, siapa yang bisa menjamin apa yang akan terjadi sedetik ke depan? Hal itu hanya Tuhan yang tahu.


...🌦️KESENANGAN🌦️...