
Cinta, meskipun sudah bermuara ke lain hati, ataupun dilupakan begitu saja, tetap akan terbang kepada pemilik sejatinya.
Tidak ada yang salah dengan sebuah perasaan. Cinta dan kasih sayang menjadi hal progresif setiap insan perasa.
Namun, kadang kala cinta disalah artikan dan membuat sebuah hubungan jauh dari ridho Allah.
Karena cinta yang sebenar-benarnya cinta adalah dilakukan di hadapan Illahi Rabbi.
Ikatan janji suci, mengikrarkan sehidup semati, adalah bentuk dari cinta sesungguhnya.
Karena jika seseorang sudah jatuh cinta maka akan ada napsu di dalamnya, yang mana hal itu bisa saja mengambil alih.
Jangan salahkan siapa pun jika peristiwa tidak diinginkan terjadi, sebab Allah sudah memperingatkan.
Allah memberikan perintah semata-mata untuk kebaikan hamba-Nya sendiri.
Kadang kala cinta juga bisa membutakan siapa pun. Tidak peduli muda ataupun tua, bisa saja dirundungkan begitu saja.
Begitulah bahayanya cinta yang bisa menjerumuskan ke hal salah jika tidak diimbangi dengan keimanan.
Itulah yang saat ini tengah menimpa kakak beradik sepupu, Song Mi Kyong dan Song Ailee.
Mereka terjebak pada sebuah rasa yang tidak terbalaskan.
Keinginan untuk mendapatkan pria pujaan semakin membuat mereka terlena kan.
"Jadi, kamu akan menjebak mereka? Bagaimana? Apa rencana ini akan berhasil?" tanya Mi Kyong di sela-sela pekerjaannya menuangkan ide untuk projek baru.
Ailee yang juga tengah melakukan hal sama pun mendongak sekilas.
"Itu hal gampang, aku bisa berpura-pura terluka dan mendapatkan rekomendasi agar ditangani oleh dokter Kim Seok Jin," ungkapnya sibuk membuat garis demi garis sketsa dibuku gambar.
"Lalu setelah itu?"
"Aku akan mendekatinya secara perlahan dan membangun kepercayaannya. Setelah itu kita langsung lancarkan rencana yang sudah disusun sedemikian rupa ini," ujarnya lagi percaya diri.
Mi Kyong sedari tadi memperhatikan Ailee pun menggelengkan kepala beberapa kali.
Ia tidak menyangka dan menduga adik sepupunya ini mempunyai ide gila, melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Lalu bagaimana dengan Park Jim-in?"
Mendengar itu Ailee sepenuhnya menatap pada kakak sepupu.
Bibir ranumnya perlahan melengkung membentuk kurva sempurna.
Ia memutar-mutar pensil di sekitar jari telunjuk dan jari tengah seraya terus menatap penuh makna.
"Apa kamu juga menginginkan sahabat masa kecilmu itu? Dia sudah menikah loh Mi Kyong." Ingat Ailee lagi.
Mi Kyong mendengus pelan dan memutar bola mata, jengah.
Ia kembali melanjutkan kegiatannya mengabaikan tawa wanita tepat di depannya.
"Baiklah-baiklah, aku berhenti menggoda mu. Itu mudah saja kamu hanya harus meyakinkan Jim-in untuk bisa masuk ke dalam permainan. Kamu juga bisa memanfaatkan komunitas memanah kalian waktu itu."
"Bukankah Jim-in sangat menyukai memanah?"
Pertanyaan yang baru saja diajukan menghentikan pergerakan pensil di atas media lukis.
Kedua manik cokelatnya memandang lantai marmer memikirkan perkataan Ailee.
Menyaksikan gelagatnya, Ailee lagi-lagi mengulas senyum lebar.
"Aku benarkan? Setiap acara menyangkut klub memanah, dia tidak pernah absen, yah kecuali saat kecelakaan waktu itu," ungkap Ailee menatap penuh minat pada kakak sepupu.
Mi Kyong beralih lagi padanya.
"Kamu... benar-benar sudah mencari tahu tentang mereka, kan? Sungguh mengesankan," balas Mi Kyong kembali, tidak menduga wanita itu penuh dengan ide-ide gila.
Ailee tertawa lantang sambil memutar-mutar kursi kebesarannya.
"Sebuah rencana harus dipikirkan secara matang. Karena kita tidak bisa asal begitu saja dalam meluncurkan aksi, apalagi menyangkut suami orang. Kamu harus pandai bermain, Mi Kyong." Ailee penuh percaya diri.
Mi Kyong termenung, meresapi setiap kata terlontar dari bibir anak dari adik ayah kandungnya tersebut.
Ia pun jadi teringat pada saat menemui Rania.
Tanpa persiapan pasti dan hanya bermodalkan nekad serta mengikutinya dari awal, Mi Kyong mendapatkan hal tak terduga.
Wanita itu tidak seperti bayangan. Ia berpikir jika Rania adalah sosok yang bisa dimanipulasi.
Namun, kenyataannya Rania sama sekali tidak bisa dipengaruhi. Wanita itu juga memiliki kepercayaan begitu besar mengenai apa yang digenggamnya saat ini.
"Iya kamu benar," balasnya setelah sekian lama bungkam.
...***...
Waktu terus berlalu, meniti setiap kenangan yang terus dilalui.
Banyak momen-momen berharga yang didapatkan oleh Rania dari kehidupan berbedanya.
Sang suami yang berbanding terbalik dari masa lalu semakin memperlakukannya dengan sangat baik.
Perhatian, tutur kata, serta semua hal yang menyangkut dirinya, dilakukan dengan sangat apik.
Hati wanita mana yang tidak akan luluh jika diperlukan bak ratu oleh pasangan hidup.
Sama halnya Rania, sekuat apa pun ia mencoba untuk tidak mengindahkan keberadaan sang suami, sebab ingatan menyakitkan tentang masa itu kerap kali datang, tetap saja perhatian hangat Park Jim-in meluluh lantahkan semuanya.
Terhitung sejak dirinya hilang ingatan, empat bulan pun berlalu begitu cepat.
Hari-hari yang ia lewati dengan penuh kasih sayang dari sang suami memberikan kenangan berharga.
Sama seperti masa lalu, hari ini Rania bertugas sebagai istri yang baik.
Selepas melaksanakan salat subuh, ia sudah berkutat di dapur.
Ia tengah bermain dengan berbagai macam bahan-bahan makanan, menyiapkan sarapan untuk suami dan kedua anaknya.
Hati yang semula gundah gulana semakin membaik seiring berjalannya waktu.
Rania sadar keberadaan pasangan halal berarti dalam hidupnya.
"Aku ingat, pada saat itu tuan muda sering menyuruhku untuk memasak. Padahal banyak maid yang bisa memberikan makanan lebih enak," gumam Ayana teringat awal-awal pernikahan.
Tuan muda arogan, penuh kuasa, serta duduk di kursi roda itu memperlakukan Rania seenaknya.
Bak seorang pelayan, kedudukan Rania di sana buka seperti istri. Jim-in seenak jidat menggunakannya seperti boneka hidup.
Di tengah kesibukan melanda, tiba-tiba saja sepasang lengan kekar terulur dari belakang.
Rania terkejut, menjatuhkan pandangan ke bawah memindainya lekat.
"Suaranya keras sekali," ucap Jim-in mengejutkan Rania.
Ia mendongak memandangi sepasang onyx di belakangnya.
Jim-in terpaku beberapa saat dan kembali menarik diri dari lamunan.
Senyum merekah sempurna pun membalas tatapan teduh sang istri.
"Jantungku... suaranya sangat kencang. Aku tahu detakkannya untuk siapa," kata Jim-in lagi.
Kini giliran Rania yang membawa kesadarannya kembali. Ia kembali menunduk membiarkan Jim-in melakukan hal disuka.
"Aku kira... hanya jantungku yang berdebar kencang, tetapi-"
"Itu artinya kita merasakan hal sama, Sayang," ujar Jim-in memotong perkataan istrinya cepat.
Ia membubuhkan kecupan mendalam di puncak kepalanya.
Pelukan pun semakin erat seiring gerakan-gerakan impulsif dilayangkan.
Meskipun kenangan masa lalu tidak bisa dihapuskan begitu saja, tetapi darinya mempunyai cerita sendiri untuk berubah menjadi lebih baik.
Kepedihan, luka, duka nesta, berganti kesenangan, kebahagiaan, dan terajut bersama memori berharga.
Pasangan menikah yang dijodohkan akibat kesengajaan itu pun mengantarkan pada muara indah.
Satu titik yang pasti Rania bisa merasakan perubahan signifikan sang suami.
Sikap arogan, seenaknya, kata-kata menyakitkan itu hilang sekejap mata.
"Terima kasih."
Rania berbalik menubrukan tubuh rampingnya ke dada bidang Jim-in.
Aroma maskulin menyebar memenuhi indera penciuman. Berada dalam pelukan sang terkasih memberikan kenyamanan berarti.
Jim-in terpekik singkat dan membalas pelukannya tak kalah erat.
Ia terus melayangkan kecupan demi kecupan ringan di puncak kepalanya.
Perasaan hangat melebur menjadi satu membentuk penyatuan.
Meskipun terkendala ingatan menghilang, tetapi ikatan cinta keduanya kembali menyatukan.
Tidak ada kebohongan maupun dusta, perasaan itu murni sebagaimana janji suci di hadapan Allah.