VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 78



Udara cukup dingin menyapa setiap insan di ibu kota. Cuaca yang sedikit tidak menentu itu tak menyurutkan semangat mereka untuk mengais rezeki.


Sebagai pejuang di dalam keluarga, mereka terus melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.


Di dalam sebuah kafe, Laluna, Rania, dan Seok Jin masih duduk bersama membahas hal utama yang ingin dicapai.


Berbagai macam persiapan terus diungkapkan bagaimana niat baik itu ingin dilaksanakan.


Setelah melepaskan pelukannya, sedari tadi Laluna bungkam. Bibir kemerahannya mengatup rapat memandangi segelas minuman hangat beberapa menit lalu diberikan.


Hingga sedetik kemudian ia mengangkat kepalanya bertatapan langsung dengan Kim Seok Jin.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih. Karena sudah mencintai kakak saya dengan tulus dan ingin membahagiakannya. Saya harap, Anda segera melamarnya... saya merestui kalian berdua. Namun, yang menjadi permasalahannya adalah... orang tua kami."


"Bisakah Anda melamar kak Zahra di depan orang tua kandung kami?" pinta Laluna dengan sangat.


Rania menerjemahkannya yang seketika itu juga membuat Seok Jin terkesiap. Ia bisa melihat dengan tulus keinginan adik Zahra tersebut.


"Kamu tidak usah khawatir, aku sudah tahu semuanya, dan... aku juga telah memikirkan hal itu. Aku ingin melamar Zahra tepat di depan orang tua kalian. Untuk itu bisakah kamu berjanji merahasiakan hal ini darinya dan mendukungku?" pinta Seok Jin.


Peran Rania di sana benar-benar dibutuhkan. Selain menjadi saksi kunci ia banyak membantu Seok Jin dalam menerjemahkannya kepada Laluna.


Wanita itu mengangguk singkat masih menatap lekat padanya. Laluna bisa melihat ketulusan yang sangat dalam dari sorot mata pria di hadapannya.


Ia yakin Kim Seok Jin tidak main-main atas pernyataan yang baru saja di cetuskan. Laluna sangat berharap jika sang kakak bisa mendapatkan kebahagiaan.


"Saya berjanji dan akan mendukung Anda sepenuhnya. Karena saya juga ingin melihat teh Zahra bahagia," katanya lagi.


Seok Jin tersenyum haru dan mengiyakan tanpa bersuara lagi.


...***...


Setelah pertemuan mereka di kafe, hari-hari berlalu seperti biasanya. Tidak ada yang berubah ataupun berbeda.


Zahra pun tidak curiga setiap kali Laluna pergi dari apartemen. Adiknya hanya mengatakan ingin jalan-jalan melihat-lihat seperti apa Negara Ginseng tersebut.


Namun, tanpa Zahra ketahui Laluna pergi menemui Rania dan Seok Jin lagi untuk segera menyusun rencana baru.


Dua minggu berlalu, Zahra yang hari itu tidak ada kegiatan apa pun dikejutkan oleh kedatangan sahabatnya.


Ia tidak pernah menyangka Rania bisa datang ke apartemen dan mengunjunginya begitu saja.


"Assalamu'alaikum," sapa Rania sembari membawa putra kecilnya, Jauhar.


"Wa-wa'alaikumsalam, Rania?"


Melihat kedatangan mereka sontak Zahra terbelalak lebar. Ia mempersilakannya masuk, tetapi Rania menolak cepat.


"Tidak usah, Zahra. Aku datang ke sini ingin mengajakmu dan Laluna pergi jalan-jalan bersama, bagaimana?" pinta Rania melebarkan senyum ramah.


Sebelum Zahra menjawab perkataan sang sahabat, suara nyaring adik pertamanya mengejutkan. Pandangan mereka sama-sama menuju pada Laluna yang berlarian kecil mendekat.


"Mbak Rania? Mbak sudah datang?" tanyanya senang seraya mengambil alih Jauhar.


"Tante Luna," kata anak berusia tiga tahun itu antusias.


Adegan singkat tepat di depan matanya seketika membuat Zahra terkejut.


Sejak kapan Laluna akrab dengan Rania dan anaknya? Pikir Zahra gamang.


"Apa Teteh lupa aku pernah menginap di rumah Mbak Rania, kan? Bukankah Teteh yang mengatakan padaku malam itu untuk tinggal semalam? Dari sana aku akrab dengan Jauhar dan juga Mbak Rania. Jadi, Teteh jangan terkejut seperti itu," celoteh Laluna menyaksikan air muka heran penuh tanya dari kakak tersayangnya.


"Iya, kamu benar juga, tapi... kamu akan membawa kami ke mana Rania?" tanyanya balik.


"Ikut saja nanti juga kamu tahu, ayo." Rania mengajak serta kakak beradik itu turun dari apartemen.


...***...


Di tempat berbeda, tepatnya di sebuah salah satu villa megah di ibu kota, dokter tampan Kim Seok Jin tengah dilanda gelisah hebat.


Ia terus mendengar percakapan dari adik iparnya di ujung sana. Ia mondar-mandir di taman depan seraya mencengkram erat alat komunikasi dalam genggaman.


Park Jim-in yang baru saja keluar dari rumah sakit memandangi kakaknya sedari tadi. Di temani buah-buahan segar ia terus menikmatinya sambil sesekali terkekeh menonton aksi pria tepat di hadapannya itu.


"Tenanglah Hyung, jangan gelisah seperti itu. Semua pasti akan baik-baik saja," kata Jim-in yang tengah duduk di kursi pantai lalu memasukan sebutir anggur hijau.


Seok Jin pun menghentikan aksinya dengan menatap lekat ke arah sang adik. Wajahnya penuh kepanikan sekaligus ketakutan.


"Bagaimana aku tidak gelisah? Ini pertama kali aku melakukannya, apa kamu tidak pernah merasakannya?" tanya balik Seok Jin yang langsung meng-skakmat Park Jim-in.


Ia menghela napas kasar dan menegakan tubuh dari setengah berbaring.


"Hyung mengingatkanku pada kenangan pahit itu. Aku juga ingin melamar Rania lagi dengan cara yang benar. Aku-"


"Iya sudah kamu lakukan lagi sekarang," balas Seok Jin polos.


"Mwo? Apa Hyung sadar apa yang barusan dikatakan? Bagaimana bisa? Kami sudah mempunyai dua orang anak. Akh, sudahlah-" Jim-in beranjak lalu berjalan menuju dokter tampan tersebut.


Ia merangkul bahunya seraya menganggukkan kepala beberapa kali. Senyum manis pun mengembang di wajah tampan sang pengusaha membuat Seok Jin mengerutkan dahi, tidak mengerti.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Lebih baik sekarang kita fokus saja pada rencana ini. Hyung tidak lupakan tujuan utamanya apa?"


Diingatkan kembali membuat degup jantung Seok Jin bertambah tak karuan. Wajahnya pucat pasi sambil menghempaskan tangan Jim-in dari bahunya.


Melihat ketegangan itu lagi Jim-in tidak kuasa menahan tawa. Ia tergelak di sana mengenyahkan keheningan di villa.


Bangunan berlantai dua bernuansa putih bersih itu ditumbuhi berbagai macam tumbuhan. Di belakangnya terdapat kolam besar yang cukup untuk sekeluarga menghabiskan waktu bersama.


Di depannya terdapat taman yang lumayan luas dihiasi dengan rumput sintesis menambah keasrian.


Pemandangan yang ada di depan pun sangat memanjakan mata, villa tersebut milik keluarga Kim terletak sedikit tinggi dari area pusat kota. Suasana di sana sedikit asri dan sejuk, sangat nyaman untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga.


Tatapan kakak beradik tidak sedarah terpaut usia dua tahun itu pun mengarah ke satu titik. Di mana hiruk pikuk ibu kota terlihat jelas di sana.


Bangunan-bangunan pencakar langit nampak kecil layaknya miniatur-miniatur semata. Kegaduhan pun tidak begitu terdengar yang semakin menambah kebetahan.


Seok Jin memasukkan tangan ke dalam saku celana kainnya. Lengkungan bulan sabit pun mengembang merasakan perasaan terdalam.


"Aku tidak pernah tahu jika hari ini akan tiba. Aku pikir... akan selamanya menutup hati dan-"


"Tidak menerima orang baru lagi?" potong Jim-in cepat. "Kamu salah Hyung, Allah mempunyai seribu macam cara untuk memberikan yang terbaik bagi setiap hamba," lanjutnya.


Seok Jin mengangguk sekilas mengiyakan ucapan barusan. "Iya kamu benar, Allah sangat baik memberikan kejutan tak terduga sebelumnya. Dia mampu merubah segalanya menjadi indah, masyaAllah. Bismillah, semoga niatku ini direstui."


"Aamiin, jika niat kita baik insyaAllah, pasti Allah restui dan bisa saja diberikan yang terbaik... dari apa yang kita rencanakan," balas Jim-in lagi.


"Iya kamu benar," ucap Seok Jin setuju.


Mereka pun memandangi langit senja bersama menunggu waktu untuk memulai segala rencana yang telah disusun begitu apik.