VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 70



Harmonis, menjadi satu kata menggambarkan kebersamaan pasangan menikah di sana.


Kehangatan serta ketenangan nampak jelas di antara mereka.


Tidak ada yang bisa mengganggu ataupun mengusik kebersamaan pasangan suami istri itu. Keduanya senang berada dalam dekapan satu sama lain.


Dalam nuansa syahdu keduanya menikmati setiap sentuhan yang saling membutuhkan.


Sama seperti kejadian-kejadian yang telah lalu, pelukan mendampingi terapi dilayangkan kedua insan.


Kenangan demi kenangan hadir membentuk penyatuan kian mengerat.


Ruangan terapi yang sama seperti kemarin-kemarin menjadi saksi bisu lagi.


Jim-in dan Raina saling berpelukan satu sama lain saat melakukan sesi penyembuhan.


Sesekali gelak tawa berdengung membersamai keduanya. Cinta yang begitu besar mereka bina terlihat sangat jelas.


Seok Jin sedari tadi mengawasi perkembangan Jim-in pun hanya bisa mengulas senyum senang.


Ia sangat lega perkembangan pernikahan keduanya sudah baik-baik saja lagi.


Ia lalu berjalan ke arah sudut ruangan di mana di sana seorang perawat magang pun tengah mengawasi mereka sedari tadi.


Sambil memasukkan tangan ke dalam saku dinas, Seok Jin mendekat lalu berdiri tepat di sebelahnya.


"Melihat mereka bukankah sangat menyenangkan? Aku bersyukur rumah tangga Rania dan Jim-in sudah baik-baik saja," celotehnya menarik atensi sang lawan bicara.


Zahra melirik sekilas dan kembali ke depan masih memperhatikan Rania dan Jim-in.


Ia sedikit mengerti apa yang disampaikan sang dokter barusan. Baru beberapa menit lalu ia mendengar kisah percintaan sang sahabat yang begitu rumit.


Ia rasa Seok Jin juga menjadi saksi bagaimana rumitnya cerita mereka.


"Apa dulu mereka tidak sehangat ini?" tanyanya kemudian, sedikit penasaran.


"Tentu saja, Tuan muda itu benar-benar memperlakukan istrinya sangat dingin. Bahkan ada orang ketiga yang menjadi perusak pernikahan mereka."


"Ikatan janji suci akibat perjodohan itu pada awalnya memang tidak berjalan lancar, semuanya serba dipenuhi derai air mata," ungkap Seok Jin membuat Zahra mengangguk beberapa kali.


Di manapun dan kapanpun ia bisa mendapatkan sebuah cerita sejarah kehidupan seseorang.


Terkadang kisahnya mengandung kepedihan kian menderai, ataupun pembelajaran yang bisa diraih.


Semua mempunyai tempatnya sendiri.


Zahra sadar tidak ada yang mudah untuk mendapatkan kebahagiaan.


Zahra mengulas senyum singkat sambil melihat drama romantis tepat di depan mata kepalanya sendiri.


"Apa pada saat itu... Raina pernah menyerah?" tanya Zahra setelah sekian lama bungkam.


Seok Jin sedikit tercengang dan menggeleng singkat mengikuti arah pandang sang lawan bicara, kembali.


"Ani, Rania sama sekali tidak menyerah. Dia terus berjuang mempertahankan rumah tangganya. Meskipun pada saat itu banyak sekali rintangan menghadang, mulai dari wanita lain, sampai ibu mertua, tetapi Rania bisa mengatasinya."


"Kamu tahu... Nyonya Gyong, ibu kandung Park Jim-in pernah dengan kejam membakar kediaman orang tua Rania di sini. Namun, Rania tetap memaafkan mereka sampai hubungannya baik hingga sekarang."


"Begitu banyak perjalanan hidup yang begitu rumit telah dilalui Rania, tetapi wanita itu sama sekali tidka mengeluh, walaupun... banyak varsha menerjang, tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk tetap bertahan," tutur Seok Jin membuat Zahra berkali-kali tercengang.


Ia sungguh tidak menyangka serumit itu perjalanan rumah tangga yang pernah dilalui Rania.


Ia hanya melihat hasilnya sekarang, tanpa tahu begitu keras perjuangan yang harus ditempuh seorang Rania agar mendapatkan pengakuan.


"Dia... wanita luar biasa," puji Zahra masih memperhatikan pasangan manis di depannya.


Seok Jin mengiyakan tanpa mengatakan sepatah kata lagi.


...***...


Perasaan berdebar, penuh cinta bertabur kasih sayang, begitu bergelora pada pasangan menikah satu ini.


Sedari tadi Rania terus membantu Jim-in terapi untuk memulihkan kembali kondisi tubuhnya.


Otot-otot di sekujur tubuhnya terasa mati rasa akibat koma beberapa hari lalu.


Aroma vanilla yang menyebar dari sang pujaan seketika menenangkan membuat berkali-kali mengulas senyum manis.


"Aku senang, setiap pengobatan selalu didampingi oleh mu seperti ini. Rasanya... aku tidak ingin mengakhirinya," ujar Jim-in lembut


Rania menghentikan langkah dan mendorong dada suaminya pelan.


Kedua tubuh mereka yang saling menempel pun berjauhan. Kedua manik itu saling pandang menyelami keindahan masing-masing.


"Jangan pernah berkata mengerikan, aku ingin melihat kamu sembuh."


"Melihat Oppa, seperti ini membuatku sakit. Terlebih... terlebih kecelakaan itu terjadi akibat keteledoran ku yang egois tidak mempedulikan mu. Aku-" Perkataan Rania terputus seketika kala Jim-in menyatukan benda kenyal mereka.


Rania terbelalak, bola matanya bergulir ke belakang punggung Jim-in melihat dokter dan perawat itu berlarian pergi dari ruangan.


Rania terkejut dan tersadar jika sedari tadi ada dua pasang mata mengawasi mereka.


"Se-bentar Oppa-" Rania kembali mendorong dada bidangnya kuat memisahkan jarak mereka lagi.


Jim-in memandangi sang istri sayu dan menautkan alis pelan.


"Wae?" tanyanya serak.


"Apa Oppa tidak malu? Dari tadi Zahra dan Seok Jin oppa, melihat kita," kata Rania meredam suaranya.


Tanpa diduga, Jim-in tergelak melihat wajah cemas nan khawatir Rania. Ia lalu mencubit pelan pipi berisi sang pasangan hidup pelan.


"Uhh~ kenapa istriku sangat menggemaskan sekali?" ujarnya masih melakukan hal sama.


Raina terbelalak melihat kelakukan kekanak-kanakan pria di hadapannya.


"Tenang saja, Sayang. Tidak usah khawatir mereka mengerti," balas Jim-in acuh tak acuh.


"Bagaimana mungkin aku tidak khawatir? Oppa me-mencium ku tepat di depan mata mereka," racaunya lagi dan lagi.


Jim-in semakin tertawa kencang dan menumpukan kedua tangan di besi di sisi kanan-kirinya.


"Ya Allah, terima kasih sudah memberikan istri yang sangat menggemaskan seperti ini." Jim-in berusaha menahan tawa yang terus tergelak.


Rania hanya memandanginya dalam diam terus memindai kelakuan sang suami.


"Saranghae," lanjut Jim-in seketika.


Sepasang jelaganya melebar sempurna dengan degup jantung bertalu kencang.


Semburat merah muda menyebar di kedua pipi putih Rania.


Jim-in melengkungkan kedua sudut bibir sambil menangkup wajah cantik pujaan hatinya.


"Aku sangat mencintaimu, Rania. Terima kasih sudah bersedia hidup bersamaku. Di kala susah maupun senang, kamu setia mendampingi. Terima kasih banyak." Jim-in beralih menggenggam tangan Rania lalu membubuhkan ciuman mendalam di sana.


Rania terus menyaksikan setiap perlakuan manis nan lembut itu terus menggetarkan perasaan.


Setelah sekian detik berlalu, Jim-in kembali mengangkat kepala dan kembali bertatapan dengan Rania.


Hening menyambut, sesekali dinginnya AC di ruangan menyapa mereka.


Suasana yang mendukung, serta tidak ada siapa pun di sana membuat Jim-in kembali mendekatkan wajah pada sang terkasih.


Seakan mengetahui keinginan terdalam pasangan halalnya, manik jelaga Rania menutup rapat.


Perlahan, tapi pasti raksi yang menguar dari tubuh tegap Jim-in menyapa indera penciuman.


Hingga tidak lama berselang penyatuan mereka pun kembali berlangsung.


Kedua tangan Rania terulur dan mengalung di leher jenjang sang suami.


Tubuh mereka kembali menempel satu sama lain dan lama kelamaan semakin mengerat.


Di ruangan itu terus bergejolak perasaan mendalam pasangan suami istri tersebut.


Tidak lama berselang, Rania membuka matanya memandangi wajah menawan sang pasangan hidup.


Perlahan degup jantung semakin bertalu kencang. Rania merasakan sekujur tubuh memanas seiring berjalannya waktu.


Ia kembali menutup mata dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya.


"Terim kasih atas segala kebaikan yang kamu berikan, Oppa. Aku harap keluarga kecil kita tetap bahagia dan harmonis selamanya," benak Rania merasakan perasaan terdalam Park Jim-in.