
"Kalian?"
Satu kata menarik atensi kedua wanita yang tengah berpelukan di lorong lantai enam rumah sakit.
Keduanya pun langsung saling melepaskan melihat ke arah yang sama.
Rania bersusah payah menghapus jejak air mata, sedangkan Zahra mematung di tempat.
Kim Seok Jin yang baru keluar dari ruang operasi memandangi keduanya bergantian.
Sampai fokus perhatiannya hanya kepada Rania semata. Sorot mata penuh penyesalan sekaligus iba menjadi satu.
Menyaksikan ekspresi sang dokter membuat Rania semakin tak karuan.
Ia melangkah pelan, menyeret kedua kakinya untuk mendekat pada Seok Jin.
"Wa-wae? Kenapa wa-wajah Seok Jin Oppa ditekuk seperti itu? A-apa ada yang salah dengan Ji-Jim-in oppa?" tanya Rania gugup.
Seok Jin tidak cepat menjawab pertanyaan mengandung sendu tersebut. Ia tidak bisa memberikan cuka di luka menganga.
Namun, bagaimanapun juga kabar mengenai sang adik harus diberitahukan kepada keluarga pasien, seburuk apa pun itu.
Sebagai seorang dokter dan juga keluarga mereka, Seok Jin harus siap melihat kehancuran Rania.
"Ji-Jim-in, dia-"
"Dia baik-baik saja kan Oppa? Suamiku... dia baik-baik saja kan?" potong Rania cepat, bibir ranumnya terpaksa tersenyum berusaha menguatkan diri sendiri.
Ia menggapai keberadaan dokter tampan tersebut dengan perasaan campur aduk.
Sampai di jarak dua meter Rania menghentikan langkahnya melihat kepala bersurai hitam lembut itu menggeleng pelan.
"Aku harus mengatakan yang sebenarnya, Rania. Maaf... suamimu... Park Jim-in mengalami koma, benturan yang terjadi berakibat fatal. Kita hanya harus bersabar menunggu kapan dia bangun," ungkapnya kemudian.
Rania jatuh terduduk begitu saja mendengar berita amat buruk terharap sang suami. Sekujur tubuhnya lemas mendapatkan fakta mencengangkan tersebut.
Tidak hanya Rania saja, Zahra pun tidak menyangka suami dari sahabat baiknya mengalami nasib malang.
Ia menutup mulut menganga pelan dan melihat Rania kembali menangis.
Ia bergegas mendekat dan kembali membawanya ke dalam pelukan seraya mengusap-usap punggung Rania pelan.
Seok Jin lagi-lagi memandangi keduanya dengan penuh luka. Ia bisa merasakan apa yang tengah Rania rasakan.
Sebagai seorang dokter sekaligus kakak yang selama ini menanganinya, ia tidak menyangka Park Jim-in kembali mendapatkan kejadian mengerikan itu untuk ketiga kalinya.
"Semoga setelah ini tidak ada lagi rintangan menghadang di keluarga kalian," benak Seok Jin berharap.
...***...
Fajar menyingsing menjemput kegelapan untuk kembali. Perlahan cahaya hangat dari sang surya menyinari mengindahkan peliknya malam.
Sepanjang waktu tersisa, Rania terjaga menunggu sang suami yang sudah berada di ruangan.
Ia duduk tepat di samping pria tercinta yang tengah terkulai lemas tak sadarkan diri.
Ditemani dengan lantunan detak jantung pasangan hidupnya yang begitu lemah membuat Rania tidak berdaya.
Setetes air mata jatuh membasahi punggung tangannya dan seketika mengejutkan.
Ia pun menghapusnya kasar lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Netra cokelat beningnya tidak pernah terlepas dari wajah pucat yang kerap kali memandangnya penuh cinta.
"Oppa." Panggilnya pelan, suaranya gemetar menahan air mata yang berusaha keluar lagi.
Rania meremas kedua tangan kuat melampiaskan kemelut dalam dada.
Ia tersenyum getir melihat semua luka fisik di tubuh tegap sang suami.
"Oppa, aku sudah ingat semuanya. Kenapa harus jadi seperti ini? Aku minta maaf... benar-benar minta maaf. Karena aku... Oppa jadi seperti ini."
Hening mengambil alih, perlahan matahari mulai duduk di singgasananya.
Tidak ada yang Rania lakukan selain duduk diam memperhatikan sang suami. Napasnya terlihat tenang, kedua manik yang biasa menatapnya memuja kini bersembunyi di balik kelopaknya, bibir menawan yang selalu mengutarakan perasaan terdalam terkatup rapat.
Tidak ada seruan maupun ungkapan cinta yang kerap kali datang menerjang.
Bayangan beberapa tahun ke belakang pun menghampiri membuat luka lain di dasar hati.
"Oppa ingat? Dulu, Oppa juga pernah berbaring seperti ini. Aku tidak pernah jemu untuk mendampingi mu dalam keadaan apa pun."
" Karena aku tahu Allah, Maha Menyembuhkan dan Maha Mengetahui yang terbaik untuk setiap hamba-Nya."
"Hari-hari yang pernah kita lewati dulu memberikan memori berharga bagiku. Kita membangun keluarga harmonis bersama. Cita-cita yang dulu aku inginkan terwujudkan oleh ketulusan mu."
"Terima kasih sudah memberikan keluarga utuh padaku. Aku, Akila, dan Jauhar sangat menyayangi mu. Kami... sangat membutuhkan mu. Kembalilah, Oppa... Saranghae," tutur Rania dengan berlinang air mata.
Setelah itu ia menceritakan semua ingatan yang sempat hilang. Ia sangat antusias mengutarakan momen demi momen berharga yang pernah mereka lalui bersama.
"Aku sangat mencintaimu. Aku berharap Oppa cepat sadar," lanjut Rania memberikan kecupan hangat di dahi tegasnya.
Hari demi hari berlalu, setiap ada kesempatan Rania selalu mengunjungi sang suami yang tengah di rawat ruangan VVIP.
Mendengar jika putra semata wayangnya kembali masuk ke rumah sakit akibat kecelakaan, Park Gyong langsung pulang ke tanah air.
Ia datang ke rumah sakit dan bertemu menantunya. Mereka saling berpelukan menguatkan satu sama lain.
Pertemuan itu pun mengundang air mata yang tidak bisa dibendung lagi. Mertua dan menantu itu merasakan hal sama saat mengetahui kondisi Jim-in yang masih sama seperti kemarin-kemarin.
Zahra yang pada saat itu hendak memeriksa sahabatnya pun menghentikan langkah melihat pemandangan tersebut.
Ia mengulas senyum lembut dan kembali menarik kedua kaki ke belakang dan berjalan menjauh.
Sepanjang ia melangkah tatapan manik cokelat susunya memandang lurus ke bawah.
Senyum sendu hadir kala mengingat lagi keakraban Rania bersama Gyong.
"Begitu harmonisnya," gumam Zahra tanpa sadar.
Sedetik kemudian ia berhenti melangkah dan menggelengkan kepala berkali-kali.
"Apa yang aku pikirkan? Tidak-tidak Zahra, kamu tidak boleh iri terhadap sahabatmu sendiri. Kalian mempunyai kehidupan sendiri-sendiri dan kesusahan yang berbeda. Aku yakin tidak mudah bagi Rania untuk berada di posisinya saat ini," racaunya.
Ia lalu mengangguk antusias seraya menarik kepalan tangan kanan menyemangati diri sendiri.
"Baiklah, aku juga harus semangat. Jangan menyerah Zahra. Kamu pasti bisa... kamu pasti mampu," lanjutnya seraya melangkahkan kaki lagi.
Kembali, entah secara kebetulan atau takdir, semua perkataannya tadi disaksikan oleh telinga dan penglihatan sang dokter.
Seok Jin yang baru selesai dari memeriksa pasien pun melihat keberadaan Zahra. Ia ingin menyapa, tetapi dihentikan oleh celotehan wanita berhijab itu.
Kedua sudut bibirnya melengkung sempurna menyaksikan semangat dalam diri wanita yang dicintainya.
Setelah itu ia mengambil jalur sebaliknya untuk ke lantai bawah.
Tidak lama berselang ia tiba di sana dan terkejut melihat kedatangan seseorang di pintu masuk.
Pandangan mereka saling bertemu membuat manik sang dokter melebar sempurna dan buru-buru mendekat dengan berlarian kecil.
"Eomma? Sedang apa Eomma di sini? Apa Eomma sakit?" tanya Seok Jin menggebu.
Sang ibu memandanginya lekat dengan sorot mata tegas.
"Apa salah Eomma mau melihat putranya sendiri? Sejak malam perjodohan itu kamu jadi sulit dihubungi. Wae? Apa kamu sudah menemukan calon istri pilihanmu sendiri?" cerocos ibunya dengan nada suara sedikit tinggi.
Hal tersebut mengundang atensi orang-orang sekitar membuat Seok Jin tersenyum canggung ke arah mereka.
"Lebih baik kita bicarakan ini di ruangan ku. Ayo, Eomma." Seok Jin membawa ibunya ke ruangan seraya terus berceloteh mengenai kesibukannya beberapa hari ini.