
Masa lalu terus menerus menampar kuat memberikan gelenyar rasa sakit tak berkesudahan.
Di bawah langit sendu, hujan air mata mengalir tak tertahankan.
Banyak cerita yang ingin ia berikan kepada keheningan kian memeluknya erat. Tidak ada siapa pun yang bisa menemani dan hanya mengandalkan diri sendiri untuk tetap bertahan.
Kejadian beberapa saat lalu membuka mata hati jika orang yang diharapkan masih membuka hati nyatanya membuang setengah mati.
Wanita yang telah mengandungnya memberikan luka teramat dalam mengalirkan varsha kembali datang.
Zahra mengepal kedua tangan kuat berusaha menetralkan sakit di dada. Namun, sekuat apa pun ia melakukannya luka itu tak kunjung usai.
Tepat di depan mata kepalanya sendiri, sang ibu bersama keluarga cemaranya mengantarkan anak dari suami baru ke rumah sakit.
Perasaan rindu yang kian meluap membuat Zahra tidak bisa mengontrol diri sendiri untuk mendekat dan hanya ingin menyapa.
Setelah melakukan itu entah kenapa tiba-tiba saja emosi memuncak tak tertahankan. Ia memberikan kata-kata selamat sebagai bentuk sindiran yang diterima oleh sang ibu.
Ia tidak menyangka akan mendapatkan tamparan cukup kuat yang sampai detik ini masih berdenyut di pipi kanan. Namun, hatinya lebih sakit lagi dibandingkan luka fisik yang terlihat nyata.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Mamah memang benar-benar sudah membuang kami, Laluna, Zaitun, Adam, maafkan Teteh... Teteh tidak sekuat itu," racaunya menangis tersedu-sedu.
Kedua kaki sudah tidak sanggup menahan berat badannya sendiri pun jatuh bersimpuh di belakang gedung rumah sakit.
Sambil memeluk lututnya kuat, Zahra menangis sekencang-kencangnya mengenyahkan keheningan. Hatinya sangat terluka mendapati sang ibu yang benar-benar sudah tidak peduli.
Tanpa ia sadari dari jarak beberapa meter darinya, Seok Jin yang terus mengikutinya menatap dalam sendu.
Ia ikut mengepalkan kedua tangan kuat menyaksikan betapa rapuhnya wanita itu. Ingatan tentang keceriaannya tadi siang membuat pikiran sang dokter gamang.
Di satu sisi ia ingin menghibur dan mengatakan pada Zahra jika semua akan baik-baik saja, tetapi di sisi lain ia enggan mengganggu kesendirian itu.
"Aku yakin kamu wanita yang kuat," gumamnya lalu mundur ke belakang membiarkan Zahra melepas kekesalan.
Seok Jin kembali masuk ke dalam dengan langkah gontai. Tatapannya terus jatuh ke bawah atas kejadian tak terduga yang ia saksikan sendiri.
Di tengah lamunan, ia dikejutkan dengan kedatangan salah satu perawat mendatanginya. Seok Jin terkejut, terkesiap langsung mendongak.
"Sehyun? Kamu mengejutkan saja, ada apa?" tanyanya to the point.
"Ada pasien baru yang harus segera ditangani, bisakah seonsengnim menghandlenya dokter lain sedang melakukan operasi, syukurlah masih ada Anda di sini," jelas perawat wanita itu.
"Baiklah kalau begitu, beri aku waktu lima menit untuk bersiap-siap," kata Seok Jin bergegas menuju ruangannya berada untuk membawa jas kerja.
Perawat itu mengangguk dan kembali ke ruangan memberitahu sang pasien agar menunggu sebentar lagi.
...***...
Begitulah takdir bekerja, tidak ada yang tahu bagaimana jalan kehidupan terjadi ke depan.
Allah sang pemilik kehidupan pun memberikan kejutan tak pernah terduga.
Layaknya dunia selebar daun kelor, Seok Jin mematung di ambang pintu beberapa saat menyadari siluet tiga orang di dalam ruangan.
Ia berusaha menenangkan diri dan masuk begitu saja sembari meminta maaf atas keterlambatannya.
"Badan putri kami dari kemarin terus lemas, Dok. Dia juga lebih sering tidur siang, semakin rewel, mudah lelah, dan lebih parah tadi kami mendapatinya jatuh pingsan," jelas ayahnya khawatir.
Sepanjang orang tua pasien gadis ini menjelaskan kondisinya, Seok Jin memantau keadaan sang pasien.
Maniknya melebar saat mengetahui ciri-ciri yang ada di dalam anak tersebut.
Buru-buru sang ayah pun membaringkan putri kecilnya di sana membuat Seok Jin langsung leluasa memeriksa.
Detik demi detik berlalu, bersamaan dengan itu orang tua gadis kecil yang tengah terkulai lemas di atas tempat tidur rumah sakit pun cemas bercampur takut.
Tidak lama setelah itu Seok Jin selesai memeriksa dan menghadap orang tuanya.
"Putri Tuan dan Nyonya mengalami anemia. Kita harus segera mentransfusi darah untuknya, apa Tuan dan Nyonya tahu golongan darah anak kalian?" tanya Seok Jin kemudian.
"Golongan darah putri kami sama dengan saya. Saya bisa mendonorkan darah untuknya," sambar sang ibu cepat.
"Kalau begitu kita harus segera melakukannya."
Setelah itu Seok Jin pun meminta perawat untuk memindahkan gadis kecil tadi ke ruang rawat.
Beberapa saat kemudian Seok Jin datang ke ruangan dan meminta ibunya berbaring di brankar lain.
Saat itu juga Seok Jin meminta wanita baya itu untuk menyingkap baju lengannya agar segera mengambil darah.
Dari jarak sedekat itu sang dokter bisa melihat dengan jelas wajah yang sudah tidak asing lagi. Dengan perasaan campur aduk Seok Jin berusaha fokus pada pekerjaannya.
"Mirip sekali dengan Zahra," gumamnya dalam benak.
"Apa putri kami akan baik-baik saja, Dok?" tanya wanita tadi.
"Nyonya tenang saja, putri Anda akan segera baik-baik saja," balas Seok Jin menetralkan degup jantung yang sedari tadi terus bertalu kencang.
Sampai tidak lama setelah itu ranjang yang tengah ditempati sang pasien kecil diberi tanda nama. Lee Young Mi, tertera jelas di sana membuat Seok Jin menghentikan langkahnya sesaat.
Selesai dengan tugasnya ia keluar dari ruangan memberikan kesempatan kepada orang tua pasien.
Baru saat ia menutup pintu, pandangannya langsung beralih ke seorang wanita berhijab berjalan dari arah depan.
Wajah yang selalu menampilkan keceriaan itu kini nampak sayu. Tanpa mengatakan sepatah kata, Zahra berjalan melewatinya begitu saja.
Seok Jin yang mendapati hal tadi pun terkejut bukan main. Ia merasa sosok Zahra bukanlah dirinya seperti biasa.
Ia lalu menoleh ke belakang melihat lewat kaca kecil di pintu betapa harmonisnya keluarga di sana. Seok Jin sedikit mengerti permasalahan yang menghinggapi Zahra.
"Wanita itu sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya, apa tidak ada tempat untukmu berbagi kesedihan, Zahra?" benaknya memandang tempat yang sudah Zahra lewati.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Zahra yang baru selesai shift malam pun bersiap untuk beristirahat.
Namun, di tengah perjalanan di lorong sepi itu ia dikejutkan dengan kedatangan sang dokter. Ia baru menyadari jika sepanjang malam Seok Jin ikut bertugas.
Keduanya menghentikan langkah saling berhadapan dengan jarak beberapa meter. Pandangan mereka menatap satu sama lain mengutarakan kebimbangan lewat sorot mata.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan tersebut bergema di sana, Zahra mengepal kedua tangan kuat mencoba terlihat baik.
Namun nyatanya, semakin ditahan maka dorongan untuk menangis pun bertambah kuat. Hingga tidak lama kemudian air mata mengalir begitu saja.
Zahra buru-buru menghapusnya kasar sembari tertawa penuh luka.
Seok Jin yang menyaksikannya seperti itu pun bagaikan tersayat-sayat sembilu. Tepat di depan mata kepalanya sendiri sosok ceria Zahra terlihat sangat rapuh.
Pertanyaan baik-baik saja tadi mendobrak paksa pertahanan yang selama ini Zahra lakukan. Seok Jin berhasil membukanya memperlihatkan siapa wanita itu sebenarnya.