
Langit melukiskan keindahannya siang ini. Awan berarak pelan dengan cerahnya warna biru sepanjang mata memandang.
Dahan-dahan serta dedaunan dari pepohonan sekitar meliuk-liuk tertiup angin.
Suara khasnya menemani keberadaan satu keluarga masih berada di sana.
Pelukan yang dilayangkan kepala keluarga untuk melindungi istri dan kedua buah hatinya menambah keakraban.
"Nenek, aku Akila, putri pertama Mamah dan Appa. Aku senang bisa bertemu Nenek, meskipun... kita tidak bisa bertemu secara langsung."
"Jauhar, juga senang bisa bertemu nenek," lanjut bocah berusia hampir empat tahun tersebut.
Rania sangat terharu melihat penyesalan sang suami dan juga pernyataan kedua buah hati.
Ia sempat berpikir alangkah menyenangkannya jika ibunya masih berada di dunia ini. Mungkin bisa merasakan kebahagiaan bersama, pikir Rania.
Perasaan lega nan tenang menyapa. Ia benar-benar bahagia dianugerahi suami dan putra-putri luar biasa.
Meskipun awalnya varsha terus menerus datang menerjang, tetapi harsha benar-benar didapatkan. Jim-in membuktikan janjinya waktu itu hingga saat ini.
Ia sudah berubah menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk keluarga kecilnya.
Bahagia, menjadi satu satu kata menjelaskan kehidupan mereka saat ini.
...***...
Di tempat berbeda, di villa yang terletak di sudut ibu kota pasangan baru itu tengah menikmati waktu bersama.
Zahra dan Seok Jin tengah duduk berdampingan di tepi kolam renang memandangi riaknya air.
Kedua insan yang sempat dirundung gelisah, sebab perasaan tak sampai kini mencapai titik akhir.
Tangan yang saling menggenggam erat sebagai pertanda bersatunya perasaan mereka.
Janji suci di hadapan Ilahi Rabbi tercetus jua.
Banyak jalan yang berhasil keduanya lewati, begitu liku perjuangan yang harus mereka lewati, hingga pada akhirnya kisah bermuara di sanubari terindah.
Tidak pernah Zahra bayangkan niat menuntut ilmu guna merubah kehidupan, nyatanya Allah menghadirkan pasangan hidup.
"Terima kasih, Sayang sudah mau menerimaku menjadi pendamping hidup mu," ungkap Seok Jin memulai.
Mendengar panggilan sayang dari suami barunya, Zahra terkesiap. Ia tidak terbiasa menerima hal itu dari orang lain.
Bahkan pria yang kini menjadi pasangan hidupnya jauh dari bayangan. Keberadaan sosok menawan itu tidak pernah dipikirkan.
Selama ini Zahra tidak memikirkan perihal seseorang yang kelak mendampinginya sampai pernikahan.
Ia hidup fokus kepada ketiga adiknya saja. Namun, siapa sangka Allah menghadirkan pria baik hati untuk menjadi penopang berbagai keluh kesah.
"Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih."
"Terima kasih banyak, Seonsaengnim tidak pernah menyerah dalam membuktikan segalanya. Terima kasih banyak sudah mencintai ku begitu besar. Aku-"
Perkataan Zahra terputus seketika saat Seok Jin bersimpuh tepat di depannya.
"Sayang, jangan panggil Seonsaengnim lagi. Aku sudah menjadi suami mu, jadi jangan terlalu formal seperti itu," jelas Seok Jin menggenggam kedua tangannya kuat.
"Kenapa? Kenapa O-" Zahra menghentikan perkataannya begitu saja dan melipat bibir merasa aneh serta asing hendak memanggil Seok Jin dengan panggilan baru.
Dokter tampan itu tersenyum lebar masih memandang lekat manik jelaga istri tercinta.
Ia terus menunggu dan menunggu apa yang hendak disampaikan Zahra.
"Kenapa Oppa... memilihku untuk menjadi istrimu?"
Zahra menutup mata rapat, rasanya masih terlalu asing memanggil Seok Jin dengan sebutan Oppa.
Sang suami hanya tersenyum maklum.
"Karena hatiku sudah memilihmu, juga... aku kagum pada wanita pejuang seperti mu, Sayang."
"Kamu yang selalu tersenyum ceria di balik masalah demi masalah menghadang telah meluluh lantakkan perasaan ku. Aku kagum, kamu berjuang sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik bagi ketiga adikmu."
"Kekaguman itu berubah menjadi cinta dan ingin memiliki," aku Kim Seok Jin jujur.
"Apa bukan karena Oppa kasihan?" tanya Zahra sekali lagi memastikan.
Kepala bersurai hitam legam itu pun menggeleng cepat.
Ia terus mendongak memandangi penuh cinta wajah cantik wanita pujaannya.
Ditatap seperti itu membuat Zahra menggulirkan bola mata ke sembarang arah.
"Tentu tidak, Sayang. Kamu adalah wanita luar biasa yang tidak pernah menyerah pada keadaan. Perjuangan serta kekuatanmu dalam menjalani kehidupan sudah memotivasi ku untuk terus bersyukur pada setiap keadaan."
Kedua tangan dokter tampan itu terulur menangkup wajah ayu sang pujaan.
Zahra terkesiap dengan manik cokelatnya melebar sempurna. Ia pun terpaksa menatapnya lagi yang kini pandangan mereka saling bertemu satu sama lain.
"Saranghae. Cintaku padamu lebih besar daripada yang kamu tahu," ucap Seok Jin lagi tulis.
Ia pun membubuhkan kecupan di dahi tegasnya.
Kelopak mata Zahra menutup rapat merasakan sentuhan yang dilayangkan pangeran dalam hidupnya.
Kecupan yang semula dilayangkan hanya pada dahi saja kini turun ke kedua mata.
"Aku harap mata ini hanya memandangku saja. Dengan mata ini juga aku ingin kamu melihat kebahagiaan bersamaku," ucapnya tulus.
Setelah itu turun ke hidung.
"Aku ingin kamu hanya mencium aroma menenangkan hanya denganku."
Lalu berlabuh lagi ke kedua pipi.
"Aku ingin melihat pipi ini merona hanya saat bahagia di sisiku."
Tidak lama kemudian, kelopak mata yang semula menutup kini terbuka.
Mereka kembali saling pandang dan menyelami keindahan bola mata masing-masing.
Seakan ada magnet yang saling tarik menarik, wajah keduanya perlahan mendekat.
Semakin dekat dan dekat hingga penyatuan pun terjadi.
Zahra terbelalak, tetapi sedetik kemudian kembali menutup mata kala melihat sang suami melakukan itu.
Penyatuan yang awalnya hanya sentuhan ringan saja lama kelamaan berubah menjadi sebuah permainan.
Kesyahduan terus meningkat seiring keinginan kian berlabuh.
Entah sadar atau tidak, Seok Jin mengangkat kekasih hatinya membuat kedua kaki ramping Zahra melingkar erat di pinggang tegas sang suami.
Beberapa saat berlalu, wajah keduanya pun saling menjauh. Dadanya naik turun dengan napas saling bergemuruh.
Tidak ada yang saling berbicara, hanya lewat sorot mata saja saling mengutarakan perasaan.
"Kamu mau melanjutkan?" tanya Seok Jin setelah beberapa saat, suaranya dalam nan serak menandakan sebuah hasrat kian melambung.
Belum sempat Zahra membalas perkataannya, Seok Jin lebih dulu membawanya menceburkan diri ke kolam.
Airnya beriak kencang dengan kehadiran dua insan disatukan ikatan janji suci pernikahan.
Di tengah-tengah kolam tersebut mereka saling tatap dengan Zahra masih berada dalam gendongan sang suami.
Kedua tangannya melingkar erat di leher jenjang dokter menawan itu.
Semilir angin sore menemani kebersamaan mereka.
Dengan suasana asri di sekitar serta lukisan senja di atas cakrawala membentang menjadi background drama pernikahan keduanya.
Seakan mendukung, pasangan pengantin baru itu melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda.
Zahra bahagia dan senang begitu dimanjakan oleh Kim Seok Jin.
Di tengah dinginnya air kolam serta semilir angin yang datang, memberikan kenikmatan tiada akhir.
Sentuhan demi sentuhan impulsif semakin dilayangkan satu sama lain.
Hasrat yang kian melambung tinggi terus memaksa keduanya untuk saling bersentuhan.
Hubungan yang mereka lakukan sebagai suami istri melenakan keduanya.
Sudah tidak ada lagi kepelikkan yang mendera, hilang sudah beban yang ditanggung, serta hadirnya kebahagiaan sejati memeluk erat.
Keberadaan satu sama lain melengkapi hadirnya suka cita. Air mata yang berlinang berganti senyum kebahagiaan.
Tidak ada yang tahu di belahan bumi mana Allah menghadirkan itu semua.
Yakin dan percayalah jika semua kesedihan pasti dibalas kebaikan. Semua yang terjadi dan menerpa menjadi jalan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Di tengah kesyahduan Zahra membuka mata menyaksikan wajah tampan Kim Seok Jin.
"Terima kasih," gumamnya lirih meremas kedua bahu lebar sang suami.