VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 76



Ketegangan masih tercipta di dalam restoran. Rania, Jim-in, dan Seok Jin memandang ke arah yang sama, yaitu Arin masih dengan ketegangan atas perkataan dilontarkan nyonya besar tersebut.


Mereka tidak menduga mendengar perkataan Arin yang meminta putranya untuk segera melamar Zahra.


Jawaban itu jauh dari jangkauan dan tidak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Kim Seok Jin. Bahkan ia tidak pernah memikirkan jika sang ibu bisa mengetahui perasaannya kepada Zahra secepat ini.


"A-apa Eomma sedang bercanda? Bagaimana bisa menyuruhku langsung melamarnya?" tanyanya mencoba memastikan.


"Apa wajah Eomma terlihat bercanda?" tanya balik Arin memandangi ketiganya bergantian.


Mereka pun saling pandang, masih terkejut melihat air muka serius nyonya besar Kim tersebut. Eomma tidak main-main, pikir ketiganya yakin.


"Baiklah, sepertinya Zahra tidak percaya pada perasaanmu, kan? Bagaimana kalau seperti ini-" Arin mengatur strategi yang benar-benar mengejutkan mereka.


Jim-in, Rania, dan Seok Jin kembali dibuat tercengang serta tidak percaya Arin mempunyai rencana menakjubkan seperti itu. Bahkan sang nyonya belum mengenal Zahra lebih jauh dan hanya tahu sekilas saja, tetapi niatnya sudah sangat tulus.


Berkali-kali Seok Jin terkesiap mendengar ide dari ibunya. Ia juga menambahkan beberapa rencana yang terlintas dalam pikirannya.


"A-apa Eomma yakin?" tanya Seok Jin kembali ragu.


Arin menghela napas kasar dan menatap lekat buah hatinya.


"Meskipun Eomma belum mengenal Zahra lebih jauh, tetapi kebaikannya sudah menarik perhatian Eomma. Setelah mendengar ceritanya dari Rania barusan semakin meyakinkan Eomma jika wanita itu... memang yang terbaik untukmu," kata Arin lagi membuat Seok Jin benar-benar terharu.


"Wah, Eomma sangat hebat." Jim-in mengacungkan kedua ibu jari kepadanya.


"Kalau begitu, kita harus segera melakukan aksi ini. Kamu harus yakin jika menginginkan dia sebagai pendamping hidup," ucap Arin kembali menepuk sedikit kencang lengan Seok Jin.


Ia pun mengangguk dengan sorot mata serius. "Baiklah, jika sudah ada restu Eomma aku semakin yakin untuk mengatakannya sekali lagi."


Rania dan Jim-in saling pandang seraya tersenyum tulus, senang bisa melihat keseriusan sang dokter untuk menjemput penjelasan atas sebuah perasaan.


...***...


Setiap keputusan pasti ada tantangannya, setiap langkah yang diambil pasti ada saja rintangannya, hitam dan putih, semua ada timbal balik.


Tidak ada yang patut disesali maupun ditangisi, sebab apa yang terjadi tidak luput dari rencananya Allah.


Skenario-Nya, takdir-Nya, sudah pasti yang terbaik bagi setiap hamba. Meskipun terkadang terasa sulit, terasa sakit untuk dihadapi, tetapi itulah jalan yang harus dilalui.


Tarik ulur sebuah kehidupan memang biasa terjadi, kadang kala perlu berderai-derai air mata sebelum mendapatkan kebahagiaan.


Tidak ada kisah tanpa air mata, tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan, jalani, syukuri, semua pasti menemukan titik akhir dari sebuah permasalahan.


Zahra termangu di atap rumah sakit, selepas berbicara dengan adiknya, Laluna, ia memandangi indahnya ibu kota di malam hari seorang diri.


Angin dingin menyambut menyapu wajah cantiknya yang sembab. Beberapa menit lalu kakak beradik itu terisak bersama menangisi setiap kemelut kehidupan yang dijalani.


Baik Zahra maupun Laluna, mereka sama-sama menguatkan satu sama lain jika keduanya mampu melewati setiap permasalahan.


"Aku yakin... ada balasan dari semua kesabaran. Ya Allah-" Kepala berhijab itu mendongak ke atas memandangi cakrawala gelap dengan bertabur bintang.


"Bantu hamba, kuatkan hamba, dalam menghadapi setiap ujian yang Kau berikan. Hamba percaya di balik cobaan yang menghampiri... Engkau pasti menyiapkan balasannya. Maka, bolehkah hamba menerimanya? Hamba ingin membahagiakan Laluna, Zaitun, dan Adam. Meskipun sekarang kami kehilangan kasih sayang ayah dan ibu, asalkan... kami tidak kehilangan kasih sayang dari-Mu ya Rabb."


Sebait doa bermuara pada sanubari terindah. Setetes kristal bening meluncur di kedua sudut matanya. Zahra mengulas senyum lembut atas perasaan damai datang menghampiri.


Ia percaya Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya terus larut dalam kesedihan. Entah kapan, entah di mana, dan entah seperti apa kebahagiaan yang Allah berikan, tetapi yakinlah semua itu pasti datang menghampiri.


Malam ini, di tempat itu, di negara orang, ia meyakinkan diri untuk tidak mengalirkan kesedihan lagi.


Kedua tangan mengepal kuat meyakinkan diri sendiri jika semua pasti akan baik-baik saja.


"Bismillah, aku pasti bisa!" tekadnya.


Ia pun berbalik dan meninggalkan atap dengan penuh keyakinan.


Tiga hari berlalu begitu cepat, Rania, Jim-in, serta Seok Jin mulai menjalankan rencana yang sudah disusun sedemikian rupa.


Hari ini tepat di musim gugur pertama, Rania tengah menunggu seseorang. Ia duduk di dalam mobil tidak jauh dari gedung apartemen tempat tinggal sang sahabat.


Seraya ditemani roti lapis dan segelas cup susu hangat, sedari tadi ia terus mengawasi seseorang di sana.


Tidak lama kemudian, Zahra keluar menenteng dua kantong keresek sampah hendak dibuang. Rania sedikit menunduk menyembunyikan keberadaannya agar tidak ketahuan, bola mata karamel itu terus memandangi ke mana wanita tadi pergi.


Sampai beberapa menit setelahnya, Raina melihat lagi wanita berhijab lainnya keluar dari gedung apartemen.


Buru-buru Rania keluar melemparkan roti lapis pada jok sebelah. Ia berlarian menyusul wanita tadi dan berhasil mencengkram pergelangan tangannya.


"Laluna," kata Rania sambil mengatur napas.


Laluna, adik dari Zahra itu pun menoleh ke belakang mendapati sahabat sang kakak mendatangi. Dahi lebarnya mengerut dalam, terkejut mendapati Rania ada di sana.


"Mbak... Rania?" tanyanya ragu.


Rania mengangguk beberapa kali dan melepaskan cengkeramannya.


"Bisakah... bisakah kamu ikut aku sebentar?" pinta Rania kemudian.


"Ah, saya belum mengucapkan terima kasih. Karena hari itu sudah mengizinkan saya dan teh Zahra menginap di tempat kalian." Laluna menundukkan kepala singkat membuat Rania terkejut atas tindakannya, tanpa menjawab perkataan barusan.


"A-ah, tidak masalah. Kamu tidak usah sungkan, Zahra sudah seperti saudariku sendiri. Jadi, apa kita bisa bicara?" tanya Rania lagi ke pembicaraan awal.


Laluna mendongak melihat sorot mata penuh minat lawan bicaranya.


"Apa yang ingin Mbak Rania katakan denganku? Apa Mbak tidak akan bertemu dengan teh Zahra? Baru saja dia pergi, dan sebentar lagi pasti kembali," celotehnya menjelaskan.


Rania melambai-lambaikan kedua tangan tepat di depan wajah cantik Laluna.


"Tidak, bukan itu. Aku datang ke sini memang untuk bertemu denganmu, Laluna? Itu namamu, kan?" Sang pemilik nama pun hanya mengiyakan dan menunggu apa yang hendak Rania sampaikan lagi.


"Ini... menyangkut kakakmu. Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu." Perubahan air muka sahabat dari kakaknya pun membuat Laluna semakin terkesiap.


Dalam hitungan detik, Rania berubah serius tanpa gentar sedikitpun. Melihatnya yang seperti itu mau tidak mau Laluna mengangguk setuju atas permintaan sang lawan bicara.


"Bagus, kalau begitu kita pergi. Kita tidak bisa membicarakannya di sini." Rania menggenggam pergelangan tangan Laluna dan membawanya masuk ke dalam mobil lalu mereka pun pergi begitu saja.


Sepanjang jalan, Laluna terus menerus menahan rasa penasaran. Berkali-kali ia memandangi Rania yang tengah fokus menyetir.


Mendapatkan hal itu Rania pun menyadarinya, bibir ranumnya melengkung sempurna mengetahui kecemasan Laluna.


"Kamu tidak usah khawatir, aku membawa mu ke suatu tempat bukan untuk membicarakan hal-hal aneh. Aku hanya ingin mendengar pendapatmu saja dan persetujuan mu sebagai adik pertama dari Zahra," jelasnya lagi.


Laluna semakin tidak mengerti apa yang hendak disampaikan Raina. Ia hanya harus menunggu ke mana wanita itu akan membawanya.