
Kenapa ada kebahagiaan jika mendatangkan air mata?
Kenapa ada harapan jika harus menghadirkan luka?
Kenapa ada mimpi jika menyuguhkan kekecewaan?
Jawabannya hanya satu, yaitu Allah ingin mendatangkan kebahagiaan tanpa batas. Karena fa inna ma'al-usri yusroo inna ma'al-usri yusroo "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (Q.S. A;-Insyirah: 5-6)
Kesedihan dan kebahagiaan senantiasa berjalan berdampingan. Kedatangannya silih berganti sebagaimana roda kehidupan terus berputar.
Meskipun tidak mudah untuk dilalui dan kadang kala mendatangkan luka menahun tak kasat mata, tetapi di balik itu semua terdapat kebaikan yang tidak disangka-sangka.
Allah sebaik-baiknya pemberi rencana terindah bagi setiap hamba. Apa pun yang menjadi skenario dari-Nya itu yang terbaik, walaupun dilalui dengan linangan air mata, tetapi jika semuanya bergantung kepada-Nya, maka ada kado luar biasa yang tengah disiapkan oleh-Nya.
Jangan putus asa ataupun menyerah, menangis untuk mengeluarkan rasa sesak itu diperbolehkan, asal tidak usah terpuruk di dalamnya.
Karena Allah pun tidak akan membiarkan hamba-Nya terus menerus berada dalam kesedihan.
Laa tahzan innalloha ma'anaa
"Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-Taubah: 40)
Pada akhirnya, apa pun yang terjadi, libatkan Allah di dalamnya. Karena tidak ada daya dan upaya selain bergantung dan berserah diri hanya kepada Allah semata.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, saat ini Rania sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.
Sedari tadi bibir ranum itu tidak berhenti melengkung dengan sempurna. Hari-hari damai yang ia jalani sebagai seorang ibu dan istri benar-benar mendatangkan kebaikan.
Tidak pernah terpikirkan jika akan ada hari di mana ia bisa menjadi pasangan sesungguhnya dari seorang pewaris besar dari negara orang.
Namun, begitulah takdir Allah bekerja. Sejauh apa pun, setidak mungkin bagaimanapun, jika rencana-Nya memang tertuju pada satu titik maka akan terjadi.
"Hari ini kamu masak apa, Sayang?"
Lengan kekar tiba-tiba saja masuk di kedua celah tangan sang kekasih dan melingkar erat di pinggang rampingnya.
Aroma maskulin seketika menyebar menegangkan sanubari. Rania menghentikan kegiatannya dan memandang lurus ke depan.
Meskipun sudah bertahun-tahun bersama, perlakuan manis sang suami masih belum bisa terbiasa.
Jim-in yang menyadari diamnya Rania pun mengembangkan senyum lebar. Ia semakin mempermainkannya dengan mengendus pelan leher jenjang yang terhalang hijab lebar.
"O-Oppa? Apa yang sedang Oppa lakukan?" bisik Rania berusaha menahan geli sekaligus hasrat terpendam yang mendorongnya untuk bertahan.
Menyadari reaksi sang istri, Jim-in semakin menyeringai lebar. Ia langsung membalikan tubuh Rania hingga saling berhadapan.
Wajah semerah tomat masak itu pun membuat Jim-in tidak kuasa menahan diri. Ia mematikan kompor lalu menarik pelan sang istri sedikit menjauh dari sana.
Ia lalu mengangkat kekasih hatinya dan mendudukkan di atas meja.
Kedua lengan kekar berurat itu berada di sisi kanan dan kiri Rania mengukungnya dalam pandangan.
"Kamu tahu ... melihatmu seperti ini membuatku benar-benar tidak bisa menahan diri. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku tidak usah bekerja saja?" ucapnya lembut nan halus.
Rania hanya bisa menggelengkan kepala sembari mengulas senyum simpul. Setelahnya ia menunduk menghindari tatapan mendamba sang suami.
Jim-in yang melihat itu pun tidak membiarkannya begitu saja. Ia memegang dagu lancip Rania membuat sang empunya kembali mendongak.
Tanpa mengatakan sepatah kata, wajah tampan nan rupawan itu mendekat secara perlahan mengikis jarak di antara mereka.
Hingga tidak lama berselang penyatuan terjadi. Rania mengikuti permainan kekasih halalnya dan terbuai akan waktu yang hanya ada mereka berdua di dalamnya.
Beberapa saat kemudian penyatuan pun berakhir, dahi pasangan itu saling menempel satu sama lain. Deru napas yang masih memburu menemani jejak kesyahduan.
"Kamu benar-benar candu bagiku, Sayang. Aku beruntung bisa memiliki pasangan seindah kamu," ungkap Jim-in mesra.
Wajah putih Rania kembali merona hebat. Ia mengalungkan kedua tangan di leher jenjang sang suami menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh prianya.
Jim-in mengangguk singkat dan kembali melanjutkan permainan melenakan tadi.
Sampai sebuah suara mengejutkan keduanya.
"Eomma, Appa."
Baik Rania maupun Jim-in buru-buru langsung melepaskan pagutan keduanya dan menoleh kompak ke sebelah.
Di sana mereka melihat putri sulungnya tengah mengucek kedua mata seraya menggenggam tangan boneka kelinci kesayangannya.
"A-Akila." Panggil Rania pelan.
"Sayang," lanjut Jim-in kemudian.
Dengan wajah setengah mengantuk, Akila memandangi kedua orang tuanya bergantian. Dahi lebar itu mengerut menyaksikan reaksi mengejutkan mereka.
"Apa yang sedang Eomma dan Appa lakukan? Kenapa Eomma duduk di sana? Apa sarapan sudah siap?" Sang putri membrondong dengan pertanyaan.
Keduanya saling pandang beberapa saat, lalu Raina bergegas turun dari meja memandang gugup buah hatinya.
"Eo-Eomma akan segera menyiapkan sarapan." Rania buru-buru pergi menghindari pertanyaan lain dari Akila.
Jim-in yang melihat istrinya melarikan diri pun langsung mendekati putri pertama dan berjongkok tepat di depannya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Akila hanya mengangguk singkat.
"Owh~ putri kesayangan Appa cantik sekali. Kalau begitu ayo kita lihat apa adikmu sudah bangun atau belum." Jim-in menggendong Akila dan melangkahkan kaki menuju kamar putra keduanya berada.
Kepalanya menoleh ke belakang seraya mengedipkan sebelah mata ke arah sang istri. Rania yang melihat itu pun terkejut dan tertawa tanpa suara.
...***...
Keluarga Park kini tengah menikmati sarapan bersama, di temani obrolan-obrolan ringan semakin menambah kehangatan.
Tidak pernah Rania bayangkan jika kehidupan pernikahannya bersama tuan muda Park Jim-in bisa berlabuh hingga tujuan.
Ia berpikir jika perpisahan lah yang akan terjadi, mengingat sang suami masih melabuhkan hati pada wanita lain.
Namun, nyatanya ia yang menjadi pelabuhan terakhir.
"Sayang, apa kamu setuju Eomma pergi belajar?" ucap Jim-in seraya mengusap puncak kepala putri sulungnya hangat.
Akila menoleh pada sang ayah beberapa saat, lalu beralih pada ibunya. Rania terkesiap mendengar pertanyaan tadi, apa tidak terlalu cepat? Pikirnya.
"Sayang, putri cantiknya Appa," kata Jim-in lagi menyadarkan.
Akila yang tengah larut dalam lamunan pun akhirnya tersadar dan kembali beralih padanya.
"Jika itu memang yang terbaik untuk Eomma, Akila setuju-setuju saja," balasnya, lengkungan bulan sabit pun melebar di celah bibir kemerahannya.
"Apa? Apa maksudmu Rania akan belajar lagi?" cela sang nyonya besar, Jim-in dan Rania pun menatap padanya.
"Aku yang memberi saran pada Rania agar bisa melanjutkan sekolah. Bukankah sangat disayangkan jika cita-citanya harus terhenti begitu saja? Eomma kan tahu, aku yang dulu memutuskan pendidikannya," jelas Jim-in.
Gyeong terkejut dan meletakan sumpit di samping mangkuk nasi. Kepala berhijabnya menoleh pada sang menantu yang tengah duduk di sebelah.
"Rania, apa kamu setuju dengan saran suamimu?" tanyanya kemudian.
Rania yang sedari tadi memperhatikan sang ibu mertua memberikan tatapan serius.
"Jika semua keluarga tidak keberatan, aku ... sebenarnya-" Rania gugup mengutarakan isi hati terdalam.
"Sangat ingin melanjutkan sekolah," lanjutnya penuh keyakinan.
Baik Jim-in, Akila, maupun Gyeong tersenyum senang mendengar keinginan Rania. Ia bisa melanjutkan sekolah dan menggapai mimpi yang dulu pernah terhenti.