VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 1



Menjadi seorang ibu bagi kebanyakan wanita adalah anugerah tak ternilai. Layaknya menjadi wanita wanita sesungguhnya yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.


Mengandung, melahirkan, serta menyusui bukanlah tugas yang mudah, tetapi jika dilaluinya dengan ikhlas maka akan ada kebaikan serta pahala yang didapatkan.


Allah menciptakan wanita dengan begitu sempurna, di saat masih gadis ia bisa menjadi hadiah anugerah bagi ayahnya, khususnya dalam hal berhijab.


Sebagaimana yang telah Allah sampaikan dalam surah Al-Ahzab ayat 59 yang artinya:


"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."


Setelah menikah ia menjadi penyejuk bagi suaminya dan ketika menjadi ibu surga ada padanya. Begitu mulia dan berharganya seorang wanita.


Itulah yang tengah Rania Varsha Humairah rasakan. Setelah bertahun-tahun menjadi seorang istri dari Park Jim-in, kehidupannya benar-benar berubah.


Kini ia pun telah menjadi seorang ibu dari putri dan putra tercinta. Akila serta Jauhar, buah hatinya bersama Park Jim-in tumbuh berkembang dalam pengawasan keduanya.


Mereka sengaja tidak memberikan nama negara kelahirannya, sebab baik Rania maupun Jim-in menginginkan keduanya berbeda dari yang lain dan mengikuti sang ibu.


Pernikahan yang diawali perjodohan itu pun berakhir manis. Rania begitu dicintai oleh suaminya yang dulu hanya menganggap ia sebagai pelayan.


Hari-hari berat telah ia lalui dengan linangan Varsha. Nama itu akan selalu melekat dalam diri Rania, mengantarkan pada jalan kisah berbeda.


Sekarang Varsha tidak lagi memberikan hujan air mata kepedihan, melainkan kebahagiaan.


Bertahun-tahun membina rumah tangga, melakoni tugas sebagai istri dan ibu dilalui Rania penuh suka cita.


Ibu mertuanya, Park Gyeong pun berubah berbalik menyayanginya. Masa-masa sulit pada waktu memberikan pelajaran berharga.


Kini sang nyonya besar telah menganggap Rania tidak hanya sebatas menantu, tetapi layaknya anak sendiri.


Kejadian yang menimpa pada wanita baya itu pun sudah membuka hati jika Rania wanita baik penyempurna putra semata wayangnya.


Senyum manis membingkai wajah wanita berumur dua puluh tujuh tahun ini. Rania tengah menikmati senja di taman belakang rumah.


Rutinitas tersebut selalu ia lakukan pada saat sore menjelang. Hanya menatap lukisan Allah yang satu ini benar-benar membuat perasaannya berkali-kali lipat lebih tenang.


Kesendirian menyambutnya pada kenangan demi kenangan masa lalu. Di tempat itu, rumah megah yang dulu dipenuhi luka telah terukir sejarah bagaimana ia bisa mendapatkan kebahagiaan bersama keluarga baru.


Di tengah menikmati senja, ia dikejutkan dengan sepasang lengan kekar melingkar di perut ratanya.


Ia menunduk melihat tangan berotot tengah memeluknya dari belakang. Aroma maskulin menyebar membuat ia menutup kelopak mata singkat.


"Harummu masih sama. Oppa wangi sekali, selamat datang kembali di rumah," kata Rania tanpa menoleh sedikitpun.


Jim-in mengulas senyum lembut dan membubuhkan kecupan ringan di puncak kepala sang istri. Ia meletakkan dagu di sana sembari mengikuti arah pandang Rania.


"Em, aku sudah pulang. Assalamu'alaikum, Sayang," balasnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Rania singkat.


Hening menyapa, semilir angin menyapu wajah keduanya dengan kesejukan. Semburat jingga dan orange menyembur menjadi satu di atas cakrawala.


Sesekali burung terbang melewati mereka hendak pulang ke sarangnya. Kenyamanan itu memberikan ketenangan pada sepasang suami istri di sana dengan keharmonisan.


"Dari dulu sampai sekarang kamu masih suka melihat senja, kebiasaanmu tidak pernah berubah, Sayang," ucap Jim-in lagi.


Rania menggenggam kedua lengan itu erat dan bersandar nyaman di dada bidang sang pasangan hidup.


"Karena aku sangat menyukai senja, warna yang menyatu di atas langit mampu memberikan ketenangan. Allah begitu sempurna dalam menciptakan sesuatunya."


"Meskipun setelahnya kegelapan menyambut, tetapi senja memberikan kekuatan untuk menghadapinya. Jika di balik gelap pun masih ada keindahan yang tersembunyi, yaitu langit malam yang penuh bintang dan cahaya bulan," celotehnya dengan riang.


Setelah itu ia membalikan sang istri hingga pandangan mereka pun saling bertubrukan. Rania mendongak menyaksikan sepasang manik kelam milik suaminya.


"Aku beruntung bisa mencintaimu.Yeobo, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, apa pun yang terjadi," ujar Jim-in sarat akan keyakinan di dalam nada suaranya.


"Dari dulu hingga sekarang perasaanku tidak pernah berubah. Jadi, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu, Oppa? Saranghae, tidak ada yang bisa menggantikan mu di hatiku," balas Rania tegas nan lugas.


Denyut jantung tuan muda itu pun bertalu kencang. Jim-in sadar selama ini wanita yang tulus mencintainya hanyalah Ayana.


Yunna, hanya sebatas masa lalu yang tidak akan pernah ia ingat lagi. Sekarang baginya sang mantan hanyalah sebuah kesalahan.


Wajah tampan itu pun merunduk dan perlahan-lahan mendekat. Rania yang mengerti keinginan sang suami menutup matanya erat.


Sedetik kemudian penyatuan terjadi, kepala keduanya bergerak tak karuan mengikuti permainan yang diberikan.


Di bawah langit senja ciuman yang memabukkan begitu memberikan kebahagiaan. Sejatinya pernikahan yang pernah dibalut oleh luka bisa mendatangkan kebaikan jika berlandaskan kepada Allah.


Tidak lama berselang penyatuan itu pun berakhir. Rania maupun Jim-in saling menjauh beberapa senti dengan manik masih menatap satu sama lain.


Lengkungan bulan sabit berpendar di bibir bengkak keduanya. Mereka sama-sama merasa lega atas kehidupan yang telah berubah dari tahun ke tahun.


"Eomma, Appa," teriak gadis berusia lima tahun menginterupsi.


Kompak, Rania dan Jim-in menoleh ke arah yang sama di mana putri pertama mereka tengah memandanginya dengan sorot mata hangat.


Kedua orang tuanya pun bersimpuh seraya merentangkan tangan. Melihat itu Akila berlari secepat yang ia bisa lalu menubrukkan diri pada ayah dan ibu.


Ketiganya saling berpelukan erat menyalurkan kasih sayang.


"Di mana adikmu, Jauhar?" tanya Jim-in seraya melepaskan sang putri.


Akila menoleh ke belakang lalu menunjuk lurus ke depan. "Itu, bersama Halmeonie," jawabnya.


Rania dan Jim-in pun beranjak melihat Gyeong berjalan mendekat seraya menggendong putra kedua mereka.


Bayi berusia lima bulan itu pun sangat gempal dengan mata sipitnya terhalang pipi layaknya bapau. Rania langsung menggendong sang putra dan memberikan ciuman di wajah tampannya.


"Kalian tetap akur seperti ini, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi," kata Gyeong menasehati.


"Iya, Eommanim saya akan berusaha menjadi istri dan ibu terbaik untuk mereka," balas Rania kemudian.


"Panggil Eomma saja, dan lepaskan formalitas itu. Sekarang kita keluarga dan kamu sudah Eomma anggap seperti anak sendiri, terima kasih sudah tetap bertahan bersama kami," ucap nyonya besar itu lagi seraya mengelus pundak sang menantu.


Rania mengangguk haru dan menyembunyikan wajahnya di kepala bundar Jauhar.


Jim-in langsung merangkul sang istri dan membalas tatapan ibunya.


"Eomma tenang saja, aku akan membuat keluarga kecil kami bahagia," ungkapnya yakin.


Gyeong mengangguk mengiyakan, dan pasti putra semata wayangnya bisa memberikan itu pada keluarga kecilnya.


"Akila akan menjadi putri Eomma, Appa, dan cucu terbaik bagi Halmeonie," ujar Akila masuk ke dalam pembicaraan.


Rania, Jim-in, dan Gyeong pun saling pandang lalu tersenyum lebar. Setelah itu mereka tertawa bersama menikmati kebersamaan.


Bagaikan mentari menyinari bumi, kehangatannya membalut luka masa lalu mengenyahkan rasa sakit.


Rania memandangi satu persatu anggota keluarganya dan berbisik lirih, "Ya Allah, ini lebih dari apa yang hamba harapkan, terima kasih, Alhamdulillah," benaknya mengucap syukur yang datang tak terhingga.