
"SELAMAT ULANG TAHUN, Zahra."
Ucapan selamat itu berdengung di area villa. Keberadaan orang-orang yang tidak pernah terpikirkan akan hadir tertangkap pandangan.
Rasa tidak percaya kian merundung membelit kesulitan dalam sanubari.
Zahra seolah membeku di tempat menyaksikan dua orang yang sudah meninggalkannya bersama ketiga adiknya pun turut hadir.
Bak petir di siang bolong, kejutan yang mereka berikan benar-benar berhasil.
Bahkan Zahra hampir tidak bisa berkata apa-apa setelah mengetahui apa yang sedang terjadi.
Tidak terbayangkan akan terjadi dalam hidup sebuah peristiwa mendebarkan itu hadir.
Tercatat dalam sejarah kehidupan seorang Zahra waktu mempertemukan keluarga yang sudah berantakan.
Zahra mematung, sepasang manik jelaganya melebar sempurna bersamaan dengan degup jantung bertalu tak tertahankan.
Keringat dingin pun bermunculan di pelipis yang semakin menambah gelenyar kebimbangan.
Tidak sampai di sana saja, ia melihat seorang dokter tampan bak pangeran dari negeri dongeng berjalan sembari membawa bolu ulang tahun.
Dengan cahaya lilin-lilin kecil mengelilinginya menambah pesona kharismatik pria menawan yang semakin berjalan mendekat.
Bola mata kelereng Zahra bergulir ke sana kemari kian tidak menentu.
"Selamat ulang tahun, Zahra. Di hadapan orang tuamu, orang tuaku, keluarga, sahabat-sahabat kita, aku ingin mengatakan... selamat ulang tahun dan... maukah kamu menikah denganku? Menjadi pendampingku sepanjang hidup, tidak hanya di dunia, tetapi hingga ke jannah-Nya insyaallah, serta penyempurna separuh agama kita?"
"Di depan mereka aku ingin melamar mu dengan cara yang terbaik. Aku sudah membicarakan ini dengan orang tua kandungmu juga."
Bola mata kecokelatan itu bergulir ke samping di mana tidak jauh dari keberadaannya sepasang suami istri yang sudah lama berpisah berdiri berdampingan.
Zahra mengikuti arah pandang sang dokter bertatapan langsung dengan ayah dan ibu yang juga sedang menatapnya haru.
Ia terpaku, tidak percaya bagaimana bisa Kim Seok Jin meyakinkan mereka untuk datang.
Tidak hanya Aditya dan Zulfa semata, melainkan ada juga Lee Dong Hyuk, ibu tiri, serta ketiga adik dari hasil pernikahan kedua orang tuanya ada di sana.
Perlahan kepala berhijab Zahra menoleh kembali pada Seok Jin yang masih tersenyum lebar.
"Bagaimana?" Zahra mendongak memandang lekat pada iris kecil di hadapannya. "Bagaimana bisa semua ini terjadi? Apa yang sudah Anda lakukan?" ujarnya penuh pertanyaan dalam kebimbangan.
"Semua ini rencana Kim Seok Jin, Nak. Ayah dan Mamah sudah mendengarkan semua permintaannya ingin melamar mu."
"Dia tulus mencintaimu, Nak dan ingin mengkhitbah mu. Dia jugalah yang menyadarkan Ayah dan Mamah agar memberikan yang terbaik untukmu."
"Zahra, anak Ayah... putri kecilnya Ayah... Ayah benar-benar minta maaf, Sayang. Selama ini Ayah sudah menelantarkan kalian dan memberikan beban padamu. Ayah minta maaf," racau Aditya mengungkapkan semua yang terjadi.
Dengan berlinang air mata seorang ayah yang terkenal akan keteguhan serta kekuatannya dalam melindungi keluarga kecil dari macam marabahaya kini memperlihatkan sisi lemah.
Zahra termangu menyaksikan air mata berlinang terus menerus turun ke pipi tirus itu.
Tidak sampai di sana keterkejutan seorang Zahra rasakan, kini giliran sang ibu berjalan mendekat lalu menggenggam kedua tangannya erat.
Zahra terbelalak lebar, menatap ke dalam iris di sampingnya.
"Mamah juga benar-benar minta maaf, Zahra. Selama ini sudah sangat menyakitimu, bahkan tugas sebagai orang tua harus kamu lakukan pada ketiga adikmu. Mamah begitu egois tidak memikirkan bagaimana perasaanmu."
"Dia mengatakan serius ingin menjadikan mu istrinya. Dia meminta pada Mamah dan Ayah untuk melamar mu di hadapan kami, dan... di sinilah kami sekarang."
"Tugasmu sudah selesai dalam mengurusi adik-adik mu, Zahra. Sekarang kamu berhak mendapatkan kebahagiaan. Sekali lagi Mamah minta maaf, terlalu banyak kesalahan yang sudah kami perbuat. Mamah benar-benar minta maaf," ungkap Zulfa dengan air mata bercucuran di kedua pipi.
Melihat dan mendengar sendiri bagaimana penyesalan itu tergambar apik dalam sorot mata kedua orang tuanya, membuat Zahra juga tidak kuasa membendung air mata.
Ia juga tidak menyangka jika pembicaraan waktu itu dengan sang ayah di sebuah kafe terdengar oleh ibunya.
Ia menangis dalam diam tidak menyangka mendapatkan hari di mana orang tuanya menyesali perbuatan besar tersebut.
Ia membalas genggaman tangan sang ibu tak kalah erat menyalurkan kemelut semakin memeluk erat.
Bola matanya bergulir menatap semua orang satu persatu dan kembali lagi pada Zulfa.
"Sudah lama aku ingin mendengar kata-kata itu dari Mamah dan Ayah. Karena, sejak kalian meninggalkan kami hari itu... aku, sudah menerima semua takdir yang menimpaku. Aku sadar... hanya aku yang harus menjaga mereka."
"Terima kasih. Karena sudah mau menyesali perbuatan kalian, aku harap... aku harap Mamah dan Ayah mau menyayangi Laluna, Zaitun, dan Adam dengan sepenuh hati. Biarkanlah hanya aku-" Zahra sudah tidak bisa menyelesaikan ucapannya sendiri.
Ia menangis dan menangis, menyembunyikan wajah berair nya di telapak tangan. Isakkan nya mengalun ke setiap pendengaran orang-orang di sana.
Melihat putri pertamanya begitu terluka dan tersayat, Zulfa langsung memeluk Zahra erat.
Seketika itu juga tangis ibu dan anak pecah. Mereka menangis bersama memberikan tontonan haru bagi semua orang yang menyaksikan.
Laluna yang sedari tadi menjadi penonton setia pun tidak kuasa menahan liquid beningnya. Ia menahan isak tangis melihat kebersamaan kakak serta ibunya.
Rania yang berada tidak jauh dari keberadaannya pun merangkul hangat. Ia mengusap punggungnya berkali-kali memberikan kekuatan.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," kata Rania membuat Laluna mengangguk mengiyakan.
Di tengah keharuan yang masih melingkupi, Seok Jin mengulas senyum lega. Ia senang setidaknya permasalahan yang telah ditanggung Zahra perlahan memudar.
Kata maaf yang berdengung dilayangkan oleh orang tua Zahra membuat perasaannya ikut lega. Meskipun belum ada jawaban pasti yang diberikan oleh Zahra, tetapi Seok Jin senang melihat mereka sudah mulai membaik.
"Syukurlah Zahra, aku turut bahagia untukmu," benaknya tulus.
Park Jim-in yang berada di samping sebelah kirinya melebarkan senyum. Ia bisa melihat ketulusan memancar dari wajah tampan sang kakak.
Ia lalu beralih pada sang istri yang juga sedang menatapnya. Mereka mengangguk memberikan bahasa isyarat yang menandakan keduanya juga turut senang.
Satu permasalahan yang menghalangi hubungan Seok Jin dan Zahra mulai terselesaikan. Keduanya sadar jika cinta memang tidak bisa dipaksakan, tetapi ada kalanya diutarakan agar ada kelegaan didapatkan.
Meskipun terkadang mendapatkan balasan yang tidak diharapkan, tetapi ada jawaban dari persoalan hati.
Bola mata kecil Jim-in bergulir melihat ke arah orang tua sang kakak yang tengah saling merangkul melihat drama kecil di sana.
Keduanya senang menyaksikan kesungguhan sang putra dalam menjemput keinginan terdalam. Mereka harap akan ada kebaikan yang bisa didapatkan oleh putra semata wayangnya.
Semilir angin menelisik ke dalam rongga relung hati terdalam.
Diam-diam Zahra tersenyum lega mendapati ayah dan ibu benar menyesali perbuatan yang sudah dilakukan.
Ia harap akan ada kebaikan yang bisa ketiga adiknya dapatkan dari hikmah hari ini. Ia bersyukur Allah bisa membukakan hati kedua orang tuanya, walaupun perlu waktu bertahun-tahun, tetapi balasan yang didapatkan luar biasa.
"Bismillah ya Allah, semoga ada kebaikan yang bisa didapatkan hari ini. Semoga ayah dan mamah bisa memberikan kebahagiaan pada Laluna, Zaitun, dan Adam," benaknya berharap.