VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 81



Rencana tinggallah rencana. Manusia hanya bisa berencana dan Allah menentukan segalanya.


Apa pun yang terjadi, seperti apa kejadian menimpa, telah menjadi bagian dari rencana-Nya.


Di balik itu semua terdapat hikmah yang bisa diambil. Senantiasa bersyukur dan menerima semua ketentuan-Nya maka ketenangan bisa didapatkan.


Di meja makan persegi panjang itu terdapat seorang manusia yang tengah menopang dagu.


Bola matanya terus menatap pada satu titik, seolah tidak ada minat apa pun dalam diri.


Helaan demi helaan napas terdengar berulang kali menandakan betapa banyak hal berkeliaran dalam kepalanya.


Beberapa pelayan yang hilir mudik memandangi tuan mudanya nampak begitu dilingkupi beban. Mereka hanya menelan segala tanya itu dalam diam tidak ingin ikut campur.


Rasa penasaran pun semakin tak terbendung saat salah satu dari mereka membereskan meja.


Ia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Mas Danieal, apa yang sedang kamu pikirkan? Tidak biasanya, apa ini tentang cinta?"


Pertanyaan itu pun mengejutkan. Danieal mengangkat kepala lalu beralih ke samping kanan mendapati pelayan yang lebih muda darinya tengah sibuk bekerja.


"Di mana sopan santun mu, Nila? Kamu selalu saja seperti biasa, tidak suka basa-basi," balasnya mencebikkan bibir singkat.


Nila, salah satu pelayan wanita muda di sana terkekeh pelan. Ia meletakkan serbet di atas meja dan meletakkan sebelah tangan di pinggang.


Dengan pandangan jatuh kepada tuannya, Nila memperhatikan Danieal dan membaca kondisinya.


"Apa Mas lupa sudah berapa lama aku bekerja di sini? Bukankah tuan dan nyonya mengatakan agar tidak sungkan?"


"Ah, lupakan semua itu. Jadi, apa Mas Danieal benar-benar sedang jatuh cinta?" Godanya lagi.


"Bagaimana kamu tahu?" Entah sadar atau tidak Danieal memberikan pertanyaan tersebut.


Sontak hal itu membuat Nila tertawa kencang. Ia melipat tangan di depan dada dan kembali sepenuhnya pada sang tuan muda.


"Apa wanita itu menolak mu?" Kali ini Danieal diam membisu tidak memberikan jawaban baik lisan maupun gerakan-gerakan lainnya


Ia terkejut dalam diam berusaha tenang menghadapi rasa penasaran salah satu pelayan di kediamannya.


Nila yang mengetahui diamnya sang tuan melebarkan pandang.


"Jangan bilang kalau dia benar menolak mu?" Nila menggebrak meja cukup kencang membuat suaranya bergema di sana.


Danieal pun terkejut kembali memandangi wanita muda di sebelahnya itu.


"Apa yang kamu-?" Ia menghentikan ucapannya begitu saja melihat air muka sang lawan bicara.


"Ke-kenapa kamu menatapku seperti itu?" lanjut Danieal gugup.


"APA? JADI BENAR MAS DANIEAL DITOLAK? MAS-"


"NI-LA!" Danieal bangkit dari duduk mendengar suara nyaring sang pelayan menggelar sampai ke penjuru mansion.


Para pelayan lain yang masih hilir mudik di sana langsung menghentikan langkah. Mereka memandang ke arah yang sama, yaitu tuan muda Danieal dengan tatapan terkejut.


Peran utama yang menjadi topik perhatian di sana memandang sekitar sekilas dan sepenuhnya lagi pada Nila.


Belum sempat Danieal melanjutkan perkataannya, seseorang dari arah depan mengalihkan atensi.


"Sudahlah Nila, senang sekali menggoda tuannya sendiri," ujarnya.


"Ah, Nyonya Anda sudah kembali? Nyonya tahu? Mas Danieal-"


"Hentikan Nila cepat kembali ke belakang," titah Danieal yang membuat Nila tertawa lagi lalu setelah itu mengangguk singkat.


Belum sempat pergi jauh, Nila berbalik dan kembali mengejutkan Danieal.


"Apa Mas mau mendengar nasehat cinta dariku? Aku yakin nasehat ini-"


"NILA." Suara berat nan dalam itu menyadarkan sang empunya nama.


Nila tertawa lagi dan kali ini benar-benar pergi dari sana.


Kekehan pelan dari sang ibu membuat Danieal menghela napas lalu beralih pada Celia.


"Anak itu selalu saja bisa menghidupkan suasana. Nila, dia benar-benar anak yang baik, bukan?" Celia masih tertawa senang mengetahui kelakuan salah satu asisten rumah tangganya.


"Dia memang senang menggodaku," katanya lagi.


Celia pun mengangguk setuju.


Celia terus memperhatikan buah hati pertamanya yang tengah dirundung sembilu.


Sebagai seorang ibu yang sudah membesarkannya sampai sekarang, Celia tahu perasaan terdalam putra kandungnya.


"Mamah tahu, apa yang sedang kamu rasakan sekarang. Tenanglah tidak usah khawatir, bukankah jodoh tidak ke mana? Jika kalian memang Allah takdir kan bersama, maka akan ada jalannya. Bersabarlah dan terus berdoa, yah," ucap Celia mengingat kejadian mendebarkan yang dialami sang putra.


Danieal mengangguk singkat dan menjatuhkan pandangan ke bawah. Ia teringat kembali di waktu sore di bawah senja penolakan akan kisah yang tak sampai tercetus jua.


Ketakutan serta kekhawatiran yang sempat melanda terjadi. Selintas penolakan Jasmine itu sempat hinggap dalam pikiran sebelum pernyataannya dilontarkan, tetapi ia tidak pernah menduga jika hal tersebut benar-benar terjadi.


Awalnya memang sulit dan sakit saat menghadai kenyataan itu, tetapi setelah melewatinya tidak seburuk yang dipikirkan.


"Iya, Mamah benar. Aku tidak boleh menyerah, jika memang dia yang terbaik pasti ada jawaban dari semua persoalan ini. Mamah mau kan terus mendoakan ku?" pinta Danieal disertai senyum lembut.


"Tanpa diminta pun Mamah terus mendoakan yang terbaik untuk mu, Danieal."


"Terima kasih, Mah."


Di tempat berbeda Jasmine masih berada di ruang galeri Ayana. Selepas sang pemilik pergi ia menyelesaikan satu karyanya.


Ia membentuk burung dari bola kristal itu yang kini sudah jadi.


Wajah putihnya dihiasi warna merah muda dan juga beningnya keringat membanjiri.


Berjam-jam ia berada di sana menghilangkan kejenuhan dan berhasil menciptakan satu karya.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," katanya mengusap peluh di dahi.


"Kira-kira aku menjualnya ke mana, yah? Apa ada orang yang mau membelinya?" gumam Jasmine menyaksikan hasil karyanya.


Tiba-tiba saja perkataan Ayana yang sinkron dengan mendiang sang ibu teringat.


Ia terdiam beberapa saat dan setelah itu helaan napas kasar terdengar.


Entah bagaimana awalnya, bayangan sang dokter pun turut melintas begitu saja. Jasmine melebarkan pandangan dengan degup jantung meningkat tajam.


Tangan kanannya terangkat mengelus pelan dada sebelah kiri. Detakkannya itu semakin tak karuan.


"Apa... apa yang aku rasakan ini benar?"


"Dengarkan... dengarkan kata hatimu jangan sampai ego menguasai. Apa ini jawaban dari semua yang terjadi?" racaunya melirik kristal berbentuk burung buatannya.


...***...


Empat bulan kemudian, usia kandungan Ayana sudah sedikit membesar.


Hari ini di kediaman Zidan diadakan syukuran. Banyak sanak keluarga yang datang turut mendoakan agar kehamilan Ayana bisa berjalan lancar hingga melahirkan nanti.


Ayana senang banyak orang yang turut menyayangi calon buah hatinya.


Dari banyak orang yang datang, Jasmine menepi di balkon. Ia merasa terasingkan kembali dari hingar-bingar kehangatan mereka.


Ia masih asing dengan suasana keluarga cemara di sana.


Ia berusaha menenangkan diri dan terus merasa bersalah pada Ayana.


Di tengah kesendirian, tiba-tiba saja Jasmine terkejut saat seseorang meneriaki namanya.


Jasmine menoleh ke belakang melihat adik ipar sang sahabat membolakan kedua matanya.


Merasa ada yang tidak beres, Jasmine memandang ke sekitar dan melihat ada cahaya silau dari sebilah anak panah.


Itu datang dari salah satu pohon besar yang ada di taman belakang mansion.


Jasmine yang menyadari jika ada seseorang di sana buru-buru masuk ke dalam untuk melindungi Ayana yang tengah tertawa lebar menyambut kedatangan orang-orang.


Namun, sayang sebelum semua itu terjadi kejadian tidak diharapkan mendatangi.


Suara anak panah mengenai sesuatu pun membuat mereka yang melihat berteriak.


Jasmine menoleh kembali ke belakang dan seketika terbelalak, terkejut tidak percaya.


"Ma-"


"DANIEAL!"


Teriak seorang wanita berlari melewati Jasmine dan menerjang tubuh itu yang sudah ambruk di tanah.