
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Varsha masih mengantung dalam bayang. Air mata jatuh beriringan dengan tangisan hujan malam ini. Di dalam keheningan hanya terdengar isak kepiluan yang mengiringi kebersamaan mereka. Sudah hampir 10 menit keduanya hanya duduk berdampingan di ruang depan. Suara jam berdenting mengiringi kepingan kehampaan yang mendera.
Hawar-hawar kesesakan kembali menjelma dalam ingatan yang mendera. Baru saja Varsha menghilang berganti Harsha yang dijanjikan. Namun, nyatanya awan mendung itu enggan untuk menghilang. Angin berhembus menjadikannya satu membentuk kegelapan dan menurunkan air kepedihan.
"Pasti sulit bagimu menerima semua ini. Lagi-lagi aku menyakitimu, mianhae." Nada penyesalan merundukan kepalanya. Jim-in sudah tidak punya muka lagi untuk bertatapan dengan sang istri.
Mendengar itu Rania pun mendongak melihat suaminya menunduk dalam. Tangan mungilnya terulur menggenggam erat jari jemari kokoh itu.
"Jangan berkata seperti itu. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit terkejut saja. Lagi pula bukan oppa yang melakukannya. Sudah, jangan menyalahkan diri sendiri. Aku baik-baik saja." Bisiknya lembut sarat akan ketulusan.
Jim-in termangu dalam kehampaan. Ia tidak bisa menahan cairan bening dalam matanya. Air itu jatuh tumpah ruah seiring lengan kekarnya merengkuh hangat sang istri.
"Mianhae, gomawo." Hanya dua kata yang bisa mewakili perasaannya saat ini.
Semula tidak ada yang menyangka kala memberikan kesan mendalam. Mungkin bisa dibilang air mata datang dari tawa menggairahkan. Namun, nyatanya kesedihan tak dapat terbendung saat waktu memberikan momentum yang mendebarkan. Tidak ada yang abadi sebenarnya. Begitu pula dengan kesedihan dan kebahagiaan.
Begitulah semuanya sudah tertulis dalam ayat-ayat suci yang telah Allah turunkan. Di balik kepedihan pasti ada kemudahan. Surah Al-Insyirah ayat 6 inna ma'al usri yusroo yang artinya 'sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.'
Namun, yang menjadi pertanyaan sampai kapan membiarkan semua itu terjadi? Sampai Allah menyudahinya. Sampai Allah mengatakan sudah waktunya untuk mengecap manisnya kesabaran.
Remang menyudahi kepiluan dalam benak. Untuk sesaat pasangan suami istri tersebut saling merasakan kekuatan satu sama lain. Rania tidak bisa menyalahkan siapa pun. Ia berada diposisi yang membingungkan. Di satu sisi ia begitu kecewa mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari mertuanya, tapi di sisi lain wanita yang sudah menyakitinya itu adalah ibu dari suaminya.
"Aku mohon jangan membenci eomma. Bagaimana pun juga beliau sudah meregang nyawa untuk melahirkanmu ke dunia. Dan juga bertemu denganku." Lirihnya seraya menahan kepiluan.
Jim-in mengangguk tanpa ada kata yang keluar.
...🌦️🌦️🌦️...
Beberapa minggu setelah kejadian itu, hubungan Rania dan Jim-in malah semakin harmonis. Keduanya tampak baik-baik saja seolah tidak pernah ada yang terjadi. Rania kembali membuka usahanya yang sempat tertunda. Begitu pula dengan Jim-in yang semakin giat untuk mencari nafkah guna menghidupi istri tercintanya.
Binar kebahagiaan terpancar dalam sorot mata kelegaan mereka. Senyum tulus pun mengembang merenggut kesakitan hari itu.
Brakk!!
Geprakan dimeja seketika mengejutkan pria paruh baya di hadapannya. Beberapa lembar foto yang memperlihatkan aktivitas sang putra beserta menantunya berserakan dimeja kaca tersebut. Giginya saling gemeretak dengan kedua tangan mengepal kuat. Tingkat emosinya tengah berada dilevel teratas. Ubun-ubunnya terasa berdenyut kala rencananya hari itu gagal total.
Gyeong tidak berhasil membuat Rania menyerah.
"Apa yang akan nyonya lakukan?" tanya Sang Oh yang berdiri di depannya.
"Kau usah ikut campur." Setelah mengatakan itu Gyeong pun bangkit melenggang pergi hadapannya.
Suara hentakan high heels yang membentur lantai perlahan menyadarkan pria paruh baya tersebut. Sang Oh yakin jika Nyonya Besarnya kali ini tidak main-main. "Aku harus memberitahu Tuan Muda." Bisiknya.
"Selangkah kau pergi dari mansion, maka keluargamu terancam." Gyeong tahu apa yang dipikirkan kepala pelayan sekaligus pengawalnya tersebut. Sang Oh terbelalak saat melihat Nyonya Besarnya sudah membalikan badan seraya menatapnya penuh intimidasi. "Masih mau melangkahkan kaki keluar dari sini, Sang Oh?" dengan enggan Sang Oh pun menggelengkan kepalanya sekilas. "Bagus." Dan kali ini Sang Nyonya pun benar-benar melenggang pergi.
"Kirim satu orang untuk memperingatkan Tuan Muda." Bisiknya pada earphone yang menempel ditelinganya.
.
Siang berganti sore dan kini langit mulai berubah warna lagi. Sore menghilang munculah sosok malam dalam kegelapan. Indahnya lukisan Tuhan di langit senja bergeser mempersilakan sang raja malam untuk menguasai. Bulan bulat di sana menduduki singgasananya dengan nyaman. Bertaburnya bintang bak pelayan setia menemani kecantikannya.
Namun, indah nan cantik bagaimana pun langit malam kali ini tidak menyurutkan Vasrha untuk pergi dari wajah ayu seorang wanita. Rania yang baru saja mengantarkan pesanan kepada pelanggan harus disuguhkan pemandangan yang mengoyak sukma, jiwa dan raganya.
"A...apa yang terjadi? Ke..ken_" suaranya tercekat ditenggorakan kala netranya melihat si merah tengah mengamuk, mengobarkan dirinya melahap tempat bernaungnya.
"Marah, benci, kesal, kecewa? Semua terlihat dari wajahmu. Tahukah, kau bagaimana sakitnya melihat anak yang dibesarkan sepenuh jiwa raga telah direnggut oleh orang lain? Maka terimalah balasannya, Rania." Suara itu. Suara anggun, tapi menyimpan berjuta nada menyakitkan bak pisau tajam menghunus hatinya terdengar jelas di belakangnya.
Perlahan, Rania pun membalikan badan melihat wanita bertubuh semampai itu tengah melipat tangan di depan dada. Kilatan api yang terus memancar dan bergoyang tertiup angin menyoroti sosoknya.
"Nyo....nyonya? Kenapa Anda melakukan semua ini? A...anda tahu bukan jika rumah ini satu-satunya peninggalan orang tua saya? Kenapa nyonya tega membakarnya?" kekecewaan dan kemarahan tersimpan apik dalam nada suara yang bergetar.
"Karena saya membenci orang yang sudah merenggut putra saya, Park Jim-in."
"Tapi kenapa harus membakar rumah ini? Kita bisa membicarakannya baik-baik."
"Tidak ada gunanya. Bukankah hari itu aku sudah memperingatkanmu? Tapi kau malah bertahan dan semakin menjauhkan Jim-in dari saya. Maka nikmatilah kesengsaraanmu ini." Setelah mengatakan itu Gyeong pun meninggalkan lokasi. Wanita itu tidak perlu repot-repot membiarkan tangan mulusnya kotor, cukup memerintahkan seseorang untuk melakukannya maka semua beres.
Kala itu disore hari saat Rania pergi dari rumah, ia tidak menyadari jika ada seseorang yang mengawasi kediamannya. Di rasa sudah tidak ada orang, pria suruhan Gyeong pun masuk melalui jendela belakang yang mudah untuk dibuka. Tidak seperti di mansion yang semuanya terhalang oleh besi. Dengan mudahnya orang itu masuk dan menjalankan rencananya. Tanpa meninggalkan jejak, seolah kebakaran itu terjadi akibat kebocoran gas maka tidak akan ada yang menyadari perbuatan mereka.
Brukhh!!
Rania sudah tidak bisa menopang berat badannya sendiri. Di tengah hingar bingar orang-orang saling berlarian untuk menjinakan kobaran api tersebut, Rania kembali menangis. Air mata itu menetes membasahi jalanan yang tengah dipijaknya. Tanpa ada kata yang terucap kilatan kekecewaan dan kesakitan tercetak jelas.
Kekesalan dan kepedihan mencuat semakin tajam dalam dadanya. Bayangan masa-masa kebersamaannya bersama sang ibu berputar dalam kepala berhijabnya. Senyum Basimah kala memberitahu mengenai beasiswa dan juga bantuan-bantuan lain berseliweran dalam ingatan.
'Ya Allah apa ini balasan dari kebaikannya?' Rania hanya bisa membatin. Siapa pun orang yang melihatnya saat ini sudah pasti bisa menyimpulkan jika Rania tengah memendam kekecewaan yang teramat dalam. Hancur semua perasaan yang ia punya saat ini. Sakit. Hanya satu kata yang bisa menggambarkannya.
...🌦️KEHANCURAN🌦️...