
"Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (Q.S. Yusuf: 87)
Karena setiap ketentuan yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya sudah pasti terbaik. Meskipun kadang kala mengundang air mata dan duka nestapa, tetapi yakinlah jika tidak berputus asa maka Allah akan memberikan balasan luar biasa.
Semesta masih memberikan suatu perjalanan hidup yang harus dilalui. Tanjakan, turunan, berkelok, maupun lurus tetap harus dilewati sebagaimana takdir menentukan.
Setiap rintangan yang disuguhkan memberikan caranya sendiri-sendiri. Lewati dan lalui dengan penuh kesungguhan, serta serahkan semuanya pada yang Di Atas. Karena Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terus terpuruk.
Berbicara tentang perjalanan hidup memang tidak ada habisnya. Setiap masa sudah pasti menyuguhkan hikmahnya masing-masing.
Di bawah langit berbintang, pasangan suami istri itu masih menikmati permainan kian melenakan.
Kedua tangan sang pria melilit erat di pinggang sang kekasih posesif. Hingga tanpa sadar mendorongnya ke bawah membuat punggung Rania hampir mengenai bangku tanam.
Namun, keadaan itu berhasil di tahan oleh Jim-in yang sebelah tangannya bertumpu pada punggung kursi kayu tersebut.
Seketika penyatuan mereka terlepas dan saling memandang keindahan bola mata masing-masing.
Dengan backround langit gelap bertabur bintang dan cahaya bulan di atasnya, Rania terpaku memandangi betapa indahnya ciptaan Allah tepat di depan mata kepalanya.
Sepersekian detik keduanya saling diam dan hanya degup jantung saja yang terus berdebar seirama.
"Cantik sekali," bisik Jim-in. "Saranghae," ungkapnya kemudian.
Pantulan wajah tampan Jim-in tercermin jelas dalam iris jelaga Rania. Sorot mata hangatnya, senyum manisnya, tutur katanya yang lembut, semua terekam jelas.
Bagaikan kaset disetel ulang, bayangan demi bayangan menghantam ingatan Rania secepat kilat menyambar.
Seperti dihantam ribuan ton batu besar kepala Rania berdenyut, sakit. Dadanya naik turun dengan napas memburu.
Ia menutup mata rapat berusaha menahan segala kepelikkan menghujani diri. Jim-in menyaksikan istrinya seperti itu pun langsung membopongnya ke kamar.
Ia kemudian menghubungi sang kakak memintanya untuk datang. Ia takut dan khawatir melihat keadaan Rania kembali kesakitan.
"Sayang, aku mohon bertahanlah. Bertahanlah denganku, Sayang... aku mohon," lirih Jim-in seraya terus menggenggam tangan kanan sang istri.
Ia mengecupnya berkali-kali dengan air mata berlinang tak tertahankan.
Di tengah rasa sakit, Rania melihat kesungguhan sang suami yang seketika menenangkan perasaan.
...***...
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, Kim Seok Jin dokter pribadi keluarga Park pun datang. Ia langsung memeriksa Rania dan mengabarkan jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Jim-in pun bernapas lega dan keluar kamar untuk meminta salah satu pelayan menyiapkan suguhan.
Di ruangan pun tinggallah Rania dan Seok Jin, berdua saja. Dokter tampan itu duduk di sofa tunggal samping ranjang seraya melipat kaki jenjangnya.
"Jadi, apa kamu memaksakan mengingat semuanya lagi?" tanya Seok Jin memandangi Rania yang tengah bersandar pada kepala ranjang.
"Ani... kenangan itu tiba-tiba saja datang menghantam ku begitu saja. Seolah-"
"Seperti meteor menghantam bumi dan menghasilkan duarrr." Seok Jin mengisyaratkan kata bentuman itu menggunakan kedua tangan mengejutkan Rania.
"Benar begitu, kan? Setelah hantaman itu terjadi seperti melemparkan permukaan tanah dan membentuk kawah bukan?"
Rania terdiam, melepaskan kotak matanya lalu meremas jari jemari di atas pangkuan kuat dan memandanginya lekat.
"Ne," jawabnya singkat.
"Tenang, tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja, tapi... bagaimana bisa ingatan itu kembali lagi?" Seok Jin mencondongkan tubuhnya, antusias.
Sekejap hal tersebut membuat Rania tak karuan. Wajah putihnya merah padam diingatkan dengan kejadian beberapa saat lalu.
Bayangan demi bayangan tadi kerap kali datang membuat wajahnya terasa panas.
Melihat reaksinya yang tidak biasa, membuat Seok Jin menyimpulkan satu hal. Kedua sudut bibirnya melengkung penuh arti dan bersandar pada punggung sofa lagi.
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan menanyakan apa pun padamu," ujarnya melambai-lambaikan tangan, "sepertinya ingatan itu bermunculan pada saat aktivitas kalian yang sedang-"
"ANI! Tidak seperti itu." Rania berteriak tanpa sadar, malu mendengar ocehan dokternya.
Seok Jin tertawa terbahak-bahak, senang bisa mengerjai istri dari adiknya ini.
Tidak lama berselang Jim-in datang membawa tiga minuman hangat dan makanan ringan.
Ia terkejut kala mendengar teriakan istrinya dan tawa menggelegar sang kakak. Buru-buru ia berlarian di beberapa anak tangga terakhir dan langsung menerobos masuk.
"Ada apa ini?" tanyanya penasaran meletakan nampan di atas nakas tengah-tengah Rania dan Seok Jin.
"Ani... tadi aku bertanya dari mana Rania mendapatkan ingatan-ingatan itu? Tapi, yah... istrimu tiba-tiba saja wajahnya merah, siapa yang tidak-"
"Stop, Seok Jin Oppa berhenti membicarakannya," cegah Ayana cepat yang lagi-lagi membuat Seok Jin tertawa kencang.
Jim-in yang juga ikut menyadari hal itu tanpa sadar merasa panas. Wajah tampannya sedikit memerah dan menggaruk pangkal leher berkali-kali.
Ia lalu bersitatap dengan sang istri yang tengah memberikan tatapan nyalang. Ia mengembangkan senyum canggung, antara takut dan juga malu.
"Eh, kenapa wajah kalian kompak sekali?" Seok Jin terus tertawa melihat dua insan di depannya.
"Oh, sungguh pasangan yang sangat manis," pujinya semangat.
Kurang lebih dua jam kemudian, Seok Jin pamit pulang. Sepeninggalannya, Rania berbaring di tempat tidur dengan jantung terus berdebar tak karuan.
Ingatan saat di taman tadi masih terekam jelas. Bagaimana tidak tahu malunya ia mengikuti alur yang disuguhkan sang suami.
Ia menyembunyikan wajah di balik selimut seraya menggeleng-gelengkan kepala mengenyahkan pemikiran tersebut.
"Ani... bukankah kita pasangan suami istri jadi ciuman itu wajar, kan?" celotehnya seraya menyingkap selimut, berbicara seorang diri.
"Tapi, bagaimana bisa aku ikut terlena, sedangkan ingatanku saja masih tidak jelas?" Rania menutup wajahnya kembali dengan menggerakkan kedua kaki ke atas ke bawah.
Ia terus melakukan itu berulang kali mengenyahkan rasa malu dalam diri. Sampai ia pun mendengar suara langkah kaki dan berpura-pura tertidur menyamping.
Sedetik kemudian pintu kamar dibuka, Jim-in yang sudah mengantar Seok Jin sampai pintu depan kembali masuk.
Ia melihat Rania di balik selimut dengan napas tenangnya pun mengembangkan senyum. Perlahan ia berjalan mendekat lalu bersimpuh tepat di samping sang istri.
Aroma maskulin seketika merebak ke indera penciuman. Rania bersusah payah menahan debaran agar tidak terdengar oleh suaminya.
Jim-in terus memandangi wajah damai sang pujaan, tangannya terulur mengelus pelan sebelah pipi Rania.
Ia lalu memberikan kecupan ringan di bibirnya lagi membuat Rania menahan sekuat tenaga untuk tidak berteriak.
"Saranghae," ujar Jim-in lagi jujur. "Selamat malam, mimpi indah, Sayang," lanjutnya membubuhkan kecupan di dahi lebarnya.
Setelah itu Jim-in bangkit dari sana dan berjalan menjauh.
Di rasa sudah aman, Rania membuka matanya lagi. Hal pertama yang dilihatnya adalah lantai marmer tempat suaminya tadi berada.
Sorot matanya sendu, seraya meremas selimut kuat ia memikirkan atas apa yang baru saja terjadi.
"Saranghae? Sudah lama aku ingin mendengarnya," gumam Rania, tanpa diduga air mata menetes tak karuan.
Ia menangis bahagia, mendengar perasaan mendalam sang suami. Ia yang masih kehilangan ingatan tidak pernah menyangka bisa mendengar ungkapan cinta dari tuan muda.
Pria yang ia cintai dalam diam, ternyata membalas perasaannya dengan sangat tulus.