VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 55



Seperti yang sudah direncanakan, kedua wanita itu mengajak serta pria idamannya ke sebuah restoran.


Tempat makan itu telah mereka reservasi sebelumnya dan kini waktu yang telah dijanjikan pun datang.


Tidak ada yang tahu jika semua kejadian tersebut memang telah disusun sedemikian rupa oleh kakak beradik sepupu tersebut.


Song Mi Kyong dan Song Ailee membawa Jim-in serta Seok Jin ke restoran yang sama.


Di sana mereka bertemu dan kedua pria itu terkejut mendapati keberadaan satu sama lain, sedangkan Mi Kyong maupun Ailee berpura-pura.


Mereka makan bersama di satu ruangan VVIP dengan pelayanan terbaik. Di dalam sana keempat orang itu menikmati hidangan luar biasa, tanpa takut diketahui.


"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini," kata Jim-in memandangi sang kakak.


"Aku juga, apa ini takdir?" tanya Seok Jin membalas tatapannya.


Mi Kyong dan Ailee mengulas senyum lembut lalu sibuk menyiapkan makanan untuk mereka.


"Tidak ada yang serba kebetulan, semuanya sudah takdir," kata Mi Kyong kemudian.


"Itu benar, aku juga tidak percaya bisa bertemu lagi denganmu, Jim-in Oppa," balas Ailee memandang pria yang tengah duduk bersebelahan dengan kakak sepupunya.


Kedua wanita itu sengaja mengatur duduk bersebalahan untuk melancarkan aksi-aksinya. Diam-diam Ailee dan Mi Kyong saling tatap penuh arti.


"Ah, itu benar. Kamu Ailee, kan adik sepupunya Mi Kyong? Wah aku tidak percaya kita bisa bertemu, terlebih kamu bersama Seok Jin Hyung?" cerca Jim-in dengan pertanyaan.


Ailee mengangguk beberapa kali seraya memasukan salmon mentah ke dalam mulut.


"Itu benar, terakhir kali kita bertemu saat di sekolah dasar, kan?" Jim-in pun mengiyakan, "kebetulan aku dan Seok Jin Oppa lewat orang tua kami yang menjalin kerja sama dan malam ini aku mengajaknya makan malam," jelas Ailee kemudian.


"Ah, seperti itu," balasnya singkat.


Mereka pun menikmati makanan di hadapannya. Kedua wanita itu juga memesan makanan halal yang ada di restoran.


Mereka sengaja membawa kedua pria tersebut ke sana untuk bisa makan malam bersama. Mendapati jika ada makanan halal, Jim-in dan Seok Jin mau pergi memenuhi undangan keduanya.


Keempat orang itu pun berbincang-bincang bersama menjalin keakraban. Sampai beberapa saat kemudian salah satu pelayan datang membawakan makanan penutup.


Ia memberikannya kepada empat pengunjung di sana yang menarik minat mereka.


Makanan manis itu sangat menggugah selera dengan vla di dalamnya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Mi Kyong pada Jim-in.


"Ini sangat enak," balasnya singkat.


"Aku tahu kamu menyukai makanan manis, itu sebabnya kami memesankan makanan ini diakhir. Karena orang-orang bilang makanan penutupnya yang terbaik. Aku rasa begitu melihat betapa kamu menikmatinya," cerocos Mi Kyong yang hanya ditanggapi senyuman oleh Jim-in.


Ailee pun ikut menanyakan hal sama pada Seok Jin.


"Apa Oppa tidak suka makanan manis?" tanyanya.


Seok Jin menggeleng singkat. Sedari tadi ia terus memandangi kue di hadapannya tanpa melakukan pergerakan apa pun.


"Seok Jin Hyung memang tidak begitu suka makanan manis," jelas Jim-in membuat Ailee merasa bersalah.


"Benarkah? Kalau begitu mau aku pesankan yang lain? Aku minta maaf, karena tidak bertanya sebelumnya," kata Ailee berpura-pura merasa bersalah.


"Ani, aku bisa memakannya malam ini. Lagi pula ini hanya kue kecil, tidak masalah," balas Seok Jin lalu menyendok kue itu sedikit dan memasukannya ke dalam mulut.


Melihat itu Ailee tersenyum lebar, lalu melirik pada Mi Kyong singkat.


"Syukurlah," katanya lagi.


Ia berusaha menahannya dengan menutup mata erat dan menggeleng beberapa kali. Melihat gelagatnya seperti itu Seok Jin yang duduk di hadapannya menautkan alis, heran.


"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya langsung.


Sebelum sempat Jim-in menjawab perkataan sang kakak, ia lebih dulu tidak sadarkan diri. Suara bentuman kepala di atas meja pun menarik perhatian.


Ailee dan Mi Kyong pun masih melakukan aktingnya dan ikut terkejut melihat keadaan Jim-in.


"Omo, apa yang terjadi?" tanya Mi Kyong beranjak dari duduk.


"Jim-in Oppa, hei Jim-in Oppa," lanjut Ailee berteriak berusaha menyadarkan.


Melihat tidak ada respon apa pun, Seok Jin beranjak dari duduk hendak membawa adiknya pulang.


Namun, baru saja ia bangun seketika itu juga kepalanya merasa pusing. Ia tidak bisa mengontrol diri sendiri dan limbung seketika.


Melihat dua orang pria itu jatuh pingsan, Mi Kyong dan Ailee melakukan tos untuk rencananya yang hampir selesai.


"Kalian bisa datang ke sini," kata Ailee menghubungi seseorang di luar restoran.


Tidak lama setelah itu, beberapa orang pria berpakaian jas hitam berdatangan. Mereka membawa Jim-in dan Seok Jin keluar lalu memasukannya ke dalam mobil.


Selesai dengan tugasnya di sana, mereka bergegas meninggalkan lokasi.


Sepanjang jalan, Ailee dan Mi Kyong tertawa senang bisa menguasai pria idamannya malam ini. Mereka berharap setelah waktu yang dihabiskan, Jim-in dan Seok Jin bisa menjadi miliknya sepenuhnya.


Cinta sudah menggelapkan kakak beradik itu. Mi Kyong dan Ailee melakukan berbagai cara untuk mendapatkan pria yang dicintai.


...***...


"Oh, jadi mereka bermain dengan kotor? Cih, aku sangat terkejut."


Suara wanita yang teredam di balik masker mengejutkan dua orang lainnya di sana.


Di dalam sebuah van, ketiga orang wanita sedari tadi terus mengawasi apa yang terjadi di dalam restoran.


Mereka pun sempat melihat mobil yang membawa tuan muda dan dokter tampan itu keluar.


"Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan hal ini, Rania," ucap seseorang di sebelah.


Rania melirik sekilas dan menyipitkan kedua mata penuh makna.


"Kemampuan seseorang bisa datang untuk mempertahankan apa yang berharga baginya. Zahra, aku seorang ibu dan istri yang tidak bisa membiarkan orang lain menghancurkan keluarga kami," balas Rania tegas.


Zahra termenung dan melebarkan pandangan singkat.


"Kamu benar-benar penuh kejutan." Rania hanya terkekeh pelan dan kembali memperhatikan layar laptop di pangkuannya.


"Hana, bisakah kamu ikuti mereka? Sepertinya kedua wanita itu membawa targetnya jauh dari sini," pinta Rania.


Hana, wanita yang sudah bekerja dengannya pun mengangguk singkat. Ia menarik pedal dan menginjak gas membawa kendaraan itu pergi dari sana.


Sepanjang jalan, Rania terus memperhatikan objek yang sama. Firasatnya mengatakan jika wanita itu akan menjebak sang suami dan setelah itu meminta pertanggungjawaban.


Sebelum semuanya terjadi, Rania akan mencegah hal tersebut. Sebagai seorang istri dan ibu ia memiliki kewajiban untuk melindungi keluarganya.


Ia tidak ingin rumah tangganya berakhir begitu saja oleh tangan-tangan kotor seperti mereka. Sudah cukup pengalaman di awal pernikahan memberikan pelajaran berarti.


Jika pernikahan dihinggapi orang ketiga maka hanya ada air mata. Ia tidak bisa membuat kedua anaknya terluka, sebelum kejadian tidak diinginkan itu beredar ia harus cepat meredamnya dengan menggagalkan aksi mereka.