
Zahra yang tengah menikmati sarapan di kantin rumah sakit dikejutkan dengan kedatangan seseorang.
Ia mendongak mendapati suami dari ibunya tengah berdiri tepat di hadapannya.
Lee Dong Hyuk, pria berusia empat puluhan itu mengulas senyum ramah.
"Bisakah saya berbicara dengan Anda, Nona?" pintanya hangat.
Zahra mengangguk dan mempersilakan pria yang notabene sebagai ayah tirinya duduk di kursi seberang.
Mendapatkan persetujuan dari wanita muda itu, Dong Hyuk mendudukkan diri di sana.
Zahra kembali melanjutkan sarapan tanpa mengindahkan keberadaan pria asing itu.
"Saya mendengar jika Nona adalah putri kandung Zulfa? Apa keributan beberapa hari lalu itu disebabkan karena pernikahan kami?" tanyanya kemudian.
Zahra menghentikan suapan nasi dan meletakkan sendok di samping mangkuk.
Ia membalas tatapan Dong Hyuk yang penuh tanda tanya dalam sorot matanya.
Bibir ranum Zahra melengkung pelan dan kembali memudar begitu saja.
"Apa sebelumnya Anda, tidak pernah mencari tahu tentang masa lalu istri Anda?" tanya Zahra.
Tanpa diduga Dong Hyuk menggeleng singkat.
"Zulfa mengaku seorang anak yatim piatu. Kami bertemu pada saat dia bekerja di salah satu toko kue, pada saat itu dia sangat mencolok pandangan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia juga mengaku hidup sebatang kara dan harus menghidupi diri sendiri, meskipun itu harus berada di negara orang," ungkap Dong Hyuk.
Zahra mendengus pelan tidak menyangka mendengar cerita singkat mengenai sang ibu.
"Saya-" Zahra tertawa pilu masih tidak percaya. "Saya tidak menyangka seorang ibu yang sudah melahirkan empat orang anak bisa berkata seperti itu."
"M-mwo? Empat orang anak?" Kini giliran Dong Hyuk terkejut tidak menduga.
Zahra mengangguk mengiyakan.
"Iya, kami berempat sudah hidup bertahun-tahun tanpa kehadiran beliau. Kami pikir ada sesuatu terjadi, dan memang benar demikian."
"Ibu kami sudah menikah lagi dan mempunyai keluarga baru dengan bahagia, mengabaikan kami bertiga di tanah air, bukankah itu sangat ironi?" cetus Zahra menyeringai pelan.
Dong Hyuk memandang ke bawah meresapi kata demi kata anak tirinya.
Perasaan bersalah berkali-kali lipat datang ke dalam dada. Pria itu tidak pernah tahu jika sang istri sudah mempunyai empat orang anak.
"Saya... benar-benar minta maaf. Saya tidak tahu jika Zulfa pernah menikah dan mempunyai anak. Tidak hanya satu, tetapi... empat," keluhnya tidak enak.
Zahra yang melihat gelagatnya seperti itu pun mengangguk paham. Ia bisa mengerti jika semua yang terjadi hanyalah permainan sang ibu belaka.
"Anda tidak usah minta maaf. Karena seharunya ibu kami yang mengatakan itu, sudah bertindak tanpa memberitahu. Saya harap pernikahan kalian baik-baik saja, meskipun yah banyak hati yang terluka," sindir Zahra yang semakin membuat Dong Hyuk merasa bersalah.
"Saya benar-benar minta maaf sudah membuat kalian semua menderita. Jika dari awal saya tahu Zulfa memiliki empat anak, mungkin saya akan mendatangi kalian dan... meminta izin untuk menikahi ibu kalian. Sekarang-"
"Sekarang semua sudah berlalu dan terjadi. Tidak ada yang perlu di sesali, sebab waktu tidak bisa kembali dimundur ulang. Mungkin inilah cobaan yang Tuhan berikan untuk menguatkan kami. Anda tidak usah merasa bersalah."
"Saya tahu Anda orang baik, hanya terjebak dalam permainan ibu kami. Saya lega setidaknya ayah tiri kami adalah orang yang baik," kata Zahra melengkungkan senyum tulus.
Dong Hyuk terpaku, lidahnya kelu mendapati sorot mata ikhlas menyelami jelaga di depannya.
Ia mengepal kedua tangan kuat dalam pangkuan merasa benar-benar bersalah.
Ia tidak pernah menyangka sudah menikahi wanita yang meninggalkan keempat orang anaknya begitu saja.
Setelah itu Dong Hyuk menceritakan bagaimana bisa mereka menikah dan mendapatkan seorang putri kecil Lee Young Mi.
Zahra mendengarkan dengan seksama dan kembali tidak menyangka jika sang ibu benar-benar sudah melupakan keberadaannya dan ketiga adiknya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Zulfa meredam suaranya kala mendapati suami dan anak pertamanya tengah berbicara bersama.
Ia yang tengah mencari Dong Hyuk guna membantu membereskan barang-barang buah hatinya pun terpaku melihat pemandangan itu.
Buru-buru ia berjalan mendekat dan samar-samar mendengar pembicaraan mereka.
Zahra dan Dong Hyuk menoleh ke arah yang sama mendapat Zulfa tengah melebarkan pandangan.
"Eomma," sapa Zahra riang.
"Eomma? Sudah saya katakan... saya tidak kenal dengan kamu. Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi." Zulfa mencak-mencak kala sadar Zahra sudah menceritakan semuanya pada sang suami.
"Zulfa!" Panggil Dong Hyuk lantang membuat sang istri beralih padanya.
Zahra pun bangkit dari duduk menghadap ibunya.
"Aku sudah menceritakan semuanya. Sekarang Mamah hanya tinggal menunggu apa yang akan-" Zahra menjeda ucapannya dan sengaja berbicara bahasa ibu agar Dong Hyuk tidak tahu apa yang disampaikan.
Ia lalu mencondongkan tubuh ke depan tepat di samping telinga kanan sang ibu.
"Suami Mamah lakukan, perpisahan atau sebaliknya, itu tergantung apa yang Mamah lakukan. Karena-"
Sebelum sempat Zahra menyelesaikan ucapannya tamparan untuk ketiga kali kembali dilayangkan.
"ZULFA! APA YANG KAMU LAKUKAN?" Dong Hyuk berteriak kencang mengguncang keheningan dalam kantin.
Beruntung saat ini tidak begitu banyak orang di sana sehingga tidak menarik perhatian.
"Apa yang kamu lakukan? Dia anakmu... dia anak kandungmu, Zulfa," geram Dong Hyuk, "ini ketiga kalinya kamu menampar Zahra, aku tidak menyangka menikahi wanita kasar dan tanpa perasaan sepertimu," lanjutnya lalu berjalan mendekati Zahra.
"Kamu tidak apa-apa? Jika terjadi sesuatu kamu bisa menghubungiku," katanya menyodorkan kartu nama.
Zahra pun menerimanya dan mengangguk singkat.
Setelah itu ia menyeringai dan mendengus kasar, mendongak menatap pada ibunya lagi.
"Mamah tahu? Mamah sudah bermain-main dengan banyak hati," kata Zahra lalu ikut melangkahkan kaki dari hadapan sang ibu.
Zulfa terpaku, diam mematung tidak percaya sang suami berteriak kencang padanya.
Ia ketakutan dan buru-buru menyusul Dong Hyuk dengan berlari melewati buah hati pertamanya.
Zahra menghentikan langkah, menjatuhkan pandangan ke bawah lalu mendengus kasar dan menyeringai pelan.
"Kamu benar-benar sudah tidak dianggap sebagai anaknya lagi," gumam Zahra menelan pil pahit untuk kesekian kali.
Di saat ia hendak berjalan lagi, tatapannya jatuh pada pria berjas putih yang tengah menatapnya dalam.
Zahra terpaku dengan iris jelaga melebar sempurna. Degup jantung bertalu kencang berusaha mengucapkan sepatah kata yang tercekat dalam tenggorokan.
"Se-Seok Jin seonsengnim. Wae?" gugupnya mendapati Kim Seok Jin tidak jauh dari keberadaannya.
Dokter tampan itu pun mengembangkan senyum seraya kedua tangan berada di saku jas dinasnya.
Ia memberikan sorot mata hangat lalu mengangguk beberapa kali.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Mendengar pertanyaan itu seketika air mata tumpah ruah.
Zahra tidak menyangka saat mendapati seseorang bertanya seperti tadi air mata tidak bisa dicegah.