VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 61



"Jadi? Ada perlu apa Eomma datang ke sini?" tanya Seok Jin selepas membawa sang ibu ke ruangan.


Kim Arin yang tengah duduk berhadapan dengan putra semata wajahnya pun menghela napas pelan dan memandang lekat.


"Apa perlu alasan bagi Eomma untuk melihat putranya sendiri?" ujarnya dingin, Seok Jin hanya terkekeh pelan dan menggaruk pangkal belakangnya singkat.


Lagi dan lagi Arin mendengus kasar seraya meremas tas jinjingnya kuat.


"Katakan, apa alasanmu tidak pulang ke rumah akhir-akhir ini? Apa kamu tidak tahu seperti apa Eomma dan appa mencemaskan mu? Setelah malam perjodohan itu, kamu susah sekali dihubungi. Wae? Apa terjadi sesuatu?" tanya ibunya lagi membuat Seok Jin tercengang.


Mau tidak mau ia harus menceritakan semuanya, tetapi ia pikir jika bukan saatnya untuk membuka kedok Song Ailee.


Ia tidak mau membuat ibu serta ayahnya shock atas apa yang menimpanya dan juga Jim-in. Ia akan menunggu momen yang tepat untuk membongkar kebusukan wanita itu.


"Aku hanya... sedang sibuk bekerja saja, Eomma. Juga-" Seok Jin menjeda ucapannya seraya menjatuhkan pandangan ke bawah.


Melihat gelagat sang putra, Arin mengerutkan kening dalam.


"Juga? Juga apa? Apa sesuatu benar-benar sudah terjadi?" tanyanya kembali menggebu-gebu.


Tanpa diduga Seok Jin menganggukkan kepala sekilas, Arin terbelalak lebar dengan bibir semerah cheery nya gemetar.


"M-mwo? Apa ada?" ucapnya lagi takut-takut.


"Jim-in Eomma... Jim-in kembali kecelakaan," jelas Seok Jin setelah sekian lama bungkam.


"MWO? Kamu bercanda kan?" Arin tidak percaya mendengar berita mencengangkan tersebut.


"Itu benar Eomma, Jim-in kembali kecelakaan. Dia sekarang sedang di rawat di lantai atas, jika Eomma tidak percaya... aku bisa mengantar ke sana," jelas Seok Jin lagi membuat dada wanita baya di hadapannya naik turun.


"Astaghfirullahaladzim, Eomma sangat menyesal. Eomma turut berduka, apa... apa Rania baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


"Tentu saja, dia sangat terpukul, tetapi... Rania wanita yang tegar. Aku yakin dia bisa menghadapinya lagi, buktinya... dua kecelakaan di masa lalu yang menimpa Jim-in, Rania mampu mengatasinya."


"Iya kamu benar, Eomma harap mereka bisa baik-baik saja," ucapnya lembut, Seok Jin hanya mengangguk setuju.


"Lalu, kapan kamu akan pulang?"


Pertanyaan itu mengambang tanpa jawaban pasti. Seok Jin diam seribu bahasa membiarkan sang ibu larut dalam rasa penasaran.


Kurang lebih satu jam kemudian, Arin meninggalkan ruang kerja buah hatinya. Ia mendumel sepanjang jalan kala mendapatkan jawaban yang jauh dari harapan.


"Dasar anak itu... kapan bisa memberikan cucu kepada orang tuanya? Membahas perjodohan saja dia langsung mengusir ibunya seperti ini. Dia-" Sangking sibuknya meracau seraya mengeluarkan ponsel di dalam tas untuk menghubungi sang supir, Arin sampai tidak memperhatikan sekitar.


Ia pun menubruk seorang wanita yang tengah berdiri di samping pintu masuk. Wanita itu sampai terjatuh dan membuat telapak tangannya lecet akibat bergesekan dengan kerikil kecil di atas lantai.


"Omo, ya ampun, apa kamu baik-baik saja?" tanya Arin. "Saya benar-benar minta maaf, tidak memperhatikan sekitar," jelasnya kemudian.


"Ah, saya baik-baik saja. Nyonya jangan khawatir," balasnya sambil beranjak dan dibantu oleh Arin. Ia pun membersihkan debu yang menempel di baju dinasnya.


"Eh? Kamu seorang muslim? Kamu berhijab." Arin menunjuk kepala wanita muda di hadapannya begitu saja.


"Iya, saya seorang muslim," jawabnya lagi dengan senyum manis.


Arin pun ikut mengembangkan kedua sudut bibir dan sekali lagi meminta maaf.


"Saya benar-benar menyesal, apa Nona tidak terluka? Ah, tanganmu-" Arin kembali menunjuk tangan kanan wanita itu kala melihat lukanya.


Buru-buru sang empunya menyembunyikan di balik punggung.


"Saya harus-" ucapannya seketika dipotong cepat oleh wanita muda itu.


"Ini dompet Anda terjatuh, sebaiknya Nyonya lebih berhati-hati. Sampai jumpa," ujarnya mengangguk sekilas dan meninggalkan Arin begitu saja.


"Wah, wanita muda yang sangat baik." Pujinya senang melihat ke mana wanita berhijab tadi pergi.


"Omo aku harus bertemu dengan nyonya Lee," pekiknya terkejut dan buru-buru meninggalkan rumah sakit.


Zahra yang sedari tadi tengah menunggu ayah tirinya harus mendapatkan kecelakaan kecil. Ia memberikan plester di telapak tangannya yang lecet sambil berjalan menuju kantin.


"Bukankah nyonya tadi terlihat tidak asing? Wajahnya, entah kenapa mengingatkanku pada seseorang, tapi siapa?" Ia menghentikan langkah meletakkan ibu jari dan jari telunjuk di bawah dagu seraya menerawang jauh ke atas.


"Aku benar-benar tidak tahu," katanya lagi sembari masuk ke dalam kantin menunggu Dong Hyuk yang meminta untuk bertemu.


...***...


Penyesalan kerap kali datang untuk menghadirkan sebuah pembelajaran. Kadang kala keberadaannya mengundang luka, kadang kala keberadaannya menghadirkan air mata, dan kadang kala memberikan warna baru.


Cinta yang semu berubah menjadi perasaan mendalam kian mendamba. Lentera cinta yang semula redup kini kembali bercahaya mendatangkan sebuah pengharapan.


Kegelapan yang semula melingkupi rumah tangga tuan muda dengan wanita biasa anak dari salah satu asisten rumah tangga pun sekarang telah berada di titik saling membutuhkan.


Kisah kasih tak akan sampai apabila hanya berjalan di tempat. Semua butuh proses dan waktu untuk berubah menjadi lebih baik.


Sudah delapan hari Park Jim-in masih berada di ruang ICU. Selama itu pula belum ada tanda-tanda ia hendak sadarkan diri.


Setiap hari Rania selalu menjenguknya dan banyak membicarakan tentang masa-masa indah mereka.


Ia juga sering mengajak kedua buah hatinya bersama agar Jim-in segera sadar. Dengan penuh antusias Rania berceloteh riang menceritakan masa lalu serta kesehariannya bersama Akila dan Jauhar.


"Oppa tahu? Anak-anak kita sudah sangat mandiri, mereka tidak mengandalkan para asisten rumah tangga lagi. Aku senang melihat perkembangan Akila dan Jauhar, bahkan... Jauhar seperti kamu, penyayang, perhatian, terhadap kakaknya."


"Dia... bisa melindungi kami. Jauhar juga mengatakan akan berdiri paling depan jika ada yang menyakitiku ataupun Akila. MasyaAllah, anak-anak kita sangat pintar," celoteh Rania sedari tadi.


Sejak kedatangannya dua jam lalu, Rania banyak membicarakan mengenai anak-anak mereka. Ia senang bisa mengingat Akila dan Jauhar lagi dan menyesal pernah melupakan serta ragu terhadap keberadaannya.


Sekarang ia bisa lega, setidaknya ingatan itu sudah kembali, meskipun ada pil pahit yang harus ia telan.


"Aku sangat beruntung bisa dianugerahi putra dan putri yang luar biasa."


"Oppa­-" Rania menjeda kalimatnya seraya menggenggam hangat sebelah tangan Jim-in.


"Aku mohon cepatlah sadar, di sini kami membutuhkanmu. Aku mohon sadarlah, Sayang... saranghae," ungkap Rania mengutarakan perasaan terdalam.


Air mata meluncur dengan cepat, tidak sanggup menahan pilu. Perasaannya campur aduk antara menyesal dan sedih.


"Aku sangat merindukanmu," katanya lagi memberikan kecupan di punggung tangan sang suami.


Rania kembali menangis sesenggukan sambil meletakkan dahi di tangan pasangan hidupnya. Ia benar-benar merindukan Jim-in untuk mengisi hari-harinya lagi.


Di ruangan itu hanya dihiasi dengan isakan memilukan Rania dan juga mesin pendeteksi jantung. Kurva yang berada di dalam layar berbentuk kotak itu memperlihatkan denyut sang terkasih.


Rania tidak henti-hentinya berdoa dan berharap kepada Allah untuk segera membuat suaminya sadar.


"Ya Allah hamba sangat membutuhkannya. Kembalikan lagi suami hamba, ya Rabb. Hamba benar-benar menyesal sudah mengabaikannya. Hamba sangat mencintainya," racaunya lagi dan lagi.


Ia terus menumpahkan kepelikkan dalam dada lewat air mata dan berharap ada keajaiban menghampiri.