VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 111



Hari demi hari berlalu, selepas kejadian menimpa keluarga Jung, kehidupan seorang Rania pun kembali seperti biasa.


Ia menjalani hari-harinya sebagai, ibu, istri, dan perawat dengan baik. Ia senang bisa berguna bagi orang lain untuk mengungkapkan kebenaran.


Ia sama sekali tidak men-cap dirinya sebagai pahlawan atau apa pun. Selepas kejadian itu pula Rania tidak ingin namanya disebut-sebut sebagai seseorang yang membantu mengungkapkan kebusukan Jung Jae Won.


Jung Jae Hwa, hanya maklum dan menyimpan nama Rania serta orang-orang baik itu dalam benaknya saja.


Banyak hal berubah bisa Rania rasakan. Mulai dari mendapatkan pembelajaran baru hingga lebih peduli terhadap dirinya sendiri. Agar lebih perhatian untuk tidak terlalu lemah dalam menghadapi setiap permasalahan.


Tidak ada salahnya jika menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik, terutama dalam bersikap bijak, kuat, serta tangguh jika dihadapkan dengan persoalan.


Jangan menghakimi siapa pun, sebab kita tidak pernah tahu proses apa yang sudah ia lewati untuk bisa sampai ke tahap sekarang.


Banyak air mata yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun mengenai betapa rapuh dan hancurnya sebuah perasaan di masa lalu.


Meskipun kenangan menyakitkan itu tidak bisa dihapuskan begitu saja, tetapi masih bisa dilupakan dan diganti dengan kebahagiaan.


Perubahan yang Rania lakukan pun sebagai tameng agar lebih bersabar lagi untuk ujian datang.


Karena bagaimanapun juga cobaan, musibah itu terjadi atas kehendak di atas.


Allah memberikan ujian ataupun cobaan untuk melihat siapa hamba-Nya yang bersabar serta bertawakal pada-Nya.


Banyak hal-hal terjadi dalam hidup untuk mendewasakan. Tangguh, menjadi salah satu tameng yang dibangun agar lebih kuat menghadapi segala persoalan. Andalkan diri sendiri dan serahkan semuanya pada Allah semata.


Air mata sebagai bukti jika hati harus kuat menghadapi musibah datang menerjang.


Siang ini langit begitu cerah dengan awan putih sebagai penghias. Mentari pun memberikan cahayanya yang menyengat sebagai peneman setiap insan tengah berkelana di bumi ini.


Di tengah hiruk-pikuk yang terjadi, Rania berada di balkon kamar. Hari ini ia mendapatkan waktu libur dan dimanfaatkan untuk seharian saja di rumah.


Lengkungan bulan sabit terpendar cantik di wajah ayunya. Kedua tangan meremas kuat besi pembatas seraya mendongak melihat indahnya cakrawala.


Sesekali semilir angin datang memberikan kesejukan dari panasnya matahari.


Sudah banyak episode demi episode terlewati memberikan kenangan berharga.


Di tengah kesendirian, sepasang lengan kekar melingkar erat di perut ratanya.


Aroma mint menguar membentuk rasa nyaman yang kian menyengat. Bibir ranum Rania semakin terbuka lebar merasakan pelukan dari belakang yang semakin kuat.


Rania pasrah menyandarkan punggung rampingnya di dada bidang sang pasangan hidup.


"Kenapa? Kenapa masih siang Oppa sudah pulang?" tanyanya penasaran.


Jim-in meletakkan dagu lancipnya di puncak kepala sang istri.


"Karena aku baru sadar jika hari ini kamu libur, dan langsung pulang dari kantor. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, Sayang. Bukankah hari ini anak-anak sedang bersama eomma? Kita bisa-"


"Aw, sakit Sayang." Jim-in mengeluh saat Rania menyikut ulu hatinya kencang.


Mendengar suaminya mengaduh kesakitan, ia berbalik dan menyaksikan sepasang iris kecil yang menatapnya penuh cinta semakin menyipit.


Tangan ramping yang tersemat gelang berlian itu pun terulur menangkup lembut wajah tampan sang pria.


"Maaf, aku memang sengaja melakukannya," kata Rania jujur.


"Mwo? Wae?" bisik Jim-in tidak percaya.


"Aku senang menjahili mu, Oppa," katanya lagi lalu terkekeh puas.


Jim-in mendengus pelan seraya memalingkan wajah ke arah lain. Melihat itu Rania tertawa dan kembali membalikan wajah tampan itu menghadapnya.


"Jangan marah, aku hanya-" Ia menjeda kalimatnya lalu berjinjit dan mencondongkan tubuh tepat di samping daun telinga Jim-in.


"Ingin bermain dengan mu... Jim-in Oppa." Goda Rania senang, mengalungkan kedua tangan di leher jenjang sang suami.


Jim-in yang menyaksikan istrinya seperti itu mengembangkan senyum penuh makna.


Tangannya kembali terulur memegang pinggang ramping sang terkasih, syahdu.


Tatapan keduanya saling memancarkan keinginan penuh makna saling tarik menarik, menunggu waktu yang tepat.


"Kamu... sungguh wanita luar biasa, Sayang. Kamu bisa mengusut tuntas kekejaman pria tua itu dan mengembalikan keadaan," ujar Jim-in lirih.


Jim-in pun ikut terharu dan mengangguk setuju.


"Kamu benar, Sayang. Allah selalu punya cara untuk mengungkapkan kebenaran. Skenarionya sungguh luar biasa, bukan?" timpal pengusaha tampan itu lagi.


"Em, Oppa benar. Jadi, jika Oppa melihatku melakukan sesuatu hal yang baik... yakinlah, jika semua itu datangnya dari Allah. Kalau melihat sesuatu yang buruk, percayalah itu murni datangnya dari aku," ungkap Rania lagi.


Seketika Jim-in terkesiap, memandang penuh takjub pada pasangan yang sudah menemaninya selama beberapa tahun belakangan ini.


"Sungguh... aku benar-benar beruntung bisa memilikimu, Sayang," ungkap Jim-in tulus mengusap sebelah pipinya penuh perhatian.


Rania terharu, mendengar jutaan kali pria yang dulunya arogan kini berubah drastis.


Ia kembali menangkup wajahnya hangat lalu memberikan kecupan di dahi tegasnya, turun ke kedua mata, hidung, pipi, dagu, dan terakhir benda kenyal kemerahan.


Jim-in menikmati segala sentuhan yang diberikan sang terkasih. Perlahan manik yang semula menutup kini kelopaknya terbuka lagi.


Sepasang onyx memandang nyalang penuh kasih sayang pada kekasih hatinya.


Kasih dan sayang, tercurahkan dalam sorot mata memuja.


"Tidak ada yang bisa aku katakan lagi, selain... Saranghae." Ungkapan cinta kembali didengungkan.


Rania tersenyum lebar dan melemparkan diri memeluk prianya erat.


Jim-in membalasnya tak kalah kuat sembari memberikan kecupan demi kecupan di puncak kepalanya.


Seberkas impian kini merangkak menjadi nyata. Kisah yang semula hanya menjadi angan-angan semata beranjak menjadi fakta.


Kebahagiaan bukan lagi semu ataupun ilusi semata, tetapi benar-benar dirasakan oleh perasaan.


Cerita yang berawal disebabkan perjodohan berubah menjadi penuh damba. Cinta dan kasih sayang bermunculan membentuk sebuah keluarga harmonis tiada akhir.


...***...


Malam datang menghadang, langit pun bertabur bintang dengan cahaya bulan terang benderang.


Di salah satu ruangan di mansion besar keluarga Park, pasangan suami istri tengah menikmati waktu bersama.


Wanita berambut panjang menjuntai itu merangkak naik ke pangkuan sang pria.


Tatapan penuh damba nan dalam saling bertabrakan.


Gerakan demi gerakan impulsif berkeliaran pada tubuh masing-masing.


Perasaan mendalam yang berubah menjadi saling mendamba kian marak terjadi.


"Apa kamu mau melakukannya, Sayang?" tanya Rania lembut nan dalam dengan jari jemari lentik itu bergerak sensual di wajah tampan sang pengusaha.


Mendengar suara itu seketika membangkitkan hasrat terpendam.


Tanpa membalas pertanyaan sang istri, Jim-in langsung menyambar benda kenyal di hadapannya.


Ia melahap sekaligus membuat Rania terbelalak lebar. Di tengah permainan Jim-in menidurkan pujaan hatinya ke ranjang.


Selang beberapa saat kemudian Jim-in melepaskan penyatuan mereka seraya mengukung Rania, seolah tidak membiarkan apa pun mengganggunya.


"Cantik sekali." Pujinya langsung.


Rania merona dengan debaran jantung bertalu kencang.


"Suaranya keras sekali," ucap Jim-in membuat Rania terkesiap.


Sadar akan reaksi istrinya, sang pengusaha tampan itu melebarkan senyum.


"Degup jantungku benar-benar kencang," lanjutnya lagi.


Rania mengembangkan senyum sempurna dan mengulurkan kedua tangan ke sisi kanan kiri bahu sang suami.


"Aku bahagia mendapatkan mu," ungkap Rania parau nan serak.


Sedetik kemudian penyatuan mereka kedua kalinya terajut.


Perlahan-lahan, gerakan-gerakan kesyahduan kian menggelora. Cinta yang mereka punya merajut kebahagiaan bersama tanpa ada sekat apa pun lagi.