
Embun menitik sendu mengantarkan pada jelaga kebenaran. Masa lalu memang hanya menjadi sebuah cerita yang tidak untuk diungkit kembali.
Namun, di balik semua itu terdapat kenangan yang bisa mendatangkan malapetaka. Masa lalu yang tersembunyi dan masa depan, keduanya memang mengandung misteri tak terduga.
Kedatangannya menghadirkan luka lain maupun kebahagiaan. Tergantung bagaimana menyikapinya, maka semua akan berakhir.
Tepat setelah Rania menemukan sebuah penemuan mencengangkan, ia mendapatkan telepon dari seseorang.
Sehari setelah mendapatkan foto di ruang baca, ia berusaha menemui orang di ahlinya untuk mencari alamat seseorang. Alhasil baru saja sehari ia sudah mendapatkan kabar baik.
Setelah melakukan tugas merawat pasien, ia bergegas keluar dan melipir ke ruangan sepi.
Di sana ia menerima panggilan tersebut dan berbisik lirih berusaha tidak terdengar oleh siapa pun.
"Jadi, Anda bisa mendapatkan alamatnya? Bisa kirimkan kepada saya sekarang?" pinta Rania kemudian.
Orang di seberang sana pun menyanggupi dan seketika panggilan berakhir.
Tidak lama berselang, ponselnya kembali bergetar dan memperlihatkan chat masuk. Rania pun langsung membukanya dan melihat ada sebuah alamat tertera di sana.
"Jadi, tempatnya tidak jauh?" gumamnya pada keheningan.
"Aku harus mencari tahu."
Rania bergegas pergi dan bersamaan dengan jadwal shiftnya sudah selesai.
Di tempat lain, Jim-in yang baru saja selesai mengadakan rapat dikejutkan dengan kedatangan sahabatnya, Song Mi Kyong.
Wanita cantik berambut sepunggung itu mengulas senyum manis. Jim-in terkejut dan hampir terjungkal ke belakang jika tidak di tahan oleh sang sahabat.
Buru-buru Jim-in menarik tangannya lagi dan memandang wanita itu lekat.
"Mi Kyong? Sedang apa kamu di sini? Bukankah kita tidak ada janji temu?" tanyanya heran.
"Aku mau minta tolong padamu, bisakah kamu membantuku? Sahabatku yang paling tampan?" sindirnya sembari berjalan beriringan.
Jim-in melipat tangan di depan dada, jika sudah seperti ini, itu artinya ada sesuatu yang diinginkannya. Mi Kyong adalah tipe wanita yang tidak pernah meminta sesuatu jika keadaan belum benar-benar mendesak.
"Aku memang tampan, tapi... aku tidak akan berpengaruh pada pujian mu," balasnya bercanda.
Mi Kyong menghentakkan sebelah kaki membuat suara heelsnya bergema. Jim-in tertawa renyah menyaksikan kelakuan sahabatnya ini.
"Baiklah-baiklah berhenti menjadi anak kecil. Jadi, apa yang harus aku lakukan kali ini?" tanyanya kemudian.
"Ish-" Mi Kyong mencebikkan bibir ranumnya pelan. "Tolong aku membatalkan pertunangan-"
"Lagi?" Jim-in menyerobot ucapannya cepat. Mi Kyong mengangguk-anggukan kepala lalu menghentikan langkah dan saling berhadapan dengan sang sahabat.
Jim-in menghela napas kasar, menyimpan kedua tangan di saku celana kerjanya.
"Mau sampai kapan paman dan bibi menjodohkan mu? Bukankah ini sudah kelima kalinya?" tanya Jim-in tidak habis pikir.
"Mau bagaimana lagi? Mereka ingin aku segera menikah, tetapi... kamu tahu sendiri aku masih belum ingin berkomitmen, ditambah sekarang bisnisku mulai naik... aku belum bisa melangkah sejauh itu dalam berhubungan," keluhnya.
Lagi dan lagi Jim-in menghela napas.
"Aku tahu... aku sangat tahu bagaimana keras kepalanya kamu." Ia memberikan sentilan kuat di dahi ratanya.
Mi Kyong melenguh pelan seraya mengusap-usap jejak sentilan di sana.
"Sakit tahu," racaunya.
Jim-in terkekeh pelan tanpa rasa bersalah. "Jadi, aku harus berpura-pura lagi sebagai calon suamimu untuk menjebak perjodohan itu? Sekarang pria mana lagi?"
Mi Kyong berubah ceria dan kembali mengangguk mengiyakan.
"Itu benar, kamu benar. Kali ini orang yang sangat berpengaruh, dia anak dari keluarga terpandang Kim Dal Mi."
"Wah... Kim Dal Mi? Pemilik perusahaan real estate satu-satunya wanita di negara kita?"
"Itu sebabnya, aku ingin kamu datang dan berpura-pura menjadi calon suamiku lagi. Agar mereka tidak melanjutkan perjodohan ini," jelasnya kemudian.
"Bagaimana kalau paman dan bibi mencegahnya?" tanya Jim-in penasaran.
"Eomma dan appa tidak akan bisa berbuat apa-apa. Mereka juga hanya mengiyakan saja perjodohan itu tanpa bisa menolak. Karena itulah aku meminta bantuan mu untuk menggagalkannya, seperti hari-hari itu," kata Mi Kyong kembali.
"Kamu benar-benar."
Jim-in menggeleng-gelengkan kepala atas tindakan yang hendak dilakukan sang sahabat.
...***...
Senja datang memberikan kenyamanan pada sang penikmat. Indahnya langit dengan semburat orange dan jingga melebur di atas cakrawala.
Di tengah hiruk pikuk ibu kota, Rania melajukan mobilnya ke sebuah tempat yang tertera di gps. Ia mengikuti instruksinya dan tiba di sebuah kawasan elit.
Kepala berhijabnya mendongak mencari satu-persatu bangunan yang hendak ditemuinya.
Di tengah kesibukannya itu, netra beningnya tidak sengaja berhenti di salah satu rumah mewah berlantai dua.
Ia melihat sebuah mobil yang sudah tidak asing lagi masuk ke pekarangan. Otomatis hal itu membuat Rania menghentikan laju kendaraan.
Ia diam beberapa meter dari sana melihat seorang pria dan wanita turun dari mobil mewah. Maniknya melebar sempurna menyaksikan keceriaan di wajah keduanya.
Dengan tangan gemetaran, Rania merogoh saku mantel mengeluarkan selembar foto dari sana. Ia menjulurkannya tepat di depan stir mobil.
Potret itu memberikan gambaran seperti apa hubungan keduanya dan sekarang objek yang ada di dalamnya, nyata ada di depan mata.
Rania mengulas senyum getir sembari meremas foto tersebut.
Setelah itu ia pun mencoba menghubungi sang suami yang sudah masuk ke dalam rumah megah di sana.
Namun, berapa kali ia menelponnya tidak ada satu pun panggilan yang dijawab. Rania semakin terbahak menahan kepedihan dalam dada.
Ia terus meremas foto tadi kuat dan melemparkannya ke jok sebelah.
"Jadi, hubungan mereka seakrab itu? Siapa dia? Kenapa kamu tidak pernah mengatakan apa pun padaku?"
"Sayang? Cih, panggilan yang sangat menggelikan," geram Rania, kembali memutar stir mobil dan bergegas pergi.
Sepanjang jalan ia terus memikirkan dua insan yang baru saja tertangkap pandangan. Ia tidak menyangka niatnya ingin mencari tahu keberadaan wanita itu, nyatanya bukti konkrit pun di dapatkan.
Sang suami bersama wanita asing tersebut dan terlihat sangat akrab satu sama lain.
Ia menepikan kendaraan di samping jalan memandang senja yang mulai turun dan berganti kegelapan.
Wajahnya begitu datar dan dingin, tanpa melakukan kegiatan berarti.
Sampai pada satu titik, ia menghela napas kuat mengenyahkan sesak dalam dada. Suara tawa kembali terdengar bersamaan dengan kendaraan berlalu lalang di sekitarnya.
"Aku tidak menyangka jika harus terjebak di situasi yang sama lagi. Wanita itu... entah kenapa mengingatkanku pada Yuuna. Ke mana kekasih tercintanya pergi? Apa dia sudah digeser kan oleh wanita tadi?"
"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi beberapa tahun ini. Namun, yang jelas pria itu tetap sama, dia... belum benar-benar mencintaiku."
"Apa yang selama ini ia lakukan? Apa dia memberikan permainan baru lagi? Cih, kurang kerjaan sekali."
"Apa belum puas dia mempermainkan ku? Mau sampai kapan?" racau Rania mengutarakan sesak dalam dada menghantamnya kuat.
Sebagai seseorang yang kehilangan ingatan, Rania hanya berharap mendapatkan dukungan untuk mengembalikannya.
Namun, ia malah mendapatkan fakta mencengangkan dari masa lalu sang suami.
Setiap hari, setiap saat, ia mendengar Park Jim-in mengutarakan rasa cintanya. Namun, tanpa sadar semua itu hanya untuk menutupi kebenaran.
Rania salah paham atas apa yang terjadi.