
Apa yang orang lain katakan, lebih baik jangan didengarkan. Semua orang hanya bisa berspekulasi tanpa tahu apa yang sudah kita lewati.
Bahkan orang yang berspekulasi itu juga mempunyai masalahnya sendiri-sendiri. Hanya bisa berpendapat tanpa merasakan, itulah yang terjadi pada kehidupan ini.
Ungkapan paling benar sendiri mungkin bisa disandingkan pada mereka. Tanpa tahu jika hal tersebut mengandung racun bagi si penerima, yang kadang kala mendatang luka teramat dalam.
Luka itu bisa menepi di sana selamanya, sulit untuk diobati. Dilupakan mungkin masih bisa dilakukan, tetapi kadang kala waktu juga begitu kejam dengan mendatangkan ingatan menyakitkan itu lagi.
Layaknya burung terbang bebas, ditembak begitu saja oleh sang pemburu. Ia jatuh, tidak bisa terbang lagi dan hanya mendapatkan luka serta berakhir di sangkar besi.
Kadang kala lidah lebih kejam dari sebilah pedang, jadi jangan mengatakan apa pun jika itu bisa menyakiti perasaan seseorang, jadi lebih baik diam.
Karena kita tidak tahu apa yang telah dilewati seseorang.
Sama halnya dengan yang menimpa Zahra. Rania tidak berani mengatakan apa pun sebelum sang sahabat mengungkapkannya sendiri.
Rania tahu seperti apa luka menganga tak kasat mata di jurang hati terdalam. Pasti teramat perih dan penuh lubang yang sulit dijahit.
Setelah sekian lama berbicara panjang lebar, Zahra dan adik keduanya, Laluna menginap di sana.
Ia pun mengistirahatkan diri di kamar tamu bersama Laluna, sedangkan Seok Jin memutuskan pulang.
Kini hanya ada waktu berdua saja bagi pasangan suami istri tersebut.
Sedari tadi Rania diam, seribu bahasa merasa canggung pada keadaannya sekarang.
Sebelum keduanya bertandang ke restoran yang berakhir tidak jadi makan malam bersama, Jim-in kembali memperlakukannya dengan hangat.
Sang suami terus menerus memberikan perhatian lebih yang tidak pernah Rania rasakan, pikirnya.
Perlakuan khusus itu membuat Rania tidak terbiasa sekaligus ada keanehan sendiri.
Karena seingatnya, keharmonisan itu ia hanya bisa melihat sang suami layangkan untuk wanita lain.
Hanya sebatas mimpi untuk berada di posisi tersebut, tetapi entah bagaimana kini dirinya sendiri mendapatkannya.
"Sayang, apa kamu sudah membersihkan diri?" Jim-in berjalan mendekat pada sang istri.
Rania masih termenung, jatuh terlalu jauh ke dalam lamunan, hanya kedua matanya saja berkedip-kedip seraya terus menjatuhkan pandangan ke bawah.
Napasnya terlihat tenang, tanpa menghiraukan orang lain di sana. Sampai tidak lama berselang satu sosok tiba-tiba saja mengejutkan.
Rania terpekik sedikit kencang, mendongak dan bersitatapan langsung dengan sang suami.
"Astaghfirullahaladzim." Rania berusaha menetralkan degup jantung yang sekejap saja berubah menjadi bertalu kencang.
Ia mengusap-usap dada sebelah kiri pelan seraya beristighfar berkali-kali.
Jim-in sebagai pelaku pun ikut terkejut dan bersimpuh tepat di sampingnya.
Ia mengusap pelan rahang sang istri lembut mencoba menenangkan.
"Aku minta maaf sudah mengejutkanmu, Sayang. Habisnya tadi kamu tidak menjawab pertanyaan ku," jelas Jim-in.
Rania termenung, malu sudah ketahuan melamun sampai tidak mengingat apa pun di sekitarnya.
Tidak sadar wajah putihnya pun merona. Jim-in yang menyaksikan itu tersenyum senang dibuatnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, hm?" tanya Jim-in cemas.
"Ani. Aku tidak memikirkan apa pun," dustanya.
"Benarkah? Kamu jadi pandai berbohong yah, Sayang." Jim-in menjawil hidung bangir Rania pelan membuat sang empunya melebarkan mata.
Degup jantungnya kembali bertalu kencang, membuat iris cokelat bulat itu bergulir ke sana sini menghindari tatapan sang suami.
Jim-in yang masih memperhatikannya pun terkekeh, gemas. Ia bangkit dari sana dan duduk di tepi ranjang menghadap Rania.
"Jangan tundukkan pandanganmu, Sayang. Aku ingin melihat wajah cantikmu," pinta Jim-in yang terus memberikan kejutan-kejutan lain.
Rania semakin tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Tubuh ramping itu bergetar perlahan dan berkali-kali terus menghindari agar Jim-in tidak mengetahuinya.
Namun, sekuat apa pun ia mencoba keadaan itu pun tetap diketahui oleh sang suami.
Jim-in yang tidak bisa menahan gemas pun seketika menerjang Rania. Ia memeluknya erat hingga terbaring begitu saja.
Sadar atas tindakan yang bisa saja mengejutkan sang istri, tuan muda itu menarik diri lagi.
Kedua tangannya bertumpu di sisi kanan-kiri Rania. Ia mengungkungnya dalam perlindungan tubuh kekarnya.
Aroma maskulin yang sangat didambakan oleh Rania kembali menyebar. Ia membeku dalam diam, kedua mata bulannya melebar sempurna.
Bibir ranumnya pun ikut terbuka atas apa yang baru saja terjadi.
Jim-in pun mengulas senyum lembut memberikan tatapan hangat.
"Aku tidak pernah bosan mengatkan-" Jim-in sengaja menjeda ucapannya dan terus memandangi Rania di bawahnya.
"Saranghae."
Ungkapan cinta tercetus untuk kesekian kali. Tidak ada keraguan, tanpa kebohongan maupun dusta, tergambar jelas dalam sorot mata Park Jim-in.
Pemandangan di atasnya seketika menyuguhkan kembali ingatan demi ingatan asing.
Rania menutup mata rapat menahan denyutan pelan di dalam kepala.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Jim-in sangat khawatir.
Rania menggeleng perlahan tanpa mengatakan apa pun. Sampai perlakuan tak terduga lainnya diberikan sang pasangan hidup.
Jim-in menyatukan kedua kening mereka seraya berkata lirih, "Ya Allah jika memang menyakitkan hamba mohon jangan mengembalikan ingatan istri hamba, tetapi... jika akan dikembalikan maka jangan menyakitinya ya Rabb. Berikanlah rasa sakit itu pada hamba. Biarkan hamba yang menanggungnya ya Allah. Hamba tidak ingin melihat Rania terluka."
Kata-kata penuh kasih sayang itu membuat Rania membuka mata. Ia melihat wajah tampan tersebut begitu jelas tepat di hadapannya.
Entah sadar atau tidak air mata menetes tak tertahankan. Bagaikan roda berputar kencang perasaan memburu kian menyapa.
Rania mengulurkan kedua tangan dan memeluk suaminya erat begitu saja.
Mendapatkan hal tersebut, Jim-in terkejut seketika. Ia menyimpannya dalam diam sambil terus menutup mata erat.
Ia bersyukur setidaknya Rania mulai menerima keberadaannya.
Meskipun ingatan sang istri masih belum pulih sepenuhnya, tetapi Jim-in yakin didasar lubuk hati kenangan itu masih ada.
Sudah bertahun-tahun mereka menjalani rumah tangga bersama.
Asam manis kehidupan yang penuh lika liku telah dilewati bersama.
Pasti serendah apa pun itu, bayangan saat-saat mereka membagi kisah cinta berdua pastilah masih ada.
Cinta tulus dan dalam, sejatinya tidak bisa dilupakan begitu saja. Jejak memorinya akan tetap ada, meskipun tidak teringat secara nyata.
"Aku sangat mencintaimu, Rania," ungkap Jim-in kesekian kali dan memeluk tubuh hangat istrinya lagi.
Bayangan demi bayangan awan sendu sekilas menjadi sebuah pelengkap bagaimana kehidupan tidak selamanya berjalan mulus.
Jim-in sadar, sudah terlalu banyak kebahagiaan yang mereka terima.
Kini giliran ujian datang guna melihat apa dirinya mampu bertahan atau sebaliknya.
Karena Allah tahu seperti apa batas kemampuan setiap hamba-Nya. Yakin dan percaya, suatu saat kebaikan itu akan kembali lagi.