
Hari-hari berlalu sama seperti waktu yang kehilangan setiap detiknya. Kala menggambarkan jika kehidupan sama halnya roda berputar. Kadang berada di atas dan ada saatnya nanti di bawah. Bersyukur menjadi salah satu cara menerima apa yang sudah Allah berikan. Karena tidak mungkin Allah memberikan hal buruk pada hamba-Nya. Allah pasti memberikan yang terbaik.
Musim telah berganti. Aroma kehangatan sang surya terendus pada sela-sela awan putih berarak di langit siang ini. Sama seperti dulu, kenangan paling tidak bisa ia lupakan terulang kembali.
Pria bermarga Park itu tidak menyangka hari ini sama seperti waktu itu. Di mana ia bisa merengkuh tubuh hangat sang istri. Keharmonisan tercipta membentuk lengkungan bulan sabit bibir keduanya. Pasangan suami istri ini tengah mengecap manisnya perjalanan kehidupan.
Raga saling menyatu. Jiwa saling membutuhkan. Terjalin erat dalam kebersamaan. Langkah demi langkah yang tertatih mengantarkan kenangan baru. Luka yang tercipa bagaikan air mengalir. Berbekas, tapi tidak untuk diingat. Biarkanlah angin menjadikannya kering tak usah dikenang.
Pelukan dua insan yang terjalin ikatan pernikahan itu pun mengundang senyum pada mereka.
"Sayang, aku bersyukur dengan adanya insiden ini." Celoteh sang pria.
"Apa maksud oppa. Jangan bicara yang tidak-tidak." Cela wanitanya.
"Aku serius. Karena berkat tragedi ini kamu bisa datang padaku. Sekarang kamu bisa ku peluk lagi. Dan aromamu bisa ku cium kembali. Saranghae, mianhae." Ucapnya.
"Aku juga sangat mencintaimu, oppa. Sangat...... sangat..... sangat mencintaimu." Tegas Rania seraya mengeratkan pelukannya.
Kepalanya mendongak menahan butir air mata yang menggenang di sana. Dagunya bertumpu pada bahu tegap sang suami. Jim-in tersenyum merasakan ketulusan istrinya ini.
"Gomawo." Bisiknya terharu.
Keheningan tercipta dan hanya ada kemesraan pasangan itu. Senyum semakin berkembang diwajah dua orang dewasa ditambah satu balita menyaksikan drama romantis tepat di depan matanya. Sang ibu, Park Gyeong dan dokter pribadinya Kim Seok Jin lega melihat kebersamaan mereka.
"Mau sampai kapan kalian berpelukan terus seperti itu? Yakk!! Kalian tidak ingat pada Asha? Harapan yang membawa kalian bersama?" Tegur Seok Jin menyadarkan.
Jim-in pun melepaskan pelukannya lalu menatap lekat iris bulan sang istri. Rania pun dibuat merona olehnya. Pria itu tidak mengindahkan perkataan Seok Jin tadi. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Biarkanlah bunga yang baru mekar menebarkan keharuman. Cinta yang sempat kandas kembali berkembang.
"Aku sangat mencintaimu. Maafkan semua kesalahanku. Aku tidak akan berjanji untuk membahagiakanmu. Namun, aku akan memberikan Harsha yang sempat hilang. Biar ku gantikan Varsha yang sudah terbuang dari matamu." Ujarnya. Kedua tangannya pun terangkat menangkup pipi bulat sang istri.
Ibu jarinya mengusap lembut mata Rania yang tertutup. Lalu Jim-in pun memberikan kecupan hangat di dahinya, kedua matanya, pipinya dan terakhir_ (Skip :D )
Rania pun terkejut seketika itu juga langsung membuka matanya. Jim-in melebarkan senyum kebahagiaan. Pipi putihnya bertambah merah dengan tindakan sang suami di tempat umum.
"Apa yang oppa lakukan?" bisiknya menahan malu.
"Mwo? Aku tidak melakukan apapun." Cueknya begitu saja.
"Kenapa oppa menciumku di sini?"
"Hahahaha kamu ini lucu sekali. Kamu kan istri sahku. Tidak apa-apa sudah halal."
"Tap_"
"YAK!! PARK JIM-IN apa yang kamu lakukan. Dasar pasien tidak tahu diri." Teriak Seok Jin menggema di sana. Beruntung dalam ruangan terapi itu hanya ada mereka berlima.
"Kamu sangat cantik. Aku beruntung memilikimu, sayang." Suara lembut itu mengalun mengantarkan kehangatan pada hatinya. Rania mendongak membalas tatapan sayang dari sang suami. "Gomawo, saranghae." Ujarnya. Jim-in terharu dan langsung kembali memeluk istrinya.
"Hah~ sepertinya kita hanya dianggap angin lalu saja." Keluh Seok Jin. Gyeong tersenyum lebar melihat kebersamaan anak dan menantunya. "Eomma, bersyukur selepas kejadian ini Allah masih mempersatukan mereka." Ujarnya.
"Yah, eomma benar. Alhamdulillah, banyak hikmah yang sudah diberikan-Nya pada Jim-in." Balas sang dokter lagi.
Mereka pun hanya bisa menatap drama romantis di depannya. Jika dunia sudah berdua orang lain pun tidak dianggap ada. Jika cinta sudah bermuara kapal pun siap berlayar mengantarkan pada dermaga kebahagiaan.
...***...
Taman di belakang rumah menjadi tempat ternyaman untuk menghabiskan waktu bersama. Sedari siang tadi pasangan suami istri beserta anak mereka pun betah berdiam diri di sana. Bercengkrama beriringan membicarkan hal yang menambah keakraban.
Semburat orange membentang indah dalam cakrawala. Cahaya hangat dari sang surya menyelimuti kebahagiaan mereka. Senyum mengembang menjadi penanda kelegaan.
"Aku tidak apa, jika harus duduk dikursi ini selamanya. Asal kamu tetap di sampingku." Ucap sang suami.
Rania yang tengah berdiri di belakangnya pun berjalan ke samping. "Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Semua kejadian yang menimpa sudah menjadi takdir-Nya. Oppa, jangan putus harapan."
Jim-in menggeleng. Bulan sabit masih bertengger indah diwajah tampannya. Ia pun menunduk melihat sang putri berada dalam gendongan. "Bukan begitu maksudku." Rania pun mengerutkan kening tidak mengerti.
"Hari itu saat kita pertama kali bertemu dan mengucapkan ikrar pernikahan aku duduk dikursi roda seperti ini. Hari-hari terberat pun harus kamu lalui karena sikap keras kepalaku. Aku menyalahkan keadaan sampai membawamu terseret ke dalamnya. Aku pun sembuh dan bisa berjalan kembali karena semangat darimu. Hingga akhirnya aku jatuh cinta. Sama seperti hari itu, aku ingin mengulang kembali kisah kita. Biarkan cerita yang penuh Varsha itu tertutup. Dan aku akan kembali membuka kenangan baru menggantinya dengan Harsha. Ini bukan ucapan bohong semata, tetapi ini perasaanku sesungguhnya. Rania, maukah kamu menikah denganku? Menjadi istri dan ibu yang terbaik untuk anak-anakku?" pintanya seraya mendongak ke samping kanan di mana sang istri tengah berdiri di sana.
Tidak kuasa mendengar penuturan tulus itu Rania menangis dibuatnya. Ia pun mengangguk singkat. "Ne, aku mau."
Jim-in pun mengeluarkan sebuah kotak di belakang punggungnya lalu membukanya. Sebuah cincin berlian tersemat di dalamnya. Rania pun melebarkan pandangan melihat itu.
"Kamu istriku satu-satunya yang paling aku cintai." Ujarnya seraya menuntun Rania untuk berdiri di hadapannya. Ia pun kemudian menyematkan cincin tersebut dijari tengahnya. Kini tersemat dua cincin ditangan Rania. "Saranghae." Lanjutnya lalu memberikan kecupan hangat dipunggung tangan sang istri.
Rania pun bersimpuh dan langsung menghamburkan dirinya memeluk sang suami. Ia menumpahkan segala keresahan, kegundahan dan juga rindu yang selama ini dipendamnya. "Gomawo, saranghae." Hanya dua kata itu yang kembali keluar dari mulutnya.
Untuk beberapa saat mereka pun saling merengkuh satu sama lain, hingga suara sang bayi mengintrupsi. Rania pun melepaskan pelukannya dan membelai lembut kepala putrinya.
"Sayang, kamu bahagiakan bisa berada dalam gendongan appa. Mian, eomma pernah memisahkan kalian." Lirihnya.
"Eomma, jangan bilang seperti itu. Asha tidak apa-apa. Asha punya harapan jika eomma dan appa bisa kembali lagi." Balas Jim-in mewakili putrinya. Rania mendongak menatap iris kecoklataan milik prianya. Senyum mengembang menjadi penanda kepastian.
Tangan yang saling berpautan mengartikan kebersamaan. Cahaya sang surya menyoroti cincin berlian tersebut menyimpan kisah di dalamnya.
Varsha, Harsha dan Asha. Tiga kata yang menggambarkan perjalanan kisah mereka berdua.
Varsha akan selalu ada dalam kenangan meskipun Harsha menggantikannya. Karena Asha membimbing mereka untuk mencapai kebahagiaan.
"Tidak apa, jika Varsha masih membayangimu. Karena aku akan menajdi payung untuk melindungimu. Bersama kita mengukir indah kisah cinta dalam guyuran air hujan. Bagaimana pun nama itu akan selalu mengiringi kisah ini."
..._ASHA_...