VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 98



Akan ada balasan dari setiap keputusan. Akan ada jawaban dari setiap doa. Bagaimanapun masalah menerjang libatkan Allah di dalamnya dalam segala hal.


Seiris kisah tak bersua memberikan ujung yang kian bertepi. Waktu yang terkikis memberikan memori berkasih dalam benak.


Pena kehidupan masih tetap berjalan menuliskan kisah-kisah mendebarkan dalam sejarah seseorang.


Secubis cerita indah mengalun bagaikan simfoni menenangkan jiwa. Luka yang teriris layaknya pisau menyayat-nyayat daging.


Bekasnya tidak bisa dihapuskan begitu saja, sampai kapanpun akan tetap ada dan bisa teringat begitu saja.


Darah yang tak terlihat, luka tak kasat mata, perih yang mengembang dalam diam, terus mengantarkan pada jelaga keterpurukan.


Semua yang terjadi, kejadian yang menimpa, menjadi cerita memberikan kisah tersendiri.


Langit memperlihatkan keindahannya malam ini. Bintang bertabur dengan cahaya bulan menerangi menyembur menjadi satu membentuk keindahan alam.


Sejauh mata memandang, meskipun ada kegelapan, nyatanya memberikan kecantikan tiada tara.


Allah menciptakan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Terdapat manfaat serta kebaikan di dalamnya yang begitu nikmat bagi setiap hamba.


Menelisik dalam kalbu seperti apa luka itu tercipta dan berakhir dengan kebahagiaan.


Air mata berganti senyum kebahagiaan yang perlahan mengikis luka.


Varsha memang kadang kala menyuguhkan kesedihan terus menerus. Setiap yang terjadi hanya memberikan kepedihan.


Namun, waktu tidak akan pernah salah memberikan balasan atas kesakitan mendera.


Bagaimanapun hidup berjalan, sejauh apa pun kisah pilu mendera, jika kebaikan itu datang maka tidak ada yang bisa menghalanginya.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Keadaan semakin terasa hening dan sepi. Kilas balik kejadian demi kejadian yang menimpa berdengung, berkeliaran dalam ingatan.


Liquid bening menunjukkan seberapa dalam sayatan tercipta.


Kini manis layaknya madu sedang meresapi kehidupan seorang Rania dan Jim-in.


Pasangan yang bersama akibat perjodohan itu pun sudah mengikrarkan janji suci pernikahan dengan sebaik-baiknya.


Cinta bergelora mengantarkan pada muara terindah. Perjalanan rumah tangga mereka penuh dengan tantangan dan juga kebahagiaan.


Di bawah cahaya bulan temaram wajah damai keduanya mengkilap. Tetes demi tetes air kolam dari rambut mereka menambah kesyahduan.


Napas keduanya saling memburu dengan tatapan menyelami bola mata masing-masing.


"Cantiknya," bisik Jim-in.


Suaranya berat nan dalam menandakan keinginan begitu kuat.


Rania yang berdiri tepat di hadapannya memberikan sorot mata serius.


"Saranghae."


Ungkapan cinta kembali berdengung. Jim-in mengangkat sang pujaan, menggendongnya hingga ke tepi kolam dan mendudukkannya di sana.


Kepala bersurai hitam yang basah mendongak masih dengan memandangi bola mata bulan kekasih hatinya.


"Tidak ada yang menandingi kecantikan mu, Sayang. Bahkan bulan pun iri dengan indahnya dirimu," ungkap Jim-in memberikan kata-kata puitis menenangkan hati wanitanya.


Rania hanya mengembangkan senyum dengan kedua tangan bertengger di bahu kekar sang suami.


Sedetik kemudian kecupan singkat diberikan pada Jim-in. Bibir ranum itu semakin melebar seiring air muka pasangan hidupnya nampak menegang.


Kejutan yang Rania berikan tidak sampai di sana saja. Ia mencondongkan tubuh ke depan tepat di samping daun telinga tuan muda.


"Haruskah... haruskah kita melanjutkan yang seharusnya dilakukan?" tawarnya, napas Rania berhembus ke kulit mulus Jim-in membuat bulu roma nya meremang.


Jim-in terkesiap memandang jelaga di hadapannya penuh tanya. Ia tidak pernah mendapati sang istri yang berinisiatif terlebih dahulu.


Diamnya Jim-in memberikan sebuah clue jika pertanyaannya tadi mendapatkan persetujuan.


Rania semakin mengembangkan senyum lalu menjamah wajah tampannya, gencar.


Kecupan demi kecupan yang dilayangkan semakin melenakan. Jim-in diam bak patung membiarkan kekasih hatinya mengambil alih.


Simfoni indah mengalun ke relung hati terdalam. Jurang pemisah kini kembali mempersatukan pada sebuah kesyahduan.


Mendapatkan lampu hijau, sedetik kemudian Jim-in langsung mengambil alih.


Tidak ada siapa pun di sana, Rania sengaja mengungsikan kedua buah hati mereka ke bangunan belakang. Ia meminta para ahjumma untuk menjaga Akila dan Jauhar.


Kedua buah hati mereka mengerti jika orang tuanya hendak menghabiskan waktu bersama pun dengan senang hati memberikan kesempatan pada ayah dan ibu.


Di tengah malam penyatuan pasangan suami istri itu terus berlangsung. Mereka senang, bahagia, penuh dengan suka cita mendera membersamai.


Kisah suram yang sempat melanda memberikan efek signifikan. Kerinduan kian bergelora membuat keduanya saling membutuhkan.


...***...


Setelah sekian lama keduanya menikmati kesyahduan, Jim-in membersihkan diri serta pasangannya dengan lihai.


Tidak lama, ia pun menggendong istrinya ke kamar dan menidurkannya ke atas ranjang.


Rania yang sudah tidak berdaya hanya membiarkan Jim-in melakukan apa pun padanya.


Kedua mata itu pun menutup rapat dan indera penciuman menghirup raksi menguar dalam tubuh mereka.


Jim-in berbaring di sampingnya kembali memperhatikan wajah damai Rania.


Sebelah tangannya terulur menjauhkan anak rambut di sekitar dahi sang pujaan.


"Terima kasih untuk waktunya, Sayang. Aku benar-benar bahagia," bisik Jim-in tepat di depan wajah istri tercinta.


Sepasang kelopak mata yang semula menutup perlahan terbuka menampilkan kembali iris karamel beningnya.


Celah bibir yang mengatup melebar seiring pandangan saling bertubrukan.


Tangan ramping itu terulur dan mengalung di leher jenjang prianya.


"Terima kasih juga, untuk semuanya. Tidak ada yang paling indah selain menghabiskan waktu bersama mu," ungkap Rania hangat seraya mengusap lembut rahang pria di depannya.


Kehangatan menjalar di tulang pipi sampai telinga, Jim-in menutup mata sekilas dan menarik sebelah tangan Rania lalu memberikan kecupan mendalam di telapaknya.


"Aku senang, akhirnya kamu mengingat kami. Sekali lagi selamat datang kembali, Sayang."


"Juga... selamat atas keberhasilan yang kamu terima. Kamu... benar-benar wanita luar biasa, Sayang. Aku bangga bisa memilikimu, meskipun awalnya kita menikah akibat perjodohan, tetapi... aku bersyukur. Karena pilihanku tidak salah."


"Aku sangat mencintaimu, Sayang," ungkap Jim-in, tanpa terasa air mata menetes begitu saja ke pipi Rania.


Sang empunya terkejut bukan main dan mengusap cairan bening itu hangat.


"Terima kasih."


Hanya itu yang bisa Rania katakan. Perasaannya kian mengembang, melupakan segala pelik yang pernah terjadi.


Wajah tampan Jim-in semakin mendekat membuat penyatuan kembali terjalin.


Fajar menyingsing di ufuk timur, kehangatan dari sang surya perlahan menyemburkan cahayanya.


Selepas melaksanakan kewajiban, Rania kembali mempersiapkan sarapan untuk keluarga kecil.


Di tengah kesibukannya sepasang lengan kekar terulur dari belakang. Tanpa menoleh Rania tahu siapa pemiliknya.


"Sudah lama rasanya kita tidak sedekat ini. Kehilangan ingatan serta kesibukanmu sebagai mahasiswi sebagian besar menyita waktu," racau Jim-in mengendus pangkal leher wanita pujaannya.


"Maaf dan terima kasih sudah bersabar selama ini. Aku-"


Belum sempat ucapan Rania selesai dicetuskan dari arah belakang teriakan dua orang anak mengejutkan mereka.


"Mamah... Appa!"


Sontak hal tersebut membuat Rania dan Jim-in terkejut. Mereka langsung menjauhkan diri masing-masing dan berpaling ke belakang.


"Apa Mamah dan Appa sudah selesai membuat adik bayi? Katanya-"


"M-MWO? SI-SIAPA YANG MEMBERITAHU MU SEPERTI ITU, SAYANG?" Rania terkejut tidak percaya mendengar pertanyaan seperti itu dari putri pertamanya dan tanpa sadar berteriak kencang.


"Aku pikir seperti itu, mengingat kalian yang-"


"Sudah-sudah lebih baik kita sarapan!" Jim-in langsung mencegah pembicaraan ngaur buah hatinya cepat.


Ia berjalan mendekati mereka lalu bergegas menggendong sang jagoan.


Setelah itu mereka menikmati sarapan bersama dengan penuh suka cita. Keluarga harmonis begitu melekat di sana membuat para pelayan ikut senang kehidupan tuan muda mereka sudah jauh lebih baik.