
Di dalam kehidupan akan selalu saja ada sisi negatif dan positif. Akan selalu ada orang yang menyukai ataupun sebaliknya.
Apa pun yang menjadi keputusan diri sendiri pasti ada timbal baliknya. Tidak mungkin bisa membuat semua orang satu suara pada sebuah keputusan atau tindakan seseorang.
Terkadang ada beberapa pihak yang tidak setuju serta memberikan pendapat mereka mengenai satu hal. Karena apa pun yang terjadi satu kepala tidak akan sama dengan kepala lainnya.
Mereka juga mempunyai hak untuk mengutarakan perasaan. Namun, satu yang pasti jika tidak menyukai suatu hal jangan pernah menghakimi.
Setiap keputusan memang selalu ada pro dan kontra. Terima apa pun yang menjadi kritikan orang lain, jika hal itu baik terima dengan lapang dada, jika sebaliknya tinggalkan saja.
Karena kita tidak bisa membulatkan satu suara.
Banyak hal-hal bisa saja terjadi dalam kehidupan ini. Orang yang tersakiti bisa saja berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Semua itu dilakukan agar bisa melupakan rasa sakit dari masa lalu.
Karena berubah ke arah yang lebih baik bisa mengantarkan pada kebaikan juga. Terutama saat diri sendiri bisa menjadi lebih kuat dan sabar dalam menghadapi satu permasalahan.
Allah lebih suka hamba-Nya yang bertaubat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalu daripada harus berada dalam situasi sama terus menerus.
Itulah yang tengah terjadi pada keluarga Jung. Sang ketua tengah berkacak pinggang menghadap putra pertamanya.
Wajahnya merah padam, napasnya memburu hebat, dengan mata melotot.
"Apa yang kamu pikirkan, huh? Kenapa kamu bertindak bodoh seperti ini hah?" teriak Ketua Jung murka.
Sebelah pipi putra pertamanya, Jung Jae Sun merah merembet sampai ke daun telinga, serta ada ruan keuangan di sana.
Pria berusia hampir kepala empat tersebut hanya bisa menunduk tanpa melakukan apa pun.
"Kamu sudah membuat kesalahan fatal," geram Jung Jae Won.
Jae Sun mengepalkan tangan erat dengan tatapan nyalang. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan perhatian apa pun dari sang ayah.
Meskipun ia lahir dari orang tua sah, tetap saja ada perbandingan antara dirinya dan Jung Jae Hwa.
"Appa memang selalu membanding-bandingkan kami. Apa salahnya jika aku-"
Tamparan kedua kali dilayangkan oleh Ketua Jung di pipi sang putra. Napasnya semakin memburu hebat menahan kekesalan dalam dada.
"Jangan berani-beraninya kamu membicarakan dia. Kamu dan Jung Jae Hwa, sangat berbeda, jadi perhatikan sikapmu jika tidak ingin dicoret dari keluarga Jung."
Jung Jae Won melangkahkan kaki dari hadapannya begitu saja, tanpa memberikan kesempatan sang anak pertama mengutarakan pendapat.
Semua perkataan itu pun membentuk karakter Jae Sun menjadi keras kepala, egois, dan memendam kebencian begitu kuat pada adik se-ayahnya.
...***...
Satu minggu kemudian, Rania melanjutkan tugas sebagai ibu, istri, dan juga perawat. Peran ganda yang tengah dialami saat ini membuat perasaannya berkali-kali lipat bahagia.
Ia tidak pernah merasakan sebuah perasaan yang begitu mendalam akan kehidupannya sekarang. Bagaikan ada pelangi selepas badai pergi, begitulah varsha yang kali datang mengalirkan hujan air mata kebahagiaan.
Ia tidak bisa terus berada dalam situasi di mana dirinya terus disakiti. Akan ada waktu ia berubah menjadi wanita kuat, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi bagi orang-orang sekitar.
Ia bangga akan dirinya sendiri sudah sampai pada titik yang sangat jauh. Butuh banyak perjuangan serta pengorbanan yang tidak sedikit guna berada di situasinya saat ini.
Di samping menjadi perawat untuk merawat orang sakit, Rania pun berharap bisa membantu orang yang membutuhkannya.
Tidak peduli siapa pun itu, jika memang dirinya bisa maka akan diperjuangkan sepenuh jiwa. Karena kemanusiaan lebih penting daripada membiarkan seseorang menderita.
Itulah alasan kenapa Rania menerima permintaan manager Kang Yohan. Ia tidak bermain layaknya mata-mata, detektif, atau orang pintar lainnya, tetapi dirinya hanya ingin mengungkapkan kebenaran setelah penemuan yang didapatkannya.
Di ruangan itu terdiri dari lima orang, dua wanita dan tiga pria. Mereka sama-sama tengah membahas hal penting di kamar inap Jung Jae Hwa.
Pertanyaan yang Rania ajukan tadi untuk Yohan. Pria berkacamata itu melirik singkat dan menatap sepenuhnya pada kerabat dekatnya.
"Aku tahu... kamu hanya seorang perawat biasa, tetapi... aku yakin kamu bisa mengungkapkan kebenaran ini. Banyak bukti yang sudah aku berikan... aku harap dengan itu bisa membuka topeng siapa sebenarnya Jung Jae Won," ungkapnya.
"Apa ini? Ada apa ini?" tanya Jae Hwa menatap mereka satu persatu.
Sedetik kemudian, Rania pun menjelaskan apa yang sudah dirinya terima dari Yohan. Sang pembalap pun terkejut dan langsung menghadap managernya.
"Apa itu benar? Kenapa selama ini kamu tidak mengatakan apa pun padaku?" cercanya tidak percaya.
"Agar kamu bisa stabil di lapangan." Hanya itu yang bisa Yohan katakan, Jae Hwa membisu, diam seribu bahasa masih dengan melebarkan pandangan.
"Baiklah, karena semuanya sudah tahu kita akan segera bertindak, serahkan semuanya pada saya... semua orang yang terlibat bisa dipastikan tidak akan ketahuan," kata Hana yakin.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jim-in penasaran.
"Hana akan mengikuti ke mana Jung Jae Won pergi. Mulai dari dunia pekerjaan sampai kehidupan pribadinya," balas Rania menarik atensi mereka.
Jim-in dan Jae Hwa tercengang, masih menunggu apa yang hendak di sampaikan nya lagi.
"Kalian tenang saja, saya cukup ahli dalam menyamar. Saya pastikan akan mendapatkan bukti kehidupan beliau," jelas Hana lagi.
Mereka hanya mengangguk setuju dan kembali mendengarkan rencana demi rencana yang sudah dua wanita itu susun atas kesepakan bersama dengan Kang Yohan.
Berkali-kali, Jae Hwa terkesiap mendengar setiap kata tercetus dari bibir ranum dua wanita di sampingnya.
Rania maupun Hana terus mengatakan ide-ide guna mengungkapkan identitas sebenarnya dari Jung Jae Won.
"Apa kamu setuju dengan ini semua?" tanya Yohan pada Jae Hwa selepas Rania dan Hana mengutarakan pendapat mereka.
Pembalap profesional itu pun diam beberapa saat, menjatuhkan pandangan ke bawah. Ia menyaksikan keadaannya jauh dari kata baik-baik saja.
Kecelakaan itu merenggut segalanya dari apa yang ia punya, mulai dari ketenaran, ketenangan, sampai kehidupan pribadi.
Berita cepat sekali melebar, para netizen lebih awas dibandingkan detektif manapun. Mereka banyak membicarakan jika Jung Jae Hwa adalah putra tidak sah dari Jung Jae Won.
Banyak spekulasi yang terus berdatangan membuat jagat raya semakin gaduh. Kecelakaan yang menimpa pria menawan tersebut memberikan santapan berita setiap hari kepada mereka.
Banyak yang membela dan tidak sedikit pula menghujat. Begitulah jika kehidupan gemilang di dunia ini terjadi, kesalahan sedikit saja bisa menjadi boomerang.
Ada hitam dan putih, positif dan negatif, keduanya akan terus bersinggungan serta berjalan berdampingan.
Jangan menyalahkan keadaan, sebab semua sudah menjadi bagian dari rencana Tuhan. Apa pun yang terjadi, seperti apa badai menerpa, segalanya telah di atur sedemikian rupa.
"Baiklah, aku siap apa pun resikonya nanti. Aku juga ingin mendiang eomma bisa tenang di alam sana. Meskipun sebelum meninggal beliau sempat memberikan nasehat agar aku tidak melawan appa, tetapi tetap saja... kebenaran ini harus ditegakkan."
"Aku tidak ingin orang lain menjadi korban keegoisannya, juga... aku tidak ingin menerima hartanya jika di dalam itu semua ada tangisan orang lain," ungkap Jae Hwa memandang Rania dan Hana bergantian.
Lalu beralih pada, Yohan dan Jim-in. Mereka pun mengangguk setelah mendapatkan persetujuan dari orang bersangkutan.
"Kamu tenang saja... kamu tidak akan kehilangan apa pun. Karena aku akan selalu menjadi sponsor mu, apa pun yang terjadi," ungkap Jim-in.
Jae Hwa maupun Yohan terharu mendengarnya, sedangkan Rania bangga mendapatkan suami yang begitu dermawan.