
Awan kelabu datang lagi sore ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan, cuaca tidak menentu menerjang ibu kota.
Hawa hangat sering kali menyapa menemani setiap insan yang mulai hilir mudik kembali menuju rumah masing-masing selepas seharian beraktivitas.
Sama seperti orang lain Zahra pun berbenah membereskan barang-barang di ruangannya.
Baru saja ia selesai bertugas dan hendak pulang menemui sang adik yang masih berada di sana, sepasang manik memandanginya lekat dari arah depan.
Seseorang berdiri tepat di depan gedung rumah sakit dengan sorot mata hangat. Senyum lembut pun tersungging di bibir menawannya.
Seketika itu juga Zahra menghentikan kaki terbungkus sepatu kets nya. Manik bulannya pun terbelalak lebar dengan jantung bertalu kencang.
Ia tidak menyangka jika seseorang berharga dalam hidup masih berada di area rumah sakit.
"Ayah?" Panggilnya lagi.
Zahra pikir Aditya sudah pergi, mengingat ayah kandungnya tengah berlibur di negara tersebut.
Mengetahui perihal hal itu perasaan Zahra sebagai seorang anak tertua yang sudah lama tidak diperhatikan oleh orang tua, sangat terluka.
Di saat ia tengah kesusahan untuk bertahan hidup, di luaran sana kedua orang tuanya malah sibuk bersama keluarga baru membangun kebahagiaan.
Hatinya benar-benar sakit bagaikan ada belati menyayat perlahan.
"Teteh."
"Zahra."
Panggilan lain dari samping kiri menarik atensinya. Kepala berhijab Zahra menoleh melihat dua orang tengah menatapnya. Ia pun terbelalak tidak percaya mendapatkan hari seperti itu.
"Laluna? Appa? Kenapa?" Zahra memandangi mereka bergantian, tidak percaya ketiganya berdatangan di waktu yang bersamaan.
"Siapa mereka, Zahra? Apa wanita di samping pria asing itu adalah... adikmu?" tanya Aditya seolah familiar terhadap wanita muda di samping Lee Dong Hyuk.
"Beliau siapa?" Kini giliran ayah tirinya yang bertanya.
"Teteh, siapa dia?" Laluna pun menanyakan keberadaan satu sama lain.
Ia juga penasaran saat mendengar namanya disebut oleh pria tidak jauh dari keberadaan sang kakak.
"Di-dia, dia-"
"Laluna? Anakku?" Aditya beralih pada Laluna membuat wanita berumur dua puluh dua tahun itu bergerak mundur beberapa langkah ke belakang.
Ia menghindari Aditya yang tersenyum pahit padanya.
"Ini Ayah, Sayang. Ini Ayah kandungmu," jelas Aditya membuat Laluna menggelengkan kepala beberapa kali.
"Tidak... se-semua ini bohong kan Teh? Dia-"
Belum sempat Laluna menyelesaikan kalimatnya, Zahra mengangguk singkat membuat ia terbelalak.
"Tidak!" Laluna pergi dari sana berlarian menjauhi mereka.
Zahra yang melihat adiknya terpuruk pun merasa sedih. Ia tahu seperti apa perasaan Laluna saat ini.
Kemelut dalam diri, gelenyar rasa sakit di relung hati terdalam, memporak-porandakan perasaan.
"Biar Appa yang menyusul Laluna," kata Dong Hyuk berlari mengejar Laluna.
Zahra hanya mengangguk singkat dan kembali pada Aditya. Ia menghela napas kasar dan mendengus pelan.
"Sepertinya ada yang ingin Ayah sampaikan? Kita bicara di tempat lain," ajak Zahra melangkahkan kaki dari hadapan sang ayah.
Aditya mengikutinya ke mana sang putri pergi.
Laluna tiba di taman dekat rumah sakit. Ia duduk di sebuah bangku tepat berhadapan dengan air mancur.
Ia menangis menumpahkan segala emosi dalam dada. Perasaannya campur aduk, antara marah, benci, kecewa, dan lain sebagainya menjadi satu.
Ia tidak tahu harus berbuat apa. Semuanya datang di waktu yang tidak pernah ia duga.
"Laluna?"
"Are you okay?" tanya Dong Hyuk duduk di sampingnya.
"I'm not okay, Appa." Laluna semakin menangis kencang mengetahui jika ayah kandung juga ada di negara yang sama.
Melihat itu Dong Hyuk merasa iba dan merangkul bahunya pelan seraya menepuk-nepuk punggungnya lembut.
"Semua akan baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir, semua pasti berlalu," katanya mencoba menenangkan.
Laluna hanya mengangguk dan terus terisak.
Tidak lama kemudian ia berhasil menghentikan tangisannya. Ayah dan anak tidak sedarah itu menatap ke arah yang sama.
Air mancur di hadapan mereka berukuran besar, di tengah-tengahnya terdapat patung berbentuk angsa yang sedang melebarkan sayap.
Warna putih dari patung angsa tersebut begitu berkilauan dengan air memancar di tengah-tengahnya dan meluncur begitu saja ke bawah.
Cahaya sang surya menyinari membuatnya semakin berkilauan layaknya batu berlian.
"Indah bukan? Warna-warni pelangi terlihat dari pancuran mata air itu," kata Dong Hyuk tersenyum senang.
"Appa memang tidak tahu apa yang saat ini kamu rasakan, tetapi... apa pria tadi adalah-"
"Dia ayah kandungku," potong Laluna cepat.
"Apa? A-ayah kandungan kalian?" Laluna mengangguk pelan.
Dong Hyuk menjatuhkan pandangan ke bawah mencari ujung benang kusut menimpa anak-anak tirinya.
"Appa, sudah mendengar semuanya dari kakakmu, Zahra. Pasti tidak mudah bukan menjalani hidup tanpa kehadiran orang tua? Namun... kalian tidak sendirian. Kamu mempunyai kakak dan juga adik-adik yang bisa diandalkan. Appa juga pernah berada di posisi kalian."
"Namun, Appa hanya sendirian tidak bisa membagi kesedihan dengan siapa pun. Kamu beruntung masih memiliki saudara yang saling peduli."
"Mungkin kedatangan ayah kandung mu ke sini, ingin meminta maaf? Kamu harus memberikan kesempatan kepada mereka. Bukankah Allah saja Maha Pemaaf? Maka maafkanlah orang-orang yang telah menyakitimu, agar tidak ada lagi beban di hatimu," tutur Dong Hyuk membuat Laluna terpaku.
Ia sadar ayah tirinya adalah seorang mualaf sejak tiga tahun lalu. Ibunya yang telah membuat Lee Dong Hyuk menganut kepercayaan sama sepertinya.
Ia senang bisa mendengar sekaligus menerima nasehat dari ayah tirinya.
"Em, Appa benar. Terima kasih banyak sudah mengingatkan ku," balas Laluna membuat Dong Hyuk mengembangkan senyum lagi.
...***...
Zahra dan Aditya sedang berada di sebuah kafe. Mereka duduk berhadapan di tengah-tengah ruangan di temani beberapa hidangan.
Sedari tadi Zahra terus melihat lekat ke arah sang ayah. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun menunggu Aditya yang memulai.
Rasanya ia masih dirundung pilu atas kenyataan yang menimpa.
"Ayah, menemui mu lagi kali ini... Karena ingin meminta maaf."
"Ayah benar-benar minta maaf sudah membuat kalian kesusahan. Ayah sadar... melihatmu yang begitu terluka membuat Ayah ikut terluka juga."
"Andai Ayah tidak meninggalkan kalian hari itu, mungkin saat ini kita masih bersama. Ayah-"
"Sudahlah, tidak ada yang perlu disesali. Semua sudah terjadi, dan tidak bisa diulang kembali. Menyesal ataupun tidak... tidak akan bisa mengembalikan air mata yang pernah kami tumpahkan di hari-hari itu," tegas Zahra dengan sorot mata serius.
Aditya sangat terkejut melihat perubahan sang buah hati. Ia tidak menduga sudah menorehkan luka teramat dalam.
Bertahun-tahun bahkan tidak hanya satu tahun melainkan tujuh belas tahun ia meninggalkan keempat buah hatinya tanpa memberikan kabar sekalipun.
Luka yang ditorehkan pada saat itu kian melebar dan mendalam. Aditya menyadari begitu banyak rasa kecewa yang diterima oleh anak-anaknya.
Ia adalah seorang ayah yang tidak bisa membimbing sang buah hati dengan baik. Jangankan memberikan kehidupan yang layak, pendidikan pun tidak pernah diberikan.
Wajar jika sekarang Zahra, Laluna, maupun kedua buah hatinya yang lain sangat kecewa terhadapnya, memang itulah buah dari hasil perbuatan ia sendiri.
"Di sini bukan siapa yang salah, tetapi siapa yang peduli terhadap kami. Aku... tidak butuh harta kalian ataupun kemewahan kalian, tetapi... kasih sayang kalian sebagai orang tua. Namun, kami tidak pernah merasakan hal itu. Jadi, cukup biarkanlah seperti ini jangan pernah memberikan beban apa pun lagi pada kami," ungkap Zahra menggebu-gebu.
Aditya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan perkataan putri pertamanya dalam diam. Ada rasa nyeri di dada yang terus menyapanya kuat.