VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 7



"Sayang." Panggil Rania masuk ke dalam kamar putri pertamanya.


Di atas tempat tidur Akila tengah menyembunyikan wajah berair di balik selimut. Seraya berbaring terlentang, ia mencengkram kuat kain yang menghalangi pandangan.


Rania mengembangkan senyum simpul dan duduk di tepi ranjang. Ia melihat tubuh sang buah hati sedikit gemetar menahan tangis.


"Eomma minta maaf. Eomma tidak bermaksud mengabaikan kalian, hanya saja ada sedikit kesibukan di sekolah. Kalau Akila dan Jauhar ingin Eomma di rumah... Eomma akan lakukan itu. Eomma-"


"Ani! Bukan seperti itu Eomma." Akila menyibak selimut yang seketika bertatapan langsung dengan sang ibu.


"Bukan seperti itu maksudku, Eomma. Akila ingin melihat Eomma menjadi perawat hebat dan jangan putus sekolah hanya karena kami. Akila hanya ingin Eomma tidak melupakan kami." Seketika itu juga isak tangis Akila pecah.


Rania terpaku, termenung menyaksikan kepiluan sang buah hati. Ia langsung membawanya ke dalam pelukan sembari mengusap punggungnya pelan.


"Jangan menangis, Sayang. Tidak ada niatan sedikit pun dalam benak Eomma untuk melupakan kalian. Bagi Eomma, kamu dan Jauhar adalah segalanya. Tidak ada yang bisa menggantikan kalian di hati Eomma."


"Eomma sangat menyayangi kalian berdua," lanjut Rania melepaskan pelukan lalu membubuhkan kecupan hangat nan mendalam di dahi Akila.


Anak yang kini mulai beranjak remaja itu pun terharu mendengar pengakuan sang ibu. Akila yang sekarang sudah berusia delapan tahun mengerti bagaimana keadaan keluarganya.


"Akila minta maaf sudah berkata tidak baik tadi," ucapnya menyesal.


Kepala berhijab Rania menggeleng perlahan, kedua tangannya menangkup wajah mungil itu hangat.


"Tidak, Sayang. Jangan meminta maaf, kamu tidak salah apa-apa. Eomma yang seharusnya meminta maaf."


"Maaf Eomma pulangnya larut," jawab Rania mengusap lembut kedua pipi putihnya.


Akila mengangguk pelan lalu memeluk tubuh ibunya lagi.


Malam ini Rania pun menemani sang putri sampai tertidur lelap. Ia yang masih terjaga kembali memberikan ciuman mendalam di puncak kepalanya.


Senyum haru mengembang menambah kebahagiaan dalam diri. Rania bersyukur dianugerahi seorang putri yang sangat baik dan penuh perhatian.


"Terima kasih, Sayang," bisiknya pelan.


Setelah itu Rania keluar dari kamar Akila menuju tempat suaminya berada.


Ia pun mendapati sang pasangan hidup tengah terlelap sambil memeluk anak keduanya. Mereka sangat mirip bak pinang di belah dua.


Kebahagiaan Rania semakin lengkap berkat adanya keberadaan mereka. Kehilangan sosok seorang ibu menjadi pukulan telak pada kehidupan, tetapi Allah menghadirkan keluarga baru sebagai peneman.


Suami yang semula hanya menganggapnya perawat, kini mencintainya dengan tulus. Mertua yang awalnya menganggap rendah sekarang menerimanya dengan ikhlas.


Ia sangat bersyukur mendapatkan banyak cinta dan kasih sayang dari orang-orang berharga.


"Terima kasih," gumamnya lalu memberikan kecupan di dahi suami dan putra keduanya.


Baru saja ia hendak membersihkan tubuh, sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang.


Aroma mint yang menguar membuat kedua celah bibirnya melengkung sempurna.


Rania menyandarkan punggung sempitnya di dada bidang sang suami, rasa nyaman menyeruak membuatnya menghela napas pelan.


"Kenapa kamu hanya mencium ku di dahi saja, hm?" tanya Jim-in menggodanya.


Rania pun menyikut ulu hatinya pelan membuat sang empunya terkekeh.


"Pasti berat menjadi ibu dan pelajar, kan?" bisik suara serak nan lembut dari belakangnya lagi.


Rania hanya bergumam em tanpa banyak bicara. Jim-in meletakan dagu di bahu kanan sang istri, manik kecilnya menutup merasakan raksi dalam tubuh pujaan hatinya menguar secara perlahan.


"Aku yakin kamu bisa melewati semua ini. Karena aku tahu kamu wanita yang sangat hebat," pujinya.


Rania melepaskan pelukan lalu berbalik menghadapi suaminya. Pandangan mereka saling bertubrukan menyelami keindahan bola mata masing-masing.


Tangan rampingnya terulur, mengalung di leher jenjang Jim-in. Sang pengusaha sekaligus mantan atlet memanah itu mengembangkan senyum sembari meletakan kedua tangan di pinggang Rania, posesif.


"Em, tidak usah sungkan Sayang. Sudah menjadi tugas ku selalu mendukung dan menyemangati apa yang terbaik untuk kekasihku ini," balas Jim-in membelai wajah mulus sang pujaan.


Rania tersipu, kedua pipinya merona. Ia benar-benar beruntung bisa mendapatkan seorang suami yang paling pengertian.


"Aku juga... aku akan selalu mendukung apa pun yang Oppa lakukan selama itu berada di jalan kebaikan," balas Rania kemudian, Jim-in hanya mengangguk sebagai jawaban.


Detik demi detik berlalu, secara naluri keduanya pun saling mendekat hingga napas satu sama lain terasa menyapu permukaan kulit.


Sedetik kemudian penyatuan pun terjadi. Jim-in mengangkat tubuh istrinya kuat seraya berjalan menuju kamar mandi.


Tanpa melepaskan pagutannya, mereka menikmati setiap sentuhan yang diberikan. Sampai pintu pun tertutup dan selanjutnya kegiatan memabukan tengah terjadi.


...***...


Hari ini Rania dan Zahra memulai magang di salah satu rumah sakit besar di ibu kota. Keduanya bersama beberapa rekan mahasiswa lainnya tengah mengikuti arahan dari perawat senior di sana.


Kurang lebih satu setengah jam kemudian, mereka mendapatkan tugas untuk membantu perawat di sana untuk melayani pasien.


Beruntung, Rania dan Zahra mendapatkan shift pertama yang sama. Mereka begitu antusias kala pertama kali mendapatkan praktek langsung di rumah sakit sekaligus menangani pasien.


"Ugh, rasanya punggungku pegal sekali," keluh Zahra sembari berusaha memijat punggungnya perlahan.


Rania terkekeh pelan melihat kelakuannya. "Kita baru magang belum bekerja sungguhan kamu sudah mengeluh? Ya ampun," ucapnya menggeleng-gelengkan kepala.


Zahra menghela napas kuat, terkulai lemas. "Mau bagaimana lagi di hari pertama kita magang sudah berhadapan dengan banyak pasien."


"Semangat, ini tujuan kita sebagai perawat yaitu merawat orang sakit," kata Rania lagi, Zahra hanya manggut-manggut mengerti.


Rania dan Zahra tengah berjalan di lorong setelah kurang lebih empat jam menjalankan tugas sebagai pegawai magang.


Saat ini mereka hendak beristirahat menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim sekaligus menikmati makan siang.


Untuk kedua kalinya Rania maupun Zahra beruntung mendapatkan tempat magang yang sangat toleran.


"Eh, Rania?"


Langkah kaki keduanya terhenti saat seorang pria berjas putih memanggil salah satu dari mereka.


Rania terbelalak melihat dokter tampan itu tepat berdiri tidak jauh dari keberadaannya.


"Dokter Kim Seok Jin?" Panggilnya kemudian.


"MasyaAllah, sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabar suamimu?" tanya Seok Jin mendekat.


"Alhamdulillah, Jim-in oppa baik. Anda?" tanya balik Rania.


"Seperti yang kamu lihat, Alhamdulillah aku juga baik," balas Seok Jin lagi.


Zahra yang sedari tadi hanya menjadi penonton pun menautkan kedua alis, heran. Ia tidak menyangka Rania mempunyai kenalan seorang dokter tampan seperti itu.


"Rania." Panggilnya pelan.


"Ah, maaf. Kenalkan ini sahabatku Zahra. Kami sedang magang di rumah sakit ini," ungkap Rania memperkenalkan keduanya.


Seok Jin pun mengangguk dan menangkupkan tangan di depan dada. Zahra yang melihat itu terpaku sekaligus terkesima.


"Kalau begitu selamat bertugas, kapan-kapan kita ngobrol lagi. Aku harus segera melakukan satu operasi lagi, sampai jumpa." Seok Jin pun melangkahkan kaki setelah mendapatkan anggukan dari kedua wanita itu.


"Wah, kamu benar-benar penuh kejutan Rania," ucap Zahra terkesiap, masih tidak percaya pada apa yang dialaminya sekarang.


Rania hanya mengembangkan senyum seraya menggelengkan kepala dan kembali melangkahkan kaki.


"Yak! Jelaskan lebih jauh lagi." Zahra menyusulnya ingin tahu seperti apa sosok dokter tampan tadi.