VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 93



Hujan mulai mereda, aroma khas yang menguar dari dalam tanah menyapa indera penciuman. Dinginnya memeluk sanubari mengalirkan kesedihan keluar untuk berganti kelegaan.


Tidak ada siapa pun yang luput dari setiap permasalahan. Dalam bentuk apa pun ujian demi ujian tetap menghampiri protagonis di kehidupannya sendiri.


Begitu pula yang tengah dirasakan oleh Rania dan Mi Kyong. Dua wanita yang memiliki permasalahan hidup berbeda.


Mereka masih berada di balkon berada dalam pembicaraan penting. Sedari tadi wanita berambut panjang itu menunggu apa yang hendak di sampaikan wanita berhijab di sebelahnya.


Dengan setia Mi Kyong menanti Rania yang kembali menutup mulut. Sampai suara halus itu kembali menyapa pelan.


"Awalnya... pernikahan kami tidak berjalan mulus. Tuan muda Park Jim-in hanya menganggap ku sebagai perawat pribadinya. Karena dari awal pernikahan kami hanya sebatas kontrak kerja sama dan perjodohan belak. Maka tidak ada hak apa pun yang bisa aku terima di sana."


"Aku... tidak lebih dari seorang pelayan di rumah itu yang seenaknya disuruh-suruh."


"Seperti bukan istri dan menantu, keberadaan ku di mansion megah Park hanyalah sebatas pajangan. Di kala mereka butuh aku harus siap siaga memenuhi kebutuhannya."


"Sampai tuan muda menghadirkan orang ketiga di rumah tangga kami. Kamu tahu? Siapa wanita itu? Iya, dia Han Yuuna. Wanita yang sangat dicintai Park Jim-in."


Mendengar kesaksian yang tidak pernah didengarnya, membuat bola mata Mi Kyong melebar. Pandangannya jatuh ke bawah menyaksikan air hujan mengalir di teras rumah.


Ia diam membeku bak bongkahan es besar, tidak menyangka jika kebenaran itulah yang dilalui Rania.


Merasa tidak ada pergerakan dari lawan bicaranya, Rania menoleh dan tersenyum singkat.


Ia lalu membuka mantel panjangnya dan disampirkan pada Mi Kyong. Pergerakan tersebut membuat ia tersadar dan terkejut bukan main.


"Di luar dingin sekali, seharusnya aku tidak membawamu ke sini," kata Rania menjelaskan.


Mi Kyong terkesiap beberapa saat seraya terbelalak lebar.


"Kenapa? Kenapa kamu menceritakan semua ini padaku?" tanyanya bingung.


"Karena aku ingin kamu tahu apa yang sudah... aku alami selama ini. Aku bukan membandingkan siapa yang paling menderita, tetapi... aku ingin kamu sadar. Pria yang kamu cintai tidak sebaik pikiranmu."


"Dulu dia sangat arogan, tidak berperasaan, dan memperlakukan ku seperti pesuruh. Kamu beruntung tidak menemukan hal itu darinya, bukan?"


"Jadi, jangan pernah berkata jika semuanya sudah terlambat dan tidak bisa diperbaiki. Juga, jangan pernah mengatakan kamu tidak seberuntung orang lain. Karena kita memiliki hak istimewa masing-masing."


"Kalau kamu mau membuka hati dan memberikan kesempatan pada siapa pun yang sudah memberikan luka di hati... maka akan ada kebaikan menghampiri."


"Kamu lihat Park Jim-in sekarang? Dia berubah selepas rasa sakit itu diberikan, aku yakin di luar sana ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus, Mi Kyong."


"Aku juga berharap, kamu bisa memaafkan orang tuamu. Mereka hanya terlena oleh kesibukan dan lupa jika anak tidak hanya membutuhkan harta saja, tetapi yang lebih penting dari itu. Kamu tahu sendiri, bukan? Kasih sayang."


Senyum tulus mengembang di wajah cantik Rania. Untuk kesekian kali Mi Kyong melebarkan pandangan pada setiap kata maupun ekspresi diberikan wanita di sampingnya.


Ia tidak pernah menduga, Rania bisa menceritakan masa lalu kelamnya dengan begitu tenang. Ia memang tidak tahu apa yang sudah terjadi pada pernikahan mereka.


Mi Kyong hanya tahu jika Park Jim-in bahagia dengan rumah tangannya sampai mendapatkan dua buah hati. Namun, tanpa diduga semua itu balasan dari luka, sakit hati, perih, nan pedih kenangan yang pernah terjadi.


Ia kembali menunduk dalam merasakan kehidupannya selama ini. Ia tidak pernah mendapatkan apa pun yang diinginkan, malah sebaliknya orang tua terus menuntut ini itu. Mi Kyong tidak bisa berkata tidak pada mereka, sebab semua percuma hanya mengundang kemarahan.


Karena itu ia melampiaskannya di luar. Kesenangan sementara yang ia dapatkan sedikitnya bisa melupakan rasa sakit.


"Bagaimana bisa kamu memberikan kesempatan pada mereka? Bukankah kamu tadi juga mengatakan kalau, nyonya Park memperlakukanmu tidak baik?" tanya Mi Kyong penasaran.


"Itu benar, bahkan beliau terang-terangan mengatakan jika aku hanyalah perawat anaknya dan memperlakukan Yuuna seperti menantu idaman tepat di depan mataku."


"Bahkan nyonya Park dengan tega membakar rumah sederhana peninggalan orang tuaku," jelasnya lagi.


Mi Kyong kembali terkejut, tidak menyangka Park Gyong bisa berlaku kejam seperti itu.


"Ba-bagaimana-"


"Karena pada saat itu beliau mengira aku mempengaruhi anaknya untuk keluar dari mansion," jelas Rania cepat.


"Ya Tuhan!" ucap Mi Kyong menggelengkan kepala singkat.


Rania mengembangkan senyum lagi mengerti apa yang dipikirkan Mi Kyong. Bola matanya bergulir melihat kedua tangan wanita itu mengepal kuat.


"Jadi, Mi Kyong... berikan kesempatan kedua bukan untuk mereka... tetapi, untuk dirimu sendiri."


"Maksudmu?"


"Maksudku, maafkan mereka agar hatimu tenang dan tidak ada pikiran negatif lagi. Biarkan semuanya berjalan seperti air mengalir. Karena bagaimanapun juga waktu terus berputar dan kapan saja bisa membuat seseorang berubah, termasuk... dirimu."


Kata-kata Rania mengalun bagaikan musik klasik yang pernah dirinya dengarkan di luar negeri. Ia terpaku di sebuah toko buku tua dan melihat seorang pria baya tengah bersenandung seraya membersihkan barang-barang dagangannya.


Ia terkejut saat menyaksikan seorang anak kecil berlarian menghampirinya. Kakek tua itu menyambut kedatangannya dengan ramah dan memeluk anak kecil tadi ke dalam pelukan hangat.


Canda dan tawa mereka mengundang kehangatan ke dalam hati Mi Kyong. Ia terkesima dengan kesederhanaan yang keduanya miliki.


Selintas pikiran "apa aku bisa seperti mereka?" terus berdengung. Ia menarik kembali kedua kakinya menjauhi toko tersebut dengan harapan itu menetap hingga sekarang.


"Apa aku bisa seperti mereka?" gumamnya lirih yang samar-samar bisa didengar Rania.


"Eh, apa kamu mengatakan sesuatu?" tanyanya langsung.


Mi Kyong mendongak dan bertatapan lagi dengannya.


"Apa kamu pikir aku bisa mendapatkan kasih sayang dari mereka?" Pertanyaan itu meluncur deras dari celah bibir semerah cherry nya.


Lagi dan lagi Rania memperlihatkan lengkungan bulan sabit yang terpendar di wajah cantiknya lalu mengangguk singkat.


"Tentu saja, kamu putri satu-satunya orang tuamu. Sudah pasti eomma dan appa akan memberikan kasih sayang itu."


"Dari awal mereka memang sudah memberikannya, tetapi dengan cara yang salah. Semoga setelah adanya kejadian ini orang tuamu bisa segera sadar. Aku yakin kamu bisa berubah menjadi Song Mi Kyong yang sesungguhnya," kata Rania mengembangkan senyum lebar.


Wajah ceria nan cerahnya membuat Mi Kyong terpaku. Ingatannya berputar ke hari-hari lalu di mana ia hampir merebut suami dari wanita yang kini memberikan nasehat terbaik untuknya.


"Rania, bisakah aku memelukmu?"


Kini giliran Rania terbelalak, tanpa mengatakan sepatah kata, ia langsung melemparkan diri ke dalam pelukan Mi Kyong.


"Tentu saja," ucapnya pelan.


Mi Kyong tidak bisa membendung air mata dan menangis begitu saja sembari membalas pelukan Rania tak kalah erat.


"Aku... benar-benar minta maaf Rania. Aku sudah berlaku tidak baik padamu, bahkan... aku sempat menjadi perusak rumah tangga kalian dan ingin merebut Jim-in darimu," ucap Mi Kyong sangat menyesal.


Rania menggeleng singkat. "Kita lupakan saja, apa yang sudah berlalu. Kemarin hanyalah sebuah kecelakaan yang tidak bisa kita hindari. Mari kita buka lembaran baru tidak usah melihat ke belakang lagi."


Mi Kyong pun mengangguk dan benar-benar menyesali perbuatannya.