
Hujan datang melanda, guntur saling bersahutan memberikan cahaya petir terus menyambar. Kilatannya menggelegar seperti hendak melahap apa pun di bawah sana.
Malam semain larut, keheningan berganti kengerian, awan hitam menyelimuti langit menyembunyikan keindahan.
Angin berhembus kencang ditambah lolongan hewan liar menambah ketegangan. Tidak ada yang berbicara di sana, selain wanita berambut panjang tengah dilingkupi emosi.
Rasa marah, kecewa, benci menjadi satu dalam bentuk air mata berlinang. Tidak ada yang mengerti selain diri sendiri, semua orang hanya bisa menatap kasihan tanpa merasakan.
Sejatinya jika belum melewatinya sendiri, maka tidak bisa memahami.
Itulah yang tengah Song Mi Kyong rasakan. Ia tahu tatapan semua orang di sana selain kasihan, pasti iba.
Amarah tak terbendung membentuk luapan perasaan. Sepanjang hidupnya selama tiga puluh empat tahun, hanya ada kesepian tanpa kasih sayang.
Harta hanya sebatas kesenangan belaka tidak bisa membeli perhatian serta cinta kasih orang tua. Kehilangan kasih sayang diusia dini menjadikan sosok Song Mi Kyong bak memiliki kepribadian ganda.
Di hadapan orang tercinta ia bisa memberikan senyum ramah, sikap yang baik, serta berprilaku sebagai wanita terhormat. Namun, di luaran sana ia berubah menjadi diri sendiri, melampiaskan kesedihan bersama minum minuman beralkohol, dunia kelam, dan kebebasan lainnya.
Song Yeri serta Song Hwan tidak tahu jika putri satu-satunya mempunyai masalah mental, dan tanpa di sadari semua itu disebabkan oleh mereka.
Keduanya pikir hanya memenuhi kebutuhan anaknya saja itu sudah lebih dari cukup.
"Sa-Sayang, maafkan Eomma dan Appa... kamu menanggung rasa sakit ini sendirian," kata Yeri menyaksikan air mata berlinang buah hatinya.
"Kami tidak tahu kalau kamu terluka seperti ini. Appa benar-benar minta maaf," lanjut Hwan menyesal.
"Semua sudah terlambat, tidak ada yang bisa diperbaiki. Aku hancur... aku sudah hancur... aku benar-benar hancur!" celoteh Mi Kyong meremas dada sebelah kiri, betapa sakit nan terluka hatinya.
Bertahun-tahun ia dituntut menjadi putri keturunan Song yang elegan, anggun, dan terhormat. Namun, tidak ada satu pun keinginannya yang mereka kabulkan.
Keinginan Mi Kyong sederhana, ia hanya ingin menjadi seorang atlet memanah wanita agar bisa mengimbangi pria tercinta. Namun, cita-cita sederhana itu tidak pernah diindahkan oleh ayah maupun ibunya.
Ia pergi keluar negeri guna melampiaskan amarah terpendam serta berusaha melupakan pria tercinta, tetapi kenyataan menampar keras.
Ia mendapati Park Jim-in telah menikah dan hidup bahagia. Semua hancur membuat ia menjadi pribadi yang lain.
"Tidak ada yang benar-benar bisa aku dapatkan. Semuanya hanyalah milik mereka yang beruntung... aku sama sekali tidak beruntung. Aku... anak yang sangat sial!" lirih Mi Kyong menunduk dalam menyembunyikan kesedihan.
Suaranya mengalun ke indera pendengaran semua orang di sana, menarik simpati untuk mengasihani putri keturunan Song tersebut.
Mereka membiarkan hening mengambil alih, sampai suara lembut seseorang mengejutkan Mi Kyong yang seketika itu juga langsung menarik pandangan.
"Tidak ada seorang anak pun dilahirkan dengan kesialan. Kamu... berharga bagi orang-orang yang beruntung memilikimu."
"Tidak ada kata terlambat selagi kita mau memperbaiki diri. Tidak ada yang tidak bisa diperbaiki, selagi kita mau berusaha. Jangan menyerah pada keadaan Song Mi Kyong, kamu... berhak mendapatkan kebahagiaan."
"Mungkin... kamu tidak bisa memiliki pria yang dicintai, bukan karena takdir tidak memihak mu... bisa saja, pria itu memang bukanlah yang terbaik. Lihatlah di sisi yang lain, jangan terus melihat ke satu arah. Kamu mempunyai kehidupanmu sendiri, yang jauh lebih beruntung dari orang lain," racaunya terus menarik atensi.
Mi Kyong terpaku, tidak bisa memalingkan wajah ke arah lain. Manik berlensa cokelat beningnya terus menatap sang lawan bicara.
"Bagaimana... bagaimana bisa kamu, Rania? Kamu bisa berkata seperti itu... karena tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan," ucap Mi Kyong sendu.
Lengkungan bulan sabit hadir mengenyahkan bisingnya air hujan di luar rumah. Rania melangkahkan kaki ke arahnya yang seketika membekukan Mi Kyong.
Kedua wanita itu saling berhadap-hadapan dengan jarak yang lumayan dekat.
"Mau aku ceritakan satu kisah? Em, bagaimana kalau kita bicara berdua saja di sana? Ayo."
Jim-in melihat kepergian sang istri seraya membawa Mi Kyong pun terkesiap. Ia pun hendak menyusul mereka, tetapi langsung dicegah oleh Seok Jin.
"Jangan mengganggu, biarkan mereka berdua," katanya.
"Bagaimana mungkin? Apa tidak apa-apa membiarkannya begitu saja? Aku takut-"
"Jangan khawatir, Tuan. Saya yakin Rania bisa mengatasinya, juga... saya tahu apa yang sedang direncanakannya," potong Hana cepat.
Mau tidak mau Jim-in membiarkan Rania berdua saja dengan Mi Kyong. Ia sangat khawatir, mengingat keadaan mental sang sahabat belum stabil.
Ia takut Mi Kyong melakukan hal di luar dugaan dan menyakiti sang istri.
"Jangan khawatir semua akan baik-baik saja, percayakan pada istrimu," lanjut Seok Jin lagi.
Jim-in menghela napas kasar dan mengangguk seraya memandangi siluet dua orang terdekatnya di balkon.
Yeri, Hwan, serta Ailee pun melihat ke arah yang sama berharap keadaan menjadi lebih baik.
Setelah itu pria dan wanita paruh baya tersebut menyeret Ailee untuk dinasehati. Tidak lupa, Jim-in, Seok Jin, Zahra, Hana, serta Won Shik beralih ke ruangan lain.
...***...
Udara dingin menusuk kulit, menerjang dua sosok yang tengah menepi di balkon. Gelap mendominasi pemandangan sekitar menyembunyikan kecantikan malam.
Sesampainya di sana, Rania dan Mi Kyong berdiri berdampingan. Dua wanita yang terlibat dengan satu pria pun menikmati angin menyapu wajah polos mereka.
Kedua sudut bibir Rania kembali membentuk kurva sempurna. Ia memberikan waktu beberapa saat bagi Mi Kyong untuk menenangkan diri.
Sampai tidak lama berselang, suara serak di sampingnya menyadarkan.
"Apa yang ingin kamu sampaikan? Kenapa membawaku ke sini?" ujar Mi Kyong membuka pertanyaan.
Rania mendongak, menatap langit gelap gulita dengan air hujan terus turun tanpa henti. Bagikan kisah hidup seseorang yang tidak pernah luput dari setiap permasalahan.
"Kamu tadi bertanya, bukan? Aku berkata seperti itu... karena tidak merasakan apa yang kamu rasakan? Maka pertanyaan itu aku kembalikan padamu?"
Kepala berhijab Rania menoleh ke samping kanan dengan senyum penuh arti mengejutkan lawan bicaranya.
Song Mi Kyong tercengang, dahi tegasnya mengerut dalam tidak mengerti apa yang dikatakan Rania.
"Apa maksudmu?"
"Karena... kamu juga tidak merasakan apa yang sudah aku lewati selama ini, kan?" Rania menarik diri lagi dengan menatap lurus ke depan.
Ia meremas besi pembatas harus diingatkan kembali dengan kenangan memilukan. Baginya masa lalu tidak usah dibuka lagi, biarkan catatan kelam itu hanya dirinya saja yang merasakan.
Namun, kini kenyataan menuntut ia untuk membukanya guna menyadarkan orang lain. Sebagai sesama wanita terlebih kehilangan kasih sayang orang tua, Rania bisa merasakan bagaimana terlukanya Song Mi Kyong.
Ia juga pernah di posisi ini setelah ayah dan ibu meninggal dunia, terutama perlakuan sang suami serta ibu mertua yang Rania pikir bisa memberikan kasih sayang lebih, nyatanya hanya mengandung luka.
Varsha yang hadir di masa itu bagaikan air hujan turun malam ini. Isak tangis yang terjadi hanya mampu memudarkan keperihan, tanpa menghilangkan. Bayangan masa-masa itu kapan pun bisa teringat.
Seperti pada kesempatan kali ini, entah kenapa kenangan menyakitkan yang diberikan suami juga ibu mertuanya datang menerpa.
Rania berharap setelah menceritakan semuanya Song Mi Kyong bisa ikut berubah juga.