
Kereta bayi itu kini sudah berada di tengah jalan dan hanya berjarak kira-kira 5 meter saja dari mobil yang sedang melaju dengan sangat kencang ke arahnya.
"Tidak!! Anakku!!" teriak sang ibu bayi begitu histeris dan sangat ketakutan.
Rasanya seluruh tubuh sang ibu bayi sudah begitu lemas dan tak bertenaga saat menyaksikan semua itu. Semua orang yang sedang berada di lokasi ini juga terlihat begitu was-was dan khawatir melihat kereta bayi itu.
Karena untuk berlari mencapai kereta bayi itu dan menyelamatkan sang bayi adalah hal yang tidak mungkin lagi jika dipikir menggunakan logika dan akal sehat, karena jarak mobil itu sudah begitu dekat sekali.
CKIITT ...
WUSHH ...
SWOHH ...
"Tidakk ... anakku!!" teriak sang ibu bayi lalu ambruk dan terduduk di atas jalanan sambil menangis meraung-raung.
Namun kini semua orang dibuat melongo, karena tak ada apapun di depan mobil yang tadinya melaju dengan kencang yang tiba-tiba saja kini sudah berhenti karena melakukan pengereman secara mendadak.
Namun tiba-tiba saja seorang pemuda dengan penampilan kasual dan santai terlihat sedang mendorong sebuah kereta bayi mendekati sang ibu yang masih menangi itu.
"Bibi ... lain kali lebih berhati-hatilah dan jaga anakmu dengan baik. Hal seperti itu sangatlah berbahaya. Jika terlambat satu detik saja, semuanya akan sangat fatal." ucap pemuda yang tak lain adalah Ellios itu dengan ramah.
Sang ibu bayi kini mulai mendongak menatap Ellios. Setelah melihat kereta bayi yang didorong oleh Ellios, sang ibu segera bangkit dan berdiri kembali untuk melihat anaknya di dalam kereta bayi itu.
Terlihat seorang bayi mungil yang begitu lucu sedang bermain dengan mainan bayinya. Sang ibu yang menyadari jika anaknya baik-baik saja, kini segera menghembuskan nafas penuh kelegaan lalu segera menggendong dan memeluk bayinya yang kira-kira masih berusia 4 bulan.
"Terima kasih banyak, Nak. Aku sungguh tidak tau apa yang terjadi jika saja kamu tidak menyelamatkan putriku. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih untukmu." ucap wanita itu dengan sepasang matanya yang masih terlihat berkaca-kaca menatap Ellios.
"Sama-sama, Bibi. Lain kali lebih berhati-hatilah ..." sahut Ellios dengan sopan lalu sedikit membungkukkan badannya dan segera berlalu untuk segera kembali mengerahkan kekuatannya untuk mencapai kampusnya.
"Wah ... sial! Waktu yang tersisa hanya 2 menit 12 detik lagi! Ayo lebih cepat lagi, Ellios!!" gumamnnya sambil berlari dengan kecepatan supernya.
SWUHH ...
SWOSH ...
Ellios terus berlari hingga akhirnya sampai di aula kampusnya tepat beberapa detik sebelum profesornya memasuki aula itu.
"Huft ... akhirnya aku sampai tepat waktu." gumam Ellios yang sudah terduduk di kursinya sambil mengatur nafasnya yang sudah naik turun tidak beraturan.
"Kamu kesiangan lagi ya?" tanya Jullian setengah berbisi.
"Iya. Semalam aku mengerjakan tugas kuliah dan tidur terlalu larut. Hoamm ... ngantuk sekali!" sahut Ellios belan sambil menguap lagi.
"Cih ... mengerjakan tugas apanya?! Padahal kamu makan malam bersama dengan Alisha bukan?" tampik Jullian mengerucutkan bibirnya dan melirik Ellios.
"Darimana kamu tau itu, Jullian?" tanya Ellios keheranan dan melirik sahabatnya.
"Saat aku keluar, tak sengaja aku melihat kalian saat menaiki sebuah taxi. Kalian pacaran lagi ya?" tanya Jullian ingin tau.
"Tidak kok ..." jawab Ellios menjadi sedikit gelagapan dan segera berpura-pura untuk mengeluarkan buku membukanya.
"Eh ... aku kira kita sedang berada di kelas Biologi." kilah Ellios masih kikuk dan segera mengeluarkan buku Algoritma miliknya dan memasukkan kembali buku Biologinya.
Jullian menahan tawa dan menbungkan mulutnya dengan punggung telapak tangannya.
"Udah deh, mending ajak Alisha pacaran lagi sebelum kamu terlambat." imbuh Jullian.
Namun Ellios tak menghiraukannya lagi dan mulai memperhatikan sang profesor saat menjelaskan tentang mata kuliahnya hari ini.
...⚜⚜⚜...
Setelah jam kuliah hari ini berakhir, Ellios dan Jullian mengunjungi Queen's Square Mall bersama, karena Ellios akan membeli sebuah ponsel baru untuk dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat memeriksa dan membandingkan spesifikasi dari masing-masing ponsel, akhirnya Ellios mulai memilih salah satu ponsel itu.
"Tumben sekali kamu mau beli ponsel baru, Ell. Biasanya kamu lebih suka memperbaiki ponselmu sendiri." tanya Jullian keheranan.
"Aku sudah berulangkali memperbaikinya, bahkan sudah sering aku mengganti spare part-nya. Namun selalu saja mengalami kerusakan yang sama. Jadi tak ada pilihan lain selain membeli yang baru lagi deh." sahut Ellios seadanya.
Ellios mulai menikmati chicken yakiniku miliknya, karena saat ini Ellios mengajak Jullian untuk makan bersama di salah satu kafe di dalam restoran itu.
"Hhm. Lagipula ponselmu juga sudah cukup lama kamu gunakan bukan? Sudah saatnya kamu menggantinya." sahut Jullian memasukkan potongan kecil daging wagyu ke dalam mulutnya.
"Yeap. Sudah hampir 7 tahun aku memakainya. Dan ponsel itu adalah pemberian dari ayah." sahut Ellios seadanya.
"Oh iya, Ellios! Aku baru ingat sesuatu!" ucap Jullian tiba-tiba dan terlihat sangat bersemangat.
"Ada apa?"
"Aku memiliki 2 buah tikep VVIP untuk melihat konser Oichi di akhir pekan! Aku memenangkan sebuah undian! Hehe ... kamu mau kan datang bersama dan menemaniku untuk melihat konsernya? Please, Ellios!! Dewi Oichi yang sangat cantik dan sexy akan melangsungkan sebuah konser spektakuker! Kamu temani aku ya!! Please!!" pinta Jullian penuh harap dan memperlihatkan mata kucingnya saat menatap Ellios.
"Huft ... ajak yang lain saja deh! Aku tidak suka menonton pertunjukan musik. Kamu tentu tau itu bukan, Jullian?" jawab Ellios dengan malas dan mulai menikmati makanan ya kembali.
"Kamu kan satu-satunya teman yang aku miliki, Ell. Ayolah, please ... aku akan traktir kamu sepuasnya deh jika kamu mau pergi bersama denganku." ucap Jullian lagi memohon. "Dan aku akan belikan buku terbaru yang kamu inginkan deh. Pilih saja mana yang kamu mau, asal kamu mau menemaniku melihat konser dewi Oichi deh." imbuh Jullian berusaha untuk bernegosiasi dengan Ellios.
"Baiklah! Deal! Aku setuju!" sahut Ellios dengan cepat tanpa pikir panjang lagi.
Untuk membujuk Ellios sebenarnya adalah sangat mudah. Bujuk dan rayu saja dengan tawaran akan membelikan buku terbaru, pasti Ellios akan segera menerima negosiasi itu.
Padahal Ellios bisa dengan mudahnya mendapatkan dan membeli apapun, karena Ellios memiliki hadiah dana yang cukup banyak saat ini. Nanun terkadang Ellios sering sekali melupakan hal itu.
Tiba-tiba saja Ellios mulai teringat sesuatu. Dengan cepat Ellios segera melirik jam tangannya yang melingkar manis pada tangan kirinya.
Gawat sudah jam 3.45 PM! Aku harus segera pergi ke Rainbow Bridge sekarang juga!!
Batin Ellios segera meminum jus jeruknya dengan cepat lalu menggendong ranselnya dengan bahu kanannya saja.
"Jullian, aku harus segera pergi dulu! Tolong bayar dulu semuanya! Besok aku akan mengganti uangmu!" ucap Ellios lalu bergegas pergi begitu saja sebelum Jullian menjawabnya.