
Di dalam sebuah ruangan rawat Kakei terlihat sedang menjaga Ellios seorang diri. Pemuda yang sudah selama 1 tahun ini menjabat posisi sebagai kapten basket di kampusnya itu menatap nanar Ellios yang masih belum sarkan diri.
Raut wajahnya dipenuhi dengan ketidakmengertian namun begitu simpati menatap Ellios yang masih terbaring di atas brankar di hadapannya itu.
Anak ini rupanya memiliki masalah hidup yang cukup berat. Bahkan masalah berat ini, selama ini hanya disimpan dan disembunyikannya seorang diri. Tak ada seorangpun yang mengetahuinya, baik keluarga maupun temannya. Kuat dan tegar sekali kamu, Ellios.
Batin Kakei membayangkan kehidupan Ellios yang selama ini rupanya sudah mengidap sebuah penyakit yang cukup mematikan. Kanker darah stadium akhir. Membuat Kakei merasa ngilu sendiri saat membayangkannya.
"Emhh ..." Ellios mulai bersuara dan sedikit merubah posisi tidurnya.
Hingga akhirnya sepasang mata Ellios kini mulai terbuka perlahan. Pandangannya sedikit kabur saat menatap sekitarnya, namun perlahan mulai jelas kembali.
"Kakei ... mengapa aku ada di rumah sakit? Dan mengapa kamu ada disini?" tanya Ellios setelah menyadari keberadaan Kakei yang sedang duduk di sampingnya.
Kakei memejamkan sepasang matanya dan memijit keningnya pelan. Lalu Kakei mulai menghembuskan nafas kasarnya ke udara.
"Kamu mengapa begitu memaksakan diri, Ellios? Kamu sedang sakit dan tubuhmu sedikit lemah, namun kamu malah memaksakan diri dan bergabung dengan tim basket yang tentunya akan cukup banyak menguras tenaga dan membuatmu lelah." ucap Kakei dengan berat dan mulai beralih menatap Ellios yang saat ini kini mulai terduduk di atas brankar.
"Aku baik-baik saja kok. Mungkin saja aku hanya kelelahan saja hari ini." jawab Ellios berkilah dan masih berusaha untuk menutupi penyakitnya dari Kakei.
"Jangan bersandiwara lagi di hadapanku, Ellios! Dokter Ash sudah mengatakan semuanya kepadaku. Kamu mengidap kanker darah stadium akhir. Dan usiamu hanya tersisa hanya sebentar lagi." ucap Kakei yang tentu saja membuat Ellios terkejut bukan main.
Sepasang mata Ellios mulai membulat sempurna, rasanya hampir saja tak percaya. Selama ini Ellios sudah menyimpan semua itu dengan begitu apik dan rapi. Namun kali ini tiba-tiba saja orang lain yang mengetahuinya.
"Mengapa kamu menyembunyikan hal sebesar itu? Bagaimana perasaan keluargamu nanti? Apa kamu sungguh tidak menganggap mereka? Bahkan kamu sudah cukup lama menyembunyikan semua ini. Apa yang sedang kamu pikirkan, Ellios? Aku sungguh tidak mengerti! Kamu genius tapi kamu sangat egois dan tidak memikirkan orang terdekatmu." ucap Kakei yang sebenarnya cukup kesal dengan jalan yang telah diambil oleh Ellios.
"Kakei ... Aku tidak punya cara lain. Aku tidak mau mereka bersedih saat mengetahui semua ini. Aku tidak mau menambah beban orang lain. Jadi aku mohon padamu, Kakei ... jangan beritahukan hal ini kepada siapapun!" pinta Ellios penuh harap.
"Setidaknya mereka akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu, Ellios! Mereka akan selalu menemanimu dan memanfaatkan saat-saat terakhir bersamamu dengan mengukir kenangan manis bersama denganmu.." ucap Kakei masih kekeh dengan pemikirannya.
"Kakei, aku sangat memohon kepadamu. Aku tetap pada keputusanku. Aku harap kamu menghargai keputusanku." ucap Ellios berharap Kakei akan memahaminya.
"Ibuku sudah cukup tua, dan ayahku juga sudah tiada karena penyakit kanker darah juga. Selama ini ibu selalu bekerja keras sendirian hanya karena ingin memberikan kehidupan yang layak untukku. Aku tak ingin menambah beban pikiran dan hatinya. Ibu sudah cukup lelah selama ini, dan aku tidak mau dia semakin merasa lelah." imbuh Ellios lagi begitu lirih dan membuat hatinya sendiri merasa nyeri dan sesak.
Kakei menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan menautkan kedua jemarinya.
"Huft ... baiklah. Aku akan menjaga rahasia ini. Mulai saat ini kamu tidak perlu lagi bermain basket bersama kami. Kamu fokuslah untuk kesembuhanmu dan banyaklah beristirahat. Selama sisa usia 2 bulan lebih ini, aku akan membantumu untuk hal apapun. Jangan segan untuk mengatakan apapun jika kamu sedang membutuhkan sesuatu. Katakan saja padaku apapun itu. Biar bagaimanapun aku sudah berhutang padamu." jawab Kakei akhirnya.
Mendengar jawaban dari Kakei membuat Ellios merasa sedikit lega dan tersenyum tipis.
"Terima kasih, Kakei. Bagiku kamu mau menjaga rahasia ini saja aku sudah merasa sangat senang. Dan itu sudah lebih dari cukup." jawab Ellios dengan senyum mengembang.
Namun tiba-tiba Ellios mulai teringat dengan ucapan dari Kakei mebgenai sisa umurnya.
"Kakei, apa yang kamu katakan tadi? Sisa usiaku adalah 2 bulan lebih?" tanya Ellios dengan sepasang mata yang sedikit terbuka lebih lebar.
"Benar sekali, Ellios! Kamu harus tetap semangat ya! Meskipun waktu itu akan terasa sangat singkat." sahut Kakei sedikit menghela nafasnya.
Dua bulan lebih? Itu artinya umurku juga benar-benar bertambah. Dan hadiah dari sistem itu adalah benar-benar nyata. Ini sungguh keren sekali!! Itu artinya aku benar-benar bisa melawan penyakit mematikan ini! Dan aku juga akan merubah takdir hidupku! Keren!!
Batin Ellios menatap tangannya yang pernah dimasukkan sebuah chip saat baru pertama kali bertemu dengan Lovely.
CEKLEEK ...
Tiba-tiba saja pintu mulai terbuka tanpa ada sebuah kata permisi atau ketukan sebelumnya. Dan setelah beberapa saat, seorang pria dengan almamater putih kebanggaanya mulai melenggang memasuki ruangan rawat Ellios.
Dan dia adalah dokter Ash. Dokter yang selama ini menangani Ellios. Dokter Ash yang sudah berdiri di samping ranjang kini mulai tersenyum menatap Ellios.
"Ellios, kanker darah yang kamu alami seharusnya adalah sudah mencapai stadium akhir. Biasanya pada masa ini adalah ditandai dengan jumlah keping sel darah merah yang terlalu sedikit di dalam darah. Kelenjar getah bening, limpa, dan hati seharusnya juga mulai membengkak. Anemia juga sudah muncul beberapa saat yang lalu." ucap dokters Ash mulai menyilangkan kedua tangannya di hadapannya, semantara pandangannya masih menatap Ellios yang masih terduduk.
"Namun, aku cukup bingung setelah melakukan pemeriksaan terhadapmu, Ellios. Semua itu tidak terjadi pada bagian dalam tubuhmu. Bahkan kali ini kesehatan kamu sudah sedikit mulai membaik. Dan sebenarnya ini juga merupakan sebuah keajaiban!" imbuh dokter Ash yang merasa cukup bahagia setelah menyadari semua itu.
Senyuman Ellios mulai mengembang kembali. Dan kejadian ini membuatnya kembali teringat dengan Lovely, sang boneka pemandunya selama ini yang kali ini tiba-tiba saja sangat dirindukan oleh Ellios dan tak sabar untuk segera menimang dan berbincang dengan boneka itu.
...⚜⚜⚜...