
Jullian dan Ken masih menatap lekat obat-obat berwarna merah, kuning dan kehijauan itu dengan penuh kecurigaan. Karena selama ini Ellios tak pernah terlihat mengkonsumsi obat-obatan.
"Ellios!! Kamu sakit apa?" tanya Jullian semakin memicingkan sepasang matanya menatap Ellios.
Namun belum sempat Ellios menjawab pertanyaan dari Jullian, rupanya Ken malah menyerobot lebih dulu dengan mengatakan sesuatu.
"Bukankah itu adalah semacam obat imatinib atau imatinib mesylate? Aku sering melihat obat seperti itu karena pamanku ada yang menderita leukimia." ucap Ken tiba-tiba yang seketika sukses membuat Ellios dan Kakei mematung.
Tidak seperti Jullian yang semakin mengkerutkan keningnya saat mendengarkan ucapan dari Ken. Karena selama ini Jullian memang tak pernah mengetahui jika Ellios sedang sakit.
"Leukimia?" gumam Jullian tak mengerti.
"Benar sekali. Itu adalah semacam obat untuk menangani leukimia atau kanker darah. Imatinib merupakan obat antikanker golongan penghambat protein kinase atau protein kinase inhibito." ucap Ken mulai beralih menatap Ellios dengan penuh kecurigaan. "Ellios ... jangan-jangan kamu ... mengidap penyakit leukimia?" imbuh Ken masih tak mempercayai semua itu.
"Uhm ... itu ... anu ... sebenarnya ..." ucap Ellios kebingungan, seakan sudah tak memiliki kesempatan lagi untuk mengelak kembali.
"Ellios! Apa yang dikatakan Ken adalah benar? Apa kamu sedang sakit? Kamu sakit kanker darah? Benarkah itu, Ellios?" kali ini Jullian mulai bertanya dan masih begitu syok.
Butuh beberapa saat untuk Ellios mulai memberikan jawaban untuk Ken dan Jullian. Karena hal itu adalah sesuatu yang sudah dengan rapat disimpannya seorang diri selama ini. Tentu saja Ellios merasa sangat ragu untuk memberitahukannya kepada mereka.
"Jullian, Ken ... maafkan aku ... sebenarnya ... aku memang sakit kanker darah." ucap Ellios akhirnya mulai jujur karena sudah tak bisa mengelak lagi. "Sudah cukup lama aku mengidap penyakit ini. Maafkan aku karena tak pernah bercerita padamu, Jullian." imbuh Ellios pasrah.
Mendengar pengakuan dari Ellios, sebenarnya cukup membuat Ken dan Jullian merasa terkejut kembali. Mereka berdua sungguh sangat tidak menyangka, jika Ellios memiliki sebuah penyakit mematikan di usia yang masih begitu muda.
"Sudah cukup lama?" tanya Jullian kembali.
Ellios mengangguk pelan dengan wajah kalutnya, "Kau benar, Jullian. Karena penyakitku ini adalah penyakit keturunan. Dan dokter memfonis umurku tak akan bertahan lama."
"Ellios!! Apa kamu serius?" kali ini Ken yang bertanya kembali seolah-olah masih tak percaya.
Lagi-lagi Ellios hanya mengangguk pelan.
"Mengapa kamu tidak bercerita kepadaku, Ellios? Mengapa hal sebesar ini kamu simpan sendiri? Apa bibi Suzuna tau soal ini?" tanya Jullian.
Ellios menggeleng pelan, "Aku mohon jangan beritahukan ibuku soal penyakitku ini."
"Mengapa kamu begitu egois, Ellios?! Hal sebesar ini mengapa malah kamu simpan sendiri? Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? Ini adalah masalah yang sangat serius!! Dan selama ini kamu juga menyembunyikannya dariku! Sebenarnya kamu ini menganggap aku apa?! Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?!" ucap Jullian kembali merasa kesal, kecewa dan marah luar biasa.
Ellios cukup kebingungan melihat dan mendenger Jullian yang terlihat cukup kebingungan. Namun belum sempat Ellios menjawab semua itu, kini Kakei mulai mengtakan seauatu.
"Ellios melakukan semua ini adalah karena Ellios memikirkan kita semua, Jullian. Ellios tidak ingin membuat beban untui orang lain, terlebih bibi Suzuna. Dan Ellios tidak ingin kita bersedih karena mengetahui itu semua." ucap Kakei menjelaskan.
Mendengar ucapan dari Kakei membuat Ellios tersenyum tipis, seolah-olah mengatakan "Terima kasih, Kakei."
"Tapi ... biar bagaimanapun semua ini harus diketahui bersama. Ini adalah masalah yang sangat serius, Ellios!" ucap Jullian lagi.
"Ken!! Namaku ..." ucap Jullian belum menyelesaikan ucapannya dengan sempurna.
"Jullian ... sorry! Aku sudah terbiasa memanggilmu Jullio." pangkas Ken.
"Aku mohon sekali kepada kalian. Tolong jangan beritahu ibuku mengenai penyakitku. Aku mohon ..." pinta Ellios penuh harap.
"Selama ini ibuku sudah tua dan cukup terbebani untuk mencari nafkah seorang diri hanya untuk memberiku kehidupan yang layak. Dia bekerja pagi hingga malam seorang diri, hanya untuk memenuhi kehidupan kita berdua. Jadi aku tidak ingin lagi menambah beban untuknya. Semua ini cukuplah aku saja yang mengetahuinya. Karena jika ibu mengetahui hal ini, ini akan membuat ibu semakin bersedih." ucap Ellios lagi, berharap teman-temannya mau memahaminya.
"Jadi aku sangat memohon kepada kalian. Tolong simpan rahasia ini ..." imbuh Ellios lagi.
"Sebenarnya aku cukup tak tega dengan bibi Suzuna. Dia begitu menyayangimu, Ell. Namun karena kamu meminta seperti ini, maka aku akan menyimpan rahasia ini." ucap Ken yang masih berdiri tepat di hadapan Ellios.
"Terima kasih, Ken. Karena kamu sudah memahaminya ..." ucap Ellios dengan tulus.
"Sama-sama, Ellios! Kami akan selalu ada untukmu, jangan pernah lagi merasa sendirian." ucap Ken lalu duduk di dekat Ellios dan menepuk bahu lebar Ellios.
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, Ken." ucap Ellios tersenyum penuh kelegaan.
"Hhm."
"Baiklah, Ellios. Aku juga tak akan memberitahukannya kepada bibi Suzuna." ucap Jullian akhirnya.
"Terima kasih, Jullian." sahut Ellios semakin merasa lega, karena teman-temannya sepakat untuk memenuhi permintaannya.
"Iya, Ell. Ya sudah pokoknya kamu harus selalu bersemangat untuk menjalani semua ini!! Untuk kesembuhanmu!! Jangan pernah putus asa!! Jika perlu aku akan menemanimu saat kamu melakukan kemoterapi." ucap Jullian.
"Iya, Jullian. Terima kasih ..." sahut Ellios.
Oh iya, ngomong-ngomong soal kemoterapi ... aku sudah tidak pernah melakukannya lagi semenjak bertemu dengan Lovely. Lagipula kemoterapi juga sangat menyakitkan. Sebaiknya aku hanya melakukan misi-misi dari sistem yang akan diberikan oleh sisitem Lovely saja. Hhm!! Begitu saja!!
Batin Ellios yang baru saja mengingat kemoterapinya yang sudah cukup lama dia lupakan selama ini. Karena akhir-akhir ini Ellios selalu disibukkan dengan misi-sisi sistem yang diberikan oleh Lovely.
"Jadi ... itu artinya selama ini Kakei sudah mengetahui semua ini ya? Dan itu adalah salah satu alasan Kakei selalu care dengan Ellios selama ini? Seperti yang baru saja Kakei lakukan. Tidak membiarkan Ellios mengikuti klub apapun di kampus? Apa perkataanku adalah benar?" ucap Ken menyimpulkan dan menatap Ellios dan Kakei secara bergantian.
"Uhm ... itu sebenarnya ..." ucap Kakei mengusap tengkuknya karena sebenarnya Kakei adalah tipikal pemuda yang cukup pemalu jika suasana hatinya terbaca oleh orang lain, misal kepeduliannya terhadap sahabatnya terbaca oleh orang lain.
Jullian yang mendengarkan hal ini, sebenarnya juga mulai ingin tau jawaban dari Ellios dan Kakei. Namun tiba-tiba saja sebuah notifikasi yang berasal dari ponselnya, membuatnya melupakan semua itu.
TRINNGG ...
Jullian mulai membuka sebuah pesan yang dikirim oleh Date, yaitu sebuah tautan link. Dengan cepat Ken membuka link tersebut karena begitu penasaran.
Sepasang mata Jullian mulai membulat sempurna ketika melihat beberapa foto dan artikel yang saat ini sedang ramai menjadi bahan perbincangan di seluruh media sosial.