To Be An Immortal Human By System

To Be An Immortal Human By System
Pembuat Onar



BRAAKK ...


Sebuah suara sesuatu yang terjatuh dengan cukup keras kini mulai membuat Ellios menghentikan aktifitasnya di depan sebuah layar kasir di dalam kedai ayam krispi.


Ellios mulai mendatangi sebuah ruangan yang digunakan sebagai penyimpanan beberapa barang. Kini Ellios mulai melihat Date yang rupanya sedang berusaha untuk menggeser sebuah meja dan mengambil sesuatu di dalam sebuah lemari.


"Date, kamu sedang mencari apa?" tanya Ellios ingin tau.


"Hanya sedang mencari senar gitar saja kok, karena senar gitarku ada yang putus." jawab Date mulai membawa sebuah gulungan senar gitar dan meninggalkan ruangan itu bersama Ellios. "Bagaimana keadaan bibi Suzuna saat ini? Apakah bibi Suzuna sudah menjadi lebih baik sekarang, Ellios?"


"Iya, Date. Ibuku sudah menjadi lebih baik kok. Hanya saja aku meminta ibu untuk beristirahat dulu. Maka dari itu aku yang menggantikan ibu selama beberapa saat ini." ucap Ellios mulai mengenakan celemek kerjanya karena sudah waktunya kedai ayam krispi buka.


"Syukurlah kalau begitu dan aku juga setuju denganmu. Sebaiknya biarkan bibi Suzuna sepenuhnya pulih dulu." ucap Date mulai menarik sebuah kursi kayu lalu mendudukinya kemudian mulai membenarkan senar gitarnya yang putus. "Hari ini mungkin aku akan sedikit datang terlambat, Ellios. Karena sore ini aku akan pergi ke bandara untuk menjemput temanku yang baru saja pulang dari Taiwan."


"Hhm. Tidak masalah kok. Lagipula pekerjaanmu hanya untuk bernyanyi dan untuk bermain musik saja kok. Jangan khawatir, Date." jawab Ellios dengan santai. "Ya sudah aku akan membantu yang lainnya dulu." imbuh Ellios menepuk bahu Date lalu mulai meninggalkan ruangan ini.


Belum sempat Ellios melakukan sesuatu lagi, tiba tiba ponselnya berdering. Ellios mulai meraih benda pipih dari dalam saku pakaiannya lalu segera menggeser tombol hijau itu setelah mambaca nama si pemanggil.


"Hallo, Alisha ..." sapa Ellios.


"Kamu tidak berangkat kuliah lagi?" tanya Alisha dari seberang line.


"Tidak, Alisha. Aku mengambil cuti kulian dalam beberapa hari ini." jawab Ellios.


"Oh begitu ya. Tapi kamu dan bibi Suzuna baik-baik saja kan?"


"Iya, Alisha. Kami baik-baik saja kok."


"Setelah aku pulang kuliah, aku akan datang kesana dan membantumu. Hari ini hanya ada beberapa mata kuliah saja kok."


"Uhm ... tidak perlu repot-repot, Alisha. Kamu pulang kuliah istirahat saja." ucap Ellios melolak karena merasa segan.


"Tidak, Ellios. Aku akan tetap datang! Biat bagaimanapun aku sudah banyak merepotkan dan berbuat salah padamu. Bibi Suzuna terluka karena kak Louis, dan kamu juga terluka karena melindungiku. Pokoknya aku akan datang untuk membantumu di kedai!" ucap Alisha kekeh.


"Huft ... sudah aku katakan itu bukan salahmu, Alisha."


"Pokoknya aku akan datang ..."


"Ya sudah deh. Lagipula aku juga kangen sama kamu. Beberapa hari tidak masuk kuliah dan kuga tidak bertemu denganmu." jawab Ellios malah menggoda Alisha


"Ahaha ... baiklah. Sampai jumpa, Ellios!" Alisha tertawa kaku dan mungkin merasa sangat malu saat ini hingga segera berpamitan dan mengakhiri panggilan itu.


Yeap, meskipun mereka hanya berbicara melalui sebuah panggilan telpon dan tidak bertatap wajah secara langsung, namun hal seperti tentu saja akan membuat mereka berdua malu dan kikuk.


Namun sepertinya tidak untuk Ellios, karena akhir-akhir ini pemuda yang memiliki hobi membaca buku itu, kini menjadi lebih berani dalam berkata dan menggoda Alisha. Tidak seperti dulu, bahkan selama menjalin ikatan selama 3 tahun, Ellios tak pernah mengatakan kata-kata manis di hadapan Alisha.


"Hhm. Bye ..."


Ellios mulai mengakhiri panggilan itu dan segera membantu pekerjaan para karyawan. Kini dia mengambil sebuah serbet dan membersihkan beberapa meja dengan penyemprot air sabun yang sudah dia persiapkan.


Tak terasa hari ini berlalu dengan cukup cepat. Karena begitu banyak pelanggan yang datang, hingga Ellios juga disibukkan dalam mengurus kedainya hingga tak terasa waktu berlalu begitu saja.


Siang hari, Alisha juga telah sampai di kedai sesuai dengan yang sudah dia janjikan sebelumnya. Dai segera mengenakan celemeknya dan mulai membantu mengantarkan beberapa pesanan untuk para pelanggan.


Saking sibuk dan ramainya, bahkan Alisha tak sempat berbincang bersama Ellios. Mereka hanya bisa saling bertatapan jauh dan saling tersenyum dengan sebuah anggukan pelan, lalu mulai melayani para pelanggan kembali.


Namun di tengah-tengah kesibukannya saat ini, tiba-tiba saja Ellios mulai mendengarkan suara sang pemandu sistemnya kembali dengan begitu jelas dan sangat jernih.


[ Misi akan segera dimulai, Tuan. Misi kali ini adalah menyelamatkan para pengunjung di dalam kedai ayam krispi ini dan mengalahkan para pembuat berandalan yang membuat kericuhan di kedai ayam krispi ini. ]


Menyelamatkan para pelanggan dan mengalahkan para pembuat onar di kedai ini? Berandalan mana lagi yang masih ingin merusak bisnis ayam krispi milik ibuku, Lovely?


Batin Ellios bertanya kepada Lovely.


[ Sepertinya mereka adalah suruhan dari seseorang, Tuan. Namun aku pastinya siapa orang-orang itu. ]


Jawab Lovely kembali.


Hhm. Baiklah. Mereka belum datang kan? Aku akan mengantarkan beberapa makanan dulu.


Batin Ellios mulai mengangkat sebuah nampan yang sudah berisi dengan beberapa pesanan dari pelanggan.


Setelah beberapa saat berlalu, beberapa pria sangar berbadan besar dan kekar bak genk yakuza terlihat mulai memasuki kedai. Mereka membawa senjata api lara pendek dan mulai menodongkan ke arah pelanggan.


Para pelanggan yang menyadari semua itu kini mulai berteriak histeris dan ada dari beberapa mereka berusaha untuk meninggalkan tempat ini, namun rupanya 3 pria sudah memblokir pimtu masuk.


TAR ...


PRANG ...


Sebuah puluru mulai mengudara dan mengenai sebuah lampu gantung hingga membuatnya pecah. Para gadis pengunjung mulai berteriak semakin histeris dan mulai ketakutan kembali.


"Tetap diam di tempat atau nyawa kalian akan melayang!! Jangan ada yang berusaha untuk melarikan diri, atau peluru panas ini akan menembus tubuh kalian!!" tandas salah satu pria sangar yang baru saja melepaskan sebuah pelurunya.


Semua orang mulai membungkam diri mereka masing-masing dan beringsut tak berani untuk bergerak sedikitpun. Mereka sangat ketakutan, bahkan ada beberapa dari mereka mulai terjatuh dan terduduk di atas lantai.


"Kalian semua pindah kesana!!" titah pria sangar itu masih menodongkan senjata api laras pendeknya dan meminta mereka semua untuk berpindah di satu titik di sebelah panggung minimalis itu.


Para pelanggan itu mulai berpindah pada titik yang sudah diperintahkan oleh pria sangar itu dengan langkah yang sangat hati-hati dan masih sangat ketakutan. Bahkan tubuh mereka sangat gemetaran saat ini, karena membayangkan peluru panas yang begitu mematikan itu.