
Di dalam sebuah meja berbentuk persegi dan berukuran sangat minimalis, kini sudah terduduk 4 orang pemuda yang menurut para gadis, mereka cukup bersinar dan tampan.
Mereka adalah Arata yang memiliki perawakan tinggi, besar dan cukup menawan. Lalu di sebelahnya ada Ken yang memiliki wajah tampan, manis dan selalu berpenampilan stylish dan fashionable.
Di seberang Ken sudah duduk Kakei, seorang pemuda berwajah dingin namun selalu menawan, karena Kakei juga cukup tampan dan memiliki badan proporsional. Dan tentu saja Kakei cukup populer di kampusnya, bahkan menjadi bintang lapangan basket!
Sementara di sebelah Kakei sudah duduk Ellios. Seorang pemuda genius yang sebenarnya cukup tampan namun wajahnya begitu kalem, polos dan apa adanya. Perilakunya juga selalu sopan. Ditambah lagi sekarang tubuhnya sudah semakin berisi dan lebih kekar karena hadiah dari sistem yang sudah Ellios dapatkan.
Mereka masih terlihat menikmati minuman bersoda dingin dan saling terdiam bahkan sudah lebih dari 10 menit berlalu, namun masih tak ada percakapan dari mereka berempat.
Entah mengapa suasana menjadi begitu canggung. Sementara Kakei yang duduk berseberangan dengan Ken saling bertatapan dingin. Seperti ada sebuah percikan api pada tatapan mereka berdua.
"Ehem ..." tiba-tiba saja Arata berdehem dan mulai menikmati minuman sodanya beberapa teguk. "Kakei, kamu bersikeras ingin ikut bersama dengan mereka berdua. Namun mau malah berdiam diri seperti ini. Apa yang membuat mood-mu menjadi buruk seperti ini?" imbuh Arata yang begitu memahami Kakei.
"Aku hanya ingin memakan ayam saja kok." jawab Kakei mulai memakan ayam krispinya dengan begitu bersemangat.
"Hhm ... iya. Kalian makan saja sepuasnya. Aku yang akan traktir. Jika masih kurang, aku akan mengambilkan lagi." ucap Ellios dengan ramah menatap ketiga teman yang baru beberapa pekan dikenalinya dengan baik.
Dan sebenarnya Ellios tak pernah menyangka, jika dia akan berteman dan semakin dekat dengan para mahasiswa yang cukup populer di kampusnya itu.
"Tunggu sebentar, aku akan ambilkan ayam krispi lagi." ucap Ellios beranjak dari tempat duduknya.
"Aku akan membantumu!" ucap Ken dan Kakei bersamaan, dan mereka berdua terlihat mulai saling bertatapan selama beberapa saat.
Semua ini terlihat begitu konyol dan lucu. Seakan Kakai dan Ken sedang memperebutkan seorang gadis saja. Padahal mereka hanya menyukai Ellios dan merasa nyaman saja saat berteman dengan Ellios.
"Eh ... uhm ... aku akan mengambilnya sendiri saja. Kalian tunggu saja disini." ucap Ellios dengan cepat karena merasa segan jika harus merepotkan teman-temannya.
Akhirnya dengan terpaksa Ken dan Kakei segera duduk kembali di bangku masing-masing. Sementara Ellios mulai melenggang meninggalkan meja itu.
Rupanya Suzuna yang masih berada di dapur sudah mempersiapkan beberapa piring yang sudah berisi dengan ayam krispi itu untuk teman-teman Ellios.
"Ellios, sejak kapan kamu memiliki banyak teman? Dan sepertinya teman-temanmu adalah bukan sembarangan orang. Mereka pasti sangat berpengaruh saat di kampus. Apa benar begitu?" selidik Suzuna menatap Ellios curiga.
"Uhm ... iya, Ibu. Aku baru saja kok mengenal mereka. Dan mengapa ibu bisa tau jika mereka adalah bukan sembarang orang?" tanya Ellios sambil meraih sebuah nampan dan memindahkan 3 piring berisi dengan ayam krispi itu.
Tak lupa Ellios juga menyiapkan saus tomat dan saus sambal yang diambilnya dari dalam sebuah alat khusus di dalam dapur ini.
"Tentu saja ibu tau, Ell. Teman-temanmu terlihat begitu bersinar, tampan, berpakaian bagus, dan tentunya mereka pasti anak orang kaya." jawab Suzuna menerka-nerka. "Mengapa mereka mau berteman denganmu? Biasanya temanmu hanya Jullian dan Alisha saja?" selidik Suzuna sambil membalik ayam yang sedang di gorengnya.
"Ya, bawakan untuk mereka. Ellios, bawakan soup ini juga untuk teman-temanmu." sahut Suzuna sambil memberikan 3 mangkok kecil sup di atas nampan itu sambil tersenyum lebar, karena merasa bahagia saat ini putranya sudah pandai bergaul dan memiliki teman-teman baru yang baik.
Kini Ellios kembali menghampiri ketiga temannya lagi, namun rupanya suasana masih tetap sama. Masih begitu hening, karena mereka tak saling berbincang.
"Aku membawakan sup dan ayam krispi lagi untuk kalian. Ayo segera dimakan! Sup ini adalah salah satu best seller di kedai ibuku lo selain ayam krispinya." ucap Ellios bersemangat sambil memindahkan satu persatu makanan dari nampannya di atas meja.
"Terima kasih, Ellios. Aku akan memakannya. Pasti enak ya ..." ucap Ken mulai meraih semangkok sup di hadapannya yang masih hangat itu.
"Aku juga akan segera memakannya, Ellios!" ucap Kakei dengan cepat dan segera meraih sup itu lalu menikmatinya.
Rupanya Arata juga tidak mau kalah, dengan sangat bersemangat pemuda yang memiliki hobi bermain basket itu, kini juga mulai menikmati supnya.
Sedangkan Ellios mulai duduk kembali di tempat duduknya dan segera menikmati ayam krispinya lagi.
"Aku sudah sering mendengar kedai ayam krispi ini dari Sano. Tak aku sangka rupanya pemilik kedai ayam krispi ini adalah ibumu, Ellios." celutuk Arata yang kini masih menikmati sup hangat miliknya. "Dan rupanya memang benar yang dikatakan Sano, ayam krispi dan sup disini benar-benar sangat enak. Ditambah lagi kamu yang mentraktirnya. Gyahahaha ..." imbuh Arata dengan tawa renyah khasnya yang cukup besar.
Mendengar ucapan dari Arata membuat Ellios ikut tertawa kecil. Sedangkan Kakei dan Ken masih fokus menikmati makanannya saja.
"Iya, Arata. Ibuku juga mengatakan jika ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari kampusku yang sering datang kesini. Namun aku juga tidak tau siapa saja mereka. Karena aku jarang sekali datang kesini. Paling hanya saat aku berlibur, aku akan datang untuk membantu ibu." ucap Ellios yang kini mulai menikmati minuman dinginnya.
"Hhm ... sepertinya aku akan sering datang kesini deh bersama Sano ..." celutuk Arata.
"Hanya berdua? Apa kalian tidak mau mengajakku?!" celutuk Kakei protes.
"Gyahaha ... kamu juga ketagihan ya rupanya, Kakei?" sahut Arata dengan tawa kecil. "Baiklah kita akan sering datang untuk makan malam deh. Kalau tidak ya kalau kita sedang berlibur. Lagipula jarak kedai ayam ini dari kampus juga tidak terlalu jauh kok."
"Ahhh ... leganya ... perutku sudah kenyang sekali. Terima kasih karena sudah mentraktirku, Ellios." ucap Ken sedikit bersandar pada kursinya sambil memegangi perutnya yang dirasa sudah penuh.
"Sama-sama, Ken." sahut Ellios dengan tulus.
"Huft ... padahal aku yang sudah berjanji mau mentraktirmu deh. Tapi kamu malah mentraktirku seperti ini. Pokoknya lain kali aku harus mentraktirmu makan!" Ken mulai menggerutu.
Belum sempat Ellios menjawab ucapan dari Ken, tiba-tiba saja mulai terdengar suara Lovely.
[ Misi akan segera dimulai kembali, Tuan. Misi kali ini adalah melakukan sebuah performance bersama Ken di kedai ayam krispi ini. ]