
Ellios dan Lovely berjalan mengendap-endap ketika meninggalkan rumah bersama karena khawatir jika tiba-tiba saja Suzuna datang dan memergoki mereka berdua.
Setelah berhasil meninggalkan rumah. Mereka berdua mulai berlari bersama untuk menuju halte dan menaiki sebuah busway. Setelah menaiki sebuah busway, Ellios mulai memasukkan sebuah uang koin pada slot sebuah mesin tarif.
Dan rupanya Ellios melupakan sesuatu!! Pemuda itu hanya membayar untuk dirinya sendiri dan melupakan Lovely begitu saja. Ya!! Ellios tidak membayar ongkos busway untuk Lovely. Hingga akhirnya seorang pria dewasa mulai menegur dan mengingatkan mereka kembali.
"Hei, Bocah!! Kalian naik berdua, jadi kalian harus membayar untuk 2 tiket!!" seorang pria dewasa yang berperawakan sedikit gempal dan memiliki kepala sedikit pelontos mulai berkata menatap Ellios dan Lovely.
Ellios yang baru saja mengingat jika Lovely yang kini sedang berwujud seperti seorang manusia mulai meringis karena malu.
Dasar, Ellios!! Mengapa kamu sampai melupakan hal itu?!
Batin Ellios mulai memasukkan kembali uang koin pada slot sebuah mesin tarif itu untuk membayarkan tiket Lovely.
Setelah itu mereka mulai duduk bersama dan memilih di sebuah bangku paling belakang.
"Ckk ... seharusnya kamu menjadi boneka saja seperti hari-hari biasanya, Lovely! Lihatlah aku malah terlihat seperti seseorang yang bodoh karena hanya membayar tiket untukku saja. Karena biasanya aku lebih sering naik busway sendirian." ucap Ellios sedikit mendengus kesal.
"Seharusnya tuan merasa senang dong karena ada seorang gadis cantik sepertiku yang menemani tuan Ellios. Hehe ... tuan juga bisa berbincang denganku dengan lebih leluasa tanpa dikira orang lain tidak waras." jawab Lovely terlihat begitu riang.
Lovely memegangi sebuah jendela bening disampingnya dan menatap gedung-gedung pencakar langit yang sudah dilalui busway ini. Gedung-gedung tinggi menjulang itu seolah-olah sedang berlomba-lomba untuk mencapai langit.
Tiba-tiba saja Lovely kembali duduk dengan tegap dan menghadap lurus ke depan. Raut wajahnya tiba-tiba saja tak memberikan ekspresi apapun. Pandangannya seakan kosong. Namun sepasang pupilnya tiba-tiba saja berubah menjadi sedikit berkilauan.
"Lovely? Apa yang terjadi? Mengapa kamu tiba-tiba seperti ini?" tanya Ellios yang mulai menyadari perubahan gadis dari jelmaan boneka sistem itu.
Lovely mulai beralih menatap Ellios masih dengan pandangan yang kosong tanpa ekspresi. Namun bibir kemerahan itu mulai bergerak dan Ellios mulai mendengarkannya dengan seksama.
"Misi akan segera dimulai, Tuan. Di dalam busway ini akan ada seorang berandalan. Dan sebentar lagi dia akan menyabotase busway ini dan merampok semua harta benda dari para penumpang. Misi kali ini adalah, tuan Ellios harus bisa mengalahkan berandalan itu dan menyerahkannya kepada pihak berwajib."
Ucap Lovely dengan nada bicara yang terdengar seperti seorang manusia namun dengan sangat datar.
"Misi lagi? Baiklah. Katakan dimana berandalan itu, Lovely!" ucap Ellios mulai menebarkan pandangannya untuk mencari pria yang dimaksud oleh Lovely.
Namun tak ada sesuatu yang aneh di dalam busway ini, semua terlihat begitu normal, aman, tenang dan damai. Lalu dimana pria berandalan yang dimaksud oleh Lovely.
Mungkin seperti itulah yang sedang dipikirkan oleh Ellios saati ini. Hingga akhirnya dalam beberapa menit saat busway ini berhenti di sebuah halte, kini mulai terlihat seorang pria sangar yang memasuki busway ini bersama dengan seorang gadis.
Mereka berdua lebih memilih untuk berdiri saja dan tidak duduk. Si gadis berjalan ke depan mendekati sopir, sementara si pria berjalan ke belakang. Lalu mereka berdua mulai mengeluarkan sebuah senjata.
Beberapa pemumpang busway ini terlihat sangat ketakutan dan menciut karena melihat senjata mereka yang sudah membawa senjata api dan benda tajam lainnya itu.
Bahkan para penumpang wanita sudah berteriak histeris saking ketakutannya. Namun mereka semua masih duduk di tempatnya masing-masing dan tak berani bergerak sedikitpun.
Begitu juga dengan Ellios dan Lovely yang masih duduk di tempatnya dan hanya memperhatikan kedua berandalan yang sedang menjalankan aksi begalnya itu.
Sang gadis masih bersiap dengan pisau lipatnya dan berada di depan. Sementara pria sangar itu kini mulai mendatangi satu persatu bangku penumpang dengan membawa sebuah wadah untuk mengumpulkan benda-benda berharga itu.
"Hhm. Jadi mereka ya. Baiklah ... aku akan segera menyelesaikan misi ini dengan baik! Hanya mengalahkan mereka lalu menyerahkan kepada pihak yang berwajib bukan? Seharusnya itu sangat mudah bukan dengan kemampuan yang aku miliki saat ini." ucap Ellios mulai memiliki kepercayaan diri dan percaya kepada sistem yang dia miliki.
"Ya, Tuan. Hanya itu saja." jawab Lovely masih dengan wajah datar menatap lurus ke depan.
"Baiklah. Aktifkan kecepatan superku, Lovely!" titah Ellios begitu lirih dengan sepasang matanya juga masih menatap waspada dan selalu mengekori pergerakan dari kedua berandalan itu.
"Baik, Tuan. Kecepatan super akan segera diaktifkan." jawab Lovely masih dengan datar dan tanla ekspresi.
DING ...
"Kecepatan super telah diaktifkan." ucap Lovely kembali.
"Hhm, baiklah. Jika bergerak dengan cepat, maka akan sangat mudah untuk mencapai mereka. Pertama bereskan pria itu dulu, karena dia membawa sebuah senjata api. Lalu lanjutkan dengan gadis bertato itu. Hhm ... untuk pria itu sebaiknya aku tunggu sampai dia datang padaku dulu dan berikan sedikit pelajaran." ucap Ellios sangat lirih dan memikirkan cara untuk menjatuhkan mereka berdua.
Pria itu mendatangi satu per satu penumpang dan mulai mengambil beberapa benda berharga dari mereka dan memasukkannya pada sebuah wadah yang sudah dia siapkan untuk menampungnya.
Hingga setelah beberapa saat, akhirnya pria sangar itu mulai mendatangi Ellios. Namun Ellios tak mempersiapkan benda-benda berharga yang dia miliki. Karena Ellios hanya memang tak memilikinya, paling hanya sebuah ponsel saja. Itupun sebenarnya sangat sederhana.
"Berikan ponsel, dompet dan semua yang kamu miliki, Bocah!!" ucap pria itu menggertak Ellios.
"Aku tidak bisa memberikannya untukmu, Paman. Kalau aku memberikannya untukmu maka aku akan kesulitan nanti untuk menghubungi ibuku." jawab Ellios dengan santai.
"Berikan padaku atau nyawamu akan melayang?!" ucap pria itu menandaskan dengan penuh penekanan dan menatap tajam Ellios.
Ellios sedikit melirik senjata api yang kini sedikit demi sedikit mulai diarahkan padanya. Sebenarnya Ellios sedikit ngeri juga sih jika membayangkan salah satu peluru panas yang ada di dalamnya akan menembus tubuhnya.
Namun Ellios masih berusaha untuk tetap tenang agar bisa menangani pria itu dengan baik. Namun belum sempat Ellios melakukan apapun, tiba-tiba saja terdengar suara yang begitu keras dan membuat para penumpang berteriak histeris kembali.
TAR ...