To Be An Immortal Human By System

To Be An Immortal Human By System
Sang Siluet Hitam



Di gang kecil yang cukup gelap itu Ellios mulai melenggang dengan langkah santai. Namun tiba-tiba saja Ellios mulai menghentikan langkah kakinya kembali karena kini sepasang netranya mulai menangkap sebuah siluet hitam di ujung gang, yaitu tepat di depan rumah Ellios.


Sepasang mata Ellios mulai memicing menatap sosok siluet hitam itu dan mulai untuk berwaspada kembali. Namun rupanya siluet hitam itu kini malah melenggang dan semakin mendekati Ellios.


"Siapa itu? Apalah teman-teman dari kak Louis? Ataukan siapa?" gumam Ellios berusaha untuk menerka-nerka.


Ellios semakin waspada ketika siluet hitam itu kini semakin mendekatinya, bahkan hanya berjarak kira-kira 4 meter hingga 5 meter saja dari dirinya.


"Lovely, aktifkan kecepatan super milikku!" Ellios mulai memberikan titah untuk Lovely dengan berkata lirih untuk segera mempersiapkan dirinya dalam menghadapi sosok siluet hitam itu.


Dan rupanya sosok siluet hitam itu mendengar ucapan Ellios saat berkata kepada Lovely.


"Lovely? Dimana dia sekarang?" ucap sosok siluet hitam itu yang membuat Ellios cukup terkejut, karena suara dari sosok siluet hitam itu rupanya begitu tak asing untuk Ellios.


Bahkan setelah beberapa detik akhirnya sosok itu mulai terlihat karena cahaya lampu dari sebuah mobil yang tak sengaja menyorotnya.


"Jullian! Rupanya kamu ya ... fiuhh ... aku kira siapa!" celutuk Ellios merasa cukup kesal.


"Memang siapa lagi? Apa kamu sedang mengharapkan orang lain yang datang untuk mengunjungimu, Ellios? Huft ..." Jullian menggerutu dan memasang wajah muram.


"Bukan begitu, hanya saja akhir-akhir ini sering ada yang tiba-tiba melakukan penyerangan. Untung saja aku belum melayangkan tinjuku untukmu, Jullian." celutuk Ellios yang kini mulai melenggang dan diikuti oleh Jullian.


"Hhm. Memang isi sih. Bagaimana dengan lukamu, Ellios? Apa kamu baik-baik saja?"


"Tidak terlalu parah kok. Jadi sebenarnya siapa gadis yang menyerangku tadi, Jullian?" tanya Ellios sangat ingin tau, karena Ellios merasa jika dia sama sekali tidak mengenalinya.


"Hanya seorang gadis psikopat. Pengagum yang terlalu fanatik dan sangat berbahaya." jawab Jullian seadanya.


"Hah? Jangan bercanda, Jullian! Aku kan bukan idol atau aktor. Aku hanya mahasiswa biasa saja. Mana mungkin gadis begitu mengidolakanku hingga melakukan hal seperti itu. Konyol sekali!" Ellios menyauti dan malah menganggap seolah-olah Jullian hanya berbicara omong kosong saja.


"Cckk ... fans fanatik itu memang benar-benar ada, Ell! Dan akhir-akhir ini kamu memang cukup populer. Apalagi saat kamu sering berkolaborasi bersama dewi Oichi-ku. Namamu semakin dikenal banyak orang. Foto dan videomu beredar di dalam weibo dan menjadi viral. Lagipula bukan hanya idol besar yang bisa dikenal oleh semua orang, banyak aplikasi-aplikasi yang bisa membuat seseorang viral dan terkenal meskipun dia hanya orang biasa. Dan itulah yang sedang terjadi pada dirimu saat ini." ucap Jullian menjelaskan.


Karena sebenarnya Ellios tidak begitu mengetahui dan tidak memahami hal-hal seperti itu.


"Cukup banyak orang biasa yang terkenal hanya karena foto dan videonya masuk ke dalam weibo. Ada Yuzu yang cantik dan cute, Yan Ruyu yang sangat manis dan cool, ikrae, dan masih banyak lagi pokoknya!! Apalagi author Anezaki sering sekali memakai mereka untuk visual di dalam novelnya. Ahaha ..." celutuk Jullian dengan tawa kecil.


"Aku tidak mengenal mereka, Jullian. Dan aku tidak mengenal Anezaki." sahut Ellios dengan malas.


"Haha ... Anezaki adalah salah satu penulis dari salah satu novel favoritku di sebuah plattform. Dan salah satu novel dia yang aku suka adalah To Be An Immortal Human By System. Entah mengapa aku merasa jika tokoh utamanya sangat mirip denganmu, Ellios. Haha ..." ucap Jullian mulai melingkarkan salah satu tangannya pada bahu Ellios.


"Entahlah, Jullian. Aku tidak tau. Aku sangat jarang membaca novel." jawab Ellios masih dengan malas. "Oh iya, tolong kamu jangan menceritakan soal penyerangan ini kepada ibuku ya. Aku tidak mau ibu khawatir. Kasihan dia ... bahkan dia belum sepenuhnya pulih."


"Hhm. Okay!! Malam ini aku menginap ya!! Sudah terlalu larut, dan aku malas untuk pulang."


"Hhm. Oke ..."


"Wah ada Jullian rupanya!" celutuk Suzuna ketika melihat kedatangan mereka berdua.


"Iya, Bibi. Selamat malam. Bagaimana kabar bibi saat ini?" jawab Jullian dengan ramah.


"Kabar bibi sudah lebih baik. Kalian mengapa baru pulang? Apakah kedai begitu ramai hingga kalian pulang sedikit terlambat?" tanya Suzuna menatap kedua pemuda itu secara bergantian.


"Itu bibi ... tadi kami ..." ucap Jullian belum menyelesaikan ucapannya karena tiba-tiba saja Ellios segera memotongnya karena khawatir Jullian akan kelepasan dan mengatakan sesuatu akan penyerangan itu.


"Iya, Ibu. Kedai hari ini ramai sekali. Uhm ... sebaiknya ibu segera tidur dan beristirahat. Karena aku dan Jullian juga sudah merasa sedikit lelah. Dan kami akan segera tidur dan beristirahat, Ibu." ucap Ellios.


"Hhm. Kalian tidur dan istirahatlah. Ibu juga akan segera tidur kok." sahut sang ibu mulai mematikan televisi dengan menggunakan remot.


"Baik, Ibu." jawab Ellios dengan patuh dan segera meninggalkan Suzuna.


Jullian tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya menghadap Suzuna lalu segera menyusul Ellios.


Setelah membersihkan diri, kedua pemuda itu mulai bersiap untuk tidur dan sesekali berbincang ringan. Bahkan Jullian mulai menggoda dan membicarakan soal ciuman Ellios dan Alisha di balkon rumah sakit.


"Ternyata kamu sudah ada peningkatan ya! Kamu sudah berani mencium Alisha saat itu ya, Ellios." celutuk Jullian mulai menggoda Ellios. "Ayo cepat katakan padaku bagaimana rasanya ciuman pertama Alisha?! Dan pasti hal itu menjadi candu untukmu kan? Ahahaha ..."


Ellios yang sebenarnya sudah mulai memejamkan sepasang matanya beberapa saat yang lalu, kini mulai membukanya kembali dengan cukup lebar. Ucapan dari Jullian sungguh membuatnya merasa super terkejut dan sebenarnya membuat Ellios merasa malu.


"Apa yang sedang kamu bicarakan, Jullian? Aku tak mengerti." ucap Ellios berpura-pura tak mengetahui apa-apa.


"Jangan berpura-pura tidak terjadi apa-apa, Ellios. Hehe ... malam itu aku melihat semuanya! Kamu dan Alisha melakukan itu di balkon. Kamu tidak bisa lagi mengelak dariku sekarang. Ahahah ..." Jullian tertawa kecil dan menyikut lengaj Ellios sambil meliriknya .


"Apa?!! Kamu melihatnya?" celutuk Ellios merasa syok dan malu.


"Yaaaa ... aku melihat semuanya." jawab Jullian masih dengan tawa menggoda.


Wah, jadi Jullian sudah melihatnya. Bahkan sepertinya malam itu Kakei juga begitu mencurigaiku. Wah ... rasanya malu sekali kepergok ciuman!


Batin Ellios mulai berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Ellios mulai merubah posisi tidurnya membelakangi Jullian dan segera berpura-pura untuk tidur.


"Aku mengantuk! Aku mau tidur!" ucap Ellios.


"Hei!! Jangan tidur dulu! Ceritakan dulu padaku soal ciuman itu!! Ellios!! Bangunlah dulu!!" ucap Jullian beberapa kali menepuk bahu kanan Ellios, namun Ellios tak lagi menjawabnya dan berpura-oura sudah tertidur


"Ckkk ... aku malah ditinggal tidur!!" Jullian menggerutu dan mulai menarik selimut lembut dan hangat itu, dan juga memutuskan untuk segera tidur.


...⚜⚜⚜...