To Be An Immortal Human By System

To Be An Immortal Human By System
Menghadiri Pesta Ulang Tahun Oichi



Jullian meraih dan menahan lengan Ellios dan masih saja menatap nanar Ellios. Seperti ada yang sudah membuatnya merasa terpukul dan bersedih saat ini. Namun Ellios masih saja tak memahaminya dan malah fokus untuk segera menghadiri pesta ulang tahun dari sang idola dari sahabatnya.


"Mengapa ... mengapa kamu tidak memberitahuku saat kamu dirawat di rumah sakit saat itu? Mengapa malah Kakei dan Ken yang kamu beritahu? Hingga mereka yang malah menjagamu saat di rumah sakit? Apakah kamu ... sudah tidak menganggapku sebagai sahabatmu, Ellios? Apakah kamu sudah melupakanku, Ellios?" tanya Jullian menatap nanar Ellios penuh dengan rasa kekecewaan.


"Bukan seperti itu, Jullian!" ucap Ellios merasa bingung sendiri dan sedikit memijit keningnya. "Aku tidak memberikan kabar untukmu karena aku tak ingij membuatmu khawatir. Saat itu ada Kakei dan Ken adalah karena saat aku terjatuh dan pingsan, kebetulan sedang ada mereka berdua. Jadi mereka yang mengantarkan aku ke rumah sakit dan juga menjagaku." jelas Ellios.


"Padahal seharusnya kamu memberikan kabar untukku saja, Ellios. Aku juga tidak akan keberatan untuk menjagamu kok. Biar bagaimanapun selama ini kamu selalu baik denganku. Aku sudah menganggapmu lebih dari seorang teman dan sahabat. Tapi bagiku kamu juga adalah sudah seperti saudaraku sendiri." ucap Jullian entah mengapa malah menjadi mellow dengan sepasang matanya yang sudah menjadi sedikit berair.


GREPP ...


Ellios menepuk bahu Jullian dan tersenyum samar menatap sahabatnya.


"Jangan seperti itu! Bukankah sudah aku katakan padamu, kamulah yang terbaik! Kamu yang sudah selalu ada selama ini untukku dan sudah menjadi teman terbaikku!" ucap Ellios berusaha untuk menghibur Jullian. "Sudah! Ayo kita segera berangkat! Dewi Oichi sudah menunggumu, Jullian! Bukankah kamu sudah mempersiapkan semua ini hanya untuk malam ini?" imbuh Ellios masih menghiasi wajahnya dengan senyuman.


"Tapi ... apa kamu yakin kamu akan baik-baik saja, Ellios?" tanya Jullian masih terlihat begitu ragu-ragu.


"Hhm. Tentu saja!! Lagipula jika ada sesuatu yang terjadi padaku nanti, bukankah ada kamu? Jadi aku tidak perlu lagi merasa khawatir bukan? Karena ada sahabatku yang sedang bersama denganku." ucap Ellios dengan senyum lebar. "Sudah ayo berangkat sebelum aku berubah pikiran dan malah memutuskan untuk menghabiskan waktuku dengan buku dan laptopku!" imbuh Ellios.


Ellios segera menarik Jullian untuk meninggalkan rumahnya dan segera menemui para pengawal yang sudah dikirimkan oleh Oichi untuk menjemputnya.


Meskipun masih ada rasa berat dan sedikit keberatan, namun Jullian tak membantah lagi dan segera memasuki Limusin hitam metalik itu setelah sang pengawal membukakan pintu belakang untuk mereka berdua.


Perjalanan itu ditempuh kira-kira memakan waktu kira-kira 30 menit hingga akhirnya kini mereka telah sampai di halaman sebuah rumah yang begitu megah dan luas dengan segala dekorasi indah pada halaman.


Kelap-kelip lampu kekuningan menghiasi halaman rumah bergaya Eropa modern itu. Beberapa tamu juga terlihat sudah mulai berdatangan. Dan sepertinya sudah cukup banyak tamu yang hadir dan berada di dalam ruangan.


Dan tentu saja tamu undangan kali ini adalah bukan sembarangan tamu. Semua tamu undangan adalah orang berkelas dan bintang papan atas.


Dan mungkin dari sekian tamu undangan, hanya Ellios dan Jullian saja tamu yang begitu super biasa dan hanyalah seorang mahasiswa dari kalangan bawah.


Ellios dan Jullian mulai melenggang bersama menyusuri halaman luas itu mengikuti seorang pengawal yang memandu mereka hingga sampai pintu utama dari rumah megah itu.


"Silakan masuk dan bergabung dengan para tamu yang lain. Nona Oichi saat ini sedang mempersiapkan diri dan akan segera turun." ucap sang pengawal mempersilakan Ellios dan Jullian untuk memasuki rumah megah itu dengan mengulurkan tangannya ke arah pintu masuk.


"Terima kasih, Tuan." sahut Ellios dengan ramah lalu segera memasuki rumah itu bersama dengan Jullian.


Begitu banyak dekorasi indah yang menghiasi rumah ini, seperti lampu hias gantung, lampu raksasa di langit-lagit yang memancarkan kilauan warna-warni, balon-balon, serta dekorasi lainnya lagi.


Dan seluruh dekorasi ruangan ini didominasi dengan nuansa pink lembut. Dan mungkin saja karena warna tersebut adalah warna kesukaan dari Oichi.


Di tengah-tengah ruangan itu ada sebuah meja berukuran cukup besar dengan sebuah taplak berwana dusty pink dan sedikit mengkilap menjuntai hingga lantai.


Di atas meja itu ada sebuah kue ulang tahun berukuran raksasa berwana putih perpaduan pink lembut. Sementara di atas ada sebuah spanduk dengan desain manis dengan bertuliskan "Happy Birthday Princess Oichi".


Ellios tak berkata-kata dan tak menjawab Jullian. Namun Ellios malah melihat sekelilingnya karena merasa keheranan akan semua fasilitas super mewah ini.


Bukan takjub karena kemegahan dsn kemewahan perayaan pesta ulang tahun kali ini, melainkan Ellios begitu menyayangkan ... berapa uang yang mereka habiskan untuk menggelar sebuah perayaan ulang tahun ini?? Seharusnya uang itu bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat daripada harus menghambur-hamburkannya seperti ini.


Mungkin seperti itulah yang berada dalam angan Ellios saat ini. Karena selama ini Ellios selalu hidup dengan sangat sederhana dan jauh dari kata mewah.


Tak lama kemudian mulai terlihat seorang gadis dengan balutan gaun berwana putih kombinasi pink lembut mulai turun menapaki tanggan demi tangga yang sudah digelari dengan karpet roll witton panjang berwarna merah maroon lembut dengan motif klasik.


Semua mata terpana akan gadis cantik yang tak lain adalah Oichi itu. Seakan seluruh tamu undangan sudah tersihir akan kecantikannya. Kecuali Ellios yang malah sibuk untuk menghabiskan jusnya yang baru saja diberikan oleh salah satu pelayang dalam acara ini.


"Whoa!! Cantik sekali dewi Oichi-ku ..." gumam Jullian terpana dan masih menatap Oichi dari kejauhan.


"Hhm?? Di dunia ini yang paling cantik menurutku hanyalah ibuku!" jawab Ellios dengan asal karena malas mendengarkan kegamuman Jullian terhadap Oichi


PLAKK ...


"Sudah gila kamu ya, Ellios! Masa kamu menyamakan dewi Oichiku dengan bibi Suzuna?!" protes Jullian tak terima.


Sementara Ellios malah tertawa renyah saat melihat Jullian yang sedang kesal kembali seperti ini. Menandakan jika Jullian sudah baik-baik saja setelah beberapa saat yang lalu sempat mellow berlebihan. Tapi itu menurut Ellios ya ...


Di tengah-tengah tawa Ellios dan kekesalan Jullian, tiba-tiba saja ada seseorang yang mulai menghampiri mereka berdua dan menyapa mereka berdua.


"Hei, Ellios!! Jullio ... rupanya kalian datang ke acara ini juga ya?" ucap seorang pemuda tampan yang sedikit membuat Jullian merasa kesal karena pemuda itu salah memanggil namanya menjadi Jullio.