
Eliios mulai mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan, lalu mulai memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu kepada Oichi.
"Begini, Nona ... aku ingin bertanya sesuatu kepada nona Oichi. Apakah nona Oichi memiliki sebuah sistem yang tertanam di dalam tubuh nona? Sistem yang bisa merubah sepenuhnya kehidupan nona Oichi?" tanya Ellios dengan sangat hati-hati karena sebenarnya Ellios merasa khawatir dan takut jika Oichi akan terseinggung.
Mendengar ucapan dari Ellios sebenarnya membuat Oichi terkejut bukan main. Sepasang mata beningnya yang indah kini terlihat sedikit membulat menatap Ellios.
"Darimana kamu tau semua itu, Ellios?" tanya Oichi setelah beberapa saat, karena sebenarnya membutuhkan waktu beberapa saat untuk mencerna ucapan dari Ellios itu.
"Aku bisa melihat chip sistem yang tertanam pada tengkuk nona Oichi, Nona. Karena sebenarnya ... aku juga memiliki sebuah sistem. Maafkan aku jika saat itu aku berbohong kepada nona Oichi." ucap Ellios dengan nada rendah.
"Benarkah itu, Ellios? Pantas saja! Dan rupanya aku tidak salah lihat ketika kita sedang berdansa bersama bukan?" sahut Oichi terlihat sangat antusias.
Karena bisa bertemu dengan sesama pengguna sistem, sebenarnya adalah hal yang cukup baik. Dan lagi pasti mereka sesama pengguna sistem akan bisa memahami satu sama lain karena merasa di dalam satu server, dan mungkin mereka juga akan bisa berteman baik.
"Benar sekali, Nona. Chip sistem milikku tertanam pada lengan kananku." sahut Ellios dengan jujur.
"Akhirnya aku bisa menemukan seseorang yang memiliki nasib sama sepertiku! Sekarang katakan padaku, Ellios! Apakan sistem yang kamu miliki adalah sistem untuk memiliki tubuh yang kebal, kuat dan tak bisa terluka?" tanya Oichi masih terlihat sangat antusias.
Ellios tersenyum tipis dan menggeleng pelan setelah mendengarkan ucapan dari Oichi.
"Bukan, Nona. Bukan sistem untuk menjadi kuat dan kebal tapi ..."
"Panggil aku Oichi saja! Karena kita adalah orang yang memiliki takdir hidup yang sejalan! Dan hanya kamu yang mengetahui semua ini! Aku harap kita bisa berteman." pangkas Oichi dengan cepat.
"Baiklah, Oichi ..." sahut Ellios yang masih merasa cukup kaku dan merasa kurang sopan jika hanya memanggil dengan sebuah nama saja tanpa sebuah embel-embel.
"Hhm. Begitu lebih bagus dan terdengar lebih bersahabat! Sekarang katakan padaku sistem apa yang kamu miliki, Ellios!" sahut Oichi dengan raut wajah tak sabaran.
"Sebenarnya sistem yang aku miliki adalah sistem perpanjangan usia." ucap Ellios dengan jujur.
"Perpanjangan usia? Memang apa yang terjadi? Apa kamu memiliki sebuah penyakit, Ellios?" tanya Oichi mulai merubah ekspresinya menjadi serius menatap pemuda yang saat ini sedang duduk di hadapannya itu.
"Benar sekali, Oichi. Aku memiliki sebuah penyakit mematikan. Dan sebelum bertemu dengan sistem ini, sebenarnya sisa usiaku hanyalah tinggal dalam hitungan hari saja. Begitulah vonis dari seorang dokter." ucap Ellios mulai tetingat kembali dengan saat-saat itu.
Ucap Ellios bercerita dengan jujur. Dan ini adalah pertama kalinya Ellios mengatakan hal ini kepada orang lain tanpa menutup-nutupinya sedikitpun.
"Kalau boleh tau kamu sakit apa, Ellios?" tanya Oichi ingin tau.
"Aku menderita kanker darah stadium akhir." ucap Ellios dengan sangat lirih dan memilukan, namun akhirnya Ellios mulai tersenyum tipis menatap lurus ke depan.
"Astaga ... lalu apakah keluargamu tau jika kamu memiliki sebuah sistem?" tanya Oichi sedikit terkejut karena tak menyangka jika Ellios yang masih sangat muda ini memiliki sebuah penyakit mematikan.
"Tidak ada satupun orang terdekatku yang mengetahui jika aku sakit. Namun saat ini, kini ada Kakei dan kamu yang mengetahuinya. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini dari ibu dan teman-temanku. Termasuk Jullian ..." pinta Ellios mulai beralih menatap Oichi.
"Baiklah. Aku akan menjaga rahasia ini. Namun mengapa kamu tidak jujur kepada orang tuamu atau teman-temanmu?" tanya Oichi semakin penasaran.
"Ayahku juga meninggal karena penyakit yang sama 5 tahun yang lalu. Aku tidak ingin membuat ibu bersedih dan semakin terbebani dengan semua ini. Selama ini ibu selalu bekerja keras seorang diri hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Aku tak ingin menambah bebannya lagi." ucap Ellios semakin terdengar lirih.
"Baiklah ... aku akan menjaga rahasia ini. Dan semoga saja sistem ini bisa bermanfaat untukmu, Ellios. Aku juga minta maaf kepadamu, karena aku sudah berbuat jahat kepadamu dan ibumu. Aku ... aku melakukan semua itu karena sikapmu membuatku kembali teringat dengan masa laluku yang sudah aku kubur rapi dan rapat. Maafkan aku ..." ucap Oichi dengan tulus dan terlihat sangat merasa bersalah.
"Tidak masalah kok. Aku tidak pernah merasa marah dan kesal kepadamu. Setiap perilaku dari seseorang, pasti memiliki sebuah alasan. Begitu juga denganmu." jawab Ellios dengan ramah.
"Kalau boleh tau, kamu sangat terlihat begitu sempurna tanpa cela dan kekurangan. Mengapa kamu terpilih oleh sistem?" imbuh Ellios yang kali ini cukup penasaran dengan kehidupan yang dialami oleh Oichi yang selalu terlihat sempurna itu.
Oichi mulai beralih menatap kaca bening jendela yang berada di kamar apartemennya dan mulai menghela nafas. Hingga akhirnya Oichi mulai menceritakan tentang dirinya tanpa ragu kepada Ellios.
"Kedua orangtuaku bercerai saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Mereka menikah kembali dengan pasangan masing-masing. Dan aku lebih memilih untuk tinggal bersama dengan ayah dan keluarga barunya saat itu. Dan tak lama ibu kandungku meninggal karena sakit." ucap Oichi mulai bercerita.
"Namun setelah ayahku meninggal, mama tiriku tak pernah mengurusku sama sekali. Dia menikah lagi dan terkadang dengan kejamnya dia menyiksaku. Bahkan suami barunya juga sangat kejam. Kehidupanku di sekolah juga sangat membuatku merasa seperti seorang sampah dan membuatku menyesal pernah terlahir di bumi ini." Oichi masih bercerita dengan suara yang semakin bergetar dan memilukan.
"Mereka selalu membuliku dan memperolokku, karena aku anak yatim piatu yang jelek, bau dan tak terawat. Mereka semua menjauhiku saat itu. Tak ada satupun dari mereka yang mau berteman atau dekat denganku. Aku merasa sangat tak berdaya saat itu. Ingin rasanya aku mati saja saat itu ..." kini sepasang mata Oichi sudah mulai terlihat berkaca-kaca.
"Hingga akhirnya, takdir mempertemukanku dengan sebuah sistem idola atau penakhluk ... disaat itulah perlahan hidupku mulai berubah. Aku ingin semua orang yang pernah berbuat jahat dan menindasku mulai memujaku dan menyesali semua perbuatannya itu ..." ucap Oichi begitu lirih.