To Be An Immortal Human By System

To Be An Immortal Human By System
Angan Jullian



Pagi-pagi sekali Suzuna terlihat sudah memasuki kamar Ellios. Wanita paruh baya itu membuka gorden kamar Ellios dan membuat sinar mentari mulai terlihat dan memasuki kamar Ellios menembus kaca bening itu.


Namun pemuda itu masih saja tertidur sangat lelap dan semakin kuat memeluk gulingnya saat ini hingga membuat Suzuna menggeleng-gelengkan kepalanya saking kesalnya.


Tak biasanya Ellios seperti ini. Biasanya Ellios akan bangun pagi, atau jika Suzuna sudah membuka gorden cendela kamar Ellios, biasanya Ellios akan segera bangun. Namun tidak untuk kali ini.


Karena sedikit merasa kesal, akhirnya Suzuna mulai menarik selimut lembut yang sedang dikenakan oleh Ellios saat ini.


"Ellios!! Mau sampai kapan kamu mau tidur seperti ini? Ini sudah siang! Apa kamu tidak pergi ke kampus?!" ucap Suzuna yang kali ini menarik guling yang sedang dipeluk oleh Ellios.


"Ughh ... aku ngantuk sekali, Ibu. Hoammm ..." Ellios sedikit membuka matanya dan kembali menguap lebar. "Ini jam berapa, Ibu"


"Ini sudah jam 9 AM. Apa kamu tidak pergi ke kampus hari ini?" tanya Suzuna yang kali ini mulak merapikan meja belajar Ellios yang masih sedikit berantakan.


Mendengar sang ibu memberitahukan jam saat ini, membuat Ellios mulai duduk dengan tegap dan membuka matanya sedikit lebih lebar.


"Apa? Jam 9 pagi?" ucap Ellios hampir saja tak percaya. "Gawat!! Ini gawat sekali!! Aku harus tiba di kampus jam 10 pagi!! Mengapa ibu tidak membangunkanku lebih awal?" sungut Ellios langsung saja melompat dari atas ranjangnya dan segera bergegas untuk pergi ke kamar mandi untuk mandi.


"Ibu sudah membangunkanmu dari tadi. Kamu bahkan sangat sulit untuk dibangunkan hari ini! Semalam kamu pulang jam berapa?!" ucap Suzuna malah mengintrogasi Ellios.


"Aku pulang cepat kok kemarin malam, Ibu. Hanya saja ibu sudah tidur saat aku pulang!" ucap Ellios berteriak dari dalam kamar mandi.


"Haishh ... anak itu!" celutuk Suzuna mulai merapikan tempat tidur Ellios yang sangat berantakan itu.


Ellios melakukan ritual mandinya dengan sangat cepat, karena Ellios benar-benar sudah tidak memiliki cukup banyak waktu saat ini.


Setelah beberapa saat, pemuda yang memiliki hobi membaca buku ini mulai keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru.


Sebuah T-shirt putih polos mulai dikenakannya saat ini dan dipadankannya dengan celana jeans warna terang. Tak lupa, Ellios juga mengenakan sebuah hodie hitam.


Dengan cepat Ellios mulai menuruni tangga dan mulai melewati ruangan demi ruangan. Hingga akhirnya Ellios mulai mengenakan sepatu sport berwarna putih di dekat pintu.


"Ellios, sarapan dulu baru berangkat!" teriak Suzuna dari ruang tengah.


"Tidak, Ibu. Aku sudah sangat terlambat saat ini. Aku akan sarapan di dalam busway saja! Sampai jumpa, Ibuku sayang!" ucap Ellios mulai berdiri kembali dan segera meninggalkan rumah.


BLAMM ...


Pintu itu ditutup dengan cepat oleh Ellios sebelum Ellios meninggalkan rumahnya. Kini Ellios mulai berlari kecil untuk segera mencapai halte.


"Haishh ... Aku hanya punya waktu 30 menit lagi sebelum pertandingan final basket antara Universitas Fuji dan Universitas Todai. Aku sudah sangat terlambat. Seharusnya aku datang 2 jam sebelum pertandingan bagaimana ini?" gumam Ellios semakin mempercepat lari dengan kekuatan dan kecepatan wajarnya.


Daripada naik busway, sebaiknya aku menggunakan kemampuan berlari superku saja deh. Dan aku akan segera sampai di kampus lebih cepat. Hhm benar sekali!! Ayo semangat, Ellios!


Batin Ellios mulai tersenyum tipis dan segera memberikan titah untuk Lovely.


"Lovely, aktifkan kemampuan berlari superku sekarang! Aku harus segera sampai di kampus secepat mungkin." titahnya yang masih sambil berlari.


[ Baik. Siap laksanakan, Tuan. Kemampuan berlari super akan segera diaktifkan. ]


DING ...


Lovely menyauti dan dan mulai memenuhi perintah dari Ellios. Seketika Ellios mulai berlari dengan sangat cepat dan tak terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Secepat kecepatan cahaya.


WUSH ...


Hanya dalam beberapa menit saja, kini Ellios sudah tiba di Universitas Todai, dan hanya dalam bebepa detik saja pemuda itu sudah sampai di ruang ganti untuk berganti dengan menggunakan seragam basket kebanggaan dari kempusnya.


Sebuah seragam basket oblong berwarna hitam dengan kombinasi merah kini sudah membalut tubuh Ellios yang saat ini sudah menjadi semakin kekar dan besar. Bahkan otot-otot pada lengannya juga sangat terlihat dengan nyata.


Disaat Ellios hendak bergegas menuju ke lapangan basket, tiba-tiba saja dia berpapasan dengan Jullian yang kebetulan juga berada di ruangan ini.


Dan betapa terkejutnya Jullian saat melihat Ellios yang sudah mengenakan seragam basketnya. Terlebih Jullian juga sangat terkejut saat melihat otot-otot pada tubuh Ellios yang kali ini terpampang dengan sangat jelas dan nyata di hadapannya.


"Whoa ... Ellios!! Sejak kapan kamu bergabung dengan tim basket kampus?" tanya Jullian yang masih menatap lekat Ellios yang terlihat cukup keren dengan seragam barunya itu.


"Sejak kemarin malam." jawab Ellios seadanya.


"Sejak kemarin malam?! Dan sekarang kamu sudah mau ikut dalam pertandingan final begitu saja?" ucap Jullian semakin membelalakkan sepasang matanya menatap Ellios.


"Yah. Mau bagaimana lagi. Mungkin aku memang sudah ditakdirkan untuk menjadi salah satu dari mereka." jawab Ellios dengan asal dan berniat untuk melewati Jullian begitu saja karena memang sudah sangat terlambat.


Namun lagi-lagi Jullia menghadang Ellios dan menahan kedua lengan kuat Ellios yang saat ini sudah begitu berbentuk dan kekar.


"Tunggu, Ellios!" sergah Jullian lagi. Aku tak pernah tau jika kamu bisa bermain basket sebelumnya. Dan otot-otot mu ini ... sejak kapan kamu memilikinya?" imbuh Jullian semakin kebingungan sambil memandangi kedua lengan kuat Ellios secaea bergantian.


Kini Ellios juga mulai menunduk dan juga memandangi kedua lengan kuatnya secara bergantian, lalu beralih menatap sahabatnya lagi.


"Aku juga tidak tau, Jullian. Tiba-tiba saja bangun tidur sudah seperti ini." jawab Ellios dengan jujur. "Ahh ... aku harus segera pergi sekarang!! Aku sudah sangat terlambat. Sampai jumpa, Jullian!!" ucap Ellios terburu dan mulai meninggalkan Jullian dan segera berlari dengan cepat menuju lapangan basket.


"Tiba-tiba bangun tidur sudah memiliki badan yang sangat atletis seperti itu?" gumam Jullian dengan kening yang berkerut dan masih menatap kepergian Ellios. "Ahh ... memang ada cara yang seperti itu ya? Hanya dengan tidur saja bisa memiliki tubuh yang begitu atletis? Teori dari mana ini? Sebaiknyanya nanti mala. Aku mencobanya saja deh. Mana tau besok pagi aku juga sudah bisa memiliki tubuh sexy seperti itu. Hehe ..." ucap Jullian mulai berangan-angan hingga tersenyum karena terlalu hanyut ke dalamnya.